Jelang Satu Abad Kota Jayapura VI

 Image

 

Ornamen Port Numbay  Bukan Sekadar Pajangan

 

JUBI– Keindahan sesuatu kota biasanya ditentukan oleh tata ruang yang teratur dan juga motif-motif serta ornament budaya sehingga menunjukan karakter kota tersebut. Kota Jayapura pun bisa dihiasi dengan ornament dan motif khas budaya Tabi atau Port Numbay.

Bahkan untuk mendukung budaya dan karakter masyarakat asli Port Numbay, DPRD Kota Jayapura bersama pemerintah khususnya Dinas Tata Kota dan Pertanaman Kota Jayapura mengeluarkan Perda No:7 Tahun 2004 tentang aksesori kota sebagai panduan memasang aksesoris kota berupa ornament Port Numbay pada pagar halaman perkantoran atau super market termasuk pula jenis jenis tanaman.
“Bagi saya aturan berupa Perda sangat bagus tetapi yang terpenting di sini adalah penghargaan terhadap para pemilik symbol symbol budaya Port Numbay karena mereka memiliki hak cipta. Karena itu perlu ada pembagian royalti bagi para pemilik motif motif tersebut,”ujar putra Port Numbai asal Kajoe Pulo Marthin Chaay, ST kepada JUBI belum lama ini.
Lebih lanjut dijelaskan Marthin Chaay, selama tidak ada penghargaan dan pembayaran royalty bagi para pemilik akan sulit untuk melakukan pengembangan. “Kalau penghargaan itu dilakukan secara wajar sesuai aturan saya kira akan memberikan semangat bagi masyarakat pemilik motif,” ujar Marthin Chaay seraya menambahkan bahwa dengan demikian akan memberikan nilai tambah bagi pendapatan para seniman khususnya warga Port Numbay. Pasalnya lanjut Marthin Chaay ornament dan motif milik masyarakat Port Numbay itu merupakan asset yang telah diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. “Misalnya mata rumah bagi setiap klen di rumah adat mata rumah yang memakai ukiran ikan terbang dan lain sebagainya. Ini semua milik klen dan harus ada pemberian royalti yang memadai saat menggunaakannya sebagai sebuah ornament dalam mengembangkan kota Jayapura sebagai symbol budaya Port Numbay. Walau demikian saat ini wajah Kota Jayapura sudah sangat beragam bukan saja warga Port Numbay saja tetapi ada warga yang dating dari Papua dan juga luar Papua. Karakteristik masyarakat yang beragam ini tentunya akan membentuk wajah yang sangat beragam dan maaf tentunya mengarah kepada kota yang tidak berkarakter serta asal asalan sesuai kemauan para pemilik modal.
Marthin Chaay justru mengeritik ketidak mampuan Pemda Kota Jayapura dalam mengawasi pengembangan kota, tidak ada ketegasan dalam mengawasi pembangan kota. Misalnya pada daerah daerah perbukitan dan rawan justru diberikan ijin, mestinya Pemda Kota Jayapura harus tegas dalam melaksanakan aturan dalam menata kota.
Bagi Marthin Chaay kalau ada penghargaan terhadap motif motif budaya Port Numbay dengan sendirinya akan menambah gairah para pemilik motif budaya untuk terus berkarya dan berkiprah.
Namun pendapat Marthin Chaay ini agak berbeda dengan Sekretaris Adat Port Numbay Edy Ohoiwutun. Pasalnya, menurut Edy, Perda sudah ada mestinya harus ada seniman seniman budaya Port Numbay yang menyediakan bahan bahan beruoa ornament sehingga ketika ada konsumen yang membutuhkan tinggal memesannya.
“Saat ini justru tidak ada aktivitas yang mendukung sehingga sedikit untuk membelinya di pasaran,” ujar Edy kepada JUBI beberapa waktu lalu di Jayapura.
Memang langkah langkah konkrit yang dilakukan Pemkot Jayapura patut mendapat respon guna memanfaatkannya sebagai salah satu potensi untuk mengembangkan kreativitas budaya masyarakat Papua khususnya di Port Numbay Kota Jayapura.
Yang menarik dalam Perda No 7/2004 tersebut telah memberikan beberapa contoh motif motif tercatat ada sekitar 95 macam ornament, dan model bentuk bentuk pagar yang diperkenankan.
Perda itu juga mematok pemanfaatan jenis jenis tanaman tanaman yang wajib ditanam berupa tanaman pohon besar, sedang dan kecil. Namun tidak semua tanaman wajib itu merupakan khas Papua khususnya yang terdapat di Kota Jayapura.Salah satu contoh adalah jenis pohon yang terdapat di Kabupaten dan Kota Jayapura yaitu pohon atau kayu sowang. Kayu ini sangat kuat dan berumur hingga beratus tahun serta sangat kokoh jika dipakai sebagai tiang tiang rumah panggung bagi warga di Port Numbay dan masyarakat di Danau Sentani. Selain itu sangat bagus kalau digunakan sebagai arang untuk membakar ikan . Menurut pedagang ikan bakar arang kayu swang sangat panas dan bisa dipakai dalam waktu seminggu, kalau memakai tempurung kelapa cepat habis karena nyala api baranya tidak bertahan lama.
Pohon kayu swang ini termasuk tanaman langkah dan hanya terdapat di Kota dan Kabupaten Jayapura termasuk endemik lokal Papua. Karena itu tak heran kalau penebangan pohon ini jelas akan berhadapan dengan pihak Kehutanan khususnya Polsus Kehutanan karena termasuk tanaman yang dilindungi. Aktivitas penebangan dan pengembangan kota tentunya akan menambah laju penebangan jenis kayu swang ini.
Bukan itu saja dalam penggunaan ornament ornament budaya di Jayapura sebenarnya tidak semua ornament Port Numbay yang dipakai tetapi ada pula dari luar Port Numbay seperti motif dari Biak, Sentani dan juga Asmat. Dalam memanfaatkan ornament ini biasanya disebut ada domain domain publik yang bisa dipakai dan tidak memerlukan ijin dalam pemakaian termasuk membayar royalti bagi hak cipta pemilik motif.
“Biasanya untuk ornament atau motif yang sudah dianggap menjadi domain publik, seringkali digunakan oleh siapa saja untuk kepentingan komersil. Hasil kerja dan penemuan yang ada dalam domain umum dianggap sebagai bagian dari warisan budaya publik, dan setiap orang dapat menggunakan mereka tanpa batasan karena tidak termasuk hukum yang menyangkut keamanan, ekspor, atau lainnya.” ujar Victor Mambor, pemerhati budaya Papua.
Ia mencontohkan batik sebagai domain publik yang bisa diproduksi oleh siapa saja. Namun motif yang digunakan pada batik tersebut tidak dapat disebutkan sebagai domain publik. Karena motif tersebut merupakan penciptaan atau kreasi seseorang.  Kecuali, penciptanya telah menyerahkan ciptaanya tersebut untuk digunakan oleh publik.
“Karenanya, kita bisa menemukan batik dimana saja namun motifnya berbeda-beda. Inilah yang harus dijaga oleh orang Papua. Motif-motif yang digunakan dalam batik sudah seharusnya didaftarkan sebagai hak cipta orang atau komunitas tertentu.” jelas Victor Mambor.
Mengenai motif dan ornament Port Numbay, salah seorang pengukir dan pelukis dari Biak Piet Sada mengaku dia tidak mengetahui persis adanya aturan dan Perda. Namun dia hanya seorang pekerja bangunan, saat bangunan sudah selesai ternyata pemilik ruko di Kotaraja ini membutuhkan ukiran dan motif pada pagar bangunan. Tawaran ini pun disambut baik oleh Pieter Sada seniman asal Kampung Samber, Kabupaten Biak Numfor. “Saya bekerja di sini sebagai buruh bangunan tetapi karena tidak ada yang bisa bikin lukisan dan ukiran maka terpaksa saya memberanikan diri untuk mengerjakannya,”ujar Sada seraya menambahkan bos pemilik gedung sangat senang dengan hasil karya dia.
Menurut Sada, dia hanya menguasai dua motif ukiran dan lukisan yakni gambar tifa dan ukiran Sentani sedangkan dari Biak gambar burung Cenderawasih dengan motif ukiran Biak.
Meski Pemkot Jayapura sudah menetapkan Perda tentang motif dan ornament Port Numbay ternyata tidak semua bangunan dan Ruko di Kota Jayapura memakai ornament asli daerah setempat.
Pantauan JUBI di lapangan gambaran dan ornament yang menonjol di Jayapura adalah lukisan patung Asmat, motif ukiran Sentani di Hotel Humbold pelabuhan Kota Jayapura.Bahkan ada juga gambar gambar bangunan rumah adat Suku Dani berbentuk honai atau rumah bulat.
Selain itu beberapa bangunan di Kota Jayapura ada juga yang memakai model model bangunan rumah karawari dari Kajoe Pulo, Tobati dan Injros (Kebudayaan Tabi).
Sedangkan disain interior ruang kerja Gubernur Provinsi Papua memakai dua motif antara lain motif Asmat dan Sentani. Agus Ongge seniman asal Sentani mengaku bahwa disain interior ruang kerja gubernur Papua merupakan hasil kerjanya bersama kontraktor yang mendapatkan tender. “Biasanya kalau kontraktor sudah mendapatkan tender baru mereka memberikan kerja disain motif kepada saya,” ujar Agus Ongge. Lebih lanjut terang Agus Ongge dia juga melakukan disain interior motif Sentani di Gereja Katedral Dok V dan gereja Katholik Waena.
Meski pun sudah didukung dengan Perda dan aktivitas bangunan di Kota Jayapura terus berkembang, namun di sisi lain pemanfaatan ornament dan motif motif lokal Papua belum secara maksimal dimanfaatkan. Pasalnya penggunaannya masih sekadar pajangan dan belum memadai sesuai kebutuhan terutama bagi para seniman serta pemilik ornament. Apalagi yang namanya hak cipta dan motif motif Papua kepemilikannya masih bersifat komunal sehingga ketika berbicara masalah kompensasi dan royalti pihak penggunan mau membayar kepada individu atau kelompok. Pasalnya kepemilikan kelompok klen pemiliki motif dan ornament perlu menyepakati bersama bagaimana cara membagi keuntungan guna memperoleh keuntungan dari hasil karya cipta. Selanjutnya pemilik motif dan ornament harus memdaftarkan hak patent dari karya cipta turun temurun sebelum dilabel oleh pihak lain yang bukan pemilik. Lepas dari masalah hak milik kekayaan intelektual selama masih belum ada kesepakatan antar klen nampaknya sulit untuk mewujudkan kompensasi dan royalty sebagaimana dikatakan Marthin Chaay Sekretaris Ikatan Arsitektur Indonesia wilayah Papua bahwa harus ada penghargaan dan royalti bagi pemilik motif dan ornament. (Dominggus A Mampioper)
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *