Hidupku, Penjaraku!

 

Image

Suti, kini harus rela menghabiskan hari-harinya di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Merauke akibat Miras Racikannya menewaskan sekelompok Nelayan Thailand (Foto: Jerry Omona)
 
JUBI – Setahun sudah kanker rahim itu menyiksanya. Menjual minuman keras untuk mengobati dirinya pun tak berujung untung. Dia malah ditangkap dan dimasukkan ke terali besi dalam kondisi sakit parah.

Sambil memegang sebuah tongkat penyangga kayu, dirinya kemudian memasuki Ruang Persidangan Pengadilan Negeri Merauke. Ruang itu telah dipenuhi pengunjung. Sembari memegang sudut kursi demi kursi dan dengan langkah tertatih, dia mulai mendekati kursi pesakitan didepannya. Tak terlontar sebuah kalimat sekali pun dari mulutnya saat itu. Hakim yang menanyakan kesehatan dirinya tak dijawab juga dengan suara lantang. Hanya sebuah kalimat pendek saja. “Ya saya sehat,” jawabnya. Meski dirinya tahu saat itu ada sakit sangat luar biasa yang dideritanya.
Suti Indrawati, wanita beranak dua itu telah menjalani sakitnya selama kurang lebih setahun lamanya. Namun dirinya tak pernah mengeluh. Bahkan menceritakan sakit yang dideritanya kepada orang lainpun tak pernah. Dijalaninya sendiri ditemani suaminya yang juga lumpuh, Imam Pastika. Imam, 55 tahun, lumpuh semenjak empat tahun silam. Alasannya seperti apa, Suti sendiri juga tak tahu mengapa suaminya kemudian tak bisa jalan. “Saya tidak tahu karena apa suami saya lumpuh. Tiba-tiba saja begitu,” ujarnya polos saat ditemui di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Merauke, pekan kemarin.
Meski demikian, sebagai seorang istri yang setia, Suti tetap mendampingi suaminya yang sudah tak lagi bekerja itu. Sebelumnya, bersama suaminya, Suti pernah bekerja sebagai penjual es cendol di kawasan sebuah persekolahan di Merauke. Namun, pekerjaan itu tak berujung sukses. Suti kemudian beralih menjadi seorang penjual minuman keras. Pekerjaan itu dilakukannya seiring dengan sakit yang dialami suaminya. Pada saat yang bersamaan, kanker juga mulai menggerogoti Suti. “Saya jualan minuman itu dengan maksud untuk mengobati penyakit saya dan untuk biaya anak sekolah,” ujarnya.
Perempuan kelahiran Malang 45 tahun silam itu sendiri telah melakoni pekerjaannya selama setahun lamanya. Menjual Sopi, sejenis minuman keras lokal di Merauke yang terbuat dari hasil sulingan air kelapa. Sopi tersebut biasa dicampurnya dengan sedikit alkohol. Perharinya, Suti bisa menjual hingga lima liter Sopi. Hasil yang diperolehnya perhari bisa mencapai seratus ribu rupiah. Itu bila ada banyak pelanggan yang datang. Jika tidak, dia hanya bisa mengantongi hingga puluhan ribu saja. “Biasa kalau ada pelanggan yang datang banyak baru saya bisa mendapat uang banyak. Kalau tidak, saya juga tidak dapat uang,” katanya. Sopi tersebut dijual tidak hanya kepada warga setempat. Tapi juga kepada para nelayan yang berasal dari negara Thailand. Nelayan ini memang sering mencari minuman lokal jika lagi berada di Merauke. Mereka biasanya akan membeli dalam jumlah yang sangat banyak dan diminum beramai-ramai. Beberapa nelayan diantaranya bahkan mencampur minuman tersebut dengan minyak babi.
Namun suatu ketika, pekerjaan yang dilakoninya itu ternyata berakibat buruk diluar dugaannya. Untung yang diperoleh Suti harus dibayar mahal dengan tragedi baru yang menimpanya. Seperti kata pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga pula, Suti malah harus berurusan dengan para penegak hukum. Sejumlah polisi berseragam lengkap datang ke rumahnya pada Pertengahan September 2008 kemarin dan menangkapnya. Suti disinyalir telah menewaskan 18 Nelayan Thailand yang meminum Sopi hasil racikannya. “Saya tidak tahu kenapa mereka meninggal. Yang saya tahu itu, mereka membeli minuman saya dan kemudian membawanya ke kapal mereka. Beberapa hari kemudian saya dengar mereka telah meninggal,” ujarnya sambil terisak.
Ternyata minuman keras hasil racikan Suti tidak hanya menewaskan 18 nelayan Thailand. Tapi juga merumahsakitkan ratusan nelayan lainnya yang diduga keracunan minuman lokal tersebut. Tiga diantaranya bahkan mengalami  kebutaan total. Mereka yang meninggal kemudian dimakamkan di Pemakaman Umum Yobar, Merauke. Berdasarkan laporan polisi, minuman itu ternyata dioplos lagi oleh nelayan Thailand dengan menggunakan minyak babi, cairan infus dan air mineral. Moo, 25 tahun, salah seorang yang mengalami kebutaan berujar, dirinya tak tahu menahu dengan minuman tersebut. Dia meneguk minuman itu hanya dilatari permintaan rekan sejawatnya saja. “Saya minum saja. Saya tidak tahu,” kata Anak Buah Kapal (ABK) Mega Jaya itu dibantu seorang translater. Moo sendiri saat itu hanya bisa menerima keadaannya. Dia terbaring lemas tanpa bisa melihat apa-apa. Moo dirawat diruang II/III penyakit dalam di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)  Merauke.
Seorang Warga Negara Indonesia yang juga ikut meminum Sopi beracun, Yohanis Gebze, 31 tahun mengatakan dirinya saat itu diajak oleh sejumlah anak buah kapal Cisadane 08 untuk berpesta miras. Saat itu, ia langsung mengiyakan tanpa mengetahui bahwa Sopi tersebut telah dicampur dengan sejumlah bahan berbahaya. Dirinya mulai merasakan kelainan fisik dan pusing berkepanjangan dua hari setelahnya. Sanak kerabatnya senegara itu juga kemudian melarikan Yohanis ke Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD Merauke. “Itu sudah, saya juga ikut minum saja. Saya tidak tahu kalau ada racunnya,” kata dia.
Akibat kejadian itu, Petrus Tjia, Kepala RSUD beserta Jajaran Kepolisian Merauke sempat dibuat pusing tujuh keliling menghadapi peristiwa naas tersebut. Dalam keterangannya Tjia mengatakan peristiwa tersebut adalah yang pertama kalinya terjadi di Merauke serta melibatkan kematian warga negara asing dalam jumlah banyak. Sementara itu Kapolres Merauke, AKBP I Made Djuliadi mengatakan peristiwa yang merenggut nyawa belasan Nelayan Thailand itu akibat kelalaian banyak pihak. 15 kapal milik nelayan Thailand kemudian digeledah polisi Pasca peristiwa itu. Sebelumnya 15 kapal tersebut berlabuh di laut Merauke sambil menunggu keluarnya perizinan berlayar. Saat itu dimanfaatkan oleh ratusan nelayan ini dengan turun ke darat dan membeli Sopi untuk mabuk-mabukan. Alhasil, “turun darat” itu malah kemudian merenggut nyawa 18 diantaranya.
Ratusan Nelayan Thailand tersebut bekerja di bawah perusahaan penangkapan ikan PT Mina Jaya Bahari. Mereka yang meninggal dan dirawat secara intensif merupakan awak dari sembilan kapal. Yakni, KM Cisadane 08, KM Mega Jaya 01 dan 02, KM Matilo 5, KM Cilosari 3, 5 dan 6, KM Cimandiri 09 dan KM Mabuan Jaya. Sedangkan mereka yang meninggal diantaranya Ricardo Rudin, Khanet Thanabodi, Boonma Chunran, Nobphanut Ninnet, Bunma Silitat, Chan, Udom Siriwet, Chan Pradapbut, Sutchai Thomlo, Shampao Srinuanram, Nuklai Buksom, Chon Siriname, Suchai Sanewong, Thoem Promnat dan Buchan Subseo. Korban tersebut meninggal pada akhir September 2008 lalu.

 Hidup Yang Sulit
Setelah terdiam beberapa saat, Suti kemudian mulai mengaduh, “Aduh, mulai sakit lagi,” ujarnya meringis kesakitan sambil menahan perutnya. Rasanya seperti diiris dengan pisau katanya. Beberapa detik kemudian, setetes air mata mulai membasahi pipinya. Dia menangis. Namun, tidak ada seorang petugaspun yang datang menolongnya. “Ditahan saja Bu, kita kembali sedikit lagi,” kata seseorang di sampingnya. Kanker rahim yang dideritanya, kata Suti tidak bisa dioperasi di Merauke karena kekurangan alat. Sehingga mau tak mau, dirinya hanya bisa pasrah saja menerima keadaannya. “Saya tidak bisa operasi di luar daerah, saya tidak punya uang,” ujarnya miris.
Untuk makan sehari-hari saja, kata Suti, hanya bisa mengharapkan dari bantuan tetangga. Suti sendiri tinggal di Kawasan Lampu Satu, Buti. Anaknya yang sulung telah menikah. Ari, 24 tahun. Si sulungnya ini bekerja sebagai petani kecil yang mengolah sebuah bidang tanah di Distrik Tanah Miring. Si Bungsu, Mustika, 14 tahun, masih bersekolah. Kelas II SMP. Untuk biaya si bungsu, Suti juga hanya bisa berharap dari bantuan tetangganya. Sanak kerabatnya sendiri tidak ada. Selama 14 tahun di Merauke, dia hanya tinggal bersama suami dan anaknya. Sedangkan semua keluarganya berada di Malang, Jawa Timur. “Yang saya pikirkan sekarang itu, bagaimana nanti bisa membiayai anak saya yang masih sekolah dan makan mereka di rumah. Saya tidak bisa mengharapkan dari tetangga terus. Tapi bagaimana ya,” ujarnya berlinangan air mata.
Suti memang pernah menjalani perawatan rumah sakit selama dua minggu lamanya. Sebelumnya, Suti mengalami pendarahan yang sangat banyak. Dirinya merasa pusing dan mual berkepanjangan. Awalnya ditahan saja. Namun lambat-laun, pendarahan itu semakin bertambah. Akhirnya, dirinya dilarikan ke UGD. Menurut anaknya, Ari, dokter yang menangani ibunya tak mampu untuk melakukan operasi. Sehingga kemudian Suti dipulangkan kembali ke rumahnya. Selama dua minggu, Suti hanya meminum obat yang diberikan dokter. “Saya tidak tahu lagi harus buat apa, semuanya saya terima saja,” katanya.
Saat dirumah sambil terbaring sakit itulah, petugas Kejaksaan Negeri Merauke datang dan membawanya untuk menjalani sidang atas kasus yang menimpanya. Suti hanya mengikuti saja perintah pengadilan itu. Meski bekas jarum suntikan infus yang ada di tangannya belum sembuh benar. Dia hanya bisa tabah. “Saya ikut saja apa kemauan mereka,” ujarnya.

Kembali Ke Penjara
“Tok, tok, tok,” palu hakim mengenai meja sidang pengadilan. “Sidang ketiga akan dilanjutkan minggu depan dengan agenda mendengar keterangan saksi, terdakwa atas perintah pengadilan segera dimasukan sebagai tahanan di Lembaga Pemasyarakatan Merauke,” tandas Desbeneri Sinaga, Hakim Ketua yang memimpin Sidang Kasus Suti beberapa pekan lalu. Di kursi pesakitan itu, Suti sekali lagi hanya diam mendengar keputusan itu. Dia bahkan tak bisa membela dirinya sendiri. Saat itu, bagi Suti, rasanya seperti awan hitam sedang hinggap di atas kepalanya. Dia tak bisa berpikir apalagi menerawang pikirannya ke Lapas. Pikirannya hanya terfokus pada suami dan anaknya di rumah.
Suti berdiri. Tertatih keluar ruang sidang menuju mobil tahanan yang telah disediakan untuk dirinya. Pipinya masih basah saat menaiki mobil hitam itu. Beberapa menit kemudian, deru mesin mobil itu kemudian membawanya kembali ke balik jeruji besi.  (Jerry Omona)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *