Anak Alami Gangguan Jiwa?

Image

Rumah Sakit Jiwa Daerah Abepura Jayapura adalah salah satu rumah sakit di Tanah Papua yang menangani pasien gangguan jiwa. Insert: Psikiater RSJ Abepura, Jayapura dr Samo Adi,Sp.KJ. (Foto: JUBI/Yunus Paelo)

 
JUBI—Sampai saat ini belum diketahui secara pasti, tapi dari hasil penelitian menyimpulkan gangguan jiwa terjadi karena  interaksi antara faktor biogenik (badan), psikogenik (perkembangan jiwa) dan sosiogenik (lingkungan).

Demikian diungkapkan Psikiater dan Ahli Jiwa pada Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Abepura dr Samo Adi, Sp. KJ kepada JUBI di Jayapura pecan lalu. Dikatakan Samo Adi cara penanganan gangguan jiwa meliputi 3 tahap yakni farmologi terapi meliputi obat-obat untuk memperbaiki gangguan biologi (badan), psiko terapi meliputi tindakan untuk memperbaiki penyimpangan psikologik (jiwa) dan sosio terapi meliputi tindakan untuk memperbaiki sumber stres dari lingkungan.
Penanganan psiko terapi dan sosio terapi belum bisa dilakukan di Papua karena tak ada fasilitas dan belum jelas administrasinya. “Saya hanya bisa menangani  sepertiga dari tindakan menyeluruh karena hanya melakukan satu tindakan saja yakni penanganan psiko terapi,” ujar Samo Adi.
Tingkat kesembuhan pasien gangguan jiwa secara nasional adalah sebagai berikut 30 % bisa sembuh sempurna, 30 % harus minum obat selama hidup dan 40 % harus hidup dibawah atas Rumah Sakit Jiwa. “Hal ini disebut pasien investaris karena selama penanganan tak boleh pulang kerumah, kalau pulang kerumah itu artinya gangguan jiwa makin kumat,” katanya.  
Samo Adi menegaskan, tingkat kesembuhan pasien gangguan jiwa di Papua lebih rendah karena tiga tahap pengobatan yang harus dilakukan pengobatan hanya bisa dilakukan satu tahap saja. “Mungkin hal inilah menyebabkan tingkat kesembuhan pasien gangguan jiwa di Papua masih rendah dan sering kambuh,” ungkapnya.     

Obat Generasi Pertama
Di Papua, terdapat cukup banyak kendala yang dialami, khususnya dari segi perkembangan obat. Di Pulau Jawa sudah menggunakan obat generasi kelima, tapi di Papua sebagian besar masih menggunakan obat generasi pertama. “Salah satu contoh adalah amitritilin obat anti depresi yang merupakan generasi pertama. Obat ini murah sampai sekarang Indonesia masih tetap digunakan, khususnya di Papua,” sergahnya.
Obat generasi pertama seperti chlorpromazik dan obat generasi kedua seperti risperidon mempunyai cukup banyak perbedaan utamanya dari sisi manfaat. Obat generasi pertama mempunyai efek samping yang banyak. Sementara  obat generasi lanjutan mempunyai efek samping yang kurang dan efek manfaat dan efek terapi jauh lebih bagus.
“Penggunaan obat amitritilin, jika digunakan pada orang yang berusia diatas 40 tahun, maka harus dilakukan pemeriksaan jantung terlebih dahulu. Bagaimana kita mau memeriksa jantung sehat atau tidak karena alatnya juga tak ada” ungkap Samo Adi.
Begitu juga dengan peralatan  seperti Elektro Confulsife Therapy (ECT) konvensional sebagai alat terapi, padahal kenyataannya masih digunakan di Papua. Sementara di luar Papua telah digunakan ECT mektar, dimana ada penambahan alat sehingga jika digunakan orang tak mengalami kejang atau kesurupan.
Karena itu, diharapkan di tahun-tahun mendatang ada tambahan dana untuk menyiapkan obat-obat dan alat-alat yang lebih baik lagi sesuai standar pelayanan jiwa secara nasional.
“Seorang  pasien psikiater disebut sebagai sakit jiwa, tetapi dalam kedokteran jiwa yang benar adalah gangguan jiwa. Ini berlaku secara internasional,” ujar  Samo Adi.
Samo Adi menyatakan, yang disebut sebagai penyakit adalahi malaria, diare, tifus, ISPA (infeksi saluran pernapasan) dan lain-lain.  
“Pengunaan kata penyakit jiwa ini tak dibenarkan karena pada dasarnya hingga kini gangguan jiwa tak diketahui penyebabnya secara pasti atau dalam istilah kedokteran. Gangguan jiwa belum di ketahui patogenesisnya dan berbeda dengan penyakit lain, dimana  patogenesisnya telah dikenal,” kata Samo Adi.
Unsur psikogenik, dimana perkembangan jiwa sejak lahir mengarah pada ganguan jiwa, misalnya seorang anak dari usia nol tahun sampai satu tahun yang tak mendapatkan ASI (Air Susu Ibu) secara puas.
“Pada fase ini kepuasan jiwa anak terletak pada mulut dengan adanya ketidakpuasan tersebut pada mulutnya, maka seorang anak akan cenderung mengalami gangguan jiwa pada masa ia dewasa,” papar Samo Adi.
Begitu juga dengan usia dua sampai tiga tahun, kepuasan anak terletak pada anal atau anus, kepuasan jiwa anak pada umur tersebut pada saat seorang anak sedang membuang air besar, jika masa tersebut ada gangguan seperti mendapat larangan atau bentakan dari orang tuanya karena kemungkinan sang anak membuang air bukan pada tempatnya, maka hal ini juga akan cenderung membuat seorang anak mengalami gangguan jiwa pada masa dewasa.
Sementara itu, untuk anak usia tiga sampai lima tahun, kepuasan anak ini terletak pada genital atau alat kelamin dan masa ini disebut fase genital (odibus) dimana sang anak ingin melakukan hubungan seks dengan orang tuanya yang berlainan jenis.
Hal ini bisa dimenifestasikan dimana pada usia ini, anak laki-laki lebih dekat dengan ibunya, begitu juga dengan anak perempuan lebih dekat dengan ayahnya, sehingga pada fase ini jika tak ada perhatian orang tua, maka akan menimbulkan gangguan jiwa pada masa dewasa. Pada fase ini seorang anak laki-laki yang selalu mendapat cercaan dari ibunya, hal ini tak seberat jika anak tersebut mendapat cercaan dari ayahnya. Begitu juga sebaliknya seorang anak perempuan yang selalu mendapat cercaan dari bapaknya akan mengalami stress yang lebih berat dibanding jika dimarahi ibunya. Hal ini terjadi  karena adanya iri penis sesuai dari pendapat  pakar gangguan jiwa.
“Pada masa ini jika seorang anak perempuan ditinggal mati ayahnya, maka efek stresnya lebih berat dibanding jika ditinggal mati ibunya begitu juga sebaliknya,” jelas Samo Adi.
Faktor sosiogenik atau lingkungan adalah  faktor ini bersifat secara umum baik dalam keluarga, tetangga yang bisa memberikan suatu pengaruh bagi gangguan jiwa anak.
Karena itu, urai Samo Adi, dalam kedokteran jiwa tak heran kalau seorang suami yang dilaporkan istrinya mengalami gangguan jiwa, maka yang diobati justru istrinya. Begitu juga jika seorang bapak yang datang membawa anaknya untuk diobati dengan alasan anaknya nakal dan sebagainya, jangan kaget kalau justru ayahnya yang perlu diobati. Salah satu contoh nyata, misalnya seorang laki-laki yang suka menyeleweng lantas dilaporkan istrinya, suaminya gila dan sebagainya, namun setelah di periksa disebabkan istrinya, misalnya sang istri yang tak mau diajak kencan dan ini sumber stresnya yang timbul karena disebabkan oleh istrinya sendiri.
“Hal ini sering menjadi pertanyaan masyarakat yang disebabkan faktor lingkungannya yang tak mendukung. Sering kita melihat sinetron yang ditayangkan di TV  misalnya seorang remaja yang putus cinta dan akhirnya menjadi gila, hal ini sesuatu yang tidak mungkin terjadi karena merupakan suatu kesalahan dan pembohongan yang disebabkan interaksi dari ketiga faktor tersebut.
“Meskipun seorang mengalami stres berkepanjangan, tapi badan dan lingkungannya cukup baik, maka tak akan mempengaruhi gangguan jiwa dan sekalipun seseorang mempunyai faktor keturunan kalau perkembangan jiwanya baik dan lingkungan yang baik juga tak akan mengalami ganguan jiwa,” jelas Samo Adi.
Samo Adi menguraikan, pernah ada penelitian terhadap anak kembar yang mengalami gangguan jiwa, anak tersebut kembar monosigot atau kemar dari satu sel telur, maka semua ciri fisik sama hingga sidik jarinya, jika dilihat dari faktor keturunan mestinya kedua-duanya mengalami gangguan jiwa, tetapi hal ini justru tidak terjadi.

Dikriminasi terhadap pasien gangguan jiwa
Salah satu masalah yang acapkali dijumpai di masyarakat dan merupakan suatu kekeliruan adalah adanya diskriminasi bagi pasien gangguan jiwa, termasuk UU di Indonesia sendiri. Salah satu contoh dalam UU bahwa seorang penderita gangguan jiwa karena tak cakap mental, maka tak wajib untuk di tuntut didepan pengadilan dan ini berlaku sampai kini.
“Jadi seorang yang mengalami gangguan jiwa, walaupun ia berbuat salah apapun  tak boleh dituntut di pengadilan,” ujar Samo Adi, seraya menegaskan, selain itu ada juga dalam UU seorang yang gangguan jiwa tak berhak untuk menjadi ahli waris.”
Hal ini menandakan dan menganggap, penderita gangguan jiwa lain dari penderita penyakit-penyakit yang lain, hal ini menjurus pada diskriminasi dan melecehkan martabat seseorang. Walaupun merupakan keturunan, tapi jika pertumbuhan jiwanya baik maka ia tak mengalami gangguan jiwa dan UU tersebut hanya berdasarkan asumsi lama bahwa gangguan jiwa ini tak dapat disembuhkan dan merupakan penyakit keturunan.
“Seorang pasien kencing manis, dimana diketahui penyakit ini disebabkan faktor keturunan, begitu juga dengan gangguan jiwa yang belum bisa disembuhkan apa bedanya dengan penyakit kencing manis yang tak dapat disembuhkan,” ujarnya. “Begitu juga penderita gangguan jiwa baunya busuk, pasien kencing manis jauh lebih busuk lagi dan tentu tak ada perbedaan gangguan jiwa dengan penyakit lainnya.”
“Tapi kenapa anak cucu pasien kencing manis tak disingkirkan, tapi kenapa anak cucu pasien gangguan jiwa disingkirkan, padahal mereka tak tahu apa-apa,” ujar Samo Adi. Misalnya saja seorang anak yang Ibunya pernah dirawat di RSUD Abepura  teman-temannya atau masyarakat di sekelilingnya  malah menjauhinya, tapi anggota  keluarga dari penyakit kencing manis tak demikian  dan ini sering terjadi dimasyarakat.
“Sebenarnya gangguan jiwa ini tak ada bedanya dengan penyakit lain, tapi sudah dari awalnya negara sudah mengarahkan kita menyepelekan dan mendiskriminasikan penderita gangguan jiwa,” ujar Samo Adi.
Samo Adi menyatakan, dapat disimak saat ini keberadaan RSJ Abepura kenapa tak sederajat dengan RS lainnya, padahal pasiennya juga manusia yang perlu diperlakukan dan disembuhkan seperti pasien penyakit lainnya.
“Kita akui bahwa  banyak mengakui cukup banyak kekurangan karena perkembangan ilmu jiwa lebih lambat dengan dibanding perkembangan ilmu-ilmu kedokteran lainnya seperti ahli bedah, ahli neurolog, ahli ortopedi dan lainnya,” katanya.
Menurut Samo Adi, hal ini disebabkan  karena objek dari ilmu kedokteran jiwa adalah sesuatu yang tak kasat mata, tidak bisa dilihat dan sesuatu yang tak dapat dibuktikan serta adanya stigma kepercayaan-kepercayaan dari tradisi masyarakat maupun yang berasal dari agama sehingga  kedokteran  jiwa sangat mudah dimasuki atau ladang subur tumbuhnya ide-ide  atau keyakinan-keyakinan di guna-guna (ilmu hitam). (Yunus Paelo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *