Jelang Satu Abad Kota Jayapura IV

Image

Para Persipuramania sedang mengelu-elukan tim “Mutiara Hitam” Persipura saat laga Indonesia Super Liga (ISL) tahun 2008 di Stadion Mandala Jayapura beberapa waktu lalu. (Foto: JUBI/Dominggus A Mampioper)

Jika Anak Port Numbay Perkuat, Persipura Pasti Juara

JUBI-Tradisi Barcelona selalu memiliki tradisi juara dan wajib memegang ban kapten menjadi jatah anak-anak asal Catalan. Adalah sangat tabu kalau ban kapten itu berpindah ke orang lain. Diyakini bahwa tim Barcelona akan mengalami kekalahan dan mungkin pula tak pernah raih scudeto. Begitu pula dengan Persipura kesebelasan asal Port Numbay diyakini kalau tak ada anak anak Port Numbay yang memperkuat skuad Persipura sudah akan mengalami kekalahan. Buktinya kemenangan Persipura pada 2005 lalu karena masih diperkuat oleh Korinus Fingkreuw  Bahkan prestasi sebelumnya Persipura tiga kali berturut-turut juara Piala Presiden di tahun 70-an. Benarkah Persipura juara karena ada anak-anak Port Numbay?

Hingga putaran pertama Indonesia Super League (ISL) Persipura menduduki puncak klasemen.   Sejak tahun 70-an Persipura adalah klub yang sangat disegani di Indonesia, karena selalu melahirkan pemain-pemain bagus yang berkualitas sehingga tim lawan membutuhkan teknik dan strategi lebih untuk dapat mengalahkan Persipura. Anak anak Papua ini terkenal dengan kocekan dan skill individu dalam mengolah bola. “Walau hasil bagus terus, Persipura belum tentu juara. Roh persipura adalah  anak anak asli Port Numbay dan jika tidak ada anak Port Numbay asli saya percaya Persipura tidak akan Juara tahun ini,” ujar Ida Meraudje, perempuan asli Port Numbay.
Pernyataan ini tidak tanpa alasan, ia mencontohkan saat juara tahun 2005 gol Korinus Fingkreuw yang menyamakan kedudukan hingga perpanjangan waktu dan Ian Luis Kabes memberi gol kemenangan buat Persipura. “Korinus memang tampil tidak konsisten sepanjang musim, itu sebabnya ia sering dibangku cadangkan. Tapi keputusan pelatih Rahmat Darmawan mengganti Boaz dengan Korinus di saat itu, saya langsung yakin Persipura menang,” lanjutnya.
Contoh lainnya adalah di era tahun tujuh puluhan, Persipura pernah tiga kali berturut turut memenangkan Piala Soeharto. Ada Nico Pattipeme, pemuda asal Skow yang membuka gol pertama untuk Persipura sebelum akhirnya Persipura menang 4 – 3 dari Persija Jakarta. “Piala itu sekarang ada di Kantor KONI Provinsi Papua, piala mati milik Persipura karena Persipura menang tiga kali berturut turut sejak tahun 1974, 1975 dan terakhir 1976,” ujar Daniel Uyo, mantan permain Persipura tahun 70-an dan Tim Nasional tahun delapan puluhan.
Di era tahun tujuh puluhan, terdapat nama nama besar seperti Timo Kapisa, Hengky Heipon, Jacobus Mobilala, dan Yohanes Auri yang semuanya bukan anak asli Port Numbay, namun jika diteliti hampir setengah pemain Persipura adalah putra asli Port Numbay. Sebut saja Nico Pattipeme, Yafet Siby, David Sorro, Yakobus Makanwey, Gesper Siby, Bas Yowe, Simson Yowe, Ruben Siby, Saul Siby dan Daniel Uyo yang saat itu menjadi pemain termuda dalam tim Persipura.
Sejak kebangkitannya tahun 1994 – 1995 Persipura selalu lolos babak kedua bahkan maju ke Semifinal, tapi Persipura hanya sekali saja juara Liga Indonesia. Kemenangan itu ditanggapi beberapa orang dengan tangapan yang berbeda.
“Biar satu saja, biar sebentar saja, asal setiap kali pertandingan anak asli Port Numbay turun, saya percaya Persipura bisa juara liga,” Kata Lodwik Merahabia. Saat ini hanya tersisa Tinus Paay di tim Persipura. Dibandingkan pemain lain, Tinus belum tampil maksimal. Namun Lodwik yakin jika diberi kepercayaan, perhatian, porsi latihan lebih dan dorongan secara psikis Tinus
Daniel Uyo, mantan pemain Persipura tahun 1970-an sudah beberapa kali berdiskusi dengan mantan pemain Persipura lainnya seperti Gasper Siby dan Yafet Siby, dan mereka sepakat tentang hal ini. “Tapi kami sangat mengerti bahwa saat ini bicara Persipura, berarti bicara industri. Jadi mulai dari seleksi hingga penentuan pemain harus profesional. Tapi demi representasi saya rasa tidak ada salahnya,” kata Daniel Uyo yang saat ini telah memegang lisensi C pelatih dari AFC.

Klub dan Sekolah Sepakbola
Lahirnya pesepak bola tangguh asal Port Numbay tak lepas pula dari klub klub lokal yang terdapat di kampung kampung di sekitar Port Numbay. Misalnya dari Kayu Pulo ada klub sepak bola PSK atau Persatuan Sepak Bola Kayu Pulo. Begitu juga dari Nafri memiliki kesebelasan bernama Persatuan Sepak Bola Nafri (PSN) yang melahirkan pemain pemain seperti Korinus Fingkreuw, Daniel  Uyo dan sebagainya. Sedangkan dari Kampung Yoka ada klub bernama Kami Suku Mebri (KSM).
Kini lahirnya klub klub baru di Kota Jayapura berasal dari kompetisi yang dilakukan oleh Komda PSSI Kota Jayapura yang terdiri dari 21 klub divisi utama dan divisi I Persipura. Mulai dari usia 12, Usia 15 , Usia 21 dan Usia 23 serta se nior.
Salah satu cara terbaik mengembalikan peran anak Port Numbay ataupun anak anak Kota Jayapura ke Persipura yaitu dengan membangun Sekolah Sepak Bola (SSB) dan kompetisi lokal yang berlangsung sepanjang tahun. “Untuk membangun SSB di Kota Jayapura ternyata tidak semudah di Pulau Jawa. Di Pulau Jawa orang tua begitu antusias mendaftarkan anak ke SSB, dan membayar iuran, sedangkan  di Papua kesadaran orang tua terhadap SSB masih sangat kecil,” ujar Uyo yang menghabiskan 15 tahun menjadi pelatih SSB Petro Kimia Gresik. Nama nama besar seperti Yusuf Ekodono dan Agus Indra pemain Persija Jakarta adalah contoh hasil polesan tangannya di Gresik.
“Kesulitan lainnya adalah tidak adanya sponsor yang mendukung SSB. Pemain asal Papua biasanya sudah memiliki bakat bermain bola yang baik, namun untuk menjadi pemain profesional seorang pemain harus memiliki lebih dari sekedar bakat alam. Kunci bermain bola adalah pemain harus menguasai bola selama mungkin, ini berarti pemain harus memiliki skill mengolah bola dan ini hanya bisa diperoleh di sekolah bola,” ujar pria yang sangat berkeinginan membangun sebuah SSB di sekitar rumahnya di Tanah Hitam atau di tempat kelahirannya di Kampung Nafri. Semakin banyak SSB, semakin banyak pemain berbakat yang di bina dan terjaring. Dengan begitu semakin besar pula kontribusi anak Jayapura ke Persipura.
Mengenai kompetisi saat ini, bagi Daniel sudah cukup baik namun jika dibandingkan dengan tahun 1970-an masih jauh, “Dahulu kompetisi lokal berlangsung sepanjang tahun. Tiap kecamatan punya kompetisi sendiri sendiri, nanti juaranya akan dipertemukan di Stadion Mandala. Kami berlatih sepanjang tahun tanpa henti, karena kebutuhan kompetisi,” lanjutnya.
Menurutnya dengan adanya SSB dan kompetisi yang teratur maka motivasi pemain muda akan terus terpacu dan mereka tidak kehilangan fokus mereka, “Saat ini anak anak Port Numbay banyak terpengaruh oleh dampak globalisasi, namun jika di bina dengan baik, saya percaya mereka mampu bersaing secara profesional,” ujar Uyo. Khusus untuk Nafri, terakhir kali anak Nafri yang masuk tim Senior Persipura adalah Korinus Fingkreuw, sebelumnya ada Semuel Mra Mra (Ligina V) dan Silas Wamwau. Sedangkan saat ini ada Ricard Awie di Persipura usia 23 tahun dan Empat pemain lainnya di Persipura usia 16 tahun.
Setiap kali seleksi ada saja anak asli Port Numbay yang terpilih, namun hanya sedikit yang bisa bertahan dan masuk ke tim senior Persipura. Contohnya saat ini ada Tinus Paay yang setidaknya sudah dua tahun berada di tim senior Persipura, namun tidak menunjukkan kemajuan yang berarti. Salah satu penyebabnya mungkin karenaTinus bukan berasal dari sekolah sepak bola Persipura , melainkan dari kompetisi. Sehingga ia agak terlambat untuk mengejar ketertinggalannya dalam keahlian mengolah bola. “Walaupun memiliki bakat yang baik, bila tidak dibina sejak dini, minimal sejak usia 12 tahun, Ia akan sulit bersaing dengan para pemain dengan bakat alam plus pelatihan sejak dini. Disini dibutuhkan peran pelatih yang mengerti dengan karakter orang Papua,” ujarnya. Ia mencontohkan Pelatih Persipura legendaris H B Samsih yang juga seorang guru. Ia bisa mengerti karakter, sehingga bila menegur dengan cara cara yang membangun. Demikian juga saat memberi hukuman, para didikannya tidak merasa tersinggung, namun sepenuhnya sadar bahwa hal -hal tersebut justru untuk kebaikkan mereka.
Diakuinya bahwa sejak Managemen Persipura ditangani oleh MR Kambu sekitar tahun 1999, Persipura  selalu tampil konsisten. Sedikit demi sedikit kompetisi lokal mulai berjalan teratur, tinggal peran masyarakat yang lebih besar terhadap Persipura yang belum dirasakan. Salah satu peran yang sangat diharapkan adalah peran masyarakat terhadap berdirinya sekolah sekolah bola di sekitar mereka. Semakin banyak SSB, tentu semakin baik dampaknya bagi Persipura. “Saat ini masyarakat harus lebih proaktif dalam membangun sekolah bola. Sebab sudah banyak alumunus Persipura yang bisa diajak untuk melatih,” katanya. Dan jika masyarakat  ingin pelatih bersetifikat, Papua sudah memiliki cukup banyak, misalnya selain dirinya, ada nama-nama besar seperti Roby Maruanaya, Rully Nere dan Roby Binur yang diajak berkonsultasi.
“Jika perlu, KONI Papua bisa mengundang pelatih dari AFC dan FIFA misalnya dan membuka sekolah pelatih di Jayapura, dengan begitu akan banyak putra putri Papua yang memegang sertifikat pelatih  termasuk para mantan pemain Persipura. Hal ini adalah investasi besar buat orang Papua, karena dari mereka ini akan lahir banyak pemain berbakat dan berkualitas serta siap dijual ke liga Indonesia maupun liga liga di luar negeri,” katanya.
Investasi pelatih di Papua sampai saat ini belum dilakukan dengan baik. Padahal dari pelatih yang hebat tentu akan menghasilkan lebih banyak pemain yang berkualitas demi kebanggaan masyarakat Papua, juga meningkatkan sumber daya manusia Papua. (Angel Flassy)

  
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *