Sagu Sebagai Bahan Bakar Alternatif Penghasil Etanol

 

Image

Masyarakat sedang menokok sagu di Kampung Kalkhote Distrik Sentani Timur Kabupaten Jayapura. (Foto: Anang Budiono)

 
JUBI—Sagu tidak hanya dikenal sebagai makanan pokok khas Papua. Sagu juga ternyata memiliki manfaat lain, yakni dapat dijadikan sebagai cadangan energi alternatif etanol.

Bagi masyarakat Papua sagu mempunyai peranan sosial, ekonomi dan budaya serta ekologi yang cukup penting. Karena selain sebagai makanan khas terutama yang berada di daerah pesisir pantai ternyata sagu juga dapat dijadikan sebagai bahan baku pembuatan spiritus atau alkohol. Daunnya dapat digunakan sebagai atap rumah, pelepahnya untuk dinding dan ampasnya dapat dimanfaatkan sebagai pulp untuk pembuatan kertas atau pakan ternak. 
Secara nasional sagu termasuk tanaman unggulan namun pengembangannya belum ditangani secara maksimal dan intensif. Prospek pengelolaan sagu (Metroxylon) Indonesia untuk ketahanan pangan dan energi nasional sangat menjanjikan di masa depan. Potensi luas Hutan Sagu di Indonesia adalah kurang lebih 1.250.000 ha dan budidaya sagu kurang lebih 148.000 ha. 
Papua merupakan pusat sebaran sagu alami terbesar didunia dengan perkiraan areal kurang lebih1.200.000 ha atau 53 persen dari sagu dunia (2.250.000 ha), dan 96 persen dari luas sebaran alami sagu Indonesia.
Sagu sebagai salah satu komoditas unggulan dan lahan sagu abadi perlu ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah (PP) maupun Peraturan Daerah (Perda) sebagai payung hukum pengelolaan sagu nasional untuk meningkatkan ketahanan pangan dan energi nasional. Untuk itulah perlu ada political will Pemerintah Pusat dan Daerah (Provinsi, Kabupaten dan Kota) untuk mengembangkan program sagu yang memiliki nilai guna cukup tinggi dalam memenuhi berbagai kebutuhan industri yang menggunakan sagu sebagai bahan baku, maupun diversifikasi pangan dan energi (Etanol) yang ramah lingkungan untuk kesejahteraan rakyat demi terwujudnya ketahanan ekonomi nasional.
Penelitian dan pengembangan pada pusat-pusat riset alam yang handal dan professional di daerah perlu diupayakan untuk menemukan varietas-verietas sagu unggulan dalam rangka optimalisasi nilai guna sagu dan pemanfaatanya untuk memenuhi kebutuhan pasar nasional, regional dan internasional.
Menteri Perikanan dan Kelautan Republik Indonesia, Laksamana Madya TNI (Purn) Freddy Numberi saat menghadiri acara Sarasehan Antropologi se Indonesia di Uncen belum lama ini memaparkan uraiannya yang menitikberatkan pada sagu sebagai potensi yang terabaikan dalam prospek ketahanan pangan dan energi nasional.
Menurutnya, Indonesia telah berhasil melaksanakan KTT tentang perubahan iklim atau climate change di Nusa Dua Bali. Dalam KTT tersebut berhasil mendeklarasikan Bali Roadmap dan mendukung perlunya ratifikasi Protokol Kyoto agar di masa depan masalah-masalah yang menyangkut penggunaan bahan bakar fosil (minyak, gas alam, dan batu bara) yang mengeluarkan CO2 dapat dikurangi.
Untuk itu kebijakan dalam rangka pengembangan bioenergi harus mempertimbangkan faktor-faktor yang berkaitan erat dengan dimensi ekonomi, sosial dan lingkungan yang berkelanjutan. Namun jangan lupa bahwa, sehubungan dengan ini perlu juga diperhatikan seberapa besar peluang yang ada bagi pembangunan masyarakat miskin di daerah penghasil utama sagu sehingga dapat mensejahterakan mereka.
Mengapa harus sagu? Pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan melihat kondisi obyektif potensi sagu dalam prospek ketahanan pangan dan energi nasional. Lahan sagu di Indonesia cukup luas kurang lebih 1,2 juta ha yang sampai saat ini belum dimanfaatkan secara maksimal baik yang ada di alam maupun melalui budidaya (148.000 ha). Di Indonesia pada awalnya masyarakat tidak mengkonsumsi beras, khususnya di kawasan timur Indonesia seperti Maluku dan Papua dimana sejak turun temurun mengkonsumsi sagu sebagai makanan pokok.
“Kearifan lokal mengkonsumsi sagu tersebut seharusnya ditopang dengan kebijakan dan strategi serta upaya pemerintah. Sehingga dapat memperkaya cadangan komoditi pangan nasional, bukan sebaliknya bahkan terkesan diabaikan dan seolah-olah seluruh rakyat Indonesia harus makan beras. Sadar atau tidak pemerintah telah memastikan kearifan lokal yang nota bene merupakan harkat dan rahmat Tuhan yang telah menciptakan areal sagu terbesar di dunia,” ujar Freddy serius.

Sagu Sebagai Sumber Energi Etanol  
Menurut penjelasan mantan Gubernur Papua, Freddy Numberi dalam sub judul bukunya, pemanfaatan dan pendayagunaan sagu Indonesia untuk mengatasi krisis pangan dan energi nasional terlihat jelas bahwa, tumbuhan sagu sangat potensial sebagai sumber bahan baku Bioetanol. Dalam khasanah pengetahuan tentang energi non-konfensional sagu dikenal sebagai strarch-containing crop yang memiliki potensi penghasil energi.
Dengan komposisi kimia pati sagu yang terdiri dari karbohidrat 82,80,84,96 %, kelembaban 12,80,17,28 %, lemak 0,11-0,28 %, protein 0,03 %, abu 0,15-0,28 %, dan senyawa lain 1,18-164 %. Kandungan karbohidrat yang tinggi ini memberikan peluang bagi sagu untuk menghasilkan etanol yang tinggi pula. 
Sesuai dengan perolehan etanol, menurut Soerawidjaja (2006) yaitu 608 liter per-ton pada pati sagu kering maka energi etanol yang dihasilkan oleh sagu tersebut mencapai 9120 liter per-hektar per-tahun. Dari hasil penelitian ini maka digunakan produksi etanol per-satu ton sagu adalah 550 liter.
Pati sagu tidak dapat langsung difermentasi untuk menghasilkan etanol karena sagu mengandung glukosa polimer. Pembuatan etanol dari pati sagu melalui proses hidrolisis, fermentasi, destilasi dan dehidrasi. Sedangkan gula melalui fermentasi, destilasi dan dehidrasi.
Dikatakan Freddy, untuk pengembangan industri sagu di Papua pada tahap awal direncanakan 100 ha hutan sagu per-tahun pada setiap kabupaten penghasil sagu. Contoh hutan sagu alami di Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi IJB, pengolahan pati sagu dilakukan oleh masyarakat dan pati sagu mentah didistribusikan (dijual) ke industri etanol. Mengingat luas hutan sagu yang akan diolah adalah 100 ha, maka industri etanol yang dibangun pada tahap awal dengan kapasitas 100.000-200.000 liter per-tahun. Industri etanol dapat dibangun di ibukota kabupaten atau lokasi lainnya sesuai zonasi wilayah pengembangan sagu.   

Peranan Otsus Dalam Pengembangan Pangan Dan Energi Daerah
Jauh sebelum lahir UU Otsus, Pemerintah Kabupaten Jayapura telah menetapkan Perda Nomor 03 Tahun 2000 tentang Perlindungan Hutan Sagu. Perda tersebut menunjukkan bahwa telah diterapkannya pengelolaan dan pemanfaatan sagu demi ketahanan pangan lokal.
Berbagai faktor yang menjadi peluang dalam pengembangan sagu adalah: Daya dukung lahan cukup luas disertai iklim yang sangat sesuai untuk pertumbuhan sagu. Umumnya tanaman sagu tumbuh sendiri tanpa dibudidayakan dan cukup dominan di habitatnya.
Kemudian masyarakat lokal setempat telah memiliki kearifan dalam mengelola dan memanfaatkan sagu secara tradisional. Pengembangan sagu pada skala kecil telah mulai dilakukan dan diperkenalkan di masyarakat. Dengan berkembangnya diversifikasi industri pangan di daerah memberikan peluang bagi dibangunnya industri hilir atau lanjutan berupa industri makanan, farmasi, kosmetik, pestisida, minuman, tekstil, bahan bangunan dan industri bioenergi.
Namun semua hal tersebut tentu ada kendalanya. Berbagai faktor yang menjadi kendala pemanfaatan sagu antara lain, belum ditetapkannya sagu sebagai salah satu komoditi pangan nasional. Terbatasnya tekhnologi pengolahan yang tepat guna. Penguasaan tanah berupa hak ulayat menjadi faktor yang dapat menyulitkan upaya pengembangan industri sagu. Inovasi berupa alat pemarut maupun alat pengering oven bertenaga listrik belum diadopsi oleh masyarakat karena pengeringan pati sagu lebih memilih dengan menggunakan sinar matahari langsung.
Belum adanya kelompok tani penggarap lahan sagu, penyuluh pertanian sagu, infrastruktur sagu untuk menggerakkan industri dan perekonomian sagu. (Anang Budiono) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *