Jelang Satu Abad Kota Jayapura IX

Image

Kampung yang dulunya dikenal sebagai Argapura Laut sekarang lebih dikenal sebagai kampung Vietnam (Foto : Jubi/Carol Ayomi)

 
Melihat Dari Dekat Kampung Vietnam di Kota Jayapura
 
JUBI—Vietnam Village atau Kampung Vietnam di Kota Jayapura, Papua memang tak ada hubungannya dengan warga Vietnam yang mengungsi ke wilayah Argapura Pantai, akibat perang saudara di era 1970 an lalu. Tapi jangan salah, kampung ini ternyata menyimpan banyak hal unik hingga saat ini yang belum tersentuh.

Kampung Vietnam terletak tak jauh dari pusat Kota Jayapura. Kurang lebih 15 menit perjalanan menggunakan angkutan umum dari terminal Taman Mesran Kota Jayapura, Papua. Lebih tepatnya, Kampung Vietnam terletak dibelakang Hotel Relat Indah Argapura, markas Klub sepak bola, Persipura Jayapura kini. Sebelumnya kampung ini dikenal dengan nama Argapura. Namun semenjak terjadi musibah ledakan bom sisa perang dunia kedua yang digunakan warga untuk mencari ikan disekitar Laut Teluk Youtefa beberapa tahun silam, sebutan untuk kampung ini berubah menjadi kampung Vietnam. “Saat itu banyak sekali warga yang kena musibah tangan putus dan kaki putus, mulai saat itu mereka sebut kampung ini Kampung Vietnam,” ujar John Waromi, warga Hamadi, Jayapura kepada JUBI belum lama ini. Waromi juga pernah membuat film tentang Kampung Vietnam.
Diceritakan Waromi, rata-rata warga Kampung Vietnam adalah korban ledakan bom. Tapi jangan salah, mereka bukan korban akibat terkena ranjau darat atau bom saat bertempur di Vietnam. Tapi karena salah menggunakan bom ikan pada saat melaut. “Nama Kampung Vietnam muncul ke permukaan, akibat rangkaian musibah ledakan bom yang memakan korban jiwa atau cacat anggota tubuh. Makin hari semakin sering dijumpai masyarakat kampung Vietnam yang anggota tubuhnya tidak utuh alias cacat seumur hidup, sebagaimana cerita-cerita datang dari Vietnam,” ujar John Waromi.
Dikatakan Waromi, tak ada yang mengetahui sejak kapan sebutan itu secara resmi mulai dipakai di Kampung Argapura Pantai. Diceritakannya, kehadiran kampung nelayan di Argapura ini bermula dari kebijakan pemerintah Kabupaten Jayapura awal tahun 70-an untuk menertibkan kawasan kumuh diseputar pusat kota dan kawasan dermaga pelabuhan Jayapura. Saat itu, Otoritas adat Kayu Pulo memberikan ruang bagi warga lain itu untuk bermukim di Argapura Pantai. Sebelumnya mereka tinggal di Weeref, dulunya disebut Klapperland, atau dibelakang Kodam XVII Cenderawasih Sekarang. Setelahnya, lanjut Waromi, sebagian besar warga itu kemudian menjadi nelayan yang tiap harinya menyuplai ikan segar bagi warga di Jayapura. Namun uniknya, mencari dan menyuplai ikan tersebut dilakukan dengan menggunakan bahan peledak. “Ironisnya mereka tidak kapok untuk memanfaatkan benda berbahaya itu untuk mencari ikan,” ujar Waromi

Sejarah Pemukiman
Sejarah pendirian kampung Vietnam dapat ditelusuri pasca perang Pasifik. Saat itu, tentara Sekutu setelah pelimpahan wewenang kepada Pemerintah Belanda (Nederlands Nieuw Guinea) kemudian membangun Hollandia (Jayapura kini) sebagai sebuah kota baru. Hollandia kala itu dijadikan sebagai kota pelabuhan dan kota administrasif dengan berbagai infrakstruktur pendukung. Gubernur Jendral Nederlands Nieuw Guinea Prof. Dr. Jan Van Baal dan selanjutnya Gubernur Platteil menunjuk empat perusahaan antara lain, Ballast Maatschappij (infrastruktur jalan), HBM (Hollandsche Betton Maatschappij/Struktur Jembatan), Intervaam Maatschappij (Infrakstur Perumahan) dan Bawn Maatschappij (Rumah Sakit) untuk membangun Hollandia. Pada waktu itu, hampir sebagian besar tenaga kerja di perusahaan-perusahaan ini didatangkan dari luar Hollandia atau Port Numbay seperti Serui dan Biak sejak 1950 an, setelah Perang Dunia Kedua.
Bersamaan dengan itu  pula, Waarnemen Resident van Afdeling Hollandia memberlakukan sebuah aturan pembatasan pemukiman. Peraturan itu bertujuan untuk mengantisipasi melimpahnya arus urbanisasi di kota Hollandia yang sedang ramai-ramainya membangun. Ketika itu, setiap pendatang baru di Kota Hollandia harus didata apalagi yang tidak memiliki hubungan/kontrak dengan tempat asalnya. Salah satu yang didata saat itu adalah orang-orang dari mayoritas kampung Ambai dari Kabupaten Yapen. Mereka setelah pendataan kemudian diizinkan untuk membangun perumahan didaerah Weeref sesuai dengan latar belakang tradisi mereka sebagai nelayan. Ijin masuk itu sendiri diperoleh atas kesepakatan Afdeling Hollandia dan Otoritas Adat Kayu Pulo kala itu.
Namun kemudian, entah mengapa, setelah pemerintah Belanda angkat kaki dari tanah Papua dan  sistem pemerintahan sipil beralih  ke tangan Pemerintah Indonesia, orang-orang di Kampung Vietnam ini (sebutannya kini), beralih ke cara-cara yang sama sekali tidak diperkenankan oleh aturan hukum. Mereka cenderung mengklaim pembenaran diri sendiri atas tindakan-tindakan destruktif terhadap lingkungan (pengrusakan terumbu karang dan biota laut). “Kenapa otoritas adat dan pemerintah tidak mampu mengeksekusi penertiban dan pemindahan kampung nelayan dari Pulau Kosong sebagai suatu kesatuan paket, penertiban dana keindahan wisata kota pelabuhan?,” tanya Waromi.

Awalnya Didiami 20 Kepala Keluarga
Awalnya Argapura Pantai yang kini berubah sebutannya menjadi kampung Vietnam, hanya didiami oleh  20 kepala keluarga. Meski telah berubah dalam penyebutannya, namun toh ada juga yang tidak setuju dengan nama ini. “Saya yang tinggal pertama kali dan menandatangani surat-suratnya. Jadi kalau dong bilang ini kampung Vietnam, dong salah besar. Coba anak dong tanya sama Ondoafi kayu pulo, pasti Ondo bilang ini kampung Argapura, bukan Vietnam,” ungkap Mara (61), salah seorang saksi hidup yang pertama kali menempati Argapura Pantai pada 1974 silam.
Menurut dia, Kampung Vietnam merupakan sebuah panggilan atau julukan saja. Bukan nama sebuah kampung. Disebut Kampung Vietnam, ujarnya, karena dilatarbelakangi oleh datangnya sejumlah warga luar dari Pulau Buton, Sulawesi Tenggara yang kemudian menempati sebuah pulau di Kayu Pulo.  Kayu Pulo disebut juga Pulau Kosong. Mereka inilah yang kemudian selalu melakukan aktivitas pemboman ikan di sekitar tahun 1992 dikawasan laut Argapura Laut.
Ditegaskannya, daerah yang sekarang disebut-sebut sebagai Kampung Vietnam sebenarnya memiliki sebuah nama asli. Yakni Kampung Argapura Pantai atau Argapura Laut. “Kampung Argapura Laut pertama kali didiami oleh 20 kepala keluarga antara lain, klen Mara, Waromi, Karubaba, Numberi serta beberapa keluarga lainnya pada tanggal 21 April 1974,” tutur Mara kepada JUBI dikediamannya belum lama ini.
Menurut Mara, warga yang tinggal di Kampung Argapura Laut, awalnya menempati Weeref dekat Pelabuhan Kota Jayapura. “Karena masalah tanah dengan pemilik hak ulayat suku Kayu Pulo, terpaksa Gubernur Pronvinsi Irian Jaya (sekarang Papua) yang saat itu dijabat oleh Brigadir Jenderal TNI Almarhum Acub Zainal, menyelesaikan masalah tersebut dengan membeli tanah di tepi Laut Argapura dan meminta kepada  20 kepala keluarga yang tinggal di Weeref untuk menempati lahan tersebut,” tukas Mara. Paitua (sebutan bapak bagi orang tua) Mara sendiri berasal dari Kota Karang Panas, Biak Timur. Ia adalah salah satu dari 20 kepala keluarga yang pertama kalinya menempati Kampung Argapura Laut.
Dijelaskannya, Kampung Argapura Laut dibangun pada 21 April 1974 secara  swadaya oleh 20 kepala keluarga (KK) yang pertama kali menempati kampung tersebut. Mereka membangun kampung dengan menggunakan Kayu Swang. Sejenis pohon yang diambil kayunya di daerah Dok II atas (terletak juga disitu sebuah kantor pertelevisian nasional, TVRI Papua).

Ingin Berubah Nama
Setelah bertahun-tahun menggunakan sebutan kampung Vietnam untuk Argapura Laut, warga yang mendiami kampung tersebut mulai merasa resah. Mereka memilih untuk penyebutan Vietnam dikembalikan pada Argapura Laut.
Namun demikian, apa daya bagi Paitua Mara untuk merubah sebutan itu. Kelak bisa saja penamaan Vietnam sirna dan menjadi Argapura Laut. Tapi tentu akan sangat sulit. Jikalau saja warga Vietnam menyadari untuk tidak lagi menggunakan peledak yang dapat mengancam habitat laut serta tentunya nyawa manusia, mungkin saja bisa terjadi. Tapi jikalau dentuman bom dilaut masih sering terdengar maka julukan itu akan tetap melekat untuk kampung nelayan ini. (Carol Ayomi/John Waromi/Dominggus A Mampioper)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *