Silayanti Yarangga : Jual Kapur Pinang Topang Ekonomi Keluarga

 

Image

Silayanti Yarangga sedang memilih bia yang akan diolah menjadi kapur sirih (Foto : Musa Abubar) 

 
JUBI—Sejak kanak-kakak Silayanti Yarangga (24) telah bergelut dengan pekerjaan membuat kapur pinang. Ia mengawalinya pada tahun 1998 dari ibu kandungnya sendiri sebab ia  turut membantu ibunya mencari kulit bia di Sekitar Abe Pantai.

Silayanti Yarangga adalah salah satu pembuat kapur pinang saat ditemui JUBI pekan lalu di Para-Para (Rumah Adat-Red) di Abe Pantai. Ia mengutarakan pekerjaan membuat kapur pinang itu bukan pekerjaan yang baru baginya. Karena sejak kanak-kanak sering bersama dengan ibunya mencari kulit bia di atas gunung dan di laut untuk dibakar menjadi kapur pinang.
“Waktu itu saya masih belajar di Sekolah Dasar sudah ikut mama untuk cari kulit bia,” tukasnya, seraya menambahkan bahwa waktu itu sekitar tahun 1998. Sehingga sampai usia remaja dirinya sudah terbiasa mencari kulit bia untuk dibakar menjadi kapur pinang.
Silayanti menyatakan bahwa untuk saat ini mencari kulit bia yang hendak dibakar menjadi kapur pinang sangat susah. Karena tak sembarang kulit bia dapat dibakar menjadi kapur pinang. “Bukan hanya kulit bia saja yang susah dicari, tetapi lokasi untuk mendapatkan kulit biapun sangat susah,” tutur Silayanti miris.  
Dikatakan Silayanti, kulit bia yang biasa dicari untuk dibakar menjadi kapur pinang ini disebut kulit bia bunga. Bentuknya bulat bagian tengahnya dalam seperti bentuk piring kecil. Kulit bia ini biasanya dicari di laut dan di atas gunung. Biasanya bila mencari di laut tetapi karena susah didapat maka dicari di atas gunung.  
“Karena dulu kitorang pu nenek moyang mencari kulit bia di atas gunung dan di laut. Saat ini tong lebih suka mencarinya kulit bia di atas gunung. Walaupun susah tetapi harus berusaha untuk mendapatkan kulit bia,” ungkap Silayanti sumringah.   
Silayanti menjelaskan bahwa untuk mencapai lokasi kulit bia di laut dengan menggunakan perahu. Jika kulit bia itu sedang dicari di atas gunung, maka peralatan yang digunakan adalah besi dan linggis. Perahu didayungkan sampai ke pinggiran gunung kemudian dilabuhkan dan di lanjutkan dengan mendaki gunung sampai di lokasi kulit bia.  
Setelah sampai di gunung, maka harus mulai mencari dengan menggunakan linggis. Tetapi kalau lokasi pencariannya di laut maka perahu dilabuhkan di atas kulit air lalu harus terjun ke dalam air dengan menggunakan kaca molo (kaca selam). Agar dapat sampai ke dasar laut dan bisa menemukan kulit bia tersebut.  

Dilapisi Daun Sagu
Dari lokasi tersebut, maka kulit bia dibawah sampai di rumah lalu dijemur selama sekitar 3 hingga 4 hari dengan menggunakan alas seng sampai kering. “Kulit bia yang biasa dicari untuk dibakar menjadi kapur pinang itu biasanya disebut kulit bia bunga,” tutur Silayanti.
Tahap berikutnya untuk memproses kulit bia menjadi kapur pinang adalah mencari  daun sagu kering di hutan untuk membakar kulit bia. Daun sagu yang dicari itu tidak ada di sekitar  rumah karena hutan sagu cukup jauh dari lokasi mereka tinggal. Ketika daun sagu itu sudah diambil sampai di rumah atau tempat dimana kulit bia itu hendak dibakar tahap selanjutnya adalah daun sagu tersebut disiapkan untuk dibakar dilapisi dengan kulit bia.  
Daun sagu tersebut diikat berlapis dengan kulit bia yang hendak dibakar. Kulit bia yang hendak dibakar ini jelas sudah terikat dan tergabung daun sagu.
Tali yang dipakai untuk mengikat daun sagu itu adalah tali yang besar biasanya dibilang tali bagang atau kawat. Tapi sering dipakai untuk mengikat daun sagu itu adalah kawat. Karena kalau menggunakan tali saat api itu dibakar, maka talinya cepat putus, namun kalau kawat saat daun sagu itu terbakar pun tidak putus tetap bertahan sampai daun sagu tersebut selesai terbakar.
Silayanti menambahkan, setelah
“Jadi sebelum tong bakar itu sudah alas seng dibawah,” ungkapnya  sambil melanjutkan penjelasannya mengenai  mengenai cara membakar kulit bia menjadi kapur pinang. Ia mengatakan bahwa seng yang ditaruh dibawah itu kosong tidak ada apa-apa.
 Setelah daun sagu dan kulit bia diikat disertai dengan seng yang sudah dialas dan besi linggis yang ditanam maka daun sagu sudah siap untuk dibakar. Waktu yang dibutuhkan untuk membakar kapur ini kurang lebih satu jam. Sehingga kulit bia yang dibakar dipastikan sudah bisa terbakar dan jatuh ke tengah seng yang sudah dialas. Walaupun kuit bia itu dibakar tetapi kulit bia tersebut tidak langsung hancur tetapi hanya berbentuk seperti sebelumnya. Sebenarnya kulit bia itu dibakar supaya mudah ditumbuk atau mudah dihancurkan.  
“Waktu cukup lama karena tunggu daun sagu terbakar sampai habis,” ugkapnya. Setelah daun sagu tersebut selesai terbakar maka apinya dibiarkan selama beberapa menit barulah kulit bia tersebut diangkat dari seng. Tetapi kulit bia tersebut tidak diambil begitu saja, harus dipilih dengan baik sekaligus dipilah-pilah dengan teliti jangan sampai tercampur dengan sisa-sisa bakaran lain,” tuturnya.

Ditapis Sampai Halus
Sesudah itu, kulit bia yang sudah dibakar itu diisi ke dalam kaleng biskuit atau loyang kemudian kulit didiamkan untuk sementara. Setelah diisi kulit bia tersebut ditumbuk langsung di dalam loyang. Untuk menumbuk kulit bia menjadi kapur ini harus dilakukan perlahan. Jadi bia ditambahkan satu persatu secara perlahan-lahan dengan menggunakan kayu buah yang di potong berbentuk bulat sebagai alat penumbuk. Kulit bia ini ditumbuk dengan maksud agar bisa halus dan mudah ditapis dan mudah disaring lagi ke tempat yang lebih kecil.  
“Biasanya kayu yang dipakai yaitu adalah kayu buah,” katanya, seraya menambahkan  jika sudah halus maka langkah selanjutnya adalah ditapis. Ditapis dengan maksud agar menyaring sisa bakaran lain yang lebih besar. Tapisan (ayakan) yang digunakan adalah tapisan yang biasa digunakan untuk menyaring sagu atau bisa juga menggunakan tapisan teh.  
“Pokoknya tapisan yang halus (ayakan dengan lubang terkecil) agar kapurnya benar-benar halus,” katanya. Agar kapur bisa cepat terpisah dan sisa-sisa bakaran lain dengan mudah akan tersaring, kemudian dimasukkan ke plastik es untuk dijual. Plastik ini diisi tapi tidak sampai penuh.
“Kalau sudah satu karung kulit bia yang berhasil dibakar, maka hasilnya akan mencapai 1.000 bungkus,” tuturnya.  Dirinya mengatakan memang itu target yang harus dicapai untuk dijual. Biasanya setelah dibakar diisi ke dalam plastik es atau plastik gula untuk kemudian dipasarkan. Satu bungkus plastik itu biasanya dijual dengan harga Rp. 2.000. Tetapi sekarang sudah naik lagi menjadi Rp 5.000. ” ujar Silayanti.  
Biasanya Orang Sentani datang mencari kulit bia di sini untuk dibeli. Dulu satu karung itu kami jual dengan harga Rp 10.000 naik menjadi Rp 30.000 naik lagi menjadi Rp 70.000.  Sekarang sudah naik lagi sampai Rp 80.000.  Ia  menambahkan dulu sampai sekarang hampir rata-rata semua mama-mama yang berada di Daerah Abe Pantai ini membakar kapur namun saat ini kulit bia jarang untuk ditemukan, maka belum ada aktivitas membakar kapur pinang lagi. (Musa Abubar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *