Nuri Id Is (Cerita dari Wondama )

Image
 
JUBI—Di Pantai sebelah barat Pulau Rumberpon  terletak sebuah batu karang cadas yang besar. Mengapa karang besar itu tidak di tumbuhi satu pun tumbuhan di atasnya? Ya, kejadiannya sudah cukup lama.

Rumberpon pada masa itu belum menjadi Pulau seperti sekarang. Memang Rumberpon bukan sebuah Pulau pada masa itu karena masih merupakan bagian dari Tanah Papua. Batu karang cadas yang besar itu memang terlihat jelas dari arah laut. Para pelaut akan sangat bahagia apabila dalam pelayarannya dapat melewati batu karang cadas itu. Memang demikian, akan sangat terlindung dari bahaya amukan angin topan yang setiap saat dapat mengancam apabila sudah berada di balik batu karang cadas itu.
Pada waktu dulu itu hidup seekor ular raksasa tidak jauh dari situ, bernama Nuri. Ini adalah  sejenis binatang yang begitu besar dan menakutkan. Bukan hanya sesama binatang, tetapi juga manusia sangat takut terhadap ular itu.
Nuri mengawini dua istri. Mereka bukan ular betina, melainkan benar – benar dua orang perempuan. Mereka adalah manusia. Nuri sang ular raksasa itu juga bisa bercakap – cakap seperti manusia. Bagaimana mungkin ia bisa memperistrikan dua perempuan anak manusia itu? Tentu saja dengan cara mencuri!

 
Beginilah kisahnya.
Pada suatu hari Nuri sang ular raksasa pergi dari pinggir laut menuju ke darat lalu tinggal di daerah pegunungan. Setiap binatang ataupun manusia yang ia bertemu dalam perjalanannya itu lari tunggang – langgang karena ketakutan. Binatang  yang begitu menyeramkan belum pernah di temui di manapun.  
Nuri meneruskan perjalanannya semakin jauh ke pedalaman. Datang pada suatu hari ia mendekati suatu perkampungan, jauh di daerah pegunungan. Waktu sudah sangat dekat dengan perkampungan itu ia mendengar orang bercakap -cakap sambil tertawa bercanda ria. Perlahan -lahan ia mendekat dan semakin mendekat. Tentu saja bukan karena Nuri sang ular raksasa itu takut. Ia berbuat itu karena ingin lebih jelas mengetahui dari mana  dan siapa pemilik suara dan tertawa ria itu.
Waktu semakin mendekat, tahulah dia bahwa ada dua orang perempuan di sana. Keduanya sedang mencuci dekat sebuah mata air. Mereka duduk di atas lutut dalam air yang tidak dalam itu dan ke atas batu – batu datar di pinggir itulah mereka memukul dan menggiling pakaian cuciannya. Air bercipratan beriringan dengan canda dan gelak tawa ria keduannya yang penuh bahagia. Ular raksasa itu semakin dekat dan mendengarkan keduanya. Sangat jelas kepadanya apa yang mereka percakapkan.
“Engkau pernah mendengar tentang ular besar itu?”bertanya salah satu di antara perempuan itu menyela gelak tawa ria itu. “Tidak,”jawab yang di tanya,”Lalu ada apa?”Kemudian bertuturlah yang bertanya itu,”Para laki – laki yang baru kembali dari berburu itu telah bertemu dengan seekor ular besar. Begitu besar dan gemuk, wah, begitu besar. Memang tidak pernah kita lihat sebelumnya!” Mengapa mereka tidak memanah ular itu?”berbalik bertanya yang seorang. “Bisa saja ular yang begitu besar enak di makan,”Ia melanjutkan. “Jangankan menarik panah, melihat ular itu saja para laki -laki itu keheranan. “Ssst, jangan terlalu keras,” timpal yang seorang juga sambil tertawa.”Kalau binatang itu ada di sini bisa kita bawa pergi! “Wah, kalau yang itu lebih baik,” tertawa mengakak yang memulai canda itu sambil melantunkan sebuah lagu,”O,Sang ular besar, datanglah kau ke sini kami telah menunggu kau. Sudah lama kami tunggu!
Para laki -laki itu, tentu tidak, mereka lari kaki pukul pantat, melihat dirimu. Mereka begitu takut, tidak bernyali! Tetapi, kami, dua perempuan pemberani. Sesungguhnya mau kawin dengan engkau …..”Itu saya juga mau!”terdengar sebuah suara laki   -laki yang berat dan dalam. Betapa terkejut dua perempun itu! Keduanya berlompatan ke pinggir mata air itu dan meninggalkan cucian mereka. Mereka hanya mau secepat mungkin berlari, jauh dari sana!
Tetapi, wah, rupanya tidak bisa! Ular itu telah melilit melingkari mata air itu! Kedua perempuan itu sangat asyik bercakap -cakap dan tertawa bercanda ria sehingga tidak menyadari diri mereka telah di kelilingi ular raksasa itu. Saat mau lari barulah mereka melihat badan yang besar itu. Keduanya hendak mengikuti jalan kecil yang menuju perkampungan, tetapi di sana badan ular itu telah menimbun dan melilit di sana. Layaknya batang pohon beringin yang tertumbang. Tatkala mereka semakin mendekat, badan ular itu semakin meninggi. Keduanya  kembali dan berusaha dari pinggir sebelah sana mata air itu. Tetapi, di sana juga ada badan ular yang tambun itu. Ooo, tetapi kemudian ada suara yang dalam dan berat itu,”Mengapa kamu mau lari menghindar? Saya sudah mendengar nyanyian kamu berdua. Bukankah diriku kamu panggil datang? Oleh karena itu,ya, jangan lari!”Kedua perempuan itu memandang ke atas dari mana datangnya suara itu. Dan di sana ada sebuah kepala. Sungguh menyeramkan! Binatang ajaib! Terperanjat kedua perempuan itu berdiri terpaku disana. Tidak sanggup lagi berteriak meminta tolong. Serasa kelu bibir dan tenggorokan begitu kering. Sama sekali tidak ada suara yang sanggup keluar dari mulut kedua orang itu! Untuk keselamatan diri, mereka hanya bisa ikut, patuh pada apa yang ular itu bilang.” Jangan coba melarikan diri,”hardik ular itu.  “Karena pasti saya tangkap kamu berdua dan saya telan bersama – sama. “Sekarang yang saya mau hanya membawa kamu ke tempat dimana saya tinggal. Ayo, naiklah dan duduk di atas punggung saya.” Mula -mula kedua perempuan itu tidak mau. Keduanya tetap tidak mau beranjak dari tempat mereka berdiri. Tetapi, kemudian geram binatang itu,”Ayo, lekaslah, atau ….?”Terpaksa keduanya menaiki punggung ular itu dan berpegang pada badannya. Begitu merasa kedua perempuan itu sudah ada di punggungnya ular besar itu segera berlalu dari pinggir mata air itu. Acap kali kepalanya yang besar itu membalik dan melihat dengan matanya yang berwarna hijau itu untuk harus memastikan apakah kedua perempuan itu masih tetap ada pada punggungnya. Kedua perempuan itu hanya diam ketakutan. Mereka tahu pasti tidak bakal lolos dari binatang raksasa itu.
Dan begitulah, selang beberapa hari ular itu meluncur, tibalah kembali ke pantai Rumberpon. Nuri membawa kedua perempuan itu ke sebuah gua. Tempat inilah yang kemudian akan di huni kedua perempuan itu. Gua yang di huni kedua perempuan itu tidak berjauhan dari gua satu lagi yang di huni Nuri, sang ular raksasa itu.
Ular raksasa itu sama sekali tidak membiarkan kedua perempuan itu sendirian. Ia selalu ada di sana. Kedua perempuan itu harus memasak untuk dirinya dan keduanya serta membersihkan gua membuat kebun, menokok sagu, menangkap ikan, dan semua pekerjaan yang lain. Semuanya harus mereka kerjakan dan ular raksasa itu hanya mengawasi. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut kedua perempuan itu selain diam dan bekerja.
Tentu saja kedua perempuan itu tidak akan luput dari Nuri sang ular raksasa itu. Baru pada malam hari tatkala hendak tidur kedua perempuan itu bisa berbicara dengan berbisik – bisik. Takut jangan sampai terdengar binatang raksasa itu. Mereka membuat rencana, bagaimana bisa lari untuk membebaskan diri. Tetapi kedua perempuan itu tidak mungkin keluar dari gua itu!
Waktu hendak tidur Nuri sang ular raksasa itu selalu meletakan kepalanya yang besar itu menutupi jalan keluar dari gua itu. Kedua perempuan itu hanya bisa keluar dari mulut gua itu apabila terlebih dahulu harus naik dan melewati badan dan kepala ular yang besar itu. Tetapi, bagaimana mungkin. Karena hanya jari mereka yang mengenai  badannya, ular itu langsung bergerak dan terjaga. Tetapi, pada suatu hari terjadilah sesuatu.
“Ambilah sebuah perahu dan pergilah menangkap ikan. Saya juga akan ikut,”kata Nuri. Permukaan laut begitu tenang bagaikan kaca. Perempuan yang satu duduk di bagian muka perahu untuk berdayung dan yang satu lagi duduk di bagian belakang perahu memegang kemudi. Di tengah perahu duduklah Nuri sang ular raksasa itu mendongak kepalanya yang besar itu ke atas sambil mengawasi kedua perempuan itu mengayuhkan dan mengemudi perahu itu. Ular itu juga melihat ke dalam laut dan apabila ada ikan atau kura -kura segeralah kepalanya diselamkan. Sewaktu kepala ular itu terangkat kembali dari dalam air dalam mulutnya terdapat hasil tangkapannya. Hasil tangkapannya ia kebaskan dari mulutnya ke dalam perahu setelah itu ia kembali berbaring dan mengawasi tangkapannya. Tentu saja kedua perempuan itu senang  karena semakin banyak ular itu menangkap semakin banyak mereka akan makan.
Tiba -tiba  perempuan yang duduk di muka perahu melihat sebuah Bia besar di atas karang, di dalam air yang tidak terlalu dalam. Bia besar itu sementara lagi terbuka. Begitu bagusnya dan pasti enak rasanya daging Bia itu.”Hei,Nuri lihat itu ada Bia besar dalam laut. Ada terbuka!Pasti dagingnya enak!” Kata perempuan yang berada di muka perahu kepada Nuri.”Engkau pasti mengambil daging Bia itu dari sana.”Nuri menurunkan kepalanya dari pinggir perahu dan terus ke bawah lalu terus meluncur ke arah Bia itu berada. Begitu diterkamnya daging Bia yang sedang terbuka itu …,ohh weee ……. kedua kulit Bia mengatup. Kepala ular yang memasuki Bia itu tidak bisa keluar lagi! Kepala ular itu meronta – ronta di dalam Bia besar itu.
Karena kepala ular itu terjepit di kedua belah kulit Bia itu, badannya lalu meliuk -liuk meronta melepaskan diri, tetapi tidak bisa tertolong lagi. Tetapi, badan yang besar itu meronta membuat permukaan laut yang tadinya tenang jadinya bergelombang. Saat itulah juga turunlah angin ribut dan topan melanda daerah itu. Itu karena Nuri telah meronta sambil memukulkan badannya ke sana kemari. Arus gelombang laut melanda seluruh daerah itu semakin tinggi dan semakin tinggi. Kedua perempuan di dalam perahu itu ikut terbawa ke darat. Waktu air sudah akan surut berkatalah salah satu perempuan itu kepada yang lainnya,”Hei lihat, itu kampung kita.”Ya,,benarlah, di sana terletak kampung mereka tidak jauh dari tempat kandas perahu mereka.
“Ayopanggayuh dan segeralah,” seru perempuan yang lainnya. Kedua perempuan itu berhasil mendaratkan perahu mereka dekat kampung mereka. Dengan segera kedua perempuan itu melompat ke darat dengan meninggalkan begitu saja perolehan dalam perahu itu. Berlari sekuat tenaga kembali ke perkapungan yang sudah lama mereka tinggalkan. Air semakin surut dan kembali ke kaut. Tetapi karang besar yang sekarang menjadi pulau itu telah terputus dari daratan. Karang itu menjadi pulau. Begitulah Rumberpon terlepas dari daratan tanah besar, Tanah Papua.
Masih beberapa kali Nuri memukulkan badannya ke karang lalu menghilang ke dalam laut. Hilang dari bumi dan tidak pernah muncul lagi.
Tetapi, apabila kita bertanya kepada penduduk asli di sana,”Mengapa karang itu begitu cadas?”Dan mereka selalu menjawab,”Nuri Id Is”,yang berarti,”Nuri yang membuatnya botak.”  (*)                                                                   
                                               

                  
    

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *