Ketika Gempa Mengguncang Manokwari

 

Image

Jembatan Wosi di Kota Manokwaripun retak akibat gempa 7,2 SR yang melanda kota tersebut (Foto: Juana Mantovani/Jubi)

 
Manokwari, JUBI – Di waktu malam, aku sendiri. Kududuk di pinggir Pantai.
Aku memandang jauh ke sana, air mataku tumpah ingat kampungku.
Sampai fajarpun terbit di Wondiboi. Sayup kudengar kicauan burung kuning.
Kupandang Rasiei, Tanjung Kubiari hatiku sedih teringat saat di Pantainya Kubiri.

Lagu tradisional dari Daerah Manokwari yang dipopulerkan oleh  Trio Ambisi saat ini  mengisahkan seorang perantau di Wondiboi yang rindu pada kampung halamannya, terutama saat ia berada di Pantai Kubiri. Ia duduk di pinggir pantai untuk mengenang kembali kenangan tentang kampung halaman yang begitu dirindukannya.
Pantai tak lagi menjadi tempat indah yang digemari banyak orang. Warga Manokwari pasca gempa berkekuatan 7,2 SR pada Minggu (4/1) pukul 04.48 WIT melululantahkan seluruh sendi kehidupan warga di Kota Injil ini. Pantai justru menjadi tempat yang dijauhi Warga Manokwari. Berikut ini penuturan warga korban gempa Manokwari.   
Simson Mofu (45) lelaki peranakan Biak-Key duduk termenung di sudut tenda darurat yang ia bangun seadanya bersama tetangga dengan memanfaatkan kayu-kayu bekas dari puing-puing reruntuhan rumah akibat dirobohkan gempa Manokwari. Sesekali ia memandang bangunan rumahnya yang telah rata dengan tanah sembari memeras keringat yang membasahi keningnya.  
Ia adalah salah Seorang Korban gempa Manokwari yang selama sepuluh tahun terakhir ini bersama istri dan tujuh orang anaknya menetap di pemukiman transmigrasi Kampung Masni, Distrik Masni. “Sebelumnya tong tinggal di pinggiran pantai, tetapi pemerintah cepat-cepat pindahkan tong dari sana terus kasih tong lokasi baru ini,” ujar Mofu mengisahkan petualangan hidupnya.
Pemerintah mengambil kebijakan merelokasi warga yang telah turun-temurun menempati lokasi tersebut untuk melindungi warga dari abrasi pantai yang mengganas “Masih untung karena lokasi lama dan lokasi baru yang saat ini tong tempati tra jauh sehingga tong cepat menyesuaikan diri,” tukas Mofu yang didaulat warga menjadi Ketua Rukum Kampung Masni.     
Sebelum gempa, lelaki yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan untuk menghidupi keluarganya dengan bermodal sebuah motor Johnson yang ia miliki dari pinjaman dari pemerintah yang mesti dia kembalikan setiap bulan dengan mencicil. Dalam sehari ia mampu menangkap 3-4 ember ikan dari berbagai jenis seperti ikan oci, ikan merah, ikan tenggiri dan lain-lain yang ia jual ke Pasar SP III, Distrik Prafi, Kabupaten Manokwari. “Dari hasil penjualan itu sa bisa bawa pulang uang seratus sampai seratus lima puluh ribu, sisanya sa pake untuk makan keluarga,” tutur Mofu sambil memyemburkan asap rokok dari celah bibirnya.
“Dari hasil tangkap ikan sa bisa kasi kuliah sa pu anak paling besar, tetapi cuma sampai semester dua karena kurang biaya jadi dia putus kuliah. Apalagi sa juga harus lihat Maitua (Istri) yang lumpuh su dua tahun ini,” ucap Mofu miris.  
Menurut Mofu, di pemukiman transmigrasi yang ia tempati bersama warga lainnya terdapat 33 rumah sederhana tipe 21 yang dibangun pemerintah. “Bangunan tra kuat jadi pas gempa tong pu rumah semua ambruk,” tukas Mofu. Kalau pemerintah mau rehab rumah yang hancur maka ia dan beberapa warga siap menjadi relawan untuk membangun kembali rumah mereka. “Karena kalau tong yang bangun sendiri tong tau bahan-bahan yang bikin bangunan kuat,” ujar Mofu lagi. Dia juga berharap bahwa rumah yang akan dibangun adalah rumah yang bisa tahan gempa seperti yang dilakukan pemerintah di Flores, Aceh, Nias, Yogyakarta dan Nabire.
“Untuk melindungi warga dari terjangan tsunami, tong usul supaya pemerintah pasang alat peringatan dini gempa dan tsunami,” ujar Mofu berharap.  

Jembatan Arui Ambruk Perekonomian Rakyat Terhambat
Soleman Manseni (53), Kepala Kampung Masni yang mempunyai 60 Kepala Keluarga (KK) mengutarakan bahwa pasca gempa Manokwari tak hanya rumah warga yang rusak tetapi Jembatan Aruipun ambruk. Padahal, Jembatan Arui merupakan sarana transportasi utama bagi warga yang menghubungkan  sejumlah kampung seperti Kampung Masni, Yensum, Wondey, Yoansaribo dan Sibuni.
Dinyatakan Manseni, Jembatan Arui merupakan urat nadi perekonomian rakyat lantaran setiap saat warga memanfaatkan lokasi ini untuk melakukan transaksi produk lokal yang mereka hasilkan guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Setiap saat warga melewati lokasi ini untuk sekedar menjual hasil tanggapan ikan, tanaman holticulture seperti sagu, durian, umbia-umbian. Juga ternak babi dan sapi dan pulang membawa beras, gula, kopi, the dan lain-lain,” ucap Manseni, seraya menegaskan agar pemerintah segera merehab Jembatan Arui. Kalau tidak segera direhab, maka akan menghambat perekonomian kami semua.”  
Berbeda lagi dengan kisah Mofu dan Manseni, Yan William Mensey (67), Kepala Sekolah  di SD Inpres 45 Kampung Masni mengungkapkan, bahwa pasca gempa para siswa meliburkan sendiri dirinya tanpa pemberitahuan dari pihak sekolah. “Anak-anak dong takut jadi ada yang lari ke gunung untuk selamatkan diri, apalagi gedung sekolah mereka telah runtuh,” ujar Mensey yang telah 30 tahun mengabdikan dirinya di dunia pendidikan.
Mensey menjelaskan, penghuni sekolahnya sebanyak 75 siswa terdiri 40 siswa dan 35 siswi tetapi setelah bangunan sekolahnya roboh maka ia tak tahu lagi nasib anak-anak asuhnya untuk dapat kembali ke sekolah.  
Menurut dia, Kampung Masni terdiri dari 240 anak-anak, 16 ibu menyusui,  5 perempuan hamil. Pasca gempa Manokwari warga cukup banyak menderita pilek, malaria, diare, ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan) dan lain-lain karena diduga air sumur yang mereka gunakan tercemar pasca gempa. Apalagi bantuan air bersih dari pemerintah seringkali terlambat, maka  mereka terpaksa memakai air sumur yang telah tercemar tersebut.
Untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi warga Kampung Masni dan sekitarnya, maka pemerintah telah membangun sebuah Puskesmas Pembantu (Pustu) dengan beberapa petugas medis. Namun demikian, warga sering mengeluh apabila mereka menderita sakit dan berobat, tak ada petugas medis yang melayani. “Mantri dengan Suster hanya ada siang kalau malam dong pulang padahal dong pu rumah su ada, pemerintah yang bikin,” tutur Mensey.  
Mensey mengeluhkan, jumlah 5 MCK (Mandi, Cuci, Kakus) yang sangat terbatas. Satu MCK digunakan oleh  2 KK.  Satu MCK terdiri dari dua bilik.     
Di lokasi transmigrasi Kampung Masni memang sebagian besar warga menempati rumah-rumah yang dibangun pemerintah, tetapi ada dua orang warga yang justru mampu membangun rumah permanen dari jerih-paya mereka menjual sagu dan durian. Keduanya adalah Paulinus Mansaburi (65) yang kesehariannya menjual durian serta Janda Mesak Meidodga (57) berjualan sagu. “Rumah ini sa pu Paitua (Suami) yang bangun dari hasil menjual sagu, tetapi selang berapa lama Paitua meninggal dunia,” ujar Meidodga lirih.  
Ini adalah hal yang unik dan menarik untuk ukuran orang Papua yang belum memiliki kebiasaan menabung serta perlu diikuti oleh warga lain untuk membangun suatu kehidupan yang lebih mandiri tanpa selalau tergantung dari uluran tangan pemerintah.
“Tong mengungsi ke tenda-tenda darurat. Tetapi waktu gempa tong lari ke gunung. Tong takut gempa susulan. Tong semua lari ke luar dari rumah. Televisi, radio, perabot rumah dan lain-lain tong kas tinggal semua. Sekarang tong kerja bakti untuk bangun kembali rumah yang roboh,” ujar Meidodga.
Maryani (47), seorang pedagang yang tinggal di  SP III, Distrik Prafi, Kabupaten Manokwari nyaris menjadi korban. Padahal ia barusan turun dari KM Doloronda yang membawanya dari Sorong. Ketika gempa menggucang Manokwari ia panik dan berlari seketika untuk menyelamatkan diri, tetapi kaki kanannya terjepit diantara selokan di Pelabuhan Manokwari. “Pergelangan kaki kananku patah tulang. Sebenarnya kakiku mesti diamputasi, tetapi dokter sampaikan kasihan kalau mesti diamputasi. Akhirnya pergelangan kaki kananku hanya dioperasi,” ujar Maryani yang tergolek lesu di salah satu bangsal di RSUD Manokwari.      

Terpaksa Konsumsi Raskin
Acapkali saat terjadi bencana dimanapun—semua orang panik dan berdampak pada kacau balaunya penyaluran bantuan bagi korban. Sekretaris RT 07/RW 01 Kelurahan Amban, Distrik Manokwari Barat, Kabupaten Manokwari Boas Sraun (45) mengungkapkan bahwa hingga hari ke-7 pasca gempa Manokwari sebanyak 78 warganya belum mendapatkan bantuan. Wilayah ini merupakan  Kompleks Rumah Dinas Karyawan Universitas Negeri Papua (UNIPA) Manokwari.  
Ia juga menjelaskan, “Seluruh rumah retak atau rusak ringan tinggal  enam  sampai tujuh  rumah luput dari musibah. Dua rumah  tak layak ditempati karena kerusakan parah yang dialami”
Dia berharap bahwa pemerintah secepatnya menanggulangi kondisi ini dengan mengambil langkah langkah yang tepat guna mengatasi situasi darurat ini karena setiap terjadi bencana—pemerintah cenderung hanya mengumpulkan data tanpa menindaklanjuti data tersebut.  
Tokoh Masyarakat Kelurahan Amban, Terianus Tarami (69) pensiun Karyawan UNIPA Manokwari  mengatakan, pasca gempa Manokwari dirinya masih mengkonsumsi 20 Kg beras yang  merupakan jatah Raskin miliknya sebelum gempa karena pemerintah belum memberikan bantuan beras pada warga hingga saat ini.
Tak berbeda dengan kehidupan Warga Pribumi Papua lainnya, berkebun dan menjadi nelayan adalah hal yang biasa dilakoni warga di Kelurahan Amban. Ada juga sebagian warga yang menjadi buruh bangunan. Hasil dari kebun milik warga yang berjarak puluhan kilo di daerah Mandopi, Bremi dan Asay seperti sayur, keladi, ubi, pisang dijual ke Pasar Sanggeng untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti viksin dan garam.
“Tong harap musibah ini cepat berlalu supaya tong bisa kembali ke kebun seperti dulu lagi dan penting juga memulihkan  kondisi psikologi korban pasca gempa,” kata Terianus mengakhiri kisahnya. (Makawaru da Cunha)      

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *