Pahabol, Si Tukang Becak Yang Bercita-Cita Jadi Pendeta

 

 

JUBI—Kesulitan biaya pendidikan tak menyurutkan cita-citanya untuk menjadi seorang pendeta. Dialah Hermanus Pahabol (24) yang sehari-harinya mencari nafkah dengan menggenjot becak di Wamena.    
 
Hermanus Pahabol dilahirkan dari keluarga sederhana dan pas-pasan. Sejak masa kanak-kanak, dirinya telah bercita-cita ingin menjadi seorang pendeta. Ketika menamatkan pendidikan SMA, ia sempat mendaftar sebagai mahasiswa sebuah Fakultas Theologia Jarak Jauh di Biak. Namun lantaran kesulitan biaya, obsesi mulianya itu tertunda.
Orang tua Pahabol berasal dari daerah pegunungan. Tepatnya di Wamena, Papua, sebuah wilayah subur yang dikelilingi banyak gu-nung. Namun karena ingin mencari nafkah, mereka akhirnya berpindah ke Biak dan bekerja sebagai petani kecil hingga kini. “Kami dilahirkan empat bersaudara dan hingga saat ini semuanya masih menuntut ilmu di SMP dan SMA,” ujar Pahabol. “Orang tua saya juga hanya petani kecil di Biak,” tambahnya.
Sebagai anak yang bertanggungjawab, Pahabol juga harus membantu orang tuanya. Dulu, semenjak masih sekolah, rutinitas untuk membantu orang tuanya itu dikerjakan Pahabol sehabis jam sekolah. “Karena kea-daan ekonomi yang memang tak memadai, kami dari 4 bersaudara dalam keluarga mempunyai tugas masing-masing, ada yang membantu orang tua di kebun, tapi juga ada yang membantu orang tua dirumah,” jelas Pahabol.
Kebiasaan mencari uang bukan lagi masalah baru bagi Pahabol. Berkat kebiasan dalam keluarga dan tantangan hidup yang sudah pernah dijalaninya, Pahabol kini tak pernah malu untuk bekerja. Meskipun pekerjaan itu sangat berat baginya. Dia mempunyai sebuah prinsip yang mulia. Yakni, jika pekerjaan yang dilakukannya tak merugikan atau menggangu orang lain, maka akan diker-jakannya. “Biar teman-teman sekolah saya melihat saya bekerja di kebun saya tidak malu karena dari hasil ini kami bisa hidup bersama dengan keluarga,” imbuh Pahabol.
 
Mencari Biaya Kuliah
Pada tahun 2005, Pahabol berhasil menamatkan pendidikan dari sebuah SMA Katholik di Biak. Nilai ujian yang diperolehnya saat itu sangat memuaskan. “Usai mendengar pengumuman dari sekolah ternyata saya juga dinya-takan lulus ujian terahir,” ujar sambil mengenang masa-masa sekolahnya.
 “Saya sempat berpikir untuk mencari kerja, tetapi saya tak tahu mau kerja dimana namun dalam pikiran saya, keinginan untuk melanjutkan sekolah begitu besar,” kenang Pahabol.
Meski sebenarnya dirinya tahu bahwa untuk melanjutkan sekolah pada jenjang yang lebih tinggi, dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Saat ini, dengan kerja keras yang dilakukannya, dia berharap biaya melanjutkan pendidikan itu dapat segera diperolehnya. “Sesuai kei-nginan saya. Jika saya melan-jutkan pendidikan, saya akan melanjutkan sekolah di bidang Theologia dan kebetulan sekolah ini ada di Biak,” sebut Pahabol.
Dari tekadnya itu, Pahabol akhirnya setelah selesai sekolah, kemudian mengusulkan pada kedua orang tuanya untuk ikut seleksi disekolah Theologi jarak jauh di Biak. Alhasil, setelah seleksi ternyata ia dinyatakan lolos. “Ketika saya lulus perasan saya begitu senang dan dalam hati saya ingin kuliah dengan baik namun saya kembali berpikir apakah orang tua mampu membiayai biaya kuliah saya,” imbuh Pahabol sambil mendorong becaknya.
Namun apa yang dicita-citakan Pahabol untuk menjadi seorang pendeta akhirnya kandas ditengah jalan lantaran terbentur biaya. Ia selanjutnya tak bisa lagi melanjutkan kuliahnya tepat setelah memasuki semester pertama. Saat itu, biaya untuk kuliah yang harus disediakan cukup banyak. Apalagi ditambah dengan berbagai tugas yang diberikan oleh dosen yang juga membutuhkan uang.

Aktif Dalam Ibadah Di Gereja
Pahabol muda yang tekun beribadah, demikian sebutan yang disematkan kepada dia oleh rekan-rekannya. Tekad yang semakin menggebu untuk mencari uang agar ia bisa melanjutkan lagi studinya, akhirnya membawa dirinya kembali ke Wamena, tempat ia dibesarkan dulu.
Sambil mencari pekerjan, Pahabol juga aktif dalam melakukan ibadah di gereja.  Bahkan selalu mengambil bagian untuk membimbing ibadah kaum muda maupun sekolah minggu. Karena keseriusan dan selalu aktif di gereja, Pahabol diminta oleh Pendeta untuk tinggal di kompleks gereja. “Sekitar satu bulan saya tinggal di rumah kerabat saya setelah akhirnya diminta pendeta tinggal digereja,” ujarnya.
Meski begitu, dirinya tidak mau selalu berharap dari bantuan pendeta tersebut.  “Suatu hari didepan gereja ada teman yang datang bawa becak dan kebetulan rumahnya dekat dengan gereja, disitulah saya mulai belajar sedikit demi sedikit,” katanya.
Akhirnya dengan modal nekad, Pahabol mulai menggeluti pekerjaan sebagai seorang tukang becak. Awalnya dia hanya mengayuh sebuah becak tua milik majikannya. Majikannya itu adalah orang Jawa yang telah berhasil dalam usaha becak. Setelah mendapat pekerjaan itu, Pahabol setiap harinya hanya bekerja menarik becak. Pekerjaan ini dilakoninya tanpa rasa malu. Namun demi-kian, pekerjaan itu diselaraskan Pahabol dengan tiap minggunya beribadah di gereja. Ketika hari minggu tiba, becak Pahabol biasanya disimpan. “Becak yang saya bawa ini milik orang jawa, setiap hari saya membayar sewa sebesar Rp 21.000,” sebut Pahabol.
Diceritakan Pahabol, selama menekuninya sejak tiga tahun lalu, berbagai kebutuhan hidup-nya dapat dia penuhi sekalipun harus mengeluarkan tenaga yang cukup besar untuk pekerjaanya tersebut. “Menarik becak memang tak mem-butuhkan modal besar, yang penting bisa mengendarai becak de-ngan cermat. Memang ada rasa capek yang kita alami karena harus mengandalkan kekuatan otot untuk meroda becak, belum lagi jika panas terik atau hujan,” katanya.
Namun inilah pekerjaan yang harus dikerjakannya. Dia tidak punya pilihan lain untuk bekerja karena keterbatasan yang dimilikinya. Baginya, pekerjaan lain membutuhkan keterampilan matang dan pendidikan yang bagus juga. Namun ia pasti akan terus berusaha mewujudkan mimpinya.(Yunus Paelo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *