Bar, Bir dan Bor Pintu Masuk HIV/AIDS di Papua

Image

Ketua Sandaun Province AIDS Comission (SPAC) Papua Nugini Rose Uri (tengah) sedang berbincang-bincang dengan peserta pertemuan pemangku kepentingan untuk percepatan penanggulangan dan pencegahan HIV/AIDS di Tanah Papua di Jayapura belum lama ini. (Foto:JUBI/Saut Marpaung)

 
JUBI – House music memekakan telinga pengunjung di lokalisasi Tanjung Elmo. Tampak empat lelaki hidung belang tengah berjoget sambil meneguk bir. Mereka tak sendirian, tetapi selalu ditemani beberapa Pekerja Seks Komersial (PSK). Habis meneguk bir selanjutnya bor alias ngebor di ranjang.
 
Lokalisasi Tanjung Elmo mulai dibangun saat Bupati Jayapura almarhum  Th Meset memerintah yaitu sekitar 1970-an. Waktu itu alasan pemilihan lokalisasi agar bisa terkontrol dan jauh dari keramaian pusat kota. Lokalisasi ini terdiri dari beberapa rumah yang menjadi tempat mangkal dan tinggal para Pekerja Seks Komersail (PSK) yang disebut wisma. Saat ini jumlah wisma di sana sebanyak 45 wisma dan 289 PSK.
Sebelum masuk ke lokalisasi terbesar di Papua ini terdapat gerbang masuk yang bertuliskan daerah wajib kondom. Pesan ini didukung pula dengan Perda No :20/2003 tentang Penanggulangan HIV/AIDS dan IMS yang mewajibkan penggunaan kondom. Pantauan JUBI selama dua setengah jam bersama petugas dari PKBI ternyata 70 % dari PSK hanya menggunakan enam kondom per minggu.
“Sudah Korek’an! Mbak ini hari terakhir untuk bulan ini,” teriak Ama sambil berulang ulang memanggilnya. Ama adalah salah seorang pekerja lembaga swadaya Masyarakat (LSM) Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) yang selalu bersama para PSK di lokalisasi Sentani Kiri atau Turki (Turun Kiri) memantau aktivitas, ia mengingatkan para pekerja. Sore itu Ama dan Pak Slamet, seorang pemilik wisma yang juga anggota Pokja (kelompok kerja) AIDS di lokalisasi ini berkeliling dari wisma ke wisma. Mereka membagi-bagikan kondom gratis bagi para pekerja seks.
Korek’an adalah istilah untuk pemeriksaan alat kelamin perempuan (vagina)  bagi para PSK. Pemeriksaan ini dilakukan rutin setiap bulan oleh PKBI. LSM ini memiliki klinik di lokalisasi ini. Sedangkan pembagian kondom dilakukan setiap seminggu sekali yang merupakan kerjasama antara Pokja AIDS Tanjung Elmo, PKBI dan ASA. Tiap PSK mendapatkan 15 kondom seminggu. Jika penggunaannya lebih, maka PSK wajib membeli sendiri. Jika kurang dari 15 PSK hanya mendapat ganti kondom yang digunakan.
“Sejak hari raya Lebaran kemarin sudah sepi Mbak,” kata Endang, seorang PSK dari Wisma Pelangi. Ternyata satu kondom tidak mengartikan satu kali transaksi. Ada beberapa pelanggan yang suka menggunakan kondom secara berlapis-lapis. “Takut bocor” lanjut Endang.

Tamu tolak pakai kondom

Pekerja LSM dan Pokja HIV/AIDS hanya bisa menganjurkan dan menyediakan sarana, keputusan terakhir menggunakan kondom atau tidak sepenuhnya ditangan PSK dan pelanggan itu sendiri. Posisi tawar PSK menjadi rendah sekali, ketika sepi pelanggan. Bahkan mereka tak mampu berbuat banyak dan terpaksa hanya menerima kemauan pelanggan yang menolak memakai sarung pengaman alias kondom.
 “Jika sudah tiga tidak ada pelanggan atau tiga hari kosong, hari keempat apapun permintaan pelanggan langsung diterima. Maklum, biaya hidup di sini sangat tinggi,”  kata  Lilis Rumadaul, Direktris PKBI. 
Akibatnya angka Infeksi Menular Seksual (IMS) para PSK  sangat tinggi, “Hampir 80 persen terkena IMS, tapi IMS biasa, kalau GO atau Spilis, jumlahnya hanya mencapai 15 persen dari total PSK sebanyak hampir 300 orang” lanjut Rumandaul. Jumlah ini sangat fluktuatif, setiap bulannya berbeda. Hal ini disebabkan karena setiap bulannya ada saja PSK yang datang dan pergi.
Dari pengamatan selama duduk di di Apotik klinik PKBI, hampir semua PSK menerima obat untuk pengobatan IMS.  Perawat di Apotik ini selalu mengingatkan PSK yang dinyatakan sehat untuk tetap menggunakan kondom. Selain melakukan pemeriksaan IMS tiap hari Jumat, Klinik PKBI juga  melayani pengobatan IMS dan suntik KB bagi PSK.  PKBI dan Pokja juga mewajibkan penghuni baru untuk melakukan pemeriksaan IMS sebelum bekerja di Lokalisasi ini. “Hasilnya, hampir sebagian besar PSK yang masuk lokalisasi ini sudah terinveksi IMS. Sayangnya, untuk HIV/AIDS kami tidak melakukan pemeriksaan rutin. Mungkin untuk kedepan akan kami programkan, “ ujar Lilis.  Biasanya Jika ada yang terindikasi HIV/AIDS PKBI merujukkan ke VCT Sentani Timur untuk diperiksa lebih lanjut.
Rata-rata PSK baru mengaku baru datang dari Jawa. Namun sebenarnya tidak semuanya benar. Ada yang berasal dari Timika, Sorong. Ini seperti rolling. Setahun di Sorong, ia pindah ke Timika, setahun kemudian pindah ke Jayapura, selanjutnya mereka pindah ke kota kota yang lebih kecil. “Setiap kali pindah,   mereka adalah pendatang baru dengan harga jual terbaik,” kata Pak Slamet pemilik Wisma Relax. Rata rata penghuni disini tinggal 6 hingga satu tahun. Namun ada yang tetap bermukim di lokalisasi ini selama bertahun tahun.
Jika dilihat rata-ratanya, pelanggan di lokalisasi ini adalah kelompok masyarakat dari ekonomi menengah. Lokalisasi Tanjung Elmo berjarak 20 kilometer dari Kota Jayapura, dan berjarak 20 Kilometer juga dari Kota Sentani, Ibukota Kabupaten Jayapura. Berada di tepi Danau Sentani dan juga di Jalan Raya Sentani yang menghubungkan Jayapura dan Bandara Sentani.
Kota Jayapura tidak memiliki lokalisasi namun memiliki untuk mendapatkan bisnis esek esek ini, lelaki hidung belang tidak perlu jauh-jauh ke lokalisasi. Di Kota Jayapura terdapat 18 Panti Pijat dan 22 Bar yang juga melayani kebutuhan lelaki hidung belang ini. Tarifnya yang lebih tinggi dibandingkan lokalisasi Tanjung Elmo. Bar dan Panti Pijat di Kota Jayapura  bahkan berada di tengah-tengah pemukiman penduduk, contohnya Bar Cleopatra, Cafetaria dan Karaoke Victory, Bar dan Karoke Exotic, Bar dan Karoke Papua Jaya dan  Panti Pijat Timung Ayuh Asih, berada di tengah-tengah  kompleks perumahan Waena Residen, distrik  Waena Kota Jayapura. Jika dikatakan PSK, mereka keberatan. “Mereka bukan PSK, PSK itu yang berada di lokalisasi Tanjung Elmo sana. Pramuria pekerjaannya hanya menemani tamu minum,” ujar Komisaris Polisi F.N Djari, Kepala Sub Bagian Bina Masyarakat (Bimas) Polresta Jayapura.
Walaupun secara teori hanya melayani minum, ternyata pramuria Bar dan Panti Pijat juga terlibat bisnis esek esek ini, salah satu bukti dapat dinilai dari tingginya penderita IMS di pekerja Bar dan Panti Pijat. “99,9 persen Pekerja Panti Pijat dan Bar di Jayapura terinfeksi IMS, namun upaya pencegahan sangat sulit karena mereka hanya satu bulan bekerja di satu tempat,” ujar Veneranda Kirihio, Direktris YHI.  Pramuria ini berputar dari  Jayapura, Timika, Sorong dan Merauke, dengan masa kontrak yang sangat pendek yaitu 1 hingga 3 bulan. Total PSK Panti Pijat dan Bar yang dilayani YHI sebanyak 624 orang. Seperti halnya lokalisasi Tanjung Elmo, jumlah ini sangat fluktuatif.

Pemeriksaan IMS

Yayasan Harapan Ibu (YHI) adalah salah satu LSM yang bekerja dalam penanggulangan HIV/AIDS di Kota Jayapura. Salah satu programnya adalah melayani pemeriksaan IMS dan mengobati IMS PSK di 18 panti pijat dan 22 Bar dan Karaoke di Kota Jayapura dan beberapa panti pijat dan Bar di Kabupaten Jayapura.
Panti pijat dan Bar memiliki konsumen menengah ke atas. Jika Bar didominasi PSK yang berasal dari Sulawesi Utara dan Ambon, panti pijat didominasi pekerja yang berasal dari pulau Jawa. “Dari seluruhnya, kami menemukan 5 diantaranya positif HIV/AIDS.  Dan semuanya baru datang di Jayapura,” lanjutnya. Namun ia tak tahu apakah ia baru datang dari luar Papua atau dari kota lain di luar Jayapura.
Traffic PSK di Papua biasanya di mulai dari tiga kota, Sorong, Timika dan Jayapura. Biasanya PSK masuk ke tiga kota ini, lalu berputar tiga kota besar ini sebelum pindah ke kota yang lebih kecil seperti Merauke, Biak, dan kota-kota kecil di pengunungan Tengah. “Seharusnya setiap masuk keluarnya PSK di setiap kota harus dilaporkan ke BIMAS (Bina Masyarakat) Polres maupun Polresta setempat, namun fakta di lapangan banyak yang masuk keluar tanpa sepengetahuan kami,” ujar Kompol F.N Djari, Kasubag Bimas Polresta Jayapura. Hal ini sesuai dengan UU No. 2 tahun 2002 tentang kepolisian, dimana setiap pemiliki usaha jika memperkerjakan perempuan diatas jam 17.00 wajib melaporkan pekerjanya kepada pihak kepolisian setempat 
Para petinggi dan lelaki hidung belang berkantong tebal di Papua memiliki pasar yang berbeda. Jika bersama teman teman, mereka biasanya ke Bar untuk minum dan mengobrol sebelum melampiaskan gairah seksual mereka. Namun jika single fighter , mereka lebih suka dengan memesan pelajar SMP, SMA, Mahasiswa, PNS ataupun pekerja swasta yang berkerja rangkap. Level ini yang sangat sulit di jangkau oleh layanan LSM. Karena tidak diam di satu tempat. Untuk mendapatkan layanan mereka, dapat dihubungi lewat telepon seluler Mama Chip masing-masing. Sampai saat ini belum ada NGO yang melayani mereka. Merekapun sangat mobile, bisa melayani short time maupun diajak ke luar kota.
Tarif mereka juga sangat fleksible, berkisar antara Rp. 300.000 – Rp 1 juta untuk short time. Namun jika lagi butuh uang, Rp. 100 ribu pun ok. Kelompok ini yang paling beresiko menularkan ke orang lain. Karena selain berhubungan seks dengan pelanggan, mereka juga berhubungan dengan teman sebaya, suami, pacar atau siapapun yang mereka suka. Dan biasanya jarang yang mengetahui kalau mereka juga pekerja seks. Selain itu lelaki  hidung belang yang  berkantong tebal juga merupakan kelompok beresiko. Mereka  sangat mobile menularkan HIV, walaupun tanpa uangpun setiap masyarakat Papua dapat tertular jika menjadi pasangan dari kelompok beresiko ini.
Isu genocide (pembataian etnis) kerap dihubungkan dengan penyebaran HIV/AIDS di Papua. Berdasarkan pengalaman Tahi Butar-butar, M.Kes Direktur Yayasan Kesehatan Pengembangan Masyarakat (YPKM) Papua yang telah bekerja selama 14 tahun  dalam penanggulang HIV AIDS, ada tiga  faktor penyebab penyebaran HIV/AIDS di Papua. “Yang pertama kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap HIV hal itu ditandai dengan ketakutan-ketakutan dan diskriminasi yang sangat kuat dari keluarga, dan masyarakat ketika bertemu dengan penderita AIDS. Kedua, proses pengembangan pembangunan eksploitasi Sumber Daya Alam (SDA)sering mendatangkan tenaga dari luar termasuk pekerja seks,  dan ketiga mulai runtuhnya nilai-nilai budaya adat asli Papua seperti hukuman adat berupa uang yang dengan mudah mempengaruhi seseorang melakukan seks promiscuistik, “ ujar Tahi Butar Butar.  (Angel Flassy/Dominggus A. Mampioper)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *