Jelang Satu Abad Kota Jayapura VII

 

Image

Pulau Debi di Teluk Youtefa yang merupakan pusat pemerintahan kota Holandia sebelum dipindahkan ke Jayapura (Foto : Dominggus Mampioper/Jubi)

 

Renungan Masuknya Injil di Kota Jayapura

JUBI – Referensi perjalanan sejarah yang aktual ketika awal masuknya Injil sampai dengan penyebaranya adalah hak publisitas Sinode GKI di Tanah Papua. Barangkali dari situlah terjadinya suatu momen penting bagi penghuni kawasan Teluk Humboldt, terutama dalam wilayah Teluk Youtefa, khususnya terletak di Pulau Metudebi, diantara kampung Tobati– Injeros. Di Pulau Metu Debi inilah pertama kali pemerintahan dan juga pekabaran Injil dimulai di dataran wilayah kebudayaan Tabi yang meliputi wilayah Port Numbay hingga ke Vanimo Papua New Guinea .

Mendasari data atas buku  yang berjudul : Ein Gouden Jibeleum 50 Jaar  Hollandia, van 7 Maart 1910  tot  7 Maart 1960, door DR K.W Galis en HJ van Doornik, dengan demikian untuk melengkapi “Satu Abad” atau seratus tahun ( tahun 1910 sampai tahun 2010 ), yang akan berada sesaat lagi karena ada suatu sejarah yang diperingati pada waktu 50 tahun lalu oleh pemerintah Hindia Belanda, sebelum Papua masuk kedalam wilayah NKRI. Maka untuk menindak lanjuti dan sebagai generasi penerus yang akan bertanggung jawab mengantar kota Jayapura dan sekitarnya ke tingkat “peradaban” berikut.  Sepatutnya kita mensyukuri  rahmat dan anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa sehingga selayaknya juga sejarah itu harus dilengkapi dan ditepati pada saatnya nanti.
Sekilas data lokal yang dihimpun bahwa proses penjajakan dari kegiatan pekabaran Injil sudah berlangsung jauh sebelum tahun 1910,khususnya di teluk Youtefa dengan berbagai peristiwa yang cukup panjang. Maka  para misionaris yang dipelopori oleh G.L. Bink semenjak tahun 1893 (diliput dari buku : Art of North West New Guinea) dikatakan bahwa ketika itu beliau tinggal di sekitar Teluk Humboldt selama hampir tiga bulan, termasuk observasi perjalanannya ke Danau Sentani. Selanjutnya dengan rahmat Tuhan YMK proses  pekabaran Injil dibawa perintah The Royal Netherlands Geographical Society kepada Utrechtsche Zendings vereeniging ( Utrecht Mission Society) berjalan mulus tanpa tantangan dan hambatan apapun. Pasalnya ada hasrat dari hati yang tulus terjadi pada penghuni sekitar pulau Metudebi, di mana ada sebuah lampu  yang selalu menerangi sekitarnya pada malam hari dari penempatan sebuah bivak oleh para misionaris pertama. Hal ini menyebabkan para orangtua di sana merasa tergerak hati untuk menuntun anak-anak mereka secara spontan dengan mengatakan : “ikutilah terang yang ada disana”, maka terang itulah yang menuntun pekerjaan tangan-tangan ilahi  untuk melakukan karya pembaptisan awal bagi 18 orang masyarakat setempat pada tahun 1910. Barangkali inilah suatu pertanda awal masuknya  peradaban baru yang memberi arti perubahan dari adanya gelap menjadi, adanya terang  dikawasan dataran Tabi Teluk Youtefa.
Selanjutnya pertama adalah makna apa yang bisa diambil dari kisah pekabaran Injil dengan perkembangan Kota Jayapura yang memiliki visi Kota Beriman. Padahal waktu itu pos di  Hollandia (sekarang Kota Jayapura) didirikan oleh Netherlands Indies Government pada 1912 dan instalasi The Protestant Mission ada di Teluk Humbold pada 1916
Faktor kedua apakah kita akan menjadi saksi bisu dari setiap lembaran pengakuan dan perjuangan yang telah dirintis dalam sejarah se-abad karya Kota Jayapura dari Penyelamatan dan Pekabaran Injil di tanah Papua ini. 
Sepatutnya sebagai warga Kota Jayapura wajib bertanggung jawab mengantar dan melengkapi makna ini sekaligus memperingati lahirnya awal penerangan di kawasan kota Jayapura dan sekitarnya, sehingga dengan demikian setelah tahun 2010 yang telah memasuki 100 tahun.”Mau di bawa kearah manakah bentuk, rupa dan isinya tanah dan air dari kampung kita  ini”     

Pulau Debi : Wisata Rohani
Barangkali perwujudannya terpenting yang perlu dilakukan melalui konsolidasi segala unsur dan aspek dalam suatu renungan melalui perjalanan salib atau mungkin napak tilas satu abad.
Sejarah mengulas bahwa sekilas dari Metudebi, awal penyebaran warta keselamatan bergerak ke kampung Nafri lalu ke kampung Skow. Tahun 1912, masuk ke Yokari lalu Depapre dan kawasan Tanamera kemudian tahun 1916 masuk di Nimboran. Kemudian tahun 1924 masuk kawasan danau Sentani di Ajau.
Selanjutnya tahun 1930 menyebar ke Sarmi dan peristiwa ini terjadi seakan-akan telah mengitari gugusan pegunungan Cycloop dari titik matahari terbit, menelusuri pesisir pantai utara dan masuk ke dataran rendah Grime lalu ke danau Sentani yang akhirnya melengkapi  pekabaran Injil di seluruh pelosok dataran Tabi. 
Sungguh ! Suatu pekerjaan Tuhan yang luar biasa bila diawal tahun 2009 ini, kegiatan napak tilas yang bisa dikolaborasikan dalam kegiatan safari perjalanan Salib ini akan diadakan dengan  mensosialisasikan, bagaimana memproteksi kawasan hutan lindung yang sedang terancam terutama kawasan Cagar Alam Cycloop yang mengakibatkan sumber mata air mengering , kesadaran menjaga lingkungan yang sedang tercemar akibat terkontaminasi sampah dan limbah di sungai-sungai,danau, teluk,dan pesisir pantai. Terutama sekali adanya isu pemanasan global yang  menimbulkan malapetaka bagi umat manusia layaknya hari kiamat. Memperhatikan juga akan adanya kekhawatiran degradasi moral yang sedang terjadi akibat dari musuh penyakit HIV/AIDS yang sedang merajalela, dan lain-lain.
Dengan demikian seandainya menurut Alkitab, bahwa sesungguhnya segala yang diciptakan Tuhan itu baik adanya dan diambil dari kutipan Roma,pasal 1 ayat 16b bahwa Injil adalah kekuatan Allah. Maka berawal dari kegiatan ini perlu adanya keterbukaan diantara kita terutama akan tuntutan dan tuntunan semangat pembaharuan,  diawali dengan konsolidasi di kawasan penghuni teluk Youtefa yang akan dimotori oleh pihak Sinode GKI dan pemerintah serta masyarakat peduli Port Numbay. Untuk bersatu mewujudkan suatu kawasan religius dengan penempatan “sebuah salib” sebagai penghuni tetap yang akan dikunjungi secara reguler, karena disitu ada dokumentasi satu tahun safari perjalanan salib, karena salib itu juga pernah tinggal dan diberkati disetiap gereja yang dilaluiNya, sehingga akhirnya makna salib itu bukan hanya milik yang empunya pulau Metudebi sahaja tetapi juga sudah menjadi  milik kita semua. Terutama juga makna sejarah dahulu dan sekarang yang diliput secara terperinci dan menjadi hak untuk diketahui sebagai muatan lokal bagi kita dan akan dipelajari oleh anak cucu .-
Jika menyimak perkembangan yang ada di atas tanah Papua tercinta ini, pasti ada yang kurang atau sesuatu yang tampaknya mengada-ada  tetapi pada intinya  akan tumbuh suatu komitmen kebersamaan untuk mewujudkan sesuatu yang sebenarnya sudah ada dulu dan baik adanya, untuk direngut kembali agar yang hampir hilang atau dilupakan dan diabaikan menjadi “ada”  kembali.
Terlebih-lebih akan menjadi suatu perjalanan bernostalgia atau napak tilas dalam kegiatan safari perjalanan Salib yang akan terjadwal sistimatis, agar saudara para kerabat dari PengInjil tempo doeloe akan turut merasa dihargai dan bangga sebagai generasi yang ditinggalkan. Dan kini mereka boleh melihat nama-nama itu diukir kembali di tugu batu peringatan, sehingga nantinya kawasan teluk Humboldt, khususnya di teluk Youtefa yaitu di pulau Metudebi, akan kita kategorikan menjadi kawasan Wisata Rohani di Jayapura. Sebagai pintu gerbang penelusuran akan adanya pekerjaan tangan-tangan ilahi dan pembawa perubahan sebagaimana mestinya.
Dan ketika perjalanan itu dilakukan juga,akan ada improvisasi ceritera pengalaman proses pewartaan kabar baik ini yang  ditampilkan oleh muda-mudi lewat seni drama pertunjukan di setiap gereja-gereja atau di obyek wisata rohani. Dengan demikian akan menjadi suatu kesaksian dan pemahaman akan sesuatu yang luar biasa sudah terjadi dan pantas diperingati, sehingga  “terang” itu akan terus membias menjadi pusat kontrol bagi segala penyimpangan yang kadangkala hanya memenuhi hasrat kepentingan manusiawi belaka, bagi insan tertentu pada jaman ini.
Memang napak tilas masuknya Injil di Port Numbay perlu dilakukan, namun banyak kendala yang kini dihadapi warga setempat. Terutama hilangnya alih fungsinya tanah tanah adat dan dusun sagu. Masyarakat Injros dan Tobati yang dulunya mempunyai dusun sagu di lokasi Kantor Dinas Otonom Kotaraja dan Pasar Youtefa sudah berubah fungsi. Bahkan warga Tobati, Injros, kajoe Pulo dan Kajoe Batu kini semakin didera kesulitan mau menjadi petani lahan semakin sempit. Meski mereka tinggal di pesisir pantai tetapi keahlian untuk mencari ikan sebagai nelayan serba tanggung. Pasalnya sudah kalah bersaing dengan kaum pendatang baik sesama orang Papua dari Kampung Ambai Yapen mau pun nelayan Buton dan Bugis serta Makassar.
Salah satu langkah yang diambil oleh warga Kajoe Pulo adalah menyewa Pulo Kosong kepada warga Buton dan mereka hanya menerima hasil tangkapan ikan dari nelayan Buton sehabis melaut di perairan Teluk Humbold. Namun kendala lain laut sepanjang Teluk Humbold pun sudah tercemar hanya kantung plastik hitam dan buangan sampah bisa ditemui baik sepanjang Pelabuhan Port Numbai maupun sekitar Kajoe Pulo hingga   Base G.. Kalau pun sekarang mau melaut harus berlayar sampai ke laut lepas, bahkan ke negara tetangga PNG. Pasalnya ikan dan laut di negara tetangga masih belum tercemar serta kena racun sianida dan bahan peledak sehingga begitu mudah memperoleh hasil tangkapan ikan.
Niscaya dengan menyelesaikan prosesi perjalanan ini kelak, akan  memicu semangat warga Port Numbai untuk mengaktualisasikan diri  dalam pengembangan jati diri dan nilai nilai sorang Papua  menuju Papua baru.  (Andre Liem /Evert Merauje/ Dominggus A Mampioper) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *