Virus Itu Tak Memandang Orang Kaya Atau Miskin

Image

Para pejabat beserta tamu undangan hadir dalam pembukaan pertemuan pemangku kepentingan untuk percepatan penanggulangan dan pencegahan HIV/AIDS di Tanah Papua di Jayapura belum lama ini. (Foto: JUBI/Saut Marpaung)

 
JUBI— Mama Juli Jeresotouw salah seorang ibu rumah tangga yang baik baik tak menyangka dirinya harus terinveksi virus HIV/AIDS atau tamu tak diundang itu.

Bahkan berkali kali ia berguman dalam hatinya, “Saya ini ibu rumah tangga baik baik.” Ternyata tamu yang diundang ini tak memandang bulu baik orang kaya, miskin dan orang baik baik pun bisa ia singgahi.
Pertama kali Mama Juli Jeresotouw hendak memeriksakan dirinya ke Puskesmas karena menderita penyakit malaria, tetapi anehnya malaria yang dideritanya tak kunjung sembuh. Terpaksa petugas pendamping dari sebuah LSM di Jayapura menawarkan dirinya untuk melakukan Voluntary Concelling Test (VCT) di RSUD Dok II Jayapura.
Bagai disambar halilintar ternyata Mama Juli Jerisitouw telah disinggahi virus HIV positif. “Berjuta juta pertanyaan timbul dari dalam dirinya, mengapa harus saya? Saya ini orang baik baik!” Begitulah ungkapan hati yang keluar dari Mama Juli Jeresitouw saat dialog interaktif pada Hari AIDS Sedunia di RRI Jayapura pada 1 Desember 2008 lalu.
Sekretaris KPAD Provinsi Papua Drs PJ Ukung mengutip pernyataan dr Gunawan Ingko Kusumo, tingginya pengidap HIV/AIDS di kalangan ibu rumah tangga karena berkeliarannya “burung burung tanpa sayap” yang masuk ke rumah rumah keluarga. Burung burung tanpa sayap yang beterbangan adalah ungkapan bagi lelaki yang suka melakukan hubungan seks tanpa pengaman alias kondom atau mereka yang suka gonta ganti pasangan dalam berhubungan seks.
Selain itu sebanyak 17 orang ibu hamil positif tertular HIV/AIDS dalam kunjungan  VCT di RSUD Dok II Jayapura selama Juni 2004-Oktober 2008. Kunjungan VCT  sebanyak 2.448 dengan perincian 498 dinyatakan positif HIV. Kunjungan ibu hamil sebanyak 674 yang tertular HIV sebanyak 17 orang. 136 orang yang mau minum obat. Sisanya 62 orang aktif minum obat sampai sekarang dan  sebanyak  14 orang menghentikan minum obat serta 30 orang telah meninggal dunia.

Burung tak bersayap masuk ke rumah
“Sejak pertama kali HIV/AIDS ditemukan di Kabupaten Merauke pada 1992 hingga sekarang ternyata virus itu  terus meningkat. Bahkan anak anak di bawah 15 tahun sudah pernah melakukan hubungan seks. Banyak ibu rumah tangga pun sudah terinveksi padahal mereka nikah resmi dan diberkati,” ujar PJ Ukung.
Ditegaskan Ukung, burung yang tak bersayap ini membawa masuk virus ketika melakukan hubungan intim dengan istrinya di rumah.
Menyikapi hal ini, lagi lagi PJ Ukung menyitir pernyataan dr Gunawan bahwa zinah itu memang dilarang agama, oleh karena itu sarannya adalah memakai sarung pengaman alias kondom. “Perbuatan dosa boleh kau tanggung sendiri, tetapi jangan kau bawa pulang penyakit yang mematikan itu ke dalam  rumahmu,” ujar Ukung.
Ditambahkan Ukung, upaya percepatan pencegahan HIV/AIDS di Tanah Papua mutlak dilakukan sebab perkembangan epidemik ke depan itu makin tinggi. Oleh karena itu, lanjut Ukung, upaya pencegahan ini pula membutuhkan dana yang makin tahun makin meningkat.  Berkaitan dengan ini Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat dr Arnold  dalam pertemuan di Jayapura mengatakan pada 2009 pihaknya menganggarkan dana sebesar Rp 125 Miliar untuk menekan laju pertambahan HIV/AIDS sebesar 80 % kepada mereka yang beresiko tinggi. “Kalau hal ini mampu dilakukan kita berhasil menyelamatkan sekitar 25.000 orang di Papua Barat,” ujar dr Arnold.
Sedangkan kebutuhan dana untuk penanggulangan HIV/AIDS di Provinsi Papua menurut Drs PJ Ukung sebesar Rp 129 Miliar. “Andaikata kelompok beresiko di Provinsi Papua berhasil mencapai 80 % berarti sebanyak 60.000 manasia di Provinsi Papua bisa diselamatkan,” cetus Ukung.
Mengapa sejak pertama kali HIV/AIDS ditemukan pada nelayan Thailand di Merauke pada 1992 hingga sekarang terus meningkat? Bahkan ada yang menuding angka angka tersebut merupakan akal akalan para pembuat program agar bisa meraup keuntungan dari program HIV/AIDS. Tapi kenyataannya memang demikian, angka angka ini terus meningkat kalau tidak ada kesadaran dan upaya perlindungan terhadap diri sendiri maupun keluarga.
Sejak ditemukan kasus HIV dan AIDS di Merauke pada tahun 1992, dan seiring dengan berkembangnya perubahan sosial dan perubahan perilaku, secara komulatif jumlah kasus HIV dan AIDS per 30 Juni 2008 di Papua telah mencapai 4,114 kasus HIV dan AIDS, terdiri dari; HIV 2.247 kasus dan AIDS 1.867, terdapat 358 orang meninggal. Di Papua Barat kasus HIV dan AIDS per 31 Mei 2008, diperkirakan telah mencapai 1.386, terdiri dari HIV 743 kasus, AIDS 643.  Data ini telah merata di setiap kabupaten dan kota di Tanah Papua. Jika dibandingkan dengan angka nasional, maka 42% kasus HIV dan AIDS di Indonesia terdapat di Tanah Papua.
Angka orang terinfeksi HIV/AIDS hingga saat ini 4114 orang, walaupun perkiraan KPA secara riil di lapangan terdapat 60.000 orang dari total 2,5 juta penduduk Provinsi Papua. Hingga 16 tahun sejak HIV/AIDS ditemukan untuk pertama kalinya, jumlah orang terinfeksi belum juga menurut. Pemerintah sibuk membuat grand design, sedangkan DPR Papua  masih mencari cari alat untuk mengurangi penularan. Sementara itu, angka IMS masih juga tinggi, migrasi penduduk ke Papua tak terkontrol, dan perilaku seks orang Papua belum juga berubah.  
Telah banyak upaya-upaya pencegahan dan penanggulangan yang sudah dilakukan oleh pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (LSM), agama, swasta, adat, organisasi donor internasional, dan organisasi lainnya.
Epidemi HIV/AIDS akan terus bertambah berdasarkan data terkini akan memberikan gambaran ke depan. Adapun hasil pengamatan yang dilakukan Family Health International (FHI), angka hubungan seks sebelum usia 15 tahun di tanah Papua (Papua New Guinea/PNG, Papua Barat dan Papua) terlihat lebih tinggi dari negara Afrika Uganda. Begitu pula pria yang punya banyak pasangan seks. Hal ini diperburuk lagi bahwa di Tanah Papua sangat sedikit pria dan perempuan yang memakai kondom.

Kampanye kondom turunkan prevalensi HIV/AIDS di Uganda
Belajar dari pengalaman di Uganda pada 1991 prevalensi HIV/AIDS di sana hanya berkisar antara 25-40 persen. Namun demikian, sejak itu prevalensi HIV/AIDS di Uganda turun sampai 5 persen.  Salah-satu faktor menurunya prevalensi HIV/AIDS di Uganda adalah melalui kampanye besar-besaran tentang perubahan perilaku serta larangan melakukan hubungan seks dengan pasangan yang lebih dari satu.  
“Epidemi HIV/AIDS yang terjadi di Tanah Papua dan Papua New Guinea (PNG) tidak jauh berbeda dengan epedemi yang tejadi di Uganda tahun 1991. Tetapi jangan khawatir masih ada waktu untuk menurunkan prevalensi HIV/AIDS di Tanah Papua dan PNG,” ungkap Country Director Family Health International (FHI) Robert Magnani, Ph.D beberapa waktu lalu di Jayapura.
Ditegaskan Magnani, epidemi HIV/AIDS di Uganda berkembang secara cepat adanya partner seksual yang banyak. Seorang laki-laki berhubungan seks dengan lebih dari satu perempuan dalam waktu bersamaan, dimana hubungan seks ini dilakukan secara teratur dan kontinyu.  “Infeksi HIV dalam tubuh manusia ketika orang itu baru terinfeksi kadar virus dalam tubuh tinggi sehingga sangat beresiko menularkan virus HIV ke partnernya. Hubungan seks dalam waktu bersamaan terjadi  pria menginfeksi ke pasangan perempuannya sangat cepat,” ujar Magnani, seraya menegaskan, kalau kita tidak menggunakan kondom, konseling, tes darah, maka akan terjadi seperti di Afrika.”
Karenanya, tukas Magnani, perlu kampanye perubahan prilaku dengan melibatkan tokoh-tojkoh agama sebelum intervensi medis.  Saat ini prevalensi HIV/AIDS di Tanah Papua 2,4 persen. Sedangkan di PNG 1,6 persen. Epedemi di Uganda telah mencapai tingkat kematangan dan puncaknya. Epedemi pedesaan di PNG diramalkan tumbuh lebih cepat dibanding daerah pedesaan. Epedemi di PNG baru muncul dan masih dalam fase berkembang. Epedemi di Tanah Papua dan PNG dapat dianggap dalam fase sebanding.
Prevalensi HIV/AIDS pada pria lebih tinggi dibandingkan pada wanita di Tanah Papua, tidak sama seperti yang terjadi di Uganda. Tingkat pengetahuan tentang HIV/AIDS yang rendah pada dan wanita di Tanah Papua. Seks sebelum usia 15 tahun dan prilaku pria yang mempunyai banyak pasangan terlihat lebih tinggi di Uganda . Masih sedikit masyarakat Papua yang dites HIV (setahun yang lalu). Tetapi pria dan wanita di Tanah Papua sangat sedikit yang memakai kondom. Cakupan program bagi penjajah seks lebih tinggi di Tanah Papua, tetapi cakupan layanan tes HIV lebih rendah disbandingkan PNG dan Uganda .     Tingkat pengetahuan HIV/AIDS lebih rendah pada penjajah seks di Tanah Papua, tetapi pemakaian kondom lebih tinggi dibandingkan Uganda . Prevalensi HIV pada penjajah seks di Tanah Papua jauh lebih rendah dibandingkan di Uganda. Epedemi HIV/AIDS di Tanah Papua dan PNG belum matang dibandingkan Uganda , tetapi ada kesamaan prilaku beresiko. Tingkat resiko di Papua dan PNG, umumnya lebih rendah dibandingkan Uganda, sehingga pertumbuhan yang cepat prevalensi lebih dari 10 persen pada masyarakat umum tidak mungkin terjadi.
Pengetahuan HIV/AIDS dan penggunaan kondom pada masyarakat umum masih rendah di Tanah Papua sehingga perlu mendapat perhatian dan prioritas. Cakupan layanan konseling dan tes HIV masih rendah di Tanah Papua, baik pada masyarakat umum atau pada penjajah seks. “Diperkirakan cukup besar jumlahyang terkena HIV yang belum diketahui statusnya dan perlu dipersiapkan untuk layanan bagi yang telah terkena HIV sekaligus perluasan layanan dan tes HIV,” ujar Magnani.
Pendapat senada juga dikatakan Ketua Sandaun Province AIDS Comission (SPAC) Rose Uri bahwa penyebaran HIV/AIDS di Papua New Guinea (PNG) bukan saja di kota tetapi sudah menyebar sampai ke daerah kampung kampung. “Ini sangat memprihatinkan dan membahayakan,” ujar Rose Uri di Jayapura belum lama ini.
Rose Uri menambahkan, saat ini di Sandaun Province yang datang memeriksa baru sebanyak 30 orang dan semuanya terinfeksi HIV/AIDS. “Sebenarnya bisa lebih dari jumlah tersebut kalau semua dengan sukarela datang memeriksa,” ujarnya prihatin. Dalam Workshop di Port Moresby ibukota negara Papua New Guinea dinyatakan, sekitar 85 % dari jumlah penduduk PNG sekitar 6 juta jiwa ternyata penduduk di daerah kampung kampung atau pedesaan banyak diduga terinfeksi HIV/AIDS.
Shane Martin konsultan dari National AIDS Council menyatakan pada 2007 di PNG ada sebanyak orang yang hidup dengan HIV/AIDS sebanyak 23 210 pada akhir tahun lalu.
Pada 2007, prevalensi HIV/AIDS sebesar 1,61 persen, dan diperkirakan sekarang bahwa mereka yang hidup dengan virus maut ini sekitar 59 537 di mana sebanyak 1057 adalah anak anak.
Untuk pertama kali prevalensi di pedesaan pada 2007 (1,65 % dan 1,38 % respective) berarti pada 2012 di daerah pedesaan diproyeksikan menjadi 5,74 % dan sedangkan di perkotaan bisa di bawah 1,44 %. Pada 2003, jumlah pengidap HIV/AIDS berjumlah sebanyak 7036 dan pertama kali pengidap HIV/AIDS ditemukan di PNG sejak 1987 atau lima tahun sebelum ditemukan di Merauke. (Dominggus A. Mampioper/Makawaru da Cunha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *