Marice, Dukun Bersalin Dari Doyo Lama

Image

Mama Marice M Wally mempersiapkan peralatannya di rumahnya untuk menolong ibu melahirkan (Foto : Jubi/Musa Abubar)

 
JUBI-Sepertinya Marice tidak ingin hidupnya dipertaruhkan untuk kesenangan duniawi saja. Menolong ibu melahirkan sepanjang tiga generasi, baginya merupakan pekerjaan mulia yang jarang dilakukan banyak orang.
 
“Saya pernah menolong persalinan seorang ibu hamil, tetapi saat itu ibu tersebut mengalami perdarahan hebat. Saya bawa ke rumah sakit pemerintah di Dok II Jayapura. Setelah diperiksa ternyata kandungan ibu itu terinfeksi,” ujar Marice Waly (69), seorang dukun terlatih kepada Jubi pekan lalu.
Mama Marice, demikian sapaan akrab dari warga di Kampung Doyo Lama, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura kepada dukun tiga generasi ini. Marice Waly adalah seorang dari banyak lagi yang lain yang mendedikasikan hidupnya untuk menolong ibu melahirkan. Sepanjang hidupnya, dia telah menemui banyak kasus yang berkaitan dengan nyawa seseorang. Pernah suatu ketika, saat menolong seorang ibu yang ingin melahirkan, dirinya harus berjuang keras mempertaruhkan hidupnya sendiri. Meski kemudian sang ibu tersebut harus rela sang bayi yang lahir sudah tak bernyawa lagi. Demikian Marice dalam perjalanannya membantu banyak orang. Meski demikian, dia tahu kelebihan yang dimilikinya itu bukan tanpa kekurangan. Jika, dirinya sudah tak mampu, biasanya dia akan melarikan sang ibu ke rumah sakit terdekat. “Kadang-kadang saya mampu menolong persalinan, tetapi kadang-kadang pula pasien mesti saya rujuk ke rumah sakit atau puskesmas terdekat kalau terjadi pendarahan berat,” kata dia.
Perdarahan, kata dia, biasanya terjadi salah satunya akibat anemia (kurang darah) pada ibu yang akan melahirkan. “Selain perdarahan, apabila kaki, tangan atau ari-ari yang keluar duluan dari rahim ibu, maka ini juga dapat mengakibatkan resiko yang sangat besar, sehingga mesti dirujuk ke rumah sakit,” ujarnya.
Dikatakan Marice, acapkali ibu hamil memilih melahirkan sendiri dirumah tanpa pertolongan dukun. Tetapi kalau mengalami kesulitan, mereka biasanya memanggilnya untuk menolong. “Saya tolong potong tali pusat,” tutur Marice. Dalam menolong persalinan, Marice menggunakan alat-alat seperti timbangan, alat kebidanan lain seperti 1 buah gunting, karpet, kain pengaman, 2 buah mangkok dan 1 piring untuk plasenta. Setiap kali menolong persalinan, maka alat-alat persalinan seperti kapas, kain has, sarung tangan, gunting, mangkok, piring mesti disterilkan dengan cara dipanaskan  selama 15 menit.
“Memang idealnya peralatan persalinan mesti disterilkan. Tetapi apabila keadaan mendadak maka harus digosok terlebih dahulu dengan alkohol,” tukas Marice.
Selain menyiapkan alat-alat persalinan, Marice juga menyiapkan beberapa jenis ramuan tradisional jika obat dari rumah sakit tak tersedia. Ramuan tradisional itu diantaranya kulit kayu susu untuk membersihkan kotoran dalam kandungan. Sementara itu, untuk membersihkan tubuh bayi yang baru lahir, Marice biasanya membersihkan dengan minyak kelapa asli. Bagi seorang ibu yang usia kehamilan lebih dari 7 bulan, ia biasanya menganjurkan untuk meminum minyak tersebut satu sendok makan setiap hari. Hal ini dilakukan agar tubuh bayi saat dilahirkan bersih dari kotoran. “Ibu juga dianjurkan banyak mengkonsumsi makanan bergizi dan minum air untuk meningkatkan daya tahan tubuh ibu,” kata Marice.
 
Menjadi Mudah, Jika Ditolong Marice
Ester Manori Eben (35), warga Kampung Doyo Lama, Distril Waibu, Kabupaten Jayapura mengisahkan, dirinya pernah meminta tolong Marice untuk membantu persalinannya. Enam anaknya kini, kata dia merupakan hasil terbaik Marice dalam membantunya melahirkan. “Biasanya beban berat yang dialami menjadi ringan kalau  ditolong Marice. Saya rasakan itu kalau Mama (Marice, Red) mendampingi saya. Mama juga terus merawat bayi sampai besar. Mama selalu kasih ramuan tradisional,” ujar isteri dari Olimpas Eben itu.
Bagi masyarakat di Kampung Doyo Lama, kehadiran Marice Waly ternyata cukup banyak menolong persalinan masyarakat setempat. Awalnya Marice bergumul sebagai dukun bersalin setelah dirinya mengikuti pelatihan yang diselenggarakan Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) Puskesmas Sentani, Jayapura pada tahun 1970.
Selain mengikuti pelatihan tersebut, Marice juga menerima sejumlah peralatan persalinan seperti timbangan, alat kebidanan seperti gunting, karpet, kain pengaman, mangkok, dan piring yang ia pakai hingga hari ini. “Waktu itu, setiap bulan kami wajib memberikan laporan kepada Puskesmas tentang perkembangan menolong persalinan sekaligus kami diberi kapas, kain has, alkohol dan obat-obat lainnya,” tukas Marice. Dikatakan Marice, apabila suatu saat dirinya tak mampu lagi menolong persalinan, alat-alat tersebut akan diserahkan kembali kepada para kader yang telah ia siapkan. “Tetapi kalau tidak ada maka alat-alat itu mesti diserahkan kembali ke pemerintah atau Dinas Kesehatan,” katanya
 
Pertolongan Pertama Post Partum
Menolong sebuah persalinan memang tidak mudah. Marice dalam melakukannya harus memenuhi kriteria yang ditentukan. Paling kurang memiliki wawasan luas dan telah berpengalaman dalam dunia persalinan. Ia juga harus mengerti semua istilah dalam persalinan, mulai dari perdarahan post partum hingga Pre Eklamsia/Eklamsia. Istilah ini yang selanjutnya akan memandunya melaksanakan proses persalinan dengan baik. Terkait dengan perdarahan post partum dan Pre Eklamsia/Eklamsia itu, Kepala Ruangan Kebidanan RSUD Yoware, Sentani, Jayapura, Papua Joice Arijani Rabbah kepada JUBI mengatakan, kematian ibu post partum disebabkan perdarahan post partum dan Pre Eklamsia/Eklamsia (keracunan saat kehamilan). Penyebab perdarahan post partum adalah atoniu uteri, retensio placenta (placenta tertinggal didalam rahim), robekan jalan lahir dan penyakit darah (kelainan pembekuan darah).
“Banyak hal yang menyebabkan kekurangan Hb (Haemoglobin) dalam darah misalnya malaria (terjadi karena hameolisis atau hancurnya sel darah merah oleh plasmodium malaria). Defesiensi zat besi (kurang zat besi) dalam makanan yang dikonsumsi ibu hamil, kemungkinan terdapat cacing didalam tubuh ibu hamil,” urai Joice.

Kepedulian Pemerintah
Sementara itu, tingginya angka kematian ibu pasca melahirkan di seluruh pelosok di Provinsi Papua juga dialami di Kabupaten Jayapura. Bupati Kabupaten Jayapura, Habel Melkias Suwae menginstruksikan agar dana Otsus diprioritaskan hanya bagi ibu melahirkan. “Pak Bupati menyarankan agar dana Otsus yang diberikan kepada pihak RSUD Yoware lebih diutamakan untuk pelayanan ibu hamil dan melahirkan,” ujar Direktur RSUD Yoware, dr. Nicodemus Barends MKes menirukan instruksi Bupati Kabupaten Jayapura kepada JUBI.
Ditambahkan Nicodemus, dana Otsus ini diperuntukan untuk pelayanan ibu hamil dan melahirkan khususnya bagi penduduk asli Kabupaten Jayapura. Hal ini untuk menekan tingginya angka kematian ibu pasca melahirkan. “Setiap ibu hamil dan ibu yang hendak melahirkan harus datang memeriksakan diri, Soal klaim biaya dilakukan belakangan, ini salah satu yang sangat kita harapkan,” tukasnya mengakhiri. (Musa Abubar/Kalvaros Ayomi/Natalis Aliknoe)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *