Siapakah Penyulut Konflik Di Timika?

 

Image

Konflik antar masyarakat yang kerap terjadi di Kabupaten Mimika, seringkali disebut sebagai Perang Suku (Foto : IST)

 
JUBI — Selama ini intensitas konflik di Timika makin tinggi. Setiap kali terjadi konflik maka Aparat Keamanan langsung terjun menyelesaikannya. Namun demikian, pelbagai pihak justru mengkritik bahwa penyelesaian konflik selalu tak tuntas. Malah menyebabkan konflik serupa muncul kembali. Siapakah sebenarnya “penyulut konflik” di Timika?  

Timika sering diplesetkan Tiap Minggu Kacau. Bukan Timika jika tak ada kekacauan, bentrok ataupun kerusuhan. Masih segar dalam ingatan kita bahwa di Timika selalu terjadi konflik antar suku. Konflik antara PT Freeport Indonesia (PT FI) dengan warga setempat juga turut mewarnai tragedi konflik di daerah itu. Sebagai contoh kerusuhan yang terjadi Tahun 1996. Kerusuhan yang telah menelan korban jiwa pada masyarakat sipil dan korban materil yang tak terhitung jumlahnya. Saat itu, pihak perusahaan menggunakan jasa aparat keamanan untuk menembaki, memperkosa, meneror dan mengancam warga Papua. 
Konflik di Timika pula yang akhirnya menghasilkan pemberian dana 1 persen dari pendapatan bersih PT FI pertahun untuk Masyarakat Amungme dan Kamoro. Walaupun kini dana 1 persen itu lebih banyak digunakan untuk kepentingan PT FI sendiri.
Konflik berikutnya yang terjadi di Timika yakni antara masyarakat dengan pemerintah. Sebagai contoh kerusuhan menyikapi rencana pemerintah pusat untuk pemekaran Provinsi Papua Tengah dengan Ibu Kota di Timika. Konflik ini terjadi pada tahun 2004 yang menyebabkan 4 warga sipil tewas terkena panah.
Konflik yang selalu terjadi di Timika juga antara masyarakat dan masyarakat. Contoh kasus misalnya konflik saling menyerang antara Suku Dani dan Suku Damal. Bahkan dalam catatan telah sepuluh kali terjadi di Timika. Seperti konflik antara Suku Dani dan Damal di Kwamki Lama dan juga konflik berlanjut di Banti dan Kimbeli di Tembagapura dekat PT FI mengeksploitasi emas, tembaga dan mineral ikutan lainnya.
Konflik selanjutnya adalah antara aparat keamanan dan warga sipil. Contoh kasus, antara warga sipil yang berasal dari Suku Key dan Pihak Kepolisian. Konflik ini juga telah melumpuhkan aktivitas Kota Timika. Dalam konflik ini satu warga sipil tewas tertembak.
Konflik selanjutnya yang sering terjadi di Timika adalah antara aparat keamanan sendiri. Contoh kasus seperti Aparat TNI saling melakukan penyerangan terhadap Aparat Kepolisian. Aparat TNI menyerang Pos Polantas di Timika Indah. Dalam konflik ini sejumlah pihak mengalami kerugian. 
Contoh konflik-konflik tersebut di atas selalu terjadi di Timika dan telah membuka peluang untuk timbul lagi konflik lama karena dalam proses penyelesaian tak pernah tuntas. Keadilan dalam penyelesaian kasus konflik bagai panggang jauh dari bara.
Contoh kasus penyelesaian perdamaian misalnya ketika penyelesaian denda adat antara Suku Dani dan Damal. Denda adat terkumpul Rp 2 Miliar. Uang sebanyak itu diperoleh melalui bantuan perusahaan yang beroperasi di Timika dan pemerintah setempat. Juga diperoleh dari hasil usaha pihak-pihak yang bertikai.  
Dana sebanyak itu bukan untuk membayar musuh atau pihak lawan tetapi pihak untuk membayar keluarga korban dalam sukunya sendiri. Akhirnya dendam antara suku-suku yang bertikai masih terus berlanjut. Contoh lain misalnya konflik antara Aparat Polisi dan warga sipil dari Suku Key (Maluku Tenggara). Jika Aparat Polisi tak mengungkap siapa pelaku penembakan dan juga jika tak diberikan hukuman setimpal, maka dendam masih berlanjut. Jika dipantau secara seksama, maka konflik di Timika lebih intensif dibanding konflik yang terjadi kota-kota lainnya di Papua. Siapakah penyebab terjadinya konflik di Timika?
Timika sebagai daerah perusahaan merupakan magnet bagi para imigran yang datang dari luar Papua untuk mencari kehidupan yang lebih layak dengan mencari pekerjaan di Timika. Lantaran adanya perusahaan asing bertaraf internasional yang kini mampu menampung karyawan sebanyak 19.000 orang. 
Belum lagi banyaknya karyawan di sejumlah perusahaan swasta maupun pemerintahan di Timika yang didominasi warga pendatang. Kondisi ini menggambarkan bahwa jumlah Warga Luar Papua yang masuk ke Timika lebih dari angka 200an/hari.  
Hal ini pernah diakui oleh Kepala Distrik Mimika Baru, James Sumigar S.Sos kepada wartawan, setiap hari warga pendatang baru yang mengurus Kartu Tanda Penduduk (KTP) di Distrik Mimika Baru sebanyak 200 orang. Lantaran animo Warga Luar Papua yang datang ke Timika sangat tinggi maka jangan heran jika konflik antara sesama Warga Timika selalu terjadi.
Selain itu Timika sebagai kota perusahaan dengan alasan pengamanan alat vital milik PT FI maka pemerintah pusat selalu mengirim pasukan dalam jumlah tertentu. Oleh karena itu, tak jarang terjadi konflik baik antara aparat keamanan dengan warga sipil maupun antara aparat keamanan sendiri.
Timika juga dikenal dengan daerah perputaran uang paling tinggi. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun 2008 di Kabupaten Mimika sebesar Rp 2 Triliun. Dana sebanyak itu harus dihabiskan dalam waktu tak lebih dari enam bulan. Banyaknya uang yang beredar di Timika juga menjadi penyebab terjadinya konflik.  
Belum lagi jika PT FI memberikan 1 persen kepada Suku Amungme dan Kamoro dalam jumlah ratusan miliar rupiah pertahun. Walaupun tak semua Orang Amungme dan Kamoro menikmatinya. Bahkan hidupnya mereka sangat miskin dan melarat. 
Faktor penyubur konflik lainnya misalnya sektor pendidikan dan kesehatan yang tak berjalan baik. Ibaratnya jika tingkat pendidikan baik maka masyarakat tak muda terpengaruhi oleh rayuan provokator sehingga tak muda timbul konflik. Begitupun dengan kesehatan, jika warganya sehat dengan asupan gizi yang cukup maka tak ada alasan bagi masyarakat setempat untuk terlibat dalam konflik. Persoalan yang selalu menimbulkan terjadinya konflik juga lantaran penjualan minuman keras (miras) yang tak terkontrol. Sejumlah pengusaha beroperasi walaupun tak memiliki izin penjualan dari pihak pemerintah daerah setempat. Terdapat juga miras oplosan yang berbahaya bagi tubuh manusia. 
Dalam banyak kasus, miras juga menjadi penyebab konflik yang berkepanjangan di Timika. Namun hal ini tak pernah disikapi pemerintah daerah setempat.
Derby Wanimbo, warga Suku Dani yang tertembak panah saat konflik antara Suku Dani dan Damal di Kwamki Lama beberapa waktu lalu telah meninggal dunia, Sabtu (30/1). Menyikapi kondisi ini Para Tetua Adat dari Suku Dani dan Suku Damal telah menyatakan sikap untuk tak berkonflik lagi. Namun kebanyakan warga yang usianya relatif muda menghendaki untuk saling menyerang dan balas dendam.
Untuk menekan makin tingginya konflik di Timika, maka aparat keamanan sangat diharapkan untuk segera bertindak dan mengamankan para provokator agar jangan meletus lagi konflik antara Suku Dani dan Suku Damal. Suka ataupun tak suka, percaya atau tidak, institusi militer acapkali dituduh sebagai penyulut konflik berkepanjangan bukan hanya di Timika tapi di seluruh Tanah Papua. (John Pakage)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *