AIDS dan Resiko Penularan di Tanah Papua 

 

Image

Informasi tentang HIV dan AIDS yang benar serta cara penyampaian yang sesuai dengan tingkat audience bisa menjadi salah satu strategi menanggulangi penyebaran virus HIV (Foto : Saut Marpaung)

 
JUBI – Jumlah kasus AIDS di Papua jauh lebih banyak dibandingkan wilayah lainnya di Indonesia, kecuali Jakarta. Prevalensi HIV tertinggi pada penjaja seks langsung dengan banyak pasangan tidak tetap, tanpa alat pengaman seperti kondom.

Berbagai studi mengindikasikan bahwa perilaku seks pada Masyarakat Papua cukup berisiko tinggi. Antara lain, hasil Studi Kualitatif Perilaku Seks di Papua (Uncen, 2002) mengindikasikan banyak Masyarakat Papua yang mempunyai banyak pasangan dan sebagian besar memulai hubungan seks pada umur yang muda. Bahkan hasil survei perilaku seks pada Pegawai Negeri Sipil di Jayapura pada tahun 2003 menunjukkan bahwa sekitar 32 persen PNS yang laki-laki di Jayapura membeli seks. Apakah bisa dikatakan bahwa mereka sudah menyidap HIV/AIDS? Bisa juga tidak, tidak juga bisa. Hasil VCT yang bisa memastikan hal ini.
Departemen Kesehatan dan Badan Pusat Statistik — dengan dukungan KPA Nasional, KPA Papua dan KPA Papua Barat – telah melakukan Surveilans Terpadu HIV dan Perilaku Tahun 2006 (STHP2006) pada penduduk Tanah Papua. Survei ini didukung oleh USAID (Proyek Aksi Stop AIDS) yang dilaksanakan oleh Family Health International (FHI) dan Bank Dunia. Diharapkan dapat memberikan gambaran lebih nyata tentang perilaku dan penyebaran HIV pada Penduduk di Tanah Papua (Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat). 
Mengenai penularan HIV, STHP 2006 menemukan bahwa kebanyakan yang terjadi adalah penularan melalui hubungan seks tanpa kondom dengan pasangan tidak tetap dan juga penggunaan narkoba dengan jarum suntik secara bergantian. Sampai akhir tahun 2006 tingkat epidemi yang dilaporkan tertinggi pada penularan melalui hubungan seks adalah 22.8% di Sorong, sedangkan pada penularan akibat penggunaan alat suntik yang tidak steril lebih dari 50% di Pusat Rehabilitasi Napza RSKO Jakarta dan 68% pada Penghuni Lembaga Pemasyarakatan Bekasi. Kini Epidemi AIDS sudah meluas ke seluruh Wilayah Indonesia. Pada akhir tahun 2000 hanya 16 provinsi yang melaporkan kasus AIDS, akhir 2003 meningkat menjadi 25 provinsi, kemudian tahun 2006 ada 32 provinsi yang melaporkan kasus AIDS. Data yang ada mengindikasikan terjadi pula peningkatan jumlah kasus AIDS secara signifikan yang dilaporkan unit layanan kesehatan. Laporan kasus AIDS secara kumulatif sampai Desember 2004 ada 2.682 orang, lalu meningkat 100 persen hanya dalam waktu setahun, tahun 2005 meningkat menjadi 5.321 orang dengan kasus AIDS. Peningkatan kasus AIDS terus terjadi, akhir September 2006 sudah terlaporkan sejumlah 6.871 kasus AIDS. 
Penduduk Tanah Papua yang tahu bahwa penyebab AIDS adalah virus sebanyak 41,4 persen. Penduduk laki-laki yang tahu lebih banyak dari perempuan yaitu 44,0 persen berbanding 38,6 persen. Semakin tinggi tingkat pendidikan penduduk semakin besar persentase yang mengetahui bahwa AIDS disebabkan oleh virus, baik pada penduduk laki-laki maupun penduduk perempuan. Diantara penduduk yang tidak sekolah/tidak tamat SD hanya sebanyak 14,2 persen yang tahu HIV/AIDS disebabkan oleh virus, sedangkan dari yang tamat SD dan SLTP sebesar 41,9 persen, dan yang tamat SLTA ke atas mencapai 73,7 persen.
Salah satu penyebab penularan HIV adalah hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan. Ada 46,4 persen penduduk yang tahu bahwa dengan berganti-ganti pasangan akan mudah tertular HIV. Persentase penduduk laki-laki yang tahu hal ini (49,4 persen) sedikit lebih tinggi daripada penduduk perempuan (43,1 persen). Menurut tingkat pendidikan, yang tidak sekolah/tidak tamat SD hanya 20,1 persen yang tahu, sedangkan untuk yang berpendidikan SD dan SLTP 48,8 persen dan yang tamat SLTA ke atas mencapai 75,3 persen.
Penduduk Papua yang mengetahui cara-cara penularan HIV sebesar 48,9 persen. Persentase penduduk laki-laki yang tahu penularan HIV ini lebih tinggi dari pada penduduk perempuan yaitu 52,3 persen berbanding 45,1 persen. Berdasarkan tingkat pendidikan, besarnya presentase penduduk yang tahu cara-cara penularan HIV, untuk yang tidak sekolah/tidak tamat SD, tamat SD dan SLTP, serta tamat SLTA ke atas masing-masing sebesar 22,0 persen, 51,5 persen, dan 78,2 persen.
Persentase penduduk yang tahu bahwa menggunakan kondom dapat terhindar dari HIV sebesar 35,4 persen. Persentase penduduk laki-laki lebih tinggi dari penduduk perempuan yaitu 38,4 persen berbanding 32,1 persen. Menurut pendidikan, penduduk yang tidak sekolah/tidak tamat SD hanya 10,6 persen yang tahu, sedangkan penduduk yang tamat SD dan SLTP 36,2 persen dan penduduk yang lulus SLTA ke atas mencapai 64,4 persen.
Setia terhadap satu pasangan adalah salah satu cara untuk menghindari penularan HIV. Sebanyak 45,3 persen Penduduk Papua tahu bahwa setia terhadap satu pasangan akan dapat mengindari tertular HIV. Tingkat pengetahuan penduduk terhadap hal ini juga berkorelasi positif dengan tingkat pendidikan.
Menghindari penggunaan atau pemakaian jarum suntik bekas merupakan salah satu cara menghindari penularan HIV. Persentase penduduk yang mengetahui bahwa dengan tidak menggunakan jarum suntik bekas akan terhindar dari penularan HIV sebesar 39,1 persen, dengan komposisi menurut jenis kelamin adalah 41,3 persen penduduk laki-laki, dan 36,7 persen penduduk perempuan. Tingkat pengetahuan penduduk tentang hal ini menurut tingkat pendidikan adalah 14,0 persen untuk yang tidak sekolah/tidak tamat SD, 40,3 persen untuk yang tamat SD dan SLTP, dan 68,0 persen bagi yang tamat SLTA ke atas.
Dari penduduk yang pernah mendapat informasi tentang HIV/AIDS sebanyak 52,1 persen mempunyai pengetahuan dan pendapat yang salah (miskonsepsi) mengenai penularan HIV. Tidak ada perbedaan persentase yang berarti bila dibedakan menurut jenis kelamin dan menurut pendidikan. Sebanyak 38,4 persen penduduk yang pernah mendapat informasi tentang HIV/AIDS menyatakan bahwa menghindari penularan HIV/AIDS dapat dilakukan dengan cara tidak menggunakan alat makan dan minum penderita HIV/AIDS. Persentase penduduk laki-laki dan penduduk perempuan sama, sekitar 38 persen. Berdasarkan tingkat pendidikan, urutan tingkat pengetahuan penduduk tentang hal ini adalah 26,8 persen dari yang tidak sekolah/tidak tamat SD 39,4 persen dari yang tamat SD dan SLTP, dan 42,4 persen dari yang tamat SLTA dan Universitas.
Setelah menyimak kondisi kurangnya pengetahuan dan tidak adanya akses informasi tentang HIV/AIDS sebagaimana tersebut di atas, kiranya pemerintah perlu memberikan perhatian dan pelayanan yang lebih bijaksana pada sektor kesehatan masyarakat. Selain itu, setiap orang perlu saling berbagi informasi antara satu sama lain. (Pitsaw Amafnini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *