Watuwe Buaya Dari Kali Tami (Cerita Dari Arso)

Image 
 
JUBI—Towyatuwa duduk termenung di pinggir kali kecil yang mengalir melewati kampung Swya-Tami. Towyatuwa begitu sedih, betapa tidak istrinya yang begitu ia cintai sakit keras. Istrinya sakit dan sudah lama tak seorang pun di kampung Swaya-Tami itu yang dapat menolongnya.

Orang hobatan pernah datang untuk mengobati tetapi tak berhasil. Orang hobatan itu telah datang duduk dekat istrinya dan membisikkan berbagai kata rahasia. Tidak, semuanya tak berarti.
Towyatuwa duduk di pinggir kali itu sendirian. Betapa sedih hatinya, kepada siapa gerangan ia bertanya? Kalau orang hobatan yang tukang fui-fui itu saja tak sanggup mengobati istrinya apalagi orang biasa. Tidak kepada illah atau Tuhan yang lain karena Towyatuwa sendiri tak tahu yang mana. Itu terjadi di zaman lampau yang sudah lama sekali. Belum ada orang putih atau coklat yang datang kesini. Jadi Towyatuwa seperti juga orang Arso yang lainnya. Tidak tahu persis illah atau Tuhan yang mana yang harus disembahnya. Kecuali kepada arwah nenek moyang, pohon besar, batu besar, gunung dan tempat-tempat pamali. Juga pantangan-pantangan lain yang harus ia patuhi dan ia laksanakan sungguh – sungguh. Semua itu ia sudah laksanakan. Tetapi mengapa istrinya belum sembuh-sembuh juga? Begitulah Towyatuwa duduk di pinggir kali itu berlama-lama, tak tahu lagi apa yang harus ia perbuat. Tiba-tiba matanya menatap ke arah kali itu. Air kali bergerak, tak lama kemudian…….. apa itu,” Towyatuwa melihat kepala binatang muncul.  Itu kepala seekor buaya besar sekali. Towyatuwa begitu terkejut. Betapa bodoh dirinya, ia sadari. Seharusnya ada padanya tombak yang biasa ia bawah ketika keluar rumah. Sekarang tombak itu tak ada dan dia sedang berhadapan dengan seekor buaya.
Menyadari dirinya dalam bahaya, ia berancang-ancang segera lari menyelamatkan diri. Tetapi aneh, niat itu segera surut. Dia tak jadi melarikan diri, buaya itu memanggil namanya. “ Towyatuwa, jangan lari,” buaya itu semakin mendaratkan tubuhnya.
”Jangan takut katanya melembut.” Aku sudah tahu engkau begitu susah, istrimu sakit keras. “ Seolah tak percaya Towyatuwa tertegun disana,’ ada buaya bisa bicara?. Buaya itu tak menghiraukan apa yang dipikirkan Towyatuwa, ia melanjutkan, “Namaku Watuwe, raja diraja dari kerajaan buaya di kali Tami ini. Ya, saya tahu istrimu sakit keras, itu sebabnya saya datang menemuimu. Kalau mungkin saya bisa menolong.” Niat Towyatuwa untuk lari sekencang-kencangnya dari sana surut. Meskipun demikian ia tetap menjaga jarak dari buaya itu.” Tunggulah disini aku akan kembali mengambil obat untuk istrimu.” Buaya itu kembali ke kali, dan membenamkan dirinya menimbulkan riak pada permukaan air kali yang keruh itu. Tidak berapa lama buaya itu kembali. Dan pada moncongnya yang besar itu, ia mengapit beberapa jenis tumbuhan. “ Ini adalah tumbuhan gruak, Towyatuwa,” kata buaya itu. Istrimu harus segera kau beri makan tumbuhan ini, ia akan segera sembuh,’ ulang buaya itu meyakinkan. Agak tertegun juga, tetapi serta – merta ia menyambut tumbuhan itu dan nyaris tak berterima kasih kepada buaya itu, Towyatuwa, bergegas menuju ke rumahnya, tempat istrinya berbaring sakit. Apa yang dikatakan Watuwe itu terjadi juga. Setelah memakan tumbuhan-tumbuhan itu langsung sembuh. Tak berapa lama setelah kejadian itu istrinya hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki. Towyatuwa sangat senang. Selama ini di belum punya anak dan kini istrinya bisa melahirkan.” Lalu bagaimana anak itu di beri nama? “ Itulah yang dibicarakan dengan istrinya. Teringatlah dia akan sahabatnya Watuwe, raja diraja buaya kali Tami.
Dia lalu kembali pergi ke pinggir kali tempat pertama kali ia bertemu dengan buaya itu. Harap saja kalau binatang itu masih muncul disana lagi. Dengan pikiran bercampur aduk, Towyatuwa akhirnya tiba juga di tempat tujuannya. Dan, ya, Watuwe ada disana.
“ Ah, Watuwe, engkau pasti tahu betapa gembiranya saya.” Pada waktu itu memang buaya juga bisa tertawa. Sambil tertawa Watuwe berkata, Tentu, tentu sahabatku. Aku memang tahu istrimu telah lama sembuh, dan telah melahirkan seorang anak laki-laki. Baguslah itu, tetapi hendak kau namakan siapa?.”
“ Itulah yang mulia raja diraja Kali Tami, “ Towyatuwa melapor. “Saya dan istri sudah mencari nama dan begitu banyak yang kami peroleh. Tetapi, satupun tak ada yang cocok untuk kami pakai. Dan karena itulah saya kemari untuk memberitahukanmu, Watuwe, raja diraha kerajaan buaya kali Tami,” Buaya itu membalas, “ Namakan saja Narrowra. Sebuah nama yang bagus,” aku akan melakukannya, Watuwe. Terima kasih, raja diraja, sujud Towyatuwa. Lalu ia berlalu. “ Hei, Towyatuwa, jangan begitu tergesa-gesa, “ Lagi – lagi raja diraja buaya itu meneduhkan. “ Tunggu dulu saya mau memberitahumu beberapa hal.” Towyatuwa, mengurungkan niatnya pergi, lalu kembali mendapatkan buaya itu. “ Dengar,” kata buaya itu. “ Saya akan memberimu ramalan,” Terbelalak Towyatuwa mendengar ramalan buaya itu. Buaya itu melanjutkan,” Apabila anakmu Narrowra itu besar dia akan menjadi pemburuh yang hebat, manusia akan membunuh diriku dengan panah. mereka akan memotong – motong tubuhku dan dagingku, mereka akan makan dagingku. Apabila itu terjadi, Kwembo sang penguasa alam raya akan marah sekali. Ia akan menghukum manusia. Semua manusia akan dibuatnya tenggelam. “ Hening sejenak, dengan wajah ketakuta Towyatuwa tetap berdiri disana. Buaya itu melanjutkan, “ Dengarlah! manusia yang akan memanah saya, akan memberikan juga kepada engkau dan anakmu daging itu. Engkau harus menolak Towyatuwa. Engkau tidak boleh menerimanya. Karena ingatlah baik-baik, siapa yang memakan daging saya akan mati. Engkau harus berbuat yang lain dari mereka. Apabila mereka menawarkan dagingku kepada engkau dan anak mu engkau harus menolak, tetapi engkau meminta kepada mereka untuk memberikan engkau jantung jantung ku kepada engkau. Dengan membawa jantungku itu, pergilah engkau dan anakmu ke Gunung Sankria. Disana, di gunung itu engkau akan bertemu dengan para Yankwenk. Mereka adalah malaikat atau para manusia yang bersayap dari langit. Mereka akan menunggu engkau disana, dan akan memberi tahu apa yang harus engkau perbuat! “Towyatuwa belum sempat mengucapkan apa-apa ketika buaya itu secepat kilat membenamkan dirinya kedalam air kali itu. hampir tanpa riak, buaya itu menghilang dalam air kali yang keruh itu. Tanpa satu kata pun Towyatuwa berdiri di sana, tertegun dan diam. “ Kasihan temanku Watuwe yang baik! “ pikirnya.
Tetapi seketika juga pikiran sedih itu hilang. Ia tertawa ketika ia teringat akan anaknya. Seorang pemburu sejati? memang anak itu masih bayi dan begitu kecil. Masih lama apabila manusia bisa memanah Watuwe. Itu juga masih terlalu lama baru Narrowra menjadi pemburu yang tangguh. Ia lalu bergegas pulang kerumahnya. Dalam benaknya mengatakan, “Semua itu masih terlalu lama, bahkan mungkin tidak akan pernah terjadi. Watuwe akan menjadi tua. Umur buaya mungkin saja tak lama bila dibandingkan dengan manusia. Ramalan itu bisa saja takkan pernah terjadi. Seperti halnya denga para orang hobatan itu, mereka asal berkata saja. “ Tiba-tiba pada pemikiran terakhir Towyatuwa terkejut, “ Ah,” ia menggelengkan kepala dan berusaha berpikir tentang hal yang lain. Dan ya, Towyatuwa berhasil mengisi khayalannya akan hal yang lain terutama tentang anak laki-lakinya yang masih bayi itu. Waktu terus berjalan, Norrowra tumbuh menjadi seorang remaja yang lincah dan menjadi pemburu yang hebat. Waktunya lebih banyak dihabiskan di hutan daripada di kampung. Karena itu hampir tak ada waktu untuk bermain bersama dengan teman sebayanya. Hampir seluruh waktunya di habiskan di hutan. Begitulah waktu terus berjalan, hari – hari berlalu. Towyatuwa bersama anaknya kembali ke dalam hutan. Mereka memang berencana akan tinggal beberapa lam di sana, paling tidak sampai dengan purnama berikut. Narrowra kala itu sudah menjadi besar dan kuat.  Ia sudah sudah akan tumbuh menjadi laki-laki dewasa. Tetapi, pada waktu yang bersamaan telah terjadi sesuatu. Seperti biasanya pada musim kemarau, anak- anak akan mandi dan bermain- main di pinggir kali Tami. Disana mereka menganyam bola dari rotan, karena itulah permainan yang mengasyikkan.
Pada musim hujan tak mungkin permainan itu mereka lakukan, karena air akan melimpah dan menggenangi seluruh pinggir kali dan terkadang lebih jauh ke darat. Kini musim kemarau telah tiba, anak – anak bermain dengan asyiknya, bola rotan itu mereka tendang sambil berlari-lari di pinggir kali. Seperti biasanya, setelah bermain kalau sudah lelah atau kepanasan anak – anak akan menceburkan diri ke dalam kali.  Mereka mandi dan berendam disana, kalau sudah kedinginan mereka kembali ke darat. Bermain lagi seperti biasanya. Apabila sudah lapar, pergilah mereka ke api unggun yang memang sudah dibuat sebelum bermain. Di atas api itu mereka membakar buah – buah sukun yang mereka petik dalam perjalanan dari kampung. Buah- buah sukun itu mereka tinggalkan begitu saja di api unggun itu. Itulah makanan siang yang selalu mereka sediakan. Untuk lauk- pauk, tak masalah karena di kali itu ada udang, belut dan ikan. Juga banyak tikus tanah di pinggir kali yang bisa mereka tangkap. Anak-anak itu begitu tentram dan tak perlu khawatir apapun. Pada suatu hari anak-anak itu pergi ketempat dimana mereka biasa bermain. Setelah puas bermain akhirnya mereka pun merasa lapar. Kembalilah mereka seperti biasa ke tempat api unggun. Di sana ada sukun bakar, udang ikan, belut dan tikus tanah yang mereka tangkap akan menjadi lauk pauk yang sungguh nikmat. Tetapi ketika mendekati api unggun itu, aneh apa yang terjadi? Sukun-sukun itu masih terletak disana. Belum masak, malah sama sekali tak terbakar. Api unggun itu sudah padam. (Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *