Tuhan, Jangan Terulang Lagi !

 

Image

Rumah penduduk di SP III Distrik Pravi, Manokwari yang ambruk akibat gempa berkekuatan 7,2 SR awal tahun 2009 (Foto : Juana Mantovani/Jubi)

 
Manokwari, JUBI – Gembira di akhir tahun 2008, trauma berkepanjangan di awal tahun 2009. Gempa tektonik 7,2 SR dan 7,6 SR serta 734 susulannya pada tanggal 4 Januari 2009 membuat Manokwari jadi kota sunyi senyap mengiring rubuhnya Hotel Mutiara dan Hotel Kalidingin. Tangisan dan ketakutan traumatik akibat guncangan gempa membuat sirnanya bunga api petasan dan meredupkan bara semangat tahun baru 2009.

Mungkin sudah menjadi nasib bagi masyarakat Papua Barat di wilayah kabupaten Manokwari dan Sorong. Letak provinsi Papua Barat berada pada posisi geografis di koordinat 3 ? 7 LS dan 130 ? 133 BT. Daerah ini sangat rawan gempa bumi tektonik. Selain itu Papua Barat terletak di pertemuan 3 lempengan kerak bumi dan 1 sesar/patahan lokal yakni Lempeng Australia, Lempeng Pasifik, Lempeng Indo Australia dan Sesar/Patahan Rasiki.
Paling tidak gempa tektonik di wilayah Manokwari Papua Barat, dalam kurun waktu 2 tahun terakhir, telah terjadi 3 kali gempa kuat yakni 1 kali pada 7 Januari 2008 dengan kekuatan 6,4 SR dan 2 kali pada 4 Januari 2009 dengan kekuatan 7,2 SR dan 7,6 SR. Sebelumnya, pada tahun 2002, terjadi gempa tektonik di sesar/patahan Ransiki dengan kekuatan 5,3 SR. 18 hari kemudian terjadi susulan dengan kekuatan yang lebih besar yakni 6,4 SR. Peristiwa ini mengakibatkan kampung Weriap di distrik Ransiki tenggelam. Pada 23 Desember 2007, terjadi gempa berkekuatan 5,0 SR, 14 hari kemudian (7/1) terjadi gempa berkekuatan 6,4 SR yang mengakibatkan korban kebakaran di kompleks Borobudur, kota Manokwari.
Kepala BMG Manokwari, G. Leskona mengatakan bahwa gempa tektonik 4 Januari 2009  merupakan  gempa dengan kekuatan besar dalam pengalaman masyarakat di Manokwari. Pasalnya 7,2 SR dan 7,6 SR dengan ratusan kali gempa susulan dengan kekuatan rata-rata 5 SR dalam sehari. Gempa yang terjadi ini akibat pergerakan lempengan pasifik yang menekan lempengan Indo Australia. Pergerakan ini menghasilkan 7,2 SR dengan getaran yang sangat kuat sehingga menyebabkan gempa susulan 7,6 SR. Terkait kemungkinan ada Tsunami, Leskona mengatakan bahwa berdasarkan prediksi BMG tidak ada tsunami, karena bukan lempengan pasifik yang bergerak.
Gempa pertama pada tanggal 4 Januari 2009, pkl. 04.48 WIT dengan kekuatan 7,2 SR. Diikuti susulan sebanyak 5 kali dengan kekuatan berkisar 5,7 ? 6,1 SR. Tiga jam kemudian, tepatnya pkl. 07.35 WIT, terjadi gempa kedua (susulan) dengan kekuatan 7,6 SR pada koordinat 0,88 LS ? 133,48 BT pada kedalaman gempa 10 KM. Pusat gempa pada 76 KM arah Barat Daya Manokwari, atau di antara posisi kabupaten Manokwari dan kabupaten Sorong, tepatnya di antara wilayah distrik Mubrani (Manokwari) dan Kasbediri, Prori (Sorong).
Staf Observasi BMG Manokwari, Yulson Sineri  mengatakan bahwa pusat gempa 7,6 SR dekat salah satu kampung di Pantai Utara Manokwari mencapai radius 11,7 mile atau sekitar 19 KM. Selain 2 gempa dengan kekuatan besar itu, hingga tanggal 5 Januari atau hari kedua BMG mencatat sebanyak 688 kali gempa susulan dengan kekuatan rata-rata 5,0 SR dan 46 kali susulan dengan kekuatan di atas 5,0 SR. Jumlah keseluruhan gempa susulan selama 2 hari pertama itu sebanyak 734 kali. Selanjutnya, penulis pun hilang ingatan untuk bertanya kepada BMG, entah sudah sampai berapa kali gempa susulan hingga tanggal 20 Januari 2009.
Mengenai kronologi gempa tektonik 4 Januari 2009, pukul 04.48 WIT, terjadi guncangan pertama dengan kekuatan 7,2 SR dengan pusat gempa 135 KM (jarak dari bibir pantai) arah barat laut Manokwari (0,42 LS ? 132,93 BT dengan kedalaman 10 KM. Kira-kira selang 3 jam kemudian, tepatnya pukul 07.33 WIT, terjadi gempa dengan kekuatan 7,6 SR. Pusat gempa kedua ini  76 KM (jarak dari bibir pantai) arah barat daya Manokwari (0,88 LS ? 133,38 BT) dengan kedalaman 15 KM. Rasa panik, ketakutan menghantui raut wajah setiap orang di kota Manokwari karena ternyata susulan lebih dahsyat kekuatannya dari gempa pertama. Singkat kata, singkat cerita, tamatlah riwayat Mutiara Hotel yang sudah berusia puluhan tahun dan sempat menduduki peringkat satu di kota Manokwari sebelum datangnya Swiss-Bell Hotel di Kota Injil ini.
Pasca gempa yang mengguncang kota Manokwari dan kota Sorong ini, konsentrasi Titik Pengungsian masyarakat berlokasi di Lapangan Kodim 1703 di Brawijaya, 1.126 jiwa;   Lapangan Borarsi Manokwari, 105 KK dengan jumlah 502 jiwa;Fasharkan TNI-AL di Sanggeng, 333 Jiwa; Mako Brimob  di Sowi Gunung, 672 jiwa; Kantor Bupati Manokwari, 1.200 jiwa;  Bukit Kenyum di distrik Masni, 7.000 jiwa; Masdjid Amban, 350 jiwa; Swafen Bahari, 15 KK dengan bayi 2 jiwa; Kantor Golkar/Kompleks Percetakan, 60 KK; SMA YAPIS di Reremi, 94 KK dengan 22 bayi dan 12 jiwa ibu hamil; SMK 01 di Reremi Permai, 25 KK; SMK 02 di Reremi Permai, 17 KK dengan bayi 6 jiwa, ibu hamil 2 jiwa;  Sahara di Wirsi, 28 KK, luka ringan 4 jiwa; Brawijaya gunung jati, 45 KK, 1 luka ringan; ribuan jiwa lainnya tersebar di seluruh kota.Total jumlah masyarakat yang mengungsi seluruhnya berjumlah 12.314 orang. Kini mereka masih tersebar di beberapa titik. Gempa ini juga menyebabkan sejumlah bangunan ibadah rusak berat. Tercatat sebanyak 31 rumah ibadah yang rusak, belum termasuk jembatan dan sekolah di Manokwari, Kota dan Kabuapten Sorong.
Atas perintah Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), empat Menteri bergegas menuju Manokwari melalui bandara udara Biak, karena bandara Rendani sempat ditutup sejak hari pertama gempa. Keempat Menteri yang mengunjungi Manokwari untuk menyalurkan bantuan  diantaranya, Menteri Sosial RI Bachtiar Hamsah langsung memberikan bantuan uang tunai sebesar 1 Milyar rupiah, 1 unit mobil ambulance serta bahan makanan yang diterima secara simbolis oleh Gubernur Papua Barat Abraham Oktovianus Atururi. Sementara menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menyerahkan bantuan uang tunai sebesar 200 juta rupiah serta obat-obatan dan peralatan medis. Menteri perhubungan Yusman Safei Jalil, menyerahkan bantuan berupa uang tunai sebesar 500 juta rupiah dan berjanji akan mendatangkan alat pendeteksi gempa. Soal  kerusakan infrastruktur akibat gempa, Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kimanto berjanji akan menanggulangi seluruh kerusakan tersebut. Pada kesempatan itu Kepala PNPB (Badan Nasional penanganan Bencana) Samsul Maarif turut memberikan bantuan dana sebesar 500 juta rupiah. Para menteri ini juga sempat mengunjungi secara langsung korban gempa di posko pengungsian di lapngan Kodim 1703 Manokwari dan melakukan pemantauan udara dengan menggunakan 2 pesawat Pilatus milik Polda Papua dan Casa 212-200 Skadron Udara 4.
Menyikapi bencana ini, Pemprov Papua Barat, kata Gubernur A.O Atururi kini terus memberikan pemahaman tentang bahaya bencana (Early Warning Sistem/Traditional) serta pelatihan dan simulasi PB Tim Tagana Papua Barat. Sehingga mereka bisa menyampaikan kepada masyarakat Papua Barat agar memilih tempat dan titik pengungsian yang sama. Upaya lainnya dengan mengaktifkan Satkorlak PBP Papua Barat untuk memberlakukan tanggap darurat. Termasuk menggelar posko pengungsian dengan mendirikan tenda-tenda dan gelar dapur umum, pendistribusian bahan makanan dan mie instan ke titik-titik pengungsian serta melakukan evakuasi korban ke rumah sakit terdekat.
Kepala BMG Manokwari, G. Leskona mengatakan bahwa gempa tektonik 4 Januari 2009  merupakan  gempa dengan kekuatan besar dalam pengalaman masyarakat di Manokwari. Pasalnya 7,2 SR dan 7,6 SR dengan ratusan kali gempa susulan dengan kekuatan rata-rata 5 SR dalam sehari.
Pihak RSUD Manokwari menerangkan bahwa sampai dengan hari kedua pasca gempa, 25 korban menjalani perawatan. 3 pasien diantaranya menjalani rwat inap yakni Maryati yang mengalami patah tulang pergelangan kaki kanan dan mengalami luka sobek cukup serius, Eka yang mengalami patah tulang pada pergelangan kaki kiri dan mengalami luka sobek serius, Hafifah yang mengalami patah tulang rusuk. Selain itu satu (1) korban meninggal, yakni Yolanda Febiola Bondopi (bocah 10 tahun) yang masih duduk di bangku SD akibat tertimpa reruntuhan pagar gedung STIH Manokwari di Jl. Gaya Baru Wosi. Dokter ahli bedah UNHAS Makassarpun didatangkan untuk membantu korban gempa. Prof. Dr, dr. Idrus Paturusi SpB, SpOrt menerangkan bahwa sampai dengan saat ini pihaknya telah menangani operasi terhadap 6 orang korban patah tulang akibat gempa tektonik di RSUD Manokwari. Ke-6 orang korban tersebut telah dipindahkan dari ruang operasi ke ruang rawat inap untuk mendapatkan perawatan intensif. Enam korban tersebut menderita patah tulang di bagian kaki, antara lain Ny. Maryati, Ny. Eka, Bpk. Kristofel, Bpk. Lagalesi, Bpk. Poniram, dan Bpk. Nikson.
Akibat gempa tektonik ini, aktivitas pendidikan dan ekonomi di Manokwari lumpuh total. Hal ini terjadi karena ada kekhawatiran akan terjadinya tsunami dan gempa susulan. Aktivitas pendidikan pada berbagai sekolah SD, SLTP, SLTA dan Perguruan Tinggi Sawasta dan Negeri tidak berjalan. Padahal semestinya sejak tanggal 5 Januari, aktivitas pendidikan sudah seharusnya berjalan kembali setelah liburan natal dan tahun baru. Warga masyarakat termasuk siswa pelajar dan mahasiswa, guru dan dosen lebih memilih engamankan diri bersama keluarga, ketimbang berpikir tentang proses pendidikan yang seharusnya mulai berjalan. Di seluruh kota Manokwari terlihat tenda-tenda darurat dimana warga masyarakat lebih memilih tinggal di tenda-tenda darurat daripada masuk ke dalam rumah. Selain karena rumah mengalami kerusakan, juga karena khawatir akan terjadi gempa susulan lagi. (Pitsaw Amafnini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *