Kaki Maryati Nyaris Diamputasi

 

Image

Kaki Maryati nyaris diamputasi karena terjepit di antara saluran air di sekitar pelabuhan Manokwari. (Foto:Juana Mantovani/Jubi)

 
JUBI—Maryati (47) tergolek lesu diatas ranjang, matanya terkatub suatu waktu di RSUD Manokwari. Beberapa saat yang lalu—Maryati menjalani operasi tulang di pergelangan kaki kanan selama dua jam yang dilakukan ahli ortopedi Dokter Ony dari Palang Merah Indonesia (PMI) Makassar yang ditugaskan untuk memberikan pelayanan kepada korban pasca gempa Manokwari.  

Selama dua jam Maryati tidur diatas meja operasi lantaran tulang kaki dan kulitnya terlepas sehingga diperlukan penyambung dari kawat untuk menormalkan kembali pergelangan kakinya. “Aku kira seluruh pergelangan kaki kananku diamputasi, tetapi dokter sampaikan kasihan sehingga hanya satu jari kaki yang diamputasi. Jadi aku pasrakan saja pada Tuhan,” ujar Maryati miris.   
Maryati, warga SP III Jalur 8, Distrik Prafi, Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat adalah salah seorang korban gempa Manokwari, Minggu (4/1) pukul 04.48 WIT. Ketika JUBI menjenguknya di RSUD Manokwari ia ditunggui seorang putrinya Erna Irianti yang tiba dari Jayapura sesaat ibunya mengalami musibah. Sang putri sendiri baru saja menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Ekonomi Universitas Cenderawasih Jayapura.
Selama menjalani perawatan pasca operasi tulang pergelangan kaki kanannya—Maryati dirawat bersama pasien lainnya di bangsal, tetapi kadang-kadang Maryati dan pasien lainnya dipindahkan ke teras di sekitar RSUD Manokwari. “Kami pindahkan pasien untuk sementara karena kami khawatir terjadi gempa susulan,” tutur seorang petugas medis.
Tampak pergelangan kaki kanan Maryati dibalut sebuah kawat penyangga. Maryati masih sulit menggerakan kakinya. Di sekitar ranjangnya terdapat sebuah kursi roda yang disiapkan apabila Maryani hendak ke toilet. “Saya masih dibopong anak-anak kalau ingin ke toilet,” ucap Maryati.   
Maryati mengisahkan, di saat dini hari sebelum terjadi gempa yang mengguncang Manokwari ia bergegas membereskan barang dagangannya dari KM Doloronda yang membawanya dari Sorong. Iapun memikul barang dagangannya di bahunya sedangkan kedua tangganya menenteng tas barang dagangannya yang lain berjalan menuju pelataran Pelabuhan Manokwari. Namun demikian, petaka justru menaungi ibu empat anak ini ketika gempa mengguncang Manokwari jantungnya berdetak kencang dan berusaha melindungi dirinya, tetapi seketika kaki kananya menyentuh saluran air dan kakinya terjepit. Maryati meraung kesakitan, tetapi dirinya hanya seorang diri. Tak seorangpun yang berada disekitarnya  yang mampu menolongnya.
Tetapi, di saat itu juga beberapa karyawan PT Pelni Manokwari yang sedang bertugas melihat seorang wanita yang terjatuh didalam selokan. Merekapun menolong dan membopongnya ke RSUD Manokwari.      

Sembilan Pasien Luka Berat
Sementara itu, Direktur RSUD Manokwari Dokter Hengki V. Tewu kepada JUBI menuturkan, pasca gempa Manokwari, maka pihaknya 9 pasien luka berat terdiri dari 6 pasien dioperasi, 2 pasien digips, seorang pasien cuma diobservasi akibat trauma gempa serta 31 pasien menjalani rawat jalan.
Dikatakan Dokter Tewu, sebagian korban yang mengalami luka berat ditampung di Rumah Sakit TNI/AL di kawasan Sanggeng. Pihaknya mempunyai tugas untuk memberikan keyakinan kepada pasien bahwa musisah yang mereka hadapi dapat disembuhkan. Kami selalu bersiaga untuk menerima pasien yang dirujuk,” tukas Dokter Hengki meyakinkan.   Bahkan diantara pasien yang menderita luka berat tersebut adalah pasien yang sulit memperoleh pertolongan pertama saat pasca gempa Manokwari lantaran lokasi tempat tinggalnya sulit terjangka. Karena itu, Satkorlak Penanggulangan Bencana Provinsi Papua Barat melakukan koordinasi bersama TNI/Polri untuk melakukan sweeping ke kampung-kampung guna mencari korban yang mengalami luka berat, tetapi belum tertolong.   
“Kami lakukan operasi sebagai tindakan lanjutan pertolongan pertama agar nyawa korban dapat diselamatkan,” tutur Dokter Hengki. Dokter Hengki menuturkan, pasien-pasien yang menderita luka berat pasca gempa Manokwari dibebaskan sampai biaya operasi.         
Wakil Gubernur Provinsi Papua Barat sekaligus Ketua Satlorlak Penanggulangan Bencana Drs Rahimin Katjong juga menegaskan, pemerintah Provinsi akan menanggung seluruh pembiayaan pasien yang dirawat di RSUD Manokwari. “Saya minta agar pasien-pasien itu dirawat khusus sehingga segera sembuh,” imbuh Wagub Katjong ketika mengunjungi beberapa pasien yang dirawat di RSUD Manokwari.   

Transmigrasi Dari Banyuwangi Ke Sorong
Maryati menuturkan, saat ini dirinya melakukan rawat jalan untuk proses penyembuhan. Bahkan pihak RSUD Manokwari menugaskan seorang Mantri untuk mengawasi dan mengobati Maryati di rumahnya. “Sudah ada perubahan, tetapi belum normal betul. Luka bekas jahitan belum kering,” tukas Maryati sembari menunjukkan luka jahitan di pergelangan kaki kanannya.
Maryati mengisahkan, ia dan suaminya Mudriono (54) berasal dari Banyuwangi (Jawa Timur). Keluarganya pada tahun 1982 mengikuti program transmigrasi yang saat itu tengah digalakan  pemerintah. Maryati dan keluarganya akhirnya memilih Sorong, Provinsi Papua Barat sebagai untuk menyambung hidup mereka. “Kami dapat jatah dari pemerintah untuk mengolah tanah seluas 1 hektar untuk menanam tanaman perdagangan,” kata Maryati mengenang.  
Namun demikian, Sorong bukanlah pelabuhan terakhir bagi Maryati dan keluarganya lantaran sejak tahun 1993 mereka hijrah ke Manokwari. Kebetulan Maryati dan keluarganya menginvestasikan dua bidang tanah di Manokwari yang saat ini ditanami tanaman perdagangan seperti kakao, durian, pisang dan lain-lain. “Suami saya hanya mengawasi sedangkan beberapa tenaga ngerjain kebun,” tandas Maryati.      
Maryati mengungkapkan, meski suaminya telah memiliki usaha angkutan kendaraan yang yang lumayan untuk menghidupi keluarganya, tetapi naluri seorang istri berkata lain. Maryatipun mencari tambahan penghasilan untuk menopang ekonomi keluarganya dengan memilih berdagang antar wilayah.
Karena itu, tak heran apabila menjumpai Maryati yang saban hari senantiasa bepergian antara Manokwari dan Sorong. Dari Manokwari Maryati berdagang rica/cabe, durian dan langsat untuk dijual di Sorong. Kebetulan beberapa wilayah di SP Manokwari merupakan daerah produsen cabe rawit, durian dan langsat.  Sedangkan dari Sorong Maryati membawa bawang merah, bawang putih, ikan asin dan lain-lain untuk dijual di Manokwari. “Saya harap musibah ini cepat berlalu sehingga saya dapat bekerja kembali demi menopang ekonomi keluarga,” tukas Maryati, seraya menyampaikan terima kasihnya kepada semua pihak yang telah menolongnya dari musibah gempa Manokwari.  (Makawaru da Cunha)   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *