Watuwe Buaya Dari Kali Tami (Cerita Dari Arso) II

 Image
 
JUBI—Tetapi ketika mendekati api unggun itu, aneh apa yang terjadi? Sukun-sukun itu masih terletak disana. Belum masak, malah sama sekali tak terbakar. Api unggun itu sudah padam. 

Kayu yang membakar api ungun itu sudah tak teratur. Berantakan keman-mana, apa yang terjadi? Tidak satupun diantara anak-anak itu yang mengerti. Dengan lapar dan sedih anak-anak itu kembali ke kampung. Hari berikut mereka kembali bermain – main seperti biasanya. Sebelum bermain, mereka kembali membuat api unggun dan meletakkan buah sukun di atasnya, lalu bermain asyik di pinggir kali. Setelah lapar mereka kembali ke api unggun. Aneh kajadian seperti kemarin terulang lagi. Setiap hari kejadian yang sama terus terulang. Anak-anak itu lalu mendapat akal. Mereka bersepakat. “Tahukah kamu apa yang kita buat?“ kata seorang anak yang paling besar. “Kita harus cari tahu mengapa api unggun yang kita buat selalu padam. Kita menganyam sebuah keranjang dari pelepah dan daun nibung lalu Si Waiko kecil kita masukkan kedalamnya. Kita gantung keranjang itu didahan kayu yang agak tinggi. Nah, dari sana Si Waiko kecil akan melihat semua yang terjadi. Kita yang lain pergi bermain seperti biasa. Si Waiko kecil akan segera memanggil kita ke sini untuk melihat apa yang terjadi. “Semua setuju. Si Waiko kecil pun dengan bangga menerima tugas ini. Keesokan harinya mereka kembali ke sana, mereka melakukan rencana yang mereka telah sepakati kemarin. Meraka lalu menganyam pelepah dan daun nibung, setelah selesai dengan rotan yang telah mereka siapkan, mereka melempar ujungnya ke atas dahan sebatang kayu yang tumbu tidak jauh dari api unggun itu. Si Waiko kecil, lalu masuk kedalam keranjang itu. Dari atas pohon itu Si Wiko kecil bisa melihat dengan jelas sekali semua yang ada di bawah melalui celah kecil yang ia buat pada keranjang itu. Jelas semua, tempat bermain, tempat api unggun itu juga pinggir cabang kali di sebelah sana. 
Tiba-tiba matanya tertuju pada rumput-rumput bergerak di pinggir sebelah sana, anakan Kali Tami itu. Apa itu kiranya? Seekor buaya besar naik dari anakan kali itu menuju tempat api unggun itu berada. Tepat di atas api unggun itu buaya itu menggeleparkan dirinya. Seketika itu juga api di api unggun itu mati. Diam dan terheran Waiko Kecil menyaksikan perbuatan buaya itu. Ia melihat semuanya dengan sangat jelas tetapi ia tak berani berteriak memanggil teman-temannya. Binatang itu begitu besar. Ia tetap berdiam diri sampai buaya itu berlalu dari api unggun itu kembali memasuki air dan menghilang di tempat dari mana ia datang. 
“Anak-anak! Segera kemari! Api itu sudah mati lagi!” 
“Apa yang kau lihat? Siapa yang berbuat itu?” tanya teman-temannya saling mendahului. Kemudian Waiko kecil menuturkan segala sesuatu yang dilihatnya. “Kalau dia kembali lagi kesini kita akan panah dia sampai mati,” geram dari anak anak itu yang lebih agak besar. “Mari,” katanya melanjutkan. “Kita pergi memberitahukan hal ini kepada laki-laki di kampung.” Kemudian anak-anak itu berlari pulang ke kampung. Kejadian ini sangat tak biasa tetapi mereka cukup tahu bahwa sebuah acara berburu yang sangat menarik akan berlangsung esok hari.
Hari itu juga, bersama-sama dengan para laki-laki dewasa dari Kampung Sawya-Tami, anak-anak itu kembali ke pinggir kali tempat dimana mereka biasa bermain. Mereka lalu membuat pagar dari batang-batang ilalang tak jauh dari tempat api unggun itu. Buaya itu tak boleh tahu kalau mereka ada di sana, apabila ia kembali menggeleparkan diri keatas api unggun itu. Di belakang pagar alang-alang itu mereka dapat bersembunyi sambil mengintai mangsanya yaitu buaya itu. 
“Kena…!” teriak mereka beramai-ramai. Karena begitu banyaknya panah yang mengenai tubuhnya, buaya itu langsung mati. Betapa bersorak para pemburu itu. Mereka berdansa dan berlompat lompat kegirangan mengelilingi jasad buaya itu. Anak anak yang bermain di pinggir kali datang juga menyaksikan. Para perempuan dan anak-anak gadis dari kampung juga sudah ada di sana. 
Jasad binantang besar itu mereka gotong ke kampung. Pada malam itu juga akan diadakan sebuah pesta. Makan dan berdansa. Para perempuan menyiapkan sagu di dalam sampe-sampe yang besar. Nanti kalau sudah hendak makan, sagu dalam sampe-sampe itu diberi air panas sehingga masak dan menjadi papeda. Bukan main, papeda dengan daging buaya tentu rasanya lain dari yang biasa. Daging buaya itu dipotong-potong dan para perempuan ramailah memasak. Anak-anak dikirim ke kampung-kampung tetangga. Mereka juga diundang. Mereka boleh datang dan ikut makan. 
Apa yang akan terjadi akan sangat dahsyat sebagaimana telah dituturkan Watuwe puluhan waktu lampau. Bumi akan lenyap ditelan air. Tetapi, sebelum itu terjadi, dirinya harus lebih dahulu berada di atas Gunung Sankria. “ Ayo, bergegaslah! “ kata salah seorang diantara para laki-laki itu kepada Towyatuwa. “Nanti pesta akan segera dimulai dan kamu juga harus ada.” Tetapi Towyatuwa hanya menggelengkan kepala. Ia tampak begitu pilu. “Tidak,” katanya kemudian. Saya tak datang ke pesta itu dan Narrowra juga tak datang.”
Laki-laki itu segera mengantar dan memberikan jantung buaya itu kepada Towyatuwa. 
Beberapa waktu kemudian Towyatuwa dan Narrowra telah terlupakan sama sekali dalam kegembiran itu. Di sana, di pinggir hutan kampung itu, Towyatuwa dan anak laki lakinya duduk dan menyaksikan keramaian itu dari jauh. Mereka menyaksikan nyala api dan mendengar manusia tertawa, bercakap-cakap dan bernyanyi bersukaria. Jelas terdengar bunyi tifa yang ditabuh. “Apa sesungguhnya yang terjadi, Bapa?” tanya Norrowra tak tahan. Dan kemudian bertuturlah Towyatuwa dari awal waktu puluhan waktu yang silam. “Lalu apa yang harus kita lakukan, Bapa? tanya Narrowra lagi, setelah Bapanya mengakhiri kisahnya. “Bapaknya menjawab, ”Kita harus melaksanakan apa yang dipesan Watuwe. Kita harus mencapai Puncak Gunung Sankria sebelum fajar terbit. Kita sudah membungkus jantung Watuwe dengan baik-baik dan mengikatnya erat-erat. Kita akan membawanya ke puncak gunung itu, tetapi bukan hanya kita berdua yang harus pergi. Mesti ada orang lain yang bersama kita. Engkau harus mengajak temanmu Kanubun bersama adik perempuannya membawa, juga adik perempuanmu sendiri Ubara. Kita berangkat berlima ke gunung Sankria. Kita harus melaksakan sebaikmungkin apa yang dipesan Watuwe. Pergilah secepatnya mendapatkan mereka. Tetapi lakukanlah dengan hati-hati agar tak menarik perhatian orang. Saya berharap ketiga orang itu belum memakan daging buaya itu.*  (TAMAT)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *