Teologi Otsus

Image

Dialog Nasional Otsus dan Implementasinya bersama Bung Akbat Tanjung di Kabupaten Jayapura beberapa waktu lalu. (Foto: JUBI/Istimewa)

 
Oleh Lamadi de Lamato (*)
 
SEPINTAS Papua terlihat sebagai tempat dimana agama-agama hidup  bedampingan dan sangat rukun. Sebagai daerah dengan mayoritas pemeluk beragama Kristiani, Papua memang tampak unik.  Gereja-gereja berdiri dengan megah, dan berdampingan dengan bangunan-bangunan agama lain. Hubungan kekerabatan berdasarkan agama memang sudah terjalin lama di Tanah Papua. Sejarah tentang kekerabatan agama-agama bahkan sudah terjalin baik saat masuknya Ottow dan Geissler di Papua. Penginjil berkebangsaan Jerman itu, konon datang tidak sendiri, tetapi ditemani oleh beberapa utusan raja Tidore- Maluku.
Papua yang yang secara historis pada saat itu, sangat dekat dengan Kerajaan Tidore yang mayoritas beragama  Islam, disebut-sebut memiliki andil membantu masuknya Ottow dan Geissler dalam menyebarkan agama Kristen di tanah ini. Jika sejarah ini betul, maka pertautan agama khususnya Kristen dan Islam di Papua begitu sangat dekat. Karena itu sejarah ini harus dirawat sebagai bagian dalam menjaga kerukunan beragama sampai kapanpun di tanah ini.
Kerukunan beragama yang di ikat oleh sejarah, memang harus dijaga dan dirawat, tapi pengaruh di luar agama yang begitu sangat luar biasa tidak bisa dipandang remeh. Kita patut berbangga, gereja-gereja dan mesjid maupun musholah dan rumah ibadah lainnya tumbuh subur. Religuisitas di Provinsi ini juga tampak tumbuh luar biasa. Suara khotbah-khotbah keagamaan terdengar sampai diluar mesjid dan gereja. Sebaliknya tidak kurang para pastor dan da’I kondang di datangkan dari luar kota ini, hanya untuk memperlihatkan bahwa Papua tempat yang teramat luar biasa kehidupan toleransinya. Bukan itu saja, antusias para pemeluk agama begitu luar biasa dalam setiap kegiatan keagamaan.
Dari sisi religiusitas, tampaknya Papua bukan saja contoh kampung kerukunan dan toleransi agama-agama yang baik saja. Tapi bisa lebih dari itu, yakni religiusitas yang membebaskan umat dari berbagai problematika kehidupan. Sayang, religiusitas di Papua masih jauh api dari panggang alias belum banyak memberi efek sosial dan moral. Padahal di beberapa negara, religiusitas punya sejarah dalam memutus mata rantai kemiskinan dan ketertinggalan. Penganut Kristen Calvin di Eropa tumbuh menjadi orang-orang yang hidup sejahtera karena spirit religiusitas. Bahkan lahirnya kapitalisme awal mulanya berasal dari spirit Kristiani tersebut. Max Weber dalam bukunya Etika Protestan menyebut, orang-orang Eropa berlomba-lomba bekerja keras di dunia demi memperoleh surga di akhirat sana. Jadi, kebahagiaan di dunia di hubungkan dengan keberadaan seseorang di akhirat sana. Semakin sejatera seseorang di dunia, maka baik pula keberadaannya di akhirat. Temuan spirit agama berkorelasi dengan kemakmuran seseorang itu bisa menjadi contoh betapa agama sangat berperan dalam menumbuhkembangkan etos dan kreatifitas umatnya dalam setiap aktifitasnya sehari-hari. Religiusitas yang melawan kesewenang-wenangan kekuasaan dalam sejarah di negara Amerika Latin pun tidak kalah menarik. Atas nama membebaskan umat dari tirani dan kesewenang-wenangan kekuasaan, tokoh agama yang di motori para pendeta mengajarkan pentingnya teologi pembebasan dalam mengakhiri praktek kesewenang-wenangan yang membodohi dan membelenggu rakyat saat itu.
Pertanyaannya, apa yang bisa kita petik dari ajaran agama dan peran tokoh agama di dua tempat berbeda tersebut? Hemat penulis banyak terutama dalam menyoroti cara kebaragaman dan peran para tokoh agama sebagai agen of change di tengah-tengah geliat Otsus yang terlihat mandek sekarang. Secara jujur, keberagamaan yang kita saksikan ditengah-tengah masyarakat kita saat ini, tampak lebih simbolik daripada aspek substansi ajaran agama yang sebenarnya. Berdirinya bangunan-bangunan rumah ibadah di gang-gang dan jalan-jalan raya di kota ini sepintas sangat luar biasa. Pengeras suara yang memekik telinga saat khotbah pun dapat di dengar diluar dan bisa memberi efek positif pada orang yang tidak sempat berangkat beribadah. Namun apakah dengan model ini, kita kemudian bangga bahwa kita masing-masing sudah menjadi penganut yang paling benar dari agama kita masing-masing?  Tidakkah dengan model itu justru akan memunculkan persoalan, mengingat agama selain punya sejarah berdampingan secara baik, juga pernah pula menjadi alat politisasi yang tendensius.
Berbagai kasus yang mengatasnamakan agama di beberapa tempat di negeri ini telah menjadi sejarah kelam, mestinya dapat kita jadikan pelajaran dalam menjaga bangunan kebaragaman yang toleran tadi. Hal-hal yang esensial dan tidak simbolik yang seharusnya kita kembangkan bersama. Menjadikan agama-agama bukan peredam konflik saja, tapi agama harus di kembangkan sebagai kekuatan perubahan yang universal.
Seks bebas, minuman keras, narkoba yang populer dalam terminologi masyarakat Papua dengan sebutan 3B (Bar, Bir dan Bor), sudah sangat merisaukan masyarakat. Bagaimana tidak, kebiasaan-kebiasaan yang berkorelasi positif dengan meningkatnya angka HIV/AIDS, sampai detik ini masih terus menjadi penyakit yang mengancam setiap orang yang hidup di Provinsi ini. Berbagai metode sudah dicoba termasuk dengan pendekatan agama– Perda Miras dan kampanye tokoh-tokoh agama di baliho-baliho –  tapi tanda-tanda menurunnya kebiasaan-kebiasaan – yang katanya identik dengan orang Papua –  diatas bahkan semakin meningkat. Gagalkah kita dalam meminimalisir Papua dalam ancaman yang membahayakan masyarakat Papua tersebut? Mengapa religiusitas yang begitu kental di Papua tapi prilaku-prilaku yang menyimpang tersebut semakin subur? Bar-bar tumbuh bagaikan jamur, miras, narkoba dan lain-lain telah menjadi lumrah di Provinsi ini.
  Apakah ada yang salah dalam cara keberagamaan kita sehingga religiusitas di Papua belum berkorelasi positif dengan kesalehan masyarakat, yang mestinya mampu membendung suburnya prilaku yang bertolak belakang dengan nilai-nilai agama tersebut?
Mungkin inilah yang disebut Frederich Nietzsche, bahwa manakala agama tidak mampu berhadapan dengan realitas sosial maka sesungguhnya agama telah gagal atau Tuhan telah Mati,! Good of Dead!. Mudah-mudahan kita tidak seekstrim filosof terkemuka abad 18 tersebut, yang memang sangat kecewa dengan peran agama, sehingga banyak yang yang menempatkannya sebagai orang yang tidak beragama alias Atheis!. Namun bagaimanapun pesan kekecewaan itu harus ditangkap sebagai otokritik terhadap cara keberagamaan kita selama ini. Mungkinkah kita selama ini lebih mengutamakan aspek simbolik daripada substansi dalam keberagaman kita, sehingga yang terlihat kita seolah-olah lebih berlomba-lomba membangun dan membangun rumah ibadah dan mempercantiknya?
Selain itu juga, mungkinkah kita sulit bersama karena aspek teologis masing-masing agama yang kita anut yang masih berpusar pada aspek salah-benar, universal-partikular, teologis-historis dan lain-lain. Jika kita memang masih berkutat pada wilayah yang sebenarnya telah selesai dalam dialog-dialog lintas agama, maka kapan perbedaan-perbedaan yang ada pada kita bisa lebur ke dalam perjuangan isu-isu kemanusiaan bersama.
Bukankah banyak yang bisa kita satukan dalam perjuangan melawan realitas  struktur sosio-kultural yang menindas, koruptif, tidak adil, mengeksploitasi kemiskinan, keterbelakangan, ketertinggalan, kebodohan dan semacamnya di tanah ini, dengan melakukan proyek-proyek bersama yang berorientasi perubahan yang lebih partisipatif dan emansipatif. Sejatinya, keberagamaan kita bisa melahirkan pemikiran-pemikiran dan aksi nyata bersama dalam menjawab problem riil kemanusiaan yang memang sangat di dambakan dari para tokoh agama kita masing-masing dalam mengembangkan sebuah teologi yang inklusif dan peduli pada perubahan di tanah ini. Selamat Idul Adha 1429 H dan Selamat hari Natal dan Tahun Baru 2008-2009. Semoga.

* Direktur La KEDA Institute, Papua dan Penulis Buku Bola Liar Kegagalan Otsus
   
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *