Bakat Alam dan Pendidikan Sepak Bola di Papua

Image

Tim Emsyk Jayapura berpose bersama saat tampil di Liga Danone Nations Cup V. U-12 PSSI di Stadion Kuningan, Jakarta, 12-13 Mei 2007. (Foto: Benyamin Pepuho)

 
JUBI—Bermodal bakat alam saja ternyata tak cukup kuat untuk memoles seorang pemain sepak bola. Masih butuh pembinaan sejak usia dini di mana disiplin dan rasa percaya diri pesepakbola mulai tertanam.

Christ Yarangga, Aples Tecuari, Ronny Wabia adalah produk pembinaan sepak bola keluaran Diklat Pusat Pembinaan Latihan Pelajar (PPLP) Papua awal 1990-an dibawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan melalui Kantor Wilayah Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Irian Jaya.
Hasilnya lumayan bagus. Mereka bermain bola, tetapi tak pernah melupakan kewajiban mereka untuk belajar. Namun Diklat PPLP Papua tak mampu menampung semua potensi sepak bola yang ada di Papua, termasuk anak anak pelajar Sekolah Dasar (SD) di Kota Jayapura. Melihat animo masyarakat di Port Numbay yang begitu besar, Benyamin Pepuho Pembina Sekolah Sepak Bola (SSB) Emsyk, Waena memberanikan dirinya untuk membuka sekolah sepak bola.
“Saya kira hanya kami yang membina pemain sepakbola usia dini di Papua,” tutur Benyamin Pepuho kepada JUBI di Jayapura akhir pecan lalu, mengawali kisahnya merintis SSB Emsyk di Provinsi Papua.  
Menurut Pepuho, tahun 2003-2004 dirinya mulai menekuni sepak bola dengan mengikuti pelbagai turnamen sepakbola lokal yang digelar di seputar Kota Jayapura.  “Waktu itu Carolino Ivakdalam, Kakak kandung Eduard Ivakdalam, play maker Persipura  mengajak kitong untuk bermain sepakbola,” tutur Pepuho, seraya menambahkan, dia mulai membentuk klub sepak bola “dadakan” yang pemainnya terdiri dari anak anak di sekitar kompleks rumahnya untuk ikut Turnamen Sepakbola Gawang Mini Aspol Cup II.      
Inilah tonggak awal dia mulai  merintis SSB Emsyk yang terbentuk pada 17 Oktober 2003 sekaligus hari lahir SSB Emsyk. Ia secara perlahan mulai mengubah paradigma sepakbola lama menjadi paradigma sepakbola baru pada diri pemain sepakbola usia dini tersebut. “Saya paham bahwa untuk membentuk pemain sepakbola usia dini butuh suatu proses waktu yang panjang. Dasar-dasar sepakbola yang benar perlu ditanamkan sejak anak-anak usia dini,” ungkapnya.  

Jauhkan generasi muda dari prilaku negatif
SSB Emsyk mempunyai tujuan membina dan memberi kesempatan bagi generasi muda  untuk mengembangkan bakat dan minat dari talenta alam sehingga menghindari generasi muda dari prilaku negatif seperti narkoba, miras, free seks, putus sekolah  dan lain-lain.
Alhasil, pemain-pemain usia dini SSB Emsyk dibina dengan disiplin tinggi ala militer.
“Kedengaran idealisme, tapi inilah mimpi ke arah sepakbola profesional yang akan terwujud sepuluh tahun kedepan tak masalah yang penting mulai bermimpi dari sekarang,” katanya.
Dari keinginan membangun SSB Emsyk, maka mulai tahun 2005 ia  mencari fasilitas lapangan, mendorong dan membentuk pemain usia dini secara profesional melalui latihan dasar-dasar sepakbola, khususnya bagi pemain usia 7-21 tahun dengan merekrut mantan pemain Persipura antara lain Yohanes Zonggonauw, Christ Pulalo dan Abdul Munif untuk melatih SSB Emsyk.  
Waktu terus bergulir. Kini produk SSB Emsyk telah dilirik Diklat PPLP Papua dan Klub-klub bayaran luar Papua, seperti David Lali, Petrus Asmuruf, Nelson Alom, Brain Sainyakit, Roy Asaribab, Rizad Awi, Yan Wambwolo, Moses Bango, Roy Asaribad, Tyson Dimara, Jurgen Waega, Elvis Rewang (Persipura U-21), Wilfred So (Persiwa Wamena Diklat PPLP dan PON Papua) Linder Hendambo, Ravel Zakeus Ohee (PKT U-21), Yosua KalebYudho Maniagasi (Persebaya U-21), Bia Makay, Rivat Manuel. Bahkan alumni SSB Emsyk diboyong untuk memperkuat Suratin Cup di seluruh wilayah Papua, seperti  Serui, Jayapura, Yapen Waropen, Biak, Sorong, Keroom, Pegunungan Bintang dan lain-lain.  
Sekarang SSB Emsyk tinggal pemain belia yang dibentuk satu dua tahun lalu. SSB Emsyk memiliki sarana penunjang yang representatif seperti Lapangan Sepak Bola Obhokhouw di Waena, kantor sekretariat, sumber air bersih, kamar mandi/WC, alat pemotong rumput dan SDM yang handal.
Saat ini SSB Emsyk membina sekitar 300 pemain usia dini dari pelbagai kelompok umur mulai dari 4-21 tahun dengan biaya pendaftaran Rp 250.000 dan uang iuran Rp 20.000 per bulan. “Bagi anak-anak tak mampu boleh mengikuti latihan yang penting serius,” kata Pepuho mengajak.  “Sekarang tinggal siapa yang mau melihat potensi ini untuk dikembangkan ke arah yang lebih baik lagi,” cetusnya. “Sebenarnya biaya itu tergolong murah, tapi kita beri perkenalan dulu bagi mereka,” ujar pelatih SSB Emsyk Yohanes Zonggonauw.   
Inilah prestasi dan prestise SSB Emsyk selama ini. SSB Emsyk pernah mewakili Provinsi Papua untuk mengikuti Turnamen Sepakbola Olimpiade Antar SMP Se-Indonesia di Jakarta. SSB Emsyk meraih  juara pertama dengan materi pemain yang pernah memperkuat Papua di Turnamen Sepakbola Danone Cup 2007, dimana dua striker SSB Emsyk Icha dan Selvis Nakoel menjadi top scorer. Icha dan Selvis Nakoel pemain terbaik Danone Cup 200 Icha  top scorer Olimpiade 2008 di Jakarta kini direkrut Ino Ivakdalam ke Diklat PPLP.
“SSB Emsyk tak kejar prestasi klub yang penting adalah pembinaan jangka panjang seperti mengajar bermain sepakbola yang benar, memiliki sikap profesional dan siap pakai agar kelak mereka dapat direkrut klub-klub profesional di tanah air,” ujarnya. “Apabila SSB makin berkembang, maka Papua tak pernah kekurangan pemain sepakbola dari segala jenjang kelompok usia,” ucapnya.  
Pembinaan jangka panjang
SSB Emsyk hanya datang figur yang memiliki rasa peduli terhadap kemajuan dan mental psikologis anak. Sebagian besar alumni SSB Emsyk direkrut ke Persipura U-21.  
SSB Emsyk juga mewakili Provinsi Papua pada Liga Danone Nations Cup tahun 2006 dan  mencapai peringkat ke-6. Liga Danone Nations Cup U-12 tahun 2007 dengan biaya dari Pemkab Kota Jayapura SSB Emsyk bermain di Grand Final Liga Danone Nations Cup U-12 PSSI. SSB Emsyk menempati runner-up setelah kalah adu penalti dari Jawa Timur.  
“Untuk mengembangkan SSB di Papua, khususnya di Jayapura kita kembalikan ke mentalitas manusia. Manusia disini cuma berharap instant untuk melakukan pembinaan pemain usia dini  secara jangka panjang mereka tak mampu.,” ujarnya, seraya menegaskan, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi Papua mengatakan SSB adalah olahraga massal, tapi yang dibiayai justru hanya Diklat PPLP kenapa tak sumbang untuk SSB Emsyk.”
“Saya punya prinsip untuk memberikan sesuatu yang baik melalui berkat Tuhan. Kita ubah paradigma sepakbola lama ke paradigma sepakbola baru sehingga pemain dari naluri alam digabung dalam satu metode ilmiah, dimana hasilnya SSB Emsyk dari tahun 2003 sampai 2008 telah menghasilkan sebuah tim masa depan di Persipura U-21 dan Persidafon U-18,” ujarnya bangga.
Karena itu, pihaknya mengusulkan kepada Pemerintahan Kabupaten/Kota untuk membuat  regulasi melalui Otonomi Khusu (Otsus) untuk meningkatkan SDM di bidang sepakbola. SSB Emsyk menjadi tuan di negeri sendiri.  Aplikasi Otsus ada di SSB Emsyk sebagai miniatur pemain tak diambil dari luar, pemilik klub dan manajemen dikelola orang Papua sendiri. Bahkan, pelatih Persipura Jacksen F Tiago suatu saat pernah berguyon kalau mau bermain di Persipura mesti lewat pembinaan di SSB Emsyk.
Ada selentingan kabar, Persidafon akan mengontrak pelatih PSM Makassar untuk melatih SSB Persidafon. Ya Persidafon baru mulai melangkah, maka SSB Emsyk sudah lima langka di depan. “Saya selalu membeli buku atau CD sepakbola kepada pelatih untuk penyegaran. Suatu saat diupayakan program visual untuk memutar kaset sepakbola kepada SSB Emsyk. Menurut Pepuho, alumni SSB Emsyk David Lali layak ke Persipura senior gantikan Eduard Ivakdalam. Satu-satunya pemain muda yang memiliki visi bola luar biasa,” ujarnya.
SSB Emsyk selalu melakukan evaluasi setiap melakukan latihan maupun pertandingan, misalnya setelah main ternyata kebobolan 7 gol, tetapi setelah dievaluasi oleh tim pelatih, maka saat bermain lagi hanya kebobolan  3 gol dan terus-menerus hingga sempurna. Selama ini pola pembinaan SSB Emsyk berjalan dengan baik,” katanya, seraya menegaskan, memang selama ini SSB Emsyk belum melakukan perjanjian kerjasama dengan Persipura, tetapi antara Persipura dan SSB Emsyk ada keterikatan atau kontrak moral.” “Kontribusi yang kami berikan dibalas manajemen Persipura atau Staf Dispora Kota Jayapura. Manajemen Persipura ikut menopang Persipura dari pemain usia dini.”
Pepuho menjelaskan, selama ini SSB Emsyk selalu menjadi mediator dengan klub-klub dari luar Papua yang tertarik akan talenta talenta berbakat dari Tanah Papua seperti  PKT Bontang dan Persebaya Surabaya. Hanya saja, baik PKT maupun Persebaya mesti melakukan Memorandum of Understanding (MOU) dengan Persipura U-21, antara lain berisi perjanjian pemain yang dikontrak dalam tenggang waktu satu atau dua tahun mesti dipromosikan ke PKT dan Persebaya Senior. “Kalau ada kontrak diatas hitam putih, maka saya tak segan untuk menyampaikan kepada manajemen Persipura U-21 dan berbicara dengan pemain yang bersangkutan,” cetusnya.  “Betapapun, pemain level U-21 adalah tahap awal untuk menjadi pemain profesional. Sudah harus diarahkan dan didorong sebagai pemain professional. Sedangkan pemain U-15 dan U-18 adalah pemain yang masih mencari bentuk”.
SSB Emsyk membina pemain usia dini pada segala kelompok usia. Kelompok usia 7-12 tahun 250 pemain (wajtu latihan Senin-Kamis). 13-15 tahun 150 orang (Selasa-Jumat). Kelompok usia 16 tahun keatas 60-70 orang (Rabu-Sabtu) terdaftar sebagai pemain Persipua U-21 dan Persidafon U-18. Samuel Kowet Timnas U-18. Lebih banyak basic ball (dasar sepakbola). Fisik kelompok kecil belum terlalu ke fisik masa bermain rata-rata fisik dengan bola. Mulut ke mulut kami sendiri belum pernah membuka pendaftaran. Senin-Kamis orang tua respons datang dari Sentani, Dok IX.
“Saya ingin menawarkan kepada pemanggu kepentingan (Stakeholders) untuk membangun pembinaan pemain usia dini melalui SSB dan pembinaan pemain usia dini melalui pembinaan berpola asrama di seluruh Papua sehingga Papua selalu tersedia pemain dari pelbagai kelompok usia,” Ujar Yohanes Zonggunauw, mantan pemain Persija Jakarta ini. (Makawaru da Cunha/Dominggus A. Mampioper)  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *