HIV/AIDS : Antara Norma, Kondomisasi, Trafficking Dan Diskriminasi Terhadap Perempuan

 

Image

Generasi muda butuh pemahaman yang benar agar tidak terjebak dalam persepsi yang salah mengenai HIV dan AIDS serta penyebabnya.  (Foto : Flora S)

 
JUBI – Betapa hebohnya HIV/AIDS di seluruh belahan bumi ini. Pasalnya hampir sebagian besar dari manusia di dunia ini sudah tertular HIV/AIDS. Ternyata bukan hanya Papua yang heboh sebagai peringkat kedua setelah Jakarta sebagai pemegang “prestasi” tertinggi pada kasus pengidap penyakit mematikan ini.

Sebuah laporan penelitian tentang HIV/AIDS di dunia menyebut hampir 20 persen perempuan di dunia berstatus ODHA. Mayoritas dari mereka berada di negara-negara berkembang. Sedangkan negara-negara industri maju seperti negara-negara di Eropa dan Amerika Serikat memiliki angka yang sangat kecil, bahkan hampir tidak ada.
Lebih heboh lagi, karena pada umumnya perempuan usia produktif dan anak-anak yang berstatus ODHA. Prosentase HIV/AIDS pada perempuan dan anak hampir berimbang. Logis memang, seorang perempuan dapat melahirkan seorang anak atau beberapa anak. Jika perempuan tertular HIV/AIDS, maka dia pun akan melahirkan seorang anak dengan status yang sama. Hal ini seharusnya menjadi kekhawatiran semua orang di belahan dunia.
Apa yang menjadi penyebab semua ini? Persepsi terhadap perempuan sebagai obyek seks komersil masih mendominasi alam pikiran sebagian besar umat manusia di dunia ini. Pandangan miring terhadap perempuan diperkuat oleh norma sosial dan budaya, termasuk agama yang masih cenderung bahkan kental diskriminatif terhadap perempuan. Perempuan dianggap pendosa dan penyebab segala penyakit dan nasib sial dalam kehidupan sosial. Perempuan dinomorduakan dalam segala hal, hampir pada semua sektor, perempuan dibatasi untuk berkembang. Akibatnya perempuan terus menempati posisi “obyek”. Persepsi ini menyebabkan tingginya praktek trafficking di dunia ini, terutama di negara-negara berkembang yang notabene miskin dan tidak tersedia lapangan kerja yang cukup bagi warganya. Sejumlah ketimpangan sosial dan ekonomi meningkatkan dan memperpanjang kerentanan perempuan dan anak terhadap HIV/AIDS. Persepsi-persepsi dan norma-norma gender yang mendiskriminasikan perempuan memberikan mereka nilai sosial yang lebih rendah dan menempatkan mereka dalam posisi subordinat pada akar ketidakmerataan ini.
Padahal, perempuan sangat aktif di hampir semua segi kehidupan dan bukan obyek seksual. Perempuan dianggap lemah dan tak berdaya, tetapi memberikan sumbangan yang besar bagi keseimbangan antara laki-laki dan perempuan. Masalahnya, kekuasaan laki-laki telah mengakar dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya ketimpangan kekuasaan ini membuat sulit bagi perempuan dan anak perempuan untuk menegosiasikan seks yang aman atau menolak hubungan seks, bahkan ketika mereka dibuat berkapasitas dengan informasi dan bisa mempunyai akses terhadap alat-alat untuk seks yang aman.
Studi-studi dan penelitian mengenai HIV dan kekuasaan dalam hubungan seks antara laki-laki dan perempuan telah menemukan hubungan langsung antara kekuasaan yang lebih rendah dalam hubungan seks dengan pengalaman-pengalaman kekerasan pasangan dan penggunaan kondom yang tidak konsisten. Kekerasan dan penggunaan kondom, keduanya sangat relevan karena seks yang dipaksakan bisa menjadi cara langsung penularan HIV, dan penggunaan kondom merupakan peramal bagi hasil akhir HIV/AIDS. Namun demikian, kondom bukanlah solusi utama, karena isu HIV/AIDS berhubungan erat dengan berbagai macam aspek kehidupan, bukan hanya masalah kesehatan.
Menjawab ketimpangan kekuasaan untuk pencegahan HIV, apa yang diperlukan? Transformasi sikap, perilaku dan norma gender pada banyak tingkat. Penting untuk merencanakan dan mengimplementasikan strategi-strategi dan intervensi-intervensi yang secara langsung dan dengan sengaja mengatasi ketimpangan kekuasaan antara laki-laki dan perempuan dalam hubungan seksual mereka, dan rintangan yang mereka hadirkan untuk komunikasi negosiasi seks yang aman, dan pengurangan bahaya HIV/AIDS. Tidak hanya itu, tetapi ketersediaan lapangan kerja yang cukup, ketersediaan sarana infrastruktur pelayanan kesehatan yang memadai dan ketersediaan informasi dan sarana penyalurannya yang tepat guna dan tepat sasaran. Hal yang lebih penting adalah menghentikan secara total praktek mafia trafficking, agar tidak terjadi lagi perdagangan terhadap perempuan dewasa dan anak perempuan di dunia ini.
Berbagai macam hasil penelitian memperlihatkan bahwa mengatasi sikap, perilaku dan norma gender dalam konteks pencegahan HIV bisa mengurangi bahaya AIDS. Misalnya, melalui kampanye kondomisasi untuk meningkatkan penggunaan kondom dan pengurangan kekerasan pasangan seksual. Masalahnya, kondomisasi juga membuat seluruh umat manusia tejerat dengan ketergantungan pada industri karet. Pertanyaan lain adalah apakah politik industri kondomisasi berhubungan sebab-akibat dengan mafia traficking? Bisa juga tidak, tidak juga bisa. Sebab tingginya trafficking yang merupakan peluang dimana perempuan dan anak perempuan diperdagangkan untuk seks komersil, dan di situlah industri kondom dunia memperoleh keuntungannya. Inilah bahayanya jika trafficking terus berjalan. Sehingga harus dihentikan dan mengungkap pelaku-pelakunya untuk diadili sebagai pelaku kejahatan terhadap kemanusiaan. Penularan HIV/AIDS hanya bisa dihentikan, jika rantai trafficking diputuskan. Karena kedua mata rantai (HIV/AIDS dan Kondomisasi) terikat erat oleh trafficking. Sebab, transaksi seks yang terjadi sudah didahului dengan transaksi perempuan melalui trafficking, dimana perempuan dilihat sebagai “barang/obyek” dagangan.
Perempuanlah yang paling rentan dalam kasus HIV/AIDS ini. Perempuan adalah korban utama, sekalipun penyakit mematikan ini tidak memilih perempuan atau laki-laki. Pasalnya, dalam kasus trafficking, perempuan yang lebih banyak dijual pula sebagai pekerja seks komersil (PSK) baik secara terbuka di lokalisasi-lokalisasi maupun secara terselubung melalui bar dan panti-panti pijat. Di Papua kebanyakan perempuan dari Manado dan juga Jawa yang dijerat oleh pedagang seks (mucikari) dengan dalil ketenagakerjaan dan upah yang menjanjikan kehidupan yang sukses bagi korbannya. Korban trafficking biasanya anak-anak perempuan (gadis), sekalipun anak di bawah umur. Trafficking adalah tindakan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Dengan melihat hal di atas, apakah penyebab tingginya angka HIV/AIDS di Papua adalah hubungan seks (perilaku seksual) yang tidak aman dan nyaman atau juga faktor lain seperti kemiskinan, kurangnya lapangan kerja, trafficking, dll? Atau memang penyakit ini merupakan KUTUKAN TUHAN sebagaimana selalu dikumandangkan para pengkhotbah dari kalangan ahli agama? Bisa juga tidak, tidak juga bisa. Tetapi yang lebih penting adalah mengungkap dan memutuskan rantai perdagangan orang (trafficking) dan juga mengungkap kebenaran maupun kebohongan genocide di Tanah Papua melalui penyebaran virus HIV/AIDS. Karena sudah jelas bagi kita bahwa isu genocide melalui HIV/AIDS adalah tidak benar, karena kenyataan bahwa yang terancam oleh penyakit mematikan ini bukan hanya orang Papua di bumi ini.
Dalam konteks ini, trafficking yang semestinya mendapat perhatian publik bahwa perdagangan perempuan untuk menjadi pekerja seksual yang harus diawasi dan dihentikan. Mafia-mafia trafficking harus diungkap dan ditangkap untuk diadili sebagai pelaku kejahatan terhadap kemanusiaan. Sebab, trafficking adalah pemicunya. Upaya lain adalah tidak menghalalkan kondomisasi sebagai upaya penanggulangan HIV/AIDS, tetapi mendorong kesadran moral untuk pengendalian diri terhadap seks ¢membabibuta¢. Selain itu memberikan perhatian sebesar-besarnya bagi ODHA, bukan menjauhi mereka dan apalagi memperlakukan mereka secara tidak manusiawi. Mereka membutuhkan pertolongan pada sisa-sisa hidupnya. ODHA juga manusia. Lebih dari itu, perlu penyediaan lapangan kerja yang cukup, sehingga faktor kemiskinan tidak menjadi alasan untuk transaksi seks. (Pitsaw Amafnini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *