Pengakuan Para Penjual Air Keliling : “Kami Tak Pernah Nikmati Bantuan Pemerintah”

 

Image

Para penjual air bersih di Merauke ini mengaku tak pernah menikmati bantuan dari pemerintah daerah setempat. (Foto:Istimewa)

 
JUBI-Dikemanakan bantuan bagi masyarakat kecil yang disalurkan oleh pemerintah? Apakah penyaluran hanya diprioritaskan atau dikhususkan bagi orang yang dikenal atau sanak saudara saja? Semua orang tahu jika baik bantuan yang dialokasikan dari pusat, provinsi dan kabupaten/kota untuk pemberdayaan rakyat kecil sangat besar. Hanya saja, tidak diketahui secara pasti dan jelas kemana larinya semua bantuan dimaksud.

Adalah Erik Arabang (35) tahun dan Asruri (60) tahun, dua dari sekian banyak orang kecil yang selama ini hidup dalam kesusahan dan tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah baik berupa dana maupun bantuan lain yang bisa membantu untuk menopang kehidupan keluarganya di Kota Merauke. Meskipun tak mendapatkan bantuan dari pemerintah, mereka tidak putus asa atau pasrah dengan keadaan. Berbagai aktivitas dilakukan untuk bisa mendapatkan uang agar bisa menghidupi isteri dan anak-anak di rumah.
Tanpa merasa malu atau gengsi, mereka nekad mengambil air dari sumur  dan mengisi  ke dalam jerigen untuk selanjutnya bisa didorong keliling Kota Merauke agar membantu  mendapatkan satu atau dua rupiah. “Ya, beginilah pekerjaan kami setiap hari. Kalau tidak jualan air berarti asap dapur pun tak bisa mengepul. Olehnya, sebagai tulang punggung keluarga, kami harus banting tulang untuk jalan keliling Kota Merauke agar bisa menjual air,” ungkap Erik dan Arabang polos.
Asruri saat ditemui Jubi beberapa waktu lalu menuturkan, sejak tahun 1985, dirinya bersama keluarga datang ke Merauke mengikuti program transmigrasi dari pemerintah dan mendapatkan lokasi atau tempat di Jagebob.  Selama beberapa tahun di lokasi transmigran, dirinya berusaha untuk mengolah lahan untuk ditanami padi, jagung, ubi-ubian dan beberapa jenis tanaman lain. Hanya saja, hasil yang didapatkan dengan tenaga yang dikeluarkan tidak sesuai. Olehnya, dengan isteri dan tujuh orang anak mereka, terpaksa hengkang dari Jagebob dan memilih tinggal di Merauke.
Ketika tiba di Kota Merauke, tuturnya, sempat mengalami kesulitan mendapatkan pekerjaan. Atas usaha dan kerja keras, maka pada akhirnya bisa menjadi seorang penjual air keliling menggunakan gerobak. Meskipun penghasilan yang didapat setiap hari tidak seberapa, namun bisa menghidupi keluarga khusus beli beras dan kebutuhan penting lain yang mendesak.
”Memang kalau dihitung-hitung, pendapatan yang ada tidak bisa mencukupi apalagi harus menghidupi isteri dan ana-anak. Meski demikian, saya tidak pernah merasa putus asa,”  ungkapnya.
Ditanya tingkat kesulitan yang dihadapi selama ini, pria yang sudah lanjut usia itu mengaku, tidak ada. Hanya saja yang terjadi adalah kecapaian atau kelelahan karena harus jalan keliling Kota Merauke berjualan air. Tidak bisa hanya terpaku atau berada di suatu tempat. Apalagi jika ada pelanggan yang setiap hari harus dilayani dengan menghantar air ke rumahnya. “Saya punya beberapa pelanggan air minum dan setiap hari harus hantar beberapa jerigen untuk mereka,”  katanya.
Sementara Erik Arabung mengaku sudah empat tahun menggeluti pekerjaan sebagai penjual air keliling Kota Merauke. Pria yang memiliki dua orang anak ini mengaku, meskipun pekerjaan ini termasuk berat karena harus mendorong gerobak yang berisi jerigen air, namun pekerjaan tersebut dijalani dengan sabar. Karena sangat membantu untuk mendapatkan uang  agar bisa menghidupi isteri dan kedua pujaan hatinya.
Menyangkut penghasilan yang didapatkan setiap hari, Erik menga-ku tidak menentu. Karena terga-ntung juga dari rezeki apalagi yang menjual air sekarang jumlahnya sa-ngat banyak dibandingkan dengan beberapa tahun silam. Dalam sehari, kata dia, bisa mengambil air sumur di seputaran Jalan Raya Mandala sampai dua kali. Jika dihitung-hitung, penghasilan yang didapatkan bisa mencapai kurang lebih Rp 100.000,00.Jadi, tergantung saja dari rezeki setiap orang. Kalau datang baik berarti bisa pulang dengan senyum.
“Kalau lagi musim kemarau, kami bisa mendapatkan penghasilan yang lumayan baik. Tetapi jika sudah memasuki musim hujan, terpaksa harus siap menerima resiko untuk pulang dengan tangan hampa. Saya yakin semua pekerjaan pasti memiliki resiko sehingga apapun yang terjadi harus bisa dihadapi dengan sabar dan tidak boleh putus asa,”  Katanya.
Baik Erik maupun  Asruri meminta kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merauke agar membantu untuk memberikan bantuan dana agar bisa dimanfaatkan untuk usaha atau kegiatan lain. Karena dengan hanya berjualan air saja, tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
“Terus terang, selama ini kami belum pernah mendapatkan adanya bantuan dari pemerintah. Tidak tahu alasan apa sehingga hanya orang lain saja yang mendapatkan,” ujar mereka. (Labi Fransiskus) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *