Australia Sangat Hargai Sejarahnya

Image

Benda budaya di National Gallery of Australia (Angel Flassy)

JUBI-Dalam kunjungan Wartawan JUBI  Angel Flassy di Australia beberapa pekan lalu,  ia menemukan beberapa hal yang jauh berbeda. Saat mengikuti kegiatan Pelatihan Jurnalistik  yang diselenggarakan  Asia Pacific  Journalism Centre (APJC). Kegiatan tersebut melibatkan 10 jurnalis dari 7 negara Asia Pacific.

Australia adalah pendidikan. Itu tidak datang dengan sendirinya. Selain menyiapkan universitas yang berkualitas, Australia juga menginvestasikan banyak uang untuk membangun cukup banyak museum dan mendokumentasikan dengan baik sejarahnya.
APJC berkenan mengajak kami untuk mengunjungi beberapa Museum di Ballarad, Canberra dan Sidney. Mulai dari Gold Museum di Ballarad, National of Museum di Canberra, National Gallery of Australia, Parlement House di Canberra dan terakhir kali ketika mengunjungi Power House Museum di Sidney. Dalam museum museum tersebut kami dapat melihat perjalanan panjang pertambangan, industri, riwayat parlemen, perdagangan hingga teknologi yang berlangsung selama negara Australia berdiri.
Museum pertama yang kami kunjungi bernama Sovereign Hill, di Kota Ballarad yang berjarak sekitar 150 Kilometer dari Kota Melbourne. Untuk sampai ke sana, kami menggunakan kereta api selama 2 jam. Sovereign Hill adalah living museum. Sekitar 200 tahun yang lalu Sovereign Hill adalah pusat penambangan Emas di Australia. Hasilnya begitu besar hingga dari pajaknya saja dapat membangun dua kota besar sepeti Sidney dan Melbourne.  Saat ini masih ada 5 penambangan lagi yang beroperasi di sekitar Ballarad.
Di Sovereign Hill kita dapat melihat miniatur kota pertambangan Australia di awal abad 19. Mulai dari tour tambang emas, toko emas, pabrik emas, hingga tentara berbaju merah. Semua pekerja di Sovereign Hill menggunakan pakaian seperti di abad 19, demikian juga dengan segala aktifitas di sana. Kita seperti menyaksikan kegiatan penambangan dan sosial ekonomi di abad itu termasuk Theater, tempat bermain Bowling dengan lintasan kayu dan pendulangan emas dengan alat mekanik yang digerakkan  tenaga manusia. “Sebuah pengalaman yang menginspirasikan,” ujar Radot Gurning, seorang teman dari Radio 68 yang ikut dalam APJC program. Mungkin suatu hari nanti orang Papua dapat juga menjadi guide di lokasi penambangan PT Feeport. Selain living museum, Ballarad juga memiliki sebuah Gold Museum yang mendokumentasikan teknologi penambangan, peralatan dan hasil penambangan emas dari tahun ke tahun. Kami juga menyaksikan betapa besarnya biji emas yang ditemukan di kota ini.  
Museum berikutnya adalah National of Museum di Canberra. Saat itu tengah berlangsung indigenous culture exhibition dengan tema “Utopia: The Genius of  Emily Kame Kngwarreye” yang menyajikan hasil karya anyam, sulam foto bahkan batik dari suku Aborigin, suku pribumi benua itu. Exhibition ini berlangsung selama 1 bulan, bulan berikutnya sudah berbeda lagi acara dan temanya. Kami bertemu juga dengan beberapa pelajar Aborigin yang datang untuk mempelajari karya seniman mereka.  Jika melihat bentuk gedung yang sangat artistic dan  modern.
Kami juga berkunjung ke Parliament House. Gedung ini penuh dengan pelajar yang datang dengan guru mereka. Sama dengan di Museum, Parliament House  menyediakan kursi kecil yang bisa dipegang oleh seluruh siswa. Ketika sedang mendengar penjelasan, mereka duduk dengan teratur. Ketika guru aktif bertanya, murid-muridnya berebut mengangkat tangan menjawab pertanyaan sang guru. Pemandangan yang sulit saya temui di Jayapura.  
Di Parliament House para pelajar dan juga kami dapat mempelajari sejarah Parlemen lewat lukisan ataupun melihat secara langsung Perdana MenteriAustralia dan oposisi berdebat mengenai kebijakan secara terbuka. Masyarakat dapat melihat langsung di gedung ini. Kami bersepuluh sempat terkagum kagum melihatnya. Sebagai orang Indonesia, rindu juga melihat oposisi begitu vocal mengkritik pemerintahan.
Dalam Gedung Parlemen dapat melihat perjalanan panjang Australian parliament termasuk melihat berapa jumlah perempuan saat ini maupun di masa lalu. Ternyata jumlah perempuan setiap tahunnya meningkat, walaupun belum mencapai 50 persen, namun jumlah wakil perempuan sudah lebih dari 30 persen.
Selanjutnya, National Gallery of Australia . Galeri ini menyajikan lukisan sejak pertama kali bangsa kulit putih tiba di Australia hingga pertengahan abad 20. Kita dapat melihat Australia di jaman dahulu lewat kaca mata pelukis. Di sini kita dapat melihat karya seni lain seperti patung dari Asia Pasific. Kebetulan saat itu ada Pacific arts exhibition bertema “Gods, Ghosts and Men.” Kami ditemani Head of Education Peter Naumann melihat patung, tameng dan ukiran ukiran yang berasal dari Pasific, seperti Papua New Guinea, Salomon Island, Tonga, Samoa, Fiji dan West Papua. Sedih juga melihat ukiran Papua Barat di negara orang. Namun hati saya sedikit terhibur ketika Patung bernama To Reri Uno yang diambil dari Kampung Doyo Lama di sekitar Danau Sentani pada tahun 1929 masih terawat dengan baik di museum ini. “Saat misionaris masuk ke daerah sekitar Danau Sentani, mereka meminta masyarakat membakar atau membuang segala macam patung yang dianggap berhala ke danau. Saat itu ada seorang koletor yang meminta masyarakat untuk menyelam dan membawanya ke luar negeri,” jelas  Peter Naumann.
“Seluruh koleksi kami tidak berasal dari daeranya asalnya, kami membeli dari kolektor yang berasal luar negara asal benda tersebut,” kata sang guide. Cukup menghibur, tetapi kami bersepuluh kecewa juga karena harus melihat karya anak bangsa masing masing  justru di negara tetangga.
Dan yang terakhir kami kunjungi adalah Power House Museum di Sidney. Museum ini lebih menekankan tentang science and design. Di sini kita dapat melihat perkembangan transportasi, mulai dari kereta api, mobil tenaga uap hingga pesawat ulang alik dalam bentuk yang sebenarnya. “Mesin uap ini benar benar berjalan, museum membelinya dari kolektor benda antic,” kata  tenaga sukarela yang mengantar kami. Karena sudah cukup tua, ia agak terengah engah menjelaskan detil setiap sudut museum. Menurut Whitney Fitzsimmons presenter program Business Today ABC Television yang menemani kami selama di Sidney, museum biasanya memperkerjakan para orang lanjut usia untuk menjadi guide, sedangkan untuk gallery biasa seorang curator seni.
Di museum ini juga menjelaskan Ecology seperti siklus air, recycle, pengomposan dan emisi rumah kaca dengan alat peraga dan film yang mudah dimengerti oleh anak anak. Power House juga dilengkapi dengan studio film kecil tempat dimana kita bisa menyaksikan film dokumenter, misalnya tentang kumpulan pertandingan di Liga Rugby Profesional Australia sejak tahun 1950-an.  
Pengunjung yang rata rata adalah anak sekolah dapat mengetahui apa dan dampak pemanasan global bagi dunia dengan penjelasan yang lebih muda dan tentunya dapat lebih bertanggung jawab dalam sikap dan pemikiran mereka.
Jika di Melbourne saja ada beberapa  museum dan lebih dari 10 Art Gallery, maka di Kota Jayapura kita tidak akan mendapatkan satupun gallery yang lengkap dengan seorang kurator. Untuk mempelajari Budaya Papua misalnya, seorang anak sekolah dasar harus pergi ke perpustakaan daerah untuk membaca buku antropologi yang belum tentu dimengerti oleh mahasiswa. Sebab akses ke buku anak-anak sangat sulit.
Jika mengunjungi museum di  Papua kita hanya bertemu dengan beberapa orang pengunjung, dalam ruangan yang sangat pengap, gelap dan susunan benda yang nyaris tidak ada  perubahan di sepanjang tahun. Museum pun jarang dibuka, jika kita ada janji, maka petugas menanti, jika tidak, kita harus menghubungi petugas jaga yang akan membuka ruangan demi ruangan yang ingin kita kunjungi.
Sebagai unit Pelaksana, Museum Waena hanya memiliki dana yang terbatas. Contohnya APBD tahun 2006, anggaran untuk museum Waena hanya berkisar Rp 2, 623 Milyar, dimana Rp  291,5 juta untuk perawatan benda benda museum dan perawatan kantor seperti rekening listrik. Serta Rp 80 juta untuk peningkatan SDM pegawai museum. Hal ini berarti hanya sekitar 0,006 persen dari total APBD Papua tahun 2006 yang sebesar Rp 5,7 Triliun. Sisanya untuk belanja pegawai baik dalam belanja langsung maupun tidak langsung.
Besarnya alokasi anggaran ini dapat member gambaran bagaimana besar usaha kita mempertahankan, menghormati, memelihara dan memperhatikan budaya sendiri. Besarnya alokasi ini juga bisa menggambarkan bagaimana kepedulian kita terhadap mutu pendidikan anak anak Papua.
Kontribusi masyarakat Australia cukup besar dalam pembangunan museum ataupun Gallery. Nama nama perusahaan dan pribadi yang menyumbang dana untuk pembangunan dapat dibaca di tembok  dekat pintu masuk gedung gedung ini.Bagaimana dengan kita? (Angel Flassy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *