Jual Anak Ingusan, Marlin Diganjar 5 Tahun Penjara

 

Image

Akhirnya Pemilik Bar Cahaya Indah, Marlin yang didakwa melakukan tindakan perdagangan manusia (traficking) diganjar 5 tahun penjara oleh PN Merauke (Foto: IST)
 
Merauke, JUBI – Mungkin bisa dihitung dengan jari berapa kasus traficking atau perdagangan anak di Papua yang diusut tuntas sampai mendapatkan kekuatan hukum tetap di pengadilan.

Tidak diketahui alasan memdasar sampai penyidik kepolisian maupun kejaksaan kurang menseriusi kasus dimaksud. Apakah karena barang bukti yang kurang mendukung atau karena saksi-saksi yang dipanggil tetapi tidak datang memberikan keterangan mendukung proses penyidikan?  Atau bisa juga dikarenakan oleh kurang kontrol yang baik kepada pihak penyidik dari  orang yang melaporkan.
Masih ingat akan kasus trafficking di Kota Merauke yang menyeret terdakwa Pemilik Bar Cahaya Indah, Marlin  di tahun 2008 silam yang nekad mendatangkan anak dibawah umur Vita (17) tahun, siswi salah satu SMA di Pasuruan, Jawa Timur untuk dipekerjakan sebagai pramuria. Tak menyangka,  akhirnya Marlin harus berurusan dengan hukum dan akhirnya meratapi kehidupannya bersama para narapidana lain di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Merauke setelah divonis lima tahun penjara oleh Pengadilan Negeri (PN) setempat.
Kasus tersebut terbongkar setelah Kepala Seksi (Kasi) Rehabilitasi pada Kantor Dinas Sosial kabupaten Merauke, Rum Metalmetty, S.Sos dengan beberapa stafnya melakukan sidak ke beberapa tempat hiburan dalam Kota Merauke di tahun 2008 lalu. Saat mendatangi Bar Cahaya Indah di Jalan Raya Mandala dan melakukan pemeriksaan identitas para pramuria terutama identitas mereka, didapat satu dari beberapa yang masih dibawah umur. Dari situ, Metalmetty tidak tinggal diam, tetapi melakukan koordinasi dengan beberapa pemerhati anak untuk mengusut lebih lanjut.
Merebaknya kasus penjualan anak dibawah umur itu tidak luput dari telinga para kuli tinta. Di Kabupaten Merauke. Hampir setiap hari pemberitaan media cetak maupun elektronik terus digaungkan sehingga mendapat simpati dari publik. Dari situ juga, Metalmetty bersama beberapa rekan seperjuangannya membentuk Tim 30 yang berjumlah kurang lebih 10 orang untuk melaporkan Marlin ke Polres Merauke.
Sebelum mempolisikan Marlin, Tim 30 bertemu dengan Wakil Bupati Merauke, Drs. Waryoto dan juga Asisten III Setda, Ny. Agustina Basik-Basik. Saat menyampaikan nasib tragis yang dialami Vita, gayung pun besambut dan kedua pejabat tersebut mendukung penuh agar kasusnya diproses secara hukum untuk memberikan rasa jerah kepada Marlin dan orang lain agar tidak dengan seenaknya mendatangkan anak dibawah umur untuk dipekerjakan di bar atau tempat hiburan malam.
Langkah pasti Tim 30 pun semakin terang dan akhirnya Marlin diadukan ke polisi sekitar bulan April lalu. Saat kasus tersebut mencuat, korban Vita langsung diamankan di salah satu rumah keluarga Tim 30 untuk mengantisipasi jangan sampai terjadi teror atau penculikan. Laporan awal ke Polres, korban langsung dibawa sekaligus dimintai keterangan oleh penyidik. Sementara saksi-saksi lain termasuk tiga pramuria di Bar Cayaha Indah  dimintai keterangan dari belakang.
Prioritas agar Vita diambil keterangan terlebih dahulu karena Tim 30 berencana  memulangkan korban ke kampung halamannya agar bisa kembali melanjutkan pendidikan sebagaimana biasa. Rencana itu terjawab dan setelah dimintai keterangan, korban langsung dipulangkan dengan pesawat dengan semua biaya perjalanan sampai kampung halaman di tanggung Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merauke. Sayangnya, begitu tiba disana, ternyata pihak sekolah tak menerima dengan alasan korban sudah terlalu lama meninggalkan sekolah.
Rum Metalmetty mengungkapkan, langkah yang dilakukan untuk mengungkap kasus tersebut semata-mata memberantas perdagangan manusia terutama anak dibawah umur yang akan dipekerjakan di bar atau tempat hiburan malam.
“Apa yang saya lakukan itu semata-mata untuk menyelamatkan anak-anak dibawa umur. Kasihan kalau mereka yang masih harus membutuhkan kasih sayang orangtua dan mengenyam pendidikan harus dijual kepada orang lain,” tegas Metametty.
Dia pun mengungkap rasa kebanggaannya terhadap kerja keras Tim 30 dengan membawa kasus Vita ke jalur hukum. Langkah yang dilakukan itu untuk memberikan proses pembelajaran kepada Marlin agar tidak mengulangi perbuatan dikemudian hari.
“Saya juga mengucapkan banyak terimakasih kepada Pemkab Merauke yang memberikan dukungan sehingga kasus itu dilaporkan kepada polisi,” tandasnya.
Metalmetty menambahkan, begitu kasus itu dilaporkan ke polisi, pihaknya tidak tinggal diam tetapi terus melakukan monitoring dan mendesak penyidik agar segera menuntaskan dengan mengambil keterangan para saksi. Maksudnya kasus dimaksud segera masuk ke pengadilan untuk disidangkan. Dan, ternyata penyidik pun bekerja secara serius sehingga  dipertengahan bulan Oktober lalu, terdakwa akhirnya divonis lima tahun penjara karena terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana diamanatkan dalam pasal 2 Undang-Undang Nomor 21 tahun 2007 tentang Perdagangan Orang.
“Saya akan memonitoring terus tempat-tempat hiburan malam maupun maupun lokalisasi yang ada di Kota Merauke. Jika ditemukan ada yang mendatangkan anak dibawah umur akan dimintai pertanggungjawaban. Bila perlu langsung dilaporkan kepada polisi untuk ditangkap dan diproses secara hukum. Ya, ini adalah bagian atau merupakan tugas dan tanggungjawab yang harus saya laksanakan,” tegasnya.
Sementara itu, terdakwa Marlin menuturkan, dirinya merasa dijebak oleh salah seorang rekannya ketika mengambil Vita di Surabaya beberapa waktu lalu. Saat itu, menurutnya, korban dikenalkan oleh salah seorang teman. Tanpa banyak bertanya lagi, dirinya menawarkan agar korban bekerja di Merauke. Oleh karena sudah ada kesepakatan bersama, maka teman itu membawa korban dari Pasuruan dan bertemu di salah satu hotel di Surabaya. ?Waktu itu, saya menanyakan korban lagi apakah dirinya siap untuk ke Merauke, dijiawab siap. Tanpa menanyakan lebih lanjut tentang identitas dan usia korban, pada keesokan hari kami terbang dengan pesawat?” tuturnya.
Setiba di Merauke, lanjut  dia, koban tidak langsung bekerja untuk melayani tamu di Bar Cahaya Indah. Selama kurang lebih satu minggu istirahat sambil beradaptasi dengan lingkungan.  Ketika datang petugas dari Dinas Sosial,  korban baru satu kali menemani tamu. Itupun didampingi salah seorang seniornya. ?Saya tidak tahu jika korban berusia 17 tahun. Saat petugas melakukan pemeriksaan identitas KTP baru diketahui Vita masih ingusan.
“Terus terang, saya merasa kaget juga,” katanya.
Disinggung soal putusan majelis hakim yang memvonisnya lima tahun penjara, Marlin mengaku pasrah dan tidak bisa berbuat apa-apa. Karena mungkin itulah akibat dari ketidakhati-hatian mendatangkan pramuria untuk dipekerjakan di bar.
“Saya juga tidak janji apakah setelah keluar dari penjara akan melanjutkan usaha ini atau tidak. Ya, lihat saja mas setelah keluar,” tuturnya dengan dialek kental Jawa. (Labi Fransiskus)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *