Benyamin Pepuho, Perintis Sekolah Sepak Bola Dari Lembah Cyklop

 

Image

Benyamin Pepuho saat menerima penghargaan atas usahanya membangun SSB (IST)

 
* Terinspirasi Bangun SSB dari Kegiatan Balap Motor
 
JUBI—Loyalitasnya untuk mengembangkan sepakbola usia dini di Jayapura tak perlu diragukan. Sederet prestasi telah ia sumbangkan bersama pemain-pemain usia dini. Dialah Petrus Benyamin Pepuho, perintis Sekolah Sepak Bola (SSB) Emsyk. Sepakbola usia dini di Tanah Papua menjadi lebih indah karena ada Benyamin Pepuho.
 
Bagi seorang Benyamin Pepuho olahraga balap motor dan sepakbola ibarat dua keping mata uang yang berbeda, tapi sama nilainya. Kegiatan balap motor dilakoni Pepuho muda sejak tahun 1990 hingga 2002. Sedangkan kegiatan sepakbola dia tekuni sejak berhenti total dari lintasan balap. Namun demikian, balap motor dan  sepak bola telah membentuk karakter seorang Benyamin Pepuho dalam mengarungi karier sebagai seorang perintis sepak bola usia dini di Papua umumnya serta lebih khusus di Jayapura.  
Pepuho mengisahkan, awalnya dirinya adalah seorang pembalap motor, dimana secara perlahan karakter dirinya mulai terasah. Karakter sportivitas sang olahragawan sejati dalam arti luas. Saat berada diatas tunggangan motor, ia  mengatur kecepatan, kapan harus menginjak pedal rem, mengambil keputusan menyalib pembalap lainnya untuk segera masuk garis finis.
“Di satu sisi, balap sebagai olahraga keras, penuh resiko dan biaya mahal, tapi di sisi lain balap justru memotivasi saya untu berbuat sesuatu yang dapat dirasakan banyak orang,” ujarnya, seraya menegaskan, suatu saat saya berpikir kalau saya teruskan kegiatan balap motor, maka cepat atau lampat anak-anak saya akan mewarisi kegiatan balap motor yang pernah ditekuni ayah mereka.”
Alhasil, Pepuho memutuskan untuk mencari olahraga yang cocok dan tak butuh banyak biaya serta resikonya kecil. Pepuho akhirnya memilih membina sepakbola bagi anak-anak usia dini. “Saya membentuk Sekolah Sepak Bola (SSB) Emsyk. Di lembah Cyklop itulah anak-anak usia dini berlatih sepakbola,” kata Pepuho yang merasa yakin kegiatan membina sepak bola bagi anak-anak usia dini termotivasi saat dirinya menekuni balap motor.”
Cyklop adalah nama sebuah Gunung di Jayapura yang dia abadikan sebagai nama Sekolah Sepak Bola (SSB) Emsyk atau Embun Cyklop. Kebetulan lokasi latihan SSB Emsyk di Lapangan Obhokhouw, Waena adalah salah-satu lokasi yang berada di lereng Gunung Cyklop. Apabila datang ke lokasi latihan di lapangan ini, maka seseorang akan menikmati embun yang terpanjar dari Gunung Cyklop.   
Lapangan Obhokhouw adalah lokasi yang representatif sebagai sarana latihan pemain usia dini ini adalah tanah milik masyarakat setempat yang telah dihibahkan kepada SSB Emsyk. Kini, SSB Emsyk  telah memiliki sarana pendukung antara lain, sebuah bangunan yang digunakan sebagai Kantor Sekretariat, ruang ganti pemain, air bersih dan lain-lain.
“Ukuran Lapangan Bola Obhokhouw ini hampir sama dengan Stadion Mandala Jayapura,” ujarnya berkelakar.  
SSB Emsyk berdiri 17 Oktober 2002 seiring dengan menanjaknya prestasi tim “Mutiara Hitam” Persipura pada tahun 2002. Alhasil, sepakbola di Tanah Papua makin bergairah ditandai dengan bergulirnya turnamen sepak bola mulai dari kabupaten, distrik hingga ke kampung-kampung.
Mengapa Pepuho mendedikasikan dirinya untuk sepak bola usia dini dibawah bendera  SSB Emsyk? Pepuho ingin ikut mengembangkan dan memajukan sepakbola di Tanah Papua, khususnya sepakbola anak-anak usia dini. “Saya memilih membina sepakbola usia dini karena dasar-dasar sepak bola itu mesti dipahami dan dijalankan saat anak-anak usia dini sehingga apabila mereka berada dalam usia emas (golden age) tinggal mengembangkan diri dengan teknik, taktik, strategi permainan serta dinamika pertandingan,” ujar Pepuho.  
Tanpa diduga, SSB Emsyk yang dibangunnya cukup berhasil membina pemain usia dini di Tanah Papua yang saat ini tersebar di Persipura U-15, Persipura U-18, Persidafon U-18 dan Persipura U-21. “Satu tim masa depan yang ada di Persipura U-21 sebagian besar adalah alumni SSB Emsyk yang kami bina dua atau tiga tahun yang lalu,” katanya.   
Sepakbola selalu berkembang kapan dan dimana saja justru membutuhkan kehadiran pemain-pemain usia dini untuk suatu saat mampu menggantikan pemain-pemain yang telah dimakan usia. Pepuho yakin, bahwa pemain sepakbola yang ada di Papua, khususnya di skuad Persipura sudah saatnya akan memberikan tongkat estafet bagi generasi berikutnya.
Bahkan arsitek Persipura asal Brazil Jacksen F Tiago telah mewanti-wanti manajemen Persipura untuk mencari setidaknya dua pemain baru untuk melapis lini belakang  Persipura Senior yang selama ini diperankan Jack Komboy dan Gerald Pangkali.  
“Kalau sa manajemen Persipura sa akan dorong pemain Persipura U-21 macam David Lali dan Brain Sainyakit untuk skuad Persipura Senior . Kedua pemain ini mampu bermain sebagai pengatur serangan yang mumpuni,” ujar Pepuho. “Kalau orang berteriak Persipura Senior kekurangan pemain belakang, sebenarnya keliru sebab manajemen Persipura Senior toh dapat memberikan kepercayaan kepada dua pilar Persipura U-21 masing-masing Tyson Dimara dan Walfred So.  .    

Proyek Percontohan SSB di Indonesia Timur

Pengalaman membina dan mendidik pemain-pemain usia dini melalui SSB Emsyk membuat Pepuho acapkali dimintai saran para pencari bakat di Tanah Air yang tergiur talenta-talenta muda dari Jayapura.  “Mereka paham SSB Emsyk berhasil melakukan pembinaan pemain muda baik untuk Persipura U-21, PSMS Medan U-21, PKT U-21 dan Persebaya U-21 sehingga mereka selalu meminta rekomenasi dari saya,” kata Pepuho tersipu.   
Melihat kontribusi nyata SSB Emsyk dalam mensuplai pemain muda ke Persipura U-21 dan lain-lain, maka Pepuho menginginkan suatu saat SSB Emsyk menjadi pilot project (proyek percontohan) untuk pembinaan pemain-pemain usia dini khusunya untuk wilayah Indonesia Timur.
“SSB Emsyk bisa menjadi pilot project bukan saja untuk klub-klub di Papua, tetapi juga bagi klub-klub luar Papua,” ujarnya.
Bahkan, manajemen PKT dalam leg kedua Liga Super Indonesia tahun 2008 telah menyampaikan keseriusannya memboyong  bomber Persipura U-21 Titus Bonay ke Bontang. Menurut manajemen PKT, pihaknya telah melakukan pendekatan dengan Titus Bonay dan yang  bersangkutan bersedia bergabung dengan PKT. Namun demikian, Pepuho mengatakan, bila PKT berminat meminang Titus Bonay, maka perlu dilakukan perjanjian kerjasama dengan manajemen Persipura U-21, dimana Titus berada saat ini. Perjanjian kerja sama itu antara lain, manajemen PKT harus memberikan kompensasi bagi Titus untuk bermain di PKT U-21 selanjutnya bisa promosi ke PKT Senior.
Kalau manajemen PKT melanggar aturan yang telah disepakati, maka pemain yang bersangkutan bebas kembali ke klub asalnya.   
“Kalau PKT bisa memberikan kepastian sa berani bicara dengan Persipura maupun pemain yang bersangkutan,” tukas Pepuho yakin.  
Sebagai pemain dengan bakat yang luar biasa, maka Titus Bonay memiliki peluang yang sama besar, apabila ia memilih bertahan di Persipura U-21 atau mengadu keberuntungan di skuad PKT U-21. Diprediksi Titus Bonay satu atau dua tahun mendatang mampu menggantikan Boaz Salossa di Persipura Senior.   
“Yang ideal bagi Titus adalah satu atau dua tahun merumput di PKT U-21 kemudian dipromosikan ke PKT Senior. Sa tra mau Titus terlunta-lunta di PKT tanpa kejelasaan status,” ujarnya, seraya menambahkan, Titus Bonay adalah pemain seangkatan   Octovianus Maniani dan Yohanes Tjoe yang kini merumput di PSMS Medan.   
“Sa terus melakukan komunikasi dengan manajemen PKT U-21 karena dong percaya rekomendasi yang sa berikan itu manjur. Pemain muda yang kitorang  kirim ternyata berkualitas,” Pepuho menyatakan.   
Sebagai putra Papua, Pepuho memiliki tanggung jawab moril untuk mengangkat prestasi “Mutiara Hitam” klub kebanggaanya, maka suplai pemain muda ke Persipura tetaplah nomor satu. Jikalau terdapat kelebihan pemain muda, maka Pepuho tak segan untuk memberikan pemain muda Papua untuk mengembangkan dirinya di luar Papua sebagaimana yang dilakukan saat ini.  
“Sa tra mau berikan pemain yang jelek ke Persipura karena menyangkut nama baik. Untuk pemain yang bergabung di Persipura sa tra beri  ke klub lain kecuali manajemen tra pakai tetap sa support ke Persipura,” ujarnya, seraya menegaskan, peran yang perlu kita ambil adalah jangan sampai terjadi penumpukan pemain muda di Persipura.
“Kitorang distribusikan ke luar kemudian suatu saat kita panggil kembali mengikuti sistem Liga Italia Seri A dan Liga Premership (Inggris), La Liga (Spanyol)  dan lain-lain dimana pemain  dititipkan ke klub lain kalau su matang baru diambil kembali,” katanya.
Seharusnya manajemen Persipura Senior memberikan peran dan tanggung jawab yang lebih spesial kepada talenta-talenta muda dari Papua. Sebab kalau tak dipersiapkan dari sekarag, maka telenta-talenta muda akan menumpuk di Persipura U-21,” ujarnya.
Kalau Jacksen F Tiago berani, maka saat ini setidaknya  ada 6 pemain Persipura U-21 yang  dapat dipromosikan ke Persipura Senior. Untuk posisi striker belum ada pemain sebagus Boaz Salossa. Namun,  kwalitas Titus Bonay nyaris mendekati Boaz Salossa. Dia  hanya butuh jam terbang untuk mencapai puncak kematangan sebagai seorang pemain bayaran.
“Untuk apa bina pemain Persipura U-21 kalau tra dimanfaatkan. Kalau sekarang tra beri kesempatan kepada pemain muda, maka dua atau tiga tahun mendatang ketika anak-anak itu berusia 21 tahun tak bisa lagi menggantikan seniornya.
“Kapan dong diberdayakan,” paparnya. “Kalau seorang pemain tak dibiasakan tampil, maka sebagus apapun teknik dan ball felling seorang pemain, suatu saat akan hilang. Ibarat pisau kalau tak diasah, maka suatu saat akan tumpul,” katanya.

Memberdayakan Orang Papua Dalam Satu Tim Sepakbola
Melihat fenomena ini, Pepuho menuturkan, agar manajemen Persipura Senior membuka ruang yang selebar-lebarnya untuk mempromosikan talenta-telenta muda yang saat ini menjadi pilar skuad Persipura U-21. “Masyarakat tuntut bukan prestasi toh, tetapi sejauhmana kitorang memberdayakan orang Papua dalam satu tim sepak bola,” tukas Pepuho.
Masyarakat tak menyangsikan prestasi yang telah ditorehkan anak-anak Port Numbay ini, tetapi masyarakat justru menuntut agar manajemen Persipura secara kontinyu melakukan pembinaan pemain-pemain usia dini seperti mensuport SSB, memutar kompetisi antara klub baik di Jayapura maupun di daerah-daerah lain di Papua.  
Dikatakan Pepoho, kini di Papua telah terbukti pemain muda mampu berkompetisi dengan pemain-pemain senior.
“Kitorang beri kepercayaan, maka dong akan buktikan kemampuannya. Tra usah main di Liga Super Indonesia, tapi cukup di Copa Indonesia turun 15 menit atau 20 menit pertama atau terakhir baru tong siapkan dong jadi pemain pengganti yang siap pakai,” katanya, seraya menambahkan, apabila para pencari bakat menemukan potensi pemain dalam diri pemain muda Papua, maka nilai jual pemain tersebut meningkat.”
Menurut Pepuho, kalau sistem pembinaan pemain usia dini dan putaran kompetisi antar klub baik di Jayapura maupun di daerah-daerah lain di Papua berjalan lancar, maka bukan tak mungkin 2 atau 3 tahun kedepan orang berlomba memburu pemain-pemain muda ke Persipura.  

SSB Mesti Punya Kompetisi
Menanggapi kehadiran beberapa SSB di Papua seperti SSB di Kokonao (Distrik Mimika Barat, Kabupaten Mimika) yang dirintis Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme Komoro (LPMAK) untuk memberikan ketrampilan dasar-dasar sepak bola khususnya bagi putra-putri Suku Amungme dan Komoro di Timika, Pepuho mengatakan, membangun SSB mestinya disertai dengan sasaran antara melalui kegiatan kompetisi sehingga dasar-dasar sepakbola yang diberikan kepada anak-anak usia dini itu dapat diterapkan dalam permainan tim.
Konsep SSB harus jelas, misalnya kemana anak-anak usia dini dibawa serta kompetisi mana yang menjadi alat ukur tingkat keberhasilan anak-anak. Apakah hanya dengan passing dan dribbling tanpa mencoba anak-anak bermain di kompetisi,” ujarnya.
“Bangun SSB kalau tak putar kompetisi, maka saya berdosa. Apa tak jenuh bagaimana kitong lihat Rafel Zakeus Ohee bermain bola yang benar, kalau tra ada kompetisi. Anak-anak dilatih kemudian uji latih dimana. Dong disana tra ada kompetisi.,” imbuhnya, seraya menegaskan, ibarat anak sekolah yang setiap hari mendapatkan pelajaran, dimana saat tertentu anak-anak itu menghadapi ujian di sekolahnya. Dalam ujian inilah kitong bisa lihat hasil yang diperoleh anak-anak saat mengikuti pelajaran.”   
Sebagaimana yang diterapkan SSB Emsyk selama ini—setelah mengikuti proses latihan jangka panjang, maka pengurus SSB Emsyk bekerja sama dengan pelbagai pihak menggelar kompetisi sepak bola sepanjang tahun antara lain, Turnamen Bens Cup yang dirintis Pendeta Reiner Schevnemaun dan Turnamen Ondofolo Waena Cup. Turnamen Bens Cup yang digelar dua kali setahun yang diikuti 5  kelompok usia SSB Emsyk masing-masing U-8, U-10,U-12,U-14 dan U-16. Sedangkan Turnamen Ondofolo Waena Cup khusus bagi SSB Emsyk U-18 bertanding setiap Sabtu/Minggu selama 4 bulan.   “Jadi SSB Emsyk betul-betul dimatangkan dalam kompetisi penuh selama 4 bulan,” katanya polos.
Keikutsertaan SSB Emsyk di Turnamen Sepak Bola Bens Cup dan Turnamen Ondofolo Waena Cup menjadi lebih lengkap karena mereka acapkali mewakili Provinsi Papua di pelbagai kompetisi usia dini di level nasional seperti  Turnamen Olimpiade Nasional Antar SMA di Jakarta, Medco Cup, Liga Danone Natios Cup U-12 dan Porseni.
“Seharusnya SSB Emsyk pantas mewakili Indonesia dalam Liga Danone 2007 di Paris-Perancis, tapi sayang di partai grand final anak-anak usia dini dari Papua kalah adu penalti dari skuad Jawa Timur yang kemudian mewakili skuad “Merah Putih” ke Paris-Perancis,” kata Pepuho, seraya menegaskan, kedepan seyogyanyalah para pemangku kepentingan (Stakeholders) di Jayapura maupun Papua untuk lebih mendukung kegiatan SSB Emsyk.” (Makawaru da Cunha/Dominggus A. Mampioper)
 
BENYAMIN PEPUHO DAN BIODATA
Nama                         : Petrus Benyamin Pepuho,AMK,SH
Tempat/Tgl Lahir       : Jayapura, 12 Juni 1970
Pendidikan                : S I Hukum Universitas Cenderawasih
Pekerjaan                  : Kasubag Umum dan Rekaman Medik RSUD Abepura
Hobi                           : Membaca
Pemain Favorit           : Ronaldino, Boaz Salossa, Valentino Rosi
Klub Favorit               : Arsenal
Pelatih Favorit            : Arsener Wenger
Timnas Favorit           : Perancis
Klub Lokal Favorit     : Persipura Jayapura
Manajer Favorit          : RM Kambu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *