Mengapa Sayap Kasuari Begitu Kecil ?

Image

 

Cerita dari Teluk Arguni

JUBI-Dimanakah Teluk Arguni itu ? Teluk Arguni terletak di Selatan kawasan Kepala Burung atau tepatnya antara badan Pulau Tanah Papua dengan Semenanjung Bomberai. Antara Bintuni, Babo, Kokas dan Kaimana. Berikut sebuah cerita yang sudah sangat tua dari Teluk Arguni.
        
Dahulu kala, kata yang empunya cerita, kasuari adalah seekor burung yang sangat besar! Kasuari pada waktu itu memiliki sayap yang sangat besar dan kuat. Kasuari  hanya hidup di kawasan Kepala Burung. Di kawasan  Kepala Burung itu hidup berbagai binatang, tidak kala juga diseberang lain Teluk Arguni. Tetapi, nenek moyang kasuari hanya berada di kawasan Kepala Burung.
Pada suatu hari semua binatang dari kedua belah pinggir Teluk Arguni ini bersepakat pergi ke Randewaya di Pulau Yapen yang terletak di Teluk Reireri atau Teluk Cenderawasih. Mereka lalu membuat sebuah perahu yang besar. Setelah selesai perahu yang mereka buat itu lalu mereka dorong ke pinggir Teluk. Mereka juga membuat sebuah layar berwarna coklat dari daun – daun pisang. Burung mambruk bertindak sebagai pengemudi. Kanguru besar berada di depan perahu bertindak sebagai kapten.
Pada suatu hari mereka lalu berangkat, angin yang bertiup tidak begitu kencang tapi layar dapat dihembus untuk terus berlayar. Kuskus mengangkat layar itu ke atas, Burung mambruk berada tepat di belakang perahu. Dengan salah satu sayapnya mengepit dayung perahu dan memandu  jalannya perahu. Kapten  kanguru berada di depan perahu dan memberi perintah. Binatang – binatang lain yang juga ada di dalam perahu yaitu maleo dengan kakinya yang panjang, kakak tua dengan paruhnya yang bengkok, lau- lau dengan ekornya yang panjang, penyu tua dengan punggungnya yang keras, kus – kus, ular  dan soa – soa  serta yang lainnya.
Kaka tua berada diatas tiang, dari tempat hinggap ia dapat melihat dengan jelas ke dalam air sehingga perahu tidak dapat kandas diatas karang dan tanusan pasir. Tiba -tiba ia berteriak dari atas tiang, “Paitua , Paitua!” Semua mata melihat ke atas. Kakak tua itu menunjuk dengan sayap kanannya. Semua mata, mengikutinya. Kapten mengangkat kaki kanan, juru kemudi mendorong kemudi ke kiri, perahu menuju ke kanan. Perahu semakin mendekat ke pantai di sana ada Paitua, demikian mereka biasa memanggil kasuari yang selalu berjalan seperti orang tua. “ Pai’ artinya ‘Bapak”. Maka” Paitua” berarti “Bapak Tua” .
Begitulah kasuari disapa di seluruh Tanah Papua. Ketika perahu itu berlayar mendekati tepi pantai, maka Paitua menyapa mereka,  “Kamu pergi ke mana?” “Ke Randewa!” teriak Kapten. “ Bolekah saya ikut ? Saya juga ingin ke sana!” pinta Paitua. “ Menurutmu bagaimana juru mudi?” tanya kapten. “ Oh , tidak,” kata juru mudi. “ Akan berbahaya!” Lunas perahu itu cukup kuat dan tebal. Tetapi pinggir perahu itu yang jadi soal. Sangat tipis, kalau Paitua menaiki perahu itu, pasti kakinya yang besar dan kaku akan menendang pinggir perahu yang tipis itu dan pecah seketika. Kita akan tenggelam. Kita semua tidak bisa berenang!”
Burung – burung bisa terbang!, kata kapten. Tapi saya tidak bisa berenang!, meringkik tikus. Saya juga tidak, saya juga tidak, saya juga tidak, kata ular dan binatang yang lainnya saling berebutan.
“ Semua diam,” kata kapten sambil mengetuk pada tiang dengan ekornya. “ Kita belum tenggelam”. Kamu sekalian tidak perlu takut!  “Kepada Paitua ia teriak. “ Perahu ini tidak cukup kuat untuk Paitua”. Apakah lunas perahumu itu tidak cukup tebal? “ tanya Paitua.  “Bisakah kamu membuat perahu yang baik? Pergi saja kembali jangan lanjutkan perjalanan!”
“Lunas perahu ini cukup kuat” teriak kapten lagi. “ Tetapi pinggir perahu ini yang sangat tipis!”.
“Saya akan berdiri dengan diam di atas perahu ini” balas Paitua.  “Saya akan sangat hati – hati untuk tidak menendang pinggir perahu yang tipis itu. Saya berjanji kepada kamu, saya tidak akan!” Kita izinkan saja dia ikut, kapten,” kata beberapa binatang lain kepada kapten. Mereka merasa iba terhadap Paitua itu. Kapten mengangkat kaki kirinya lagi, mambruk mendorong kemudi ke kanan dan muka perahu menuju ke kiri lalu perahu sampai ke darat. Dengat sangat hati – hati  Paitua melangkah ke atas perahu itu. Mereka lalu melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian mereka merasa lapar. “ Kita tidak punya makanan, juru mudi?” tanya kapten tiba – tiba. “ Ada tentu” balas juru mudi. Dan berkata pada Kura-kura, “Bukankah tugasmu selaku koki atau juru masak? Ayo, masak lah. Lalu mematuk kulit kura – kura itu. Segeralah kura – kura bekerja. Dan kulit kerang dia membuat api. Ia mengambil tepung sagu lalu membuat bola dan membakarnya. Setiap kali ada bola sagu yang masak dia taruh diatas papan yang berada di pinggir perahu. Karena tidak bisa mencapai papan  kura – kura hanya mengangkat kakinya dan meletakkan makanan itu disana. Dan apa yang diperbuat Paitua?
Setiap kali koki, menaruh kukis sagu yang masak ke atas papan, Hap! Kukis itu masuk ke dalam paruh yang besar dan lenyap ke leher yang panjang itu. Ooo….., enak sekali. Satu demi satu kukis yang di siapkan juru masak di lahap Paitua. Tidak satu pun binatang lain tau apa yang telah terjadi.
Beberapa lama kemudian ular mendesis, “Ssss, saya lapar. Sudah ada makanan?” Juru mudi menghardik  juru masak, “ Tidak bisa cepat kerjamu? Bukankah sudah dari tadi engkau masak?  “Ada apa sesungguhnya, “ Balas juru masak sengit. “Dari tadi saya sediakan begitu banyak kukis. Angkat matamu lihat di atas papan di samping perahu, bukankah banyak makanan?” Juru mudi mengangkat kepalanya untuk melihat sejenak ke samping perahu. Apa,” teriaknya marah. “ Kau bilang banyak kukis di atas makanan itu, tapi tak terdapat apa – apa. Hai juru masak yang malas!.”
Pada saat yang bersamaan juru masak menaruh lagi kukis di atas papan itu. Serta merta Paitua menundukkan kepala dan lehernya yang  panjang. Dan waktu kepala dan leher itu ditegakkan kembali  kukis itu, telah hilang. Tikus yang duduk di  pinggir perahu itu melihat kejadian itu, lalu berteriak, “Itu Paitua yang makan semua makanan itu”.
Betapa marahnya semua binatang pada Paitua. Mereka menghajar Paitua dari segala arah. Ada yang menggigit, ada yang menendang, ada yang memukul. Pitua juga kesakitan dan berusaha menendang balik. Celakanya, tendangan itu kena juga pada pinggir perahu yang tipis itu. Perahu pecah, semua binatang ada di dalam air. Tentu tidak semua binatang, burung – burung terbang menuju daratan. Beberapa ekor burung masih sempat juga menyelamatkan beberapa binatang yang bertubuh kecil dengan cara mengapitnya di cakar mereka. Yang lain di dudukkan di atas punggung kura – kura yang juga menolong menyeberang ke darat. Diatas punggung kura – kura ada berbagai binatang darat, seperti kadal topeng, ular kaki empat, kus – kus dan lain – lain.
Kadal topeng duduk di tengah- tengah. Terlihat sekali topengnya itu mengembang karena ia begitu takut, topeng yang mengembang itu lebih menyerupai layar sehingga  membawa kura – kura melaju lebih cepat ke darat. Tapi tikus dan ular berkaki empat yang duduk di pinggir seringkali tergelincir dan harus berusaha naik kembali ke punggung kura – kura. “Tolong – tolong teriak mereka, tetapi tidak ada yang bisa menolong mereka. Dengan susah payah tikus memukulkan kakinya ke air tetapi usahanya sia – sia karena ekornya terlalu berat. Karena ia semakin terbenam ke bawah maka mati terbenamlah tikus kecil itu.
Sewaktu binatang terakhir sampai ke darat, binatang lain telah ada di sana. Terutama para burung, mereka mencari makan. Pitua juga akhirnya sampai dengan selamat ke darat. Dia juga segera mencari makanan. Namun semua makanan telah habis. Ia mencari dan terus mencari tetapi ia tak menemukan makanan. Ia lalu melirik makanan dari binatang yang lainnya. Tetapi tidak satu pun yang mau memberikan padanya. Mereka hanya melihat dengan benci dan tak berani berbicara, mereka takut pada Paitua. Karena kakinya yang kuat. Paitua melihat sekelilingnya lalu apa yang dilihatnya di sana di atas pohon kayu besi. Disana ada lau – lau. “ Bikin apa engkau di situ?” teriak Paitua sambil melihat ke  atas. “ Saya” balas lau – lau. “ Ya engkau” teriak Paitua lagi. “ Saya duduk di sini balas lau -lau. Saya juga tau engkau duduk disitu, tetapi apa yang kau makan itu? Betapa laparnya Paitua. Ia juga ingin makan. Itulah sebabnya ia begitu lembut pada lau – lau. “Saya makan buah pohon kayu besi yang sangat lezat’ kata lau – lau. “ Ah, kalau begitu buanglah beberapa buah ke bawah,” kata Paitua membujuk. “ Paitua saja yang datang ke mari, Paitua punya sayap yang besar,” teriak lau – lau membalas.” Ya, saya memang punya sayap yang besar tapi bukankah engkau yang duduk di situ, buanglah beberapa buah kemari”. “ Ada apa dengan sayapmu itu Paitua?,” kata lau – lau membalas. Mendengar itu Paitua tidak membalas, ia hanya memohon “Ayo buanglah beberapa buah pohon itu kemari.
“Saya ingin bercerita sedikit kepadamu!” kata lau – lau lagi. “Dahulu kala saya memiliki kaki yang sama panjang. Sekarang, lihatlah hanya kaki belakang saya yang panjang dan kaki depan saya pendek. Tau kah engkau mengapa demikian?” Kemudian Paitua ingin tahu. Dahulu saya pernah begitu lapar, kaki depan saya ini saya makan, “ Itulah sebabnya sekarang menjadi pendek. Makan saja sayapmu yang besar itu hai Paitua! Engkau begitu lapar. Sayap yang besar percuma saja engkau tidak bisa terbang jauh. Mendengar hinaan itu Paitua menjadi marah ia pergi kedalam hutan menjauhi lau – lau yang kikir itu. Beberapa saat kemudian Paitua keluar dari hutan dan apa yang terjadi? Sayap Paitua yang besar itu sudah menjadi kecil mengapa demikian? Tidak satu pun binatang yang tau, apalagi kita manusia. Tetap menjadi pertanyaan sampai saat ini. (Bersambung)
     
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *