Rakyat Harus Jeli Pilih Caleg Berkualitas

 
 
JUBI—Memilih seorang caleg untuk menjadi pembawa suara rakyat bukan merupakan sesuatu hal yang mudah. Perlu ketelitian dan kejelian dari rakyat agar kedepannya tidak tersandung pada batu yang sama.
 
“Rakyat harus jeli, salah pilih orang berarti konsekuensinya sangat berat. Kalau memilih dengan hati nurani, pilihlah yang terbaik,” tutur Patrisje M. Dimara SP, seorang Caleg DPRD Kota Jayapura No Urut 6 Dapil III (Heram, Abepura, Muara Tami) dari Partai Demokrat kepada JUBI pekan lalu.
Dikatakan Patrisje, banyak hal yang dia amati menyangkut kebutuhan-kebutuhan rakyat yang tak terakomodir dengan baik. Padahal hal-hal yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat itu harus diperjuangkan dan tak perlu ditunda-tunda lagi melalui suatu perencanaan yang matang sesuai kebutuhan dasar masyarakat.  “Sebelum melakukan perencanaan, maka hal pertama yang perlu dilakukan adalah menggali seluruh kebutuhan dasar masyarakat,” ujar Koordinator Bidang Litbang dan Informasi Asosiasi Fasilitator Pemberdayaan Pembangunan Partisipatif  (AFP3) Papua itu.
Menurut Patrisje, hak-hak dasar masyarakat yang patut diperjuangkan diantaranya melakukan perlindungan usaha untuk masyarakat Papua melalui suatu Peraturan Daerah (Perda).  Dikatakannya, sebenarnya perempuan Papua memiliki ketrampilan yang bisa diangkat melalui suatu usaha yang dapat menolong sesama perempuan Papua lain.
Perda perlindungan usaha bagi perempuan Papua adalah agenda seluruh perempuan Papua yang dipercayakan rakyat untuk duduk di kursi dewan. “Agenda ini bukan hanya perjuang saya, tetapi bagi seluruh perempuan Papua yang naik dia harus perjuangkan,” tukas Patrisje. 
 ”Dimana-mana disepanjang jalan terdapat Ruko-Ruko dan perempuan Papua menjajahkan barang-barangnya. Kapan perempuan Papua bisa taruh barangnya didalam Ruko. Kita mesti mendorong agar perempuan Papua mendapat lokasi yang layak untuk bekerja mencari nafkah,” tambah Patrisje.
Dicontohkannya, Perda perlindungan usaha bagi perempuan Papua dibidang industri rumah tangga (home industri) memang harus dijaga. Hal ini akan meningkatkan pendapatan dari perempuan sendiri. Misalnya, seperti batik Port Numbay yang mampu menampung dan menyerap ribuan lapangan pekerjaan. “Pemerintah harus mendorong pembangunan pabrik batik di Papua. Kenapa mesti pesan batik dari luar Papua,” imbuh Patrisje.
Menurut Patrisje, untuk mengakomodir seluruh kebutuhan dasar masyarakat, maka perlu adanya kerja sama dan saling dukung antara legislatif, pemerintah, LSM, akademisi, kaum perempuan, media massa dan lain-lain agar duduk bersama untuk melihat kembali hal-hak yang telah dilakukan. “Saya lihat legislatif dari tahun ke tahun tanpa perubahan. Saya tak mengharapkan model lama, tetapi kalau bisa ada perubahan di lembaga legislatif,” tukas alumni Fakultas Pertanian Universitas Cenderawasih di Manokwari itu.
Patrisje menambahkan, penyebab kekurangberpihakan pemerintah kepada masyarakat selama ini  adalah pemerintah bekerja sendiri. Padahal  Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)  yang ada saat ini perlu disinkronisasikan. “Supaya bisa lihat betul-betul siapa yang harus ditolong. Jangan yang mampu ditolong. Ini bukan berarti tak mandiri. Kita punya kemampuan untuk mandiri tetapi belum ada ruang,” kata Patrisje.
Perihal latar belakang para caleg yang meramaikan bursa Pemilu, Patrisje menyatakan, tak masalah karena seluruh caleg yang ada akan bersaing secara sehat dan fair. “Kita orang asli mengasah sejauhmana kita melihat kebutuhan masyarakat. Walaupun dia bukan orang asli Papua, tetapi dia sudah tinggal lama mesti komitmen untuk rakyat disini,” ungkapnya.

Putra Asli Papua Dominasi Caleg PKNU
Perihal keanekaragaman caleg yang ada di Kota Jayapura, Ketua Bapilu Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU)  Provinsi Papua Kumar S.Ag menjelaskan, setiap parpol tak beda satu sama lain yang dilindungi UU. PKNU adalah partai yang berazaskan religius nasionalis, lintas agama dan terbuka bagi seluruh komponen bangsa tanpa membedakan Suku Agama Ras (SARA). Dalam sistem rekrutmen caleg maka partainya lebih mengutamakan seorang caleg yang memiliki semangat berjuang untuk mensejahterakan rakyat, ikut mencerdaskan bangsa dan memberikan pendidikan politik bagi rakyat. “Putra asli Papua mendominasi caleg PKNU bisa menjadi rahmat bagi masyarakat bukan malapetaka bagi rakyat,” ujar Kumar, seraya menambahkan, kalau semua sepakat untuk melakukan perubahan dan mensejahterakan masyarakat, maka mari berjuang bersama masyarakat khususnya masyarakat yang mendiami kota Jayapura.
Kebangkrutan parpol dilandasi ketidakberpihakan terhadap rakyat. Sebuah fenomena sosial yang terjadi saat ini adalah masyarakat makin jenuh dengan janji-janji perubahan yang dihembuskan parpol tertentu. “Fenomena sosial itu harus kita hindari. Tanpa janji muluk tetapi bekerja riil untuk masyarakat,” urai Kumar, seraya menunjukkan aksi sosial dan aksi keagamaan yang telah dilakukan PKNU sebagai partai baru tetapi penerimaan masyarakat luar biasa.
Menurut Kumar, dirinya terjun ke politik hanya karena keterpanggilan moral untuk melakukan perubahan sistem, seperti disektor pendidikan dan kesehatan. Pendidikan untuk semua warga masyarakat, kata dia, harus dirasakan seluruh anak bangsa, terutama masyarakat ekonomi menengah kebawah. “Tak hanya orang kaya tetapi pemerintah mesti memberikan peluang yang layak sesuai UU. Tak mampu membeli obat caleg PKNU harus memperjuangkan itu,” tegasnya.
Bolivar Sigalingging, caleg dari Partai Demokrat untuk DPRD Kota Jayapura di Dapil III (Heram, Abepura, Muara Tami) menuturkan, pemilih di Kota Jayapura adalah pluralisme yang membedakan dengan di wilayah pegunungan dan kabupaten pemekaran di Provinsi Papua. “Karena kita pluralistik maka kita harus mampu bersaing secara benar dan fair untuk meraih suara rakyat,” tutur Bolivar.
Menurut Bolivar, jikalau rakyat mempercayakan kepadanya untuk mengemban tugas di legislatif, maka ia berjanji akan melayani masyarakat di Kota Jayapura dengan sebaik-baiknya. “Saya yakin masyarakat Kota Jayapura akan maju dan sejahtera,” ujarnya.
 
Caleg Harus Sejahterakan Masyarakat Port Numbay
Willem Sroyer, caleg dari Partai Barisan Nasional untuk DPRP Provinsi Papua mengatakan, siapa saja caleg yang nantinya terpilih mewakili aspirasi masyarakat di wilayah ini mesti mampu mensejahterakan masyarakat Kota Jayapura khususnya masyarakat Port Numbay. “Saya tak mempermasalahkan dari mana asalnya caleg, tetapi dia harus mencintai dan jujur bekerja diatas tanah milik orang Port Numbay,” ujar Sroyer, seraya menegaskan, apalagi kitong dari luar cari makan di Port Numbay kenapa tra berdayakan mereka,” ujar Sroyer. 
Dikatakan Sroyer, pembangunan yang dilaksanakan di  Kota Jayapura belum menyentuh warga Port Numbay khususnya orang Kampung Kajoe Pulo, Kajoae Batu, Injros, Tobati, Skouw (Muara Tami), Waena, Yoka, Nafri dan lain sebagainya.
Dana Otsus dan APBD trilunan rupiah, kata Sroyer, seharusnya dimanfatkan untuk membangun infrastruktur bagi masyarakat seperti pendidikan, kesehatan dan pemberdayaan ekonomi rakyat. Tetapi sebaliknya, dana itu ternyata lebih banyak digunakan untuk membayar gaji birokrat atau segelintir orang yang mempunyai kepentingan dengan elit birokrat. Dana Otsus khusus bidang pembangunan kesehatan apabila diserap seluruhnya, maka kesehatan bagi orang asli Papua dapat terjamin. “Warga Kampung Skoiw yang tak jauh dari pusat kota ternyata telah enam tahun tak menikmati listrik. Warga Injros tak bisa menikmati air bersih. Jaringan air bersih di Tobati terputus. Padahal uang banyak kenapa tak menyewa teknologi tinggi untuk pembangunan jaringan air bersih bagi masyarakat Port Numbay,” Sroyer menegaskan.
Sebagai kontraktor asli Papua ia acapkali mengalami hambatan saat mengikuti proses tender sesuai dengan mekanisme dan aturan yang dikeluarkan pihaknya tetap dikalahkan dan memberikan kemenangan kepada kontraktor Non Papua. “Kami rasa kesal karena mereka tak memberdayakan orang asli Papua. Kami iri karena UU Otsus yang diberikan kepada kami tak berguna. Seharusnya UU Otsus digunakan supaya ada keberpihakan kepada kami,” ungkap Sroyer. “Hal inilah yang memacu saya untuk maju sebagai caleg di DPRD Provinsi Papua,” tutupnya. (Musa Abubar/Makawar da Cunha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *