Pendeta VS Politik

 

 

(Sebuah Refleksi Teologis Kristiani Menjelang Pemilihan Legislatif  2009) 

0leh: Pdt. Yermias Rahakbauw S.Th (*)

 

JUBI—Menjelang pemilihan anggota legislatif pada April tahun 2009 telah memunculkan berbagai opini, baik pada tataran para rohaniawan “Pendeta-pendeta”  ataupun masyarakat umum “orang Kristen” tentang posisi seorang pendeta dalam dunia politik. 

Pandangan tersebut semarak diperbincangkan karena sekarang ini, ada anggota DPRP, DPRD maupun MRP serta DPD adalah mereka yang menyandang gelar pendeta dengan sarjana Theologianya. Bahkan untuk menghadapi Pemilu tahun 2009 pun tak sedikit  partai politik yang telah merekrut pendeta-pendeta untuk dicalonkan sebagai anggota legislatif  pada tingkat pusat, daerah maupun Kabupaten/Kota.
Dari pengamatan terhadap berbagai pandangan tersebut, penulis merasa terpanggil untuk memberikan suatu refleksi secara Theologis yang tak memihak pada salah satu pihak. Sebaliknya bersifat seimbang. Artinya, para pemiilih perlu diberikan suatu pemahaman yang benar dari sisi Theologia agar menggunakan hak pilihnya sesuai dengan hati nurani yang tak terpengaruh dengan berbagai kepentingan politik sesaaat.
Pertama, mereka yang menolak seorang pendeta berada pada  dunia politik.  Dari pengamatan  terhadap pandangan-pandangan tersebut,  memberikan beberapa kesimpulan, antara lain: Secara teologis,  bahwa pelayanan hanyalah terdapat di dalam atau melalui Gereja, sebab seorang pendeta dibentuk/diteguhkan untuk peyalanan yang identik dengan gereja. Sehingga bagi mereka apapun yang dibuat atau dilakukan dalam lingkup di luar Gereja dianggap bukan sebagai suatu bentuk dari  sebuah pelayanan kepada umat. Walaupun itu dilakukan oleh seorang rohaniawan atau orang-orang yang hidupnya takut kepada Tuhan dan menganggap hidup ini adalah pengabdian pada Tuhan
Kedua, secara politik. Mereka menganggap bahwa politik itu kotor, penuh dengan kompromis-kompromis  untuk kepentingan-kepentingan tertentu sehingga Seorang pendeta tidak pantas dan layak untuk berada pada tataran dunia tersebut yang penuh dengan kompromis  atau: menyetujui/menerima dan mengakui yang kurang dari yang boleh  dan yang harus diinginkan berdasarkan perintah Allah. Bagi mereka          kompromi adalah perbuatan yang mengabaikan standar, dan prinsip-prinsip  Allah  mengenai kehidupan yang pada akhirnya  membuat seseorang merosot  secara moral dan rohaninya di hadapan Allah.
Ketiga, secara pengalaman, mereka – mereka “para pendeta” yang duduk  sebagai wakil rakyat belum berbuat sesuatu yang maksimal  bagi  kepentingan rakyat. Sebaliknya cenderung berpihak pada penguasa  yang memerintah, ini mungkin bersifat “hipotesa” artinya pandang tersebut belum tentu benar.
Keempat, secara sosial, mereka menilia semua orang akan sama Dalam karakter dan prakteknya pada dunia atau tataran politik  yang penuh dengan kompromis-kopmpromis. Tersebut. Kelima,  pendapat yang lain. Bahwa wilayah politik yang dijalani oleh para rohaniawan adalah bukan untuk pengabdian tetapi popularitas, dan kekayaan semata. Demikian beberapa hipotes dari pengamatan terhadap pendapat-pendapat dari masyarakat “Kristen”  yang menolak seorang pendeta berada pada wilayah politik. Pendapat yang kedua.  Dari pengamatan penulis, yang mendukung  pendeta boleh terlibat dalam dunia politik, adalah :

Dari Sisi Politik
A.    Semua orang mempunyai hak yang sama untuk  mengambil bagian dalam percaturan politik
B.    Politik bukanlah sesuatu yang najis atau haram, karena politik adalah suatu  kekuasaan  yang diperoleh untuk menghasilkan suat keputusan/sikap yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan dalam kehidupan manusia.   Tetapi setiap keputusan atau aturan dari mereka yang mempunyai kekuasaan akan selalu dipengaruhi oleh sikap atau etika dan moralitasnya, sehingga moralitas yang buruk akan mempengaruhi sikap, tindakan dan kebijakan yang buruk pula.
Demikian bagi mereka, tidaklah bijaksana kalau kita menilai sikap dan karakter semua orang akan sama , bila  sudah berada dalam politik. Karena   baik dan buruknya bergantung pada karakter seseorang bukan pada hukum dan aturanya (sistem)                                     
Bagi mereka yang menyetujui  kehadiran para pendeta dalam dunia politik, karena pada prinsipnya Gereja “gereja sejati/ prbadi-pribadi yang percaya “ terlepas dari jabatan pendeta-nya  ataupun tidak,  perlu berpartisipasi  dalam mengisi situasi politik namun haruslah dengan karakter  shalom, yang menjadi berkat bagi manusia Ada beberapa ayat firman Tuhan yang menjadi landasan pemikiran /pemahaman mereka: Matius    5: 13, 14 , 10: 16,  28: 18-20,, dsb.
Dari ayat-ayat Firman Tuhan tersebut, jelas menunjukan bahwa kita mempunyai tanggungjawab untuk menggarami, menerangi  serta menyelamatkan sertiap bidang kehidupan yang mencerminkan dosa, bukan sebaliknya membiarkan dosa dapat terus merajalelah diseleruh bidang kehidupan.tersebut, .seperti bagaimana Tuhan melihat dunia ini “manusia” penuh dengan kegelapan /dosa,  tetapi bukan Ia berdiam diri di Surga, namun sebaliknya Ia datang dan berada dalam sistim kehidupan manusia yang berdosa tersebut untuk mengubah sistem tersebut, tetapi Ia tidak mengambil bagian  dalam sistim kehidupan manusia itu sendiri demi penyelamatan  manusia dari sistim kehidupan yang bobrok tersebut. (Yohanes 3:  16, 19) .
Sama halnya waktu Ottow dan Geissler mereka tahu bahwa masyarakat Papua saat iti sangat berbahaya bagi nyawa mereka karena, masih hidup dalam kegelapan,dan bersifat kanibal, namun tidak mengurangi panggilan mereka untuk hadir dalam komunitas yang berbahaya tersebut, demi penyelamatan mereka bagi Kristus. Demikian juga sebaliknya bagi yang mendukung berkata bahwa kalau memang kita melihat politik itu  kotor “hipotesa” mengapa kita membiarkannya dan berdiam diri? Walaupun ada ancaman /bahaya degredasi Moral, Spiritual. Sebaliknya bukankah kita telah deberikan mandat (telah diutus) untuk  pergi ketengah-tengah serigala demi penyelamatan ? (Matius 10: 16} namun disadari pula oleh mereka bahwa untuk hadir disana diperlukan fondasi Iman,dan moralitas yang kuat (tulus seperti Merpati dan cerdik seperti ular ) (bandingkan dengan , Matius 10: 16, 26: 41, Lukas 12:15, dan 1 korintus 16: 13 ).sehingga tidak mudah untuk berubah pikiran dan sikap bagi kepentingan  yang  tidak berpihak pada rakyat.

Dari Sisi Tokoh Tokoh   
Argumen yang lain adalah dari sisi tokoh-tokoh baik dari  Alkitab, maupun tokoh gereja yang hidup dalam sejarah modern
Sebagaimana pengalaman hidup bangsa Isreal dengan pemerintahan Kerajaan  Firaun, dimana  beberapa tokoh bangsa Israel yang  berada dalam sistim Pemerintahan kerajaan Firaun sehingga bangsa Isreal terhindar dari hukuman-hukuman  atau mereka ada kemudahan untuk membangun bait Allah, dan diisinkan untuk kembakli ke Mesir. Dan juga ditolong dari keleparanSeperti:  Ezra, Yang diberi kekuasaan oleh raja Arthasasta untuk mengatur Ibadah dan pemulangan bangsa Isreal ke Yerusalem, kemudian tokoh yang lain Ester  dan Mordekai, mempengaruhi raja sehingga perintah-perintah atau titah-titah raja menguntungkan bangsa Israel. Tokoh berikut adalah Yusuf yang diberi kepercayaan oleh raja Firaun untuk mengatur kehidupan Rumah tangga /ekonomi firaun dan pada akhirnya juga  saudara-Saudaranya dapat diselamatkan dari kelaparan. Demikian juga Daniel  dll. Pertanyaan muncul, mengapa mereka ini sangat  mempengaruhi Pemerintahan Firaun? Firman Tuhan menjelaskan bahwa Karakter dan moralitas mereka sangat teruji ,serta mempunyai akal budi dan penuh dengan roh.Tuhan.  Inilah kunci dari karakter mereka yang mempengaruhi sistim untuk menguntungkan bangsa mereka.Dan akhirnya, bukan soal pendeta atau tidak tetapi soal moralitas dan spiritual serta berhati hamba-lah yang akan  menentukan sistim dan kekuasaan  yang berorientasi pada rakyat atau tidak. Sebab itu  gunakanlah hak pilih anda secara baik untuk menentukan perjalanan Pembangunan  lima tahun kedepan,  dan jadikanlah kriteria  kualitas: Iman/kehidupan rohani dan Moralitas, bukan keluarga, kolega, teman atau nilai rupiah sebagai dasar  untuk menentukan pilihan anda., jika salah menjatuhkan pilihan, maka kita akan  mengalami penderitaan selama lima tahun kedepan. Akhirnya Tuhan tidak meminta sesuatu yang ekstrim dari kita, Ia hanya memanggil kita  untuk kembali pada norma Alkitabiah.

(*) Pendeta GKI, Anggota API Kota serta  Pemerhati Moralitas Umat
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *