Orang Manimeri, Bertahun- Tahun Hidup Dari Air Hujan

Image

Anak-anak di Manimeripun harus memanfaatkan air tadahan air hujan (Foto : Jubi/Pitsaw Amafnini)

 
JUBI-Air bersih adalah salah satu kebutuhan dasar bagi kehidupan manusia. Bayangkan saja kalau tidak ada air bersih untuk dikonsumsi manusia? Tidak ada pilihan lain, selain bergantung sepenuhnya pada air hujan yang turun dari langit.

”Kami hidup dari air hujan. Pada waktu hujan, kami harus menampung dalam jumlah banyak sehingga bisa digunakan untuk waktu yang cukup lama. Untung di Papua selalu ada hujan, kalau tidak, mungkin kami minum dari air sungai yang kabur itu. Syukur karena di Tanah Papua, tidak kenal musim kemarau. Hanya saja, kami harus selalu menampung air hujan untuk mempertahankan hidup. Air bersih, memang kesulitan kami di kampung ini,” demikian kata seorang perempuan tua dari Suku Soughb Teluk Bintuni yang tidak ingin disebut namanya.
Kampung Atibo merupakan salah satu kampung yang memiliki keunikan tersendiri. kampung ini dibentuk oleh perusahaan (PT Henrison Iriana) dan kemudian dijadikan sebagai kampung binaan Perusahaan (HPH). Kampung Bina Desa dalam tradisi HPH inilah yang mengklaim tanah rakyat atas nama pembangunan sektor kehutanan. Hal ini dilakukan agar masyarakat adat pemilik hak ulayat atas tanah dan hutan disekitarnya tidak mengganggu aktivitasnya dari perusahaan. Untuk itu mereka berlagak sosial membina masyarakat dalam sebuah pemukiman teratur ’ala’ transmigrasi lokal.
Kampung Manimeri Atibo terletak di sekitar Sungai Muturi. Berjarak 23 Km dari Ibukota Distrik Bintuni.  Jumlah penduduk Kampung  Manimeri Atibo sebanyak 42 KK atau 156 jiwa. Perbandingan jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin adalah laki-laki 82 jiwa dan perempuan 74 jiwa dengan sex rationya 90,24%. Jumlah penduduk terbesar berada pada usia produktif antara 19-50 tahun yaitu sebesar 46,79% (73) jiwa diikuti usia sekolah  7-12 tahun 16,67% (26) jiwa, 13-15 tahun 10,25% (16) jiwa, 16-18 tahun 9,6% (15) jiwa dan diatas 50 tahun sebesar 3,8% (6) jiwa. Sedangkan sisanya sebesar 12,82% (20) jiwa adalah anak-anak berusia 6 (enam) tahun ke bawah.

Berpindah-Pindah Ladang
Orang Soughb di Kampung Manimeri Atibo umumnya menanam sayur-sayuran dan umbi-umbian yang diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Tanaman tersebut ditanami secara campuran dalam suatu lahan. Luas lahan yang diusahakan relatif tetap sepanjang masih dapat memenuhi kebutuhan keluarga. Dengan demikian ada kecenderungan masih kurang motivasi dalam memperbesar skala usaha taninya. Hal ini dipengaruhi oleh latar belakang mereka sebagai masyarakat peramu. Demikian pula dalam pemanfaatan hasil, umumnya lebih berorientasi dalam memenuhi kebutuhan keluarga (corak subsisten). Sampai waktunya panen, sedikit sekali yang dijual di kota Bintuni untuk membeli garam, pakaian, sabun, dll. Hampir tidak cukup untuk biaya kesehatan keluarga dan pendidikan anak sekolah.
Bagi masyarakat dikampung Manimeri Atibo, hujan adalah tumpuan sumber air bersih terbaik. Pada musim hujan, sumur-sumur masyarakat akan terisi penuh. Mereka juga biasa membuat penampungan air dari bak semen atau drum bekas di masing-masing rumah untuk menampung air hujan. Sarana air bersih yang disediakan pemerintah untuk kebutuhan sehari-hari belum ada di wilayah ini. Pada tahun 2005, pemerintah dengan bantuan Bank Dunia pernah membangun instalasi air bersih yang diprogramkan lewat progaram PPK (Program Pembangunan Kecamatan). Namun hingga akhir tahun 2008 sarana air bersih tidak juga mengalir karena instalasinya belum bisa dimanfaatkan dengan baik. Sumber air bersih terletak jauh puluhan kilometer, sehingga sulit untuk dinikmati secepatnya. Apalagi, proses pembangunan sarana itu sangat tidak partisipatif karena tidak melibatkan masyarakat kampung. Siapa yang akan mengurus keberlanjutan sarana air bersih itu, kalau proyek PPK itu berakhir? Bagaimana keberlanjutannya kalau masyarakat tidak dilibatkan dalam pemasangan instalasi itu?

Air Keruh Dan Berbau
Hampir 90 persen sungai-sungai yang mengalir di Kampung Manimeri Atibo adalah air payau, yang kabur, coklat dan berlumpur. Hal ini menyebabkan sumur-sumur masyarakat memiliki kadar keasaman tinggi dan nampak kabur seperti warna aliran air sungai. Kebanyakan sumur di kampung Manimeri Atibo airnya keruh dan berbau. Tingkat kekeruhan air juga semakin menambah kecenderungan terjadinya lumpur pada sumur-sumur yang berjarak dekat dengan sungai. Untuk memanfaatkannya, masyarakat harus melakukan proses penyaringan menggunakan campuran pasir, ijuk, kerikil, dan arang kayu. Air dari saringan sumur ini biasanya dimanfaatkan untuk mencuci, mandi, masak dan minum. Itupun kalau ada waktu untuk menyaring air, tetapi kalau tidak sempat, maka jangankan minum, mandi pun tidak bisa. Artinya, mereka terpaksa mengkonsumsi air keruh itu, karena tidak ada pilihan lain, kecuali air hujan. Jika tidak hujan, ada air sungai dan sumur, sekalipun keruh kecoklat-coklatan.
Masyarakat memanfaatkan air yang keruh untuk keperluan konsumsi. Bisa diduga tentu dapat menyebabkan tingginya angka penyakit diare dan muntaber. Perempuan dan anak-anak yang selalu bekerja keras untuk menyaring air, untuk kebutuhan minum, memasak dan mencuci. Mereka yang selalu berurusan dengan air, sehingga tentu tidak jarang terkena penyakit kulit hingga diare.
Mengantisipasi kesulitan warga itu, pada tahun 2005, pemerintah setempat pernah memprogramkan pembangunan air bersih untuk masyarakat kampung Manimeri. Bentuk proyek yang mulai dijalankan adalah pembuatan sumur bor, bak penampung, dan jaringan instalasi air. Dana yang digunakan bersumber dari Program Pengembangan Kecamatan (PPK) sebesar Rp.50.000,000, Program Bantuan Desa (Bandes) sebesar Rp.9.500.000 Dana Otsus sebesar Rp.10.000.000 dan Dana Kompensasi BBM sebesar Rp 250.000.000. Angka anggaran pembangunan sumur bor ini terlihat besar. Bunyinya bagus, tetapi realitanya tidak sesuai dengan yang ada dilapangan.
Sampai saat ini proyek tersebut belum juga terselesaikan. Menurut warga, dana yang diturunkan tidaklah sebesar itu. Bantuan-bantuan tersebut tidak hanya digunakan untuk pembuatan air bersih saja, masih ada program lain yang harus didanai. Kepala kampung setempat juga tidak dapat menjelaskan secara rinci tentang hal itu, karena dana tersebut hanya turun sedikit demi sedikit ke kas desa. Selanjutnya juga banyak mengalami pemotongan sejak uang itu masih berada di tangan para pengatur arus penyaluran uang di tingkat Kabupaten Teluk Bintuni. Masyarakat menuding bahwa dana Bandes dan Otsus disalahgunakan oleh Kepala Kampung, padahal tidak. Sebab, Kepala Kampung mengaku kalau dana PPK, Bandes, Otsus dan Kompensasi BBM selalu mengalami pemotongan-pemotongan dengan alasan untuk administrasi dari pihak pemerintah daerah yang mengurus proyek PPK dan Dinas Pekerjaan Umum yang bertanggung jawab untuk membuat sumur bor.
Penduduk Manimeri Atibo adalah komunitas orang Soughb yang berasal dari gunung. Tetapi karena ulah HPH, mereka harus dimukimkan di kawasan pantai sebagai komunitas binaan perusahaan. Mereka hidup dari hasil kebun dan hutan. Tapi uniknya, mereka tidak terbiasa mengolah sagu, selayaknya orang pantai. Untuk mengolah sagu, biasanya mereka meminta bantuan masyarakat pesisir untuk menokok.  Begitu selesai, hasilnya dibagi dua.
”Kalau hujan, kami ada air bersih untuk minum, tetapi kalau tidak hujan, kami tidak punya air minum. Sehingga kami harus selalu menyediakan alat tampung yang besar, seperti drum plastik. Tapi dari mana kami harus dapat barang bagus itu? Drum besi jadi pilihan, tetapi kalau pakai drum besi, akan menjadi karat,” ujar warga kesal. (Pietsaw Amafnini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *