Tablanusu, Kampung Wisata Yang Unik

Image

Jubi – Pantai Tablanusu, sebuah kampung kecil yang terletak didistrik Depapre Kab. Jayapura yang menyimpan beragam keunikan (Foto : Jubi/Carol Ayomi)

 
JUBI—Tablanusu, sebuah kampung di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Papua ternyata memiliki pesona alam yang sangat indah. Uniknya, kampung yang terletak dipinggiran pantai ini ternyata menyimpan beragam misteri atas “Batu Alam Hitam”. Sebuah kelebihan yang agak berbeda dari kampung lainnya di Papua.

Tablanusu berasal dari kata “Tepuaonusu”. Terdiri atas “Tepera” atau nama Sebuah Suku dan “Onusu” yang artinya Turunnya Matahari (Sunset). Selain Batu Alam Hitam, Tablanusu juga mempunyai dua buah pulau kecil tak berpenghuni. Konon menurut ceritera, pulau ini timbul dari akibat terjadinya Tsunami. Pulau ini ditumbuhi tanaman Anggrek yang menjadi kekhasannya. Pada sore hari, pulau tersebut biasanya menjadi tempat persinggahan dari berbagai macam jenis burung. Burung-burung tersebut biasanya akan berjejer diranting pohon dan membentuk sebuah pemandangan yang sangat indah takkala matahari akan terbenam.
Hanya 45 km dari Bandara Udara Sentani, Kampung Tablanusu dapat ditempuh selama kurang lebih 30 menit dengan menggunakan kendaraan darat ke Depapre. Dilanjutkan selama 10 menit dengan perahu (Jhonson). Untuk menuju ke Tablanusu, anda juga akan melintasi sejumlah tempat bersejarah. Salah satunya pelabuhan pendaratan tentara sekutu Amerika Serikat pada perang Dunia ke II.  Pelabuhan ini menjadi salah satu bukti sejarah yang menyempurnakan Kampung Tablanusu menjadi daerah yang sangat berpotensi untuk menjadi “Desa Wisata”.
Awalnya masyarakat Tablanusu bermukim di Kampung Kewayo. Namun setelah Kewayo lenyap ke dalam lautan bersama Gelombang Tsunami, masyarakatnya pun berpindah ke Kampung Bitiayo. Pada tahun 1880 kampung Bitiayo merupakan basis para pedagang dan pemburu burung dari negeri China. Sejumlah pendatang dari luar Bitiayo juga semakin meramaikan kampung tersebut pada tahun 1885. Atas pengaruh warga pendatang ini,  Penduduk Kampung Tablanusu akhirnya mulai merantau ke Ambon dan pulau Jawa, dalam tahun yang sama. Kehadiran kembali para perantau masyarakat Tablanusu pada tahun 1900, membawa pembaharuan kehidupan masyarakat di Tablanusu.
Pada 26 November 1911, seorang pendeta datang ke Tablanusu membawa Turunnya Injil. Pendeta itu berasal dari Ambon, Amo Pasal Besi. Selanjutnya, Pada 15 Mei 1945 setelah berakhirnya perang Dunia ke II, masyarakat Tablanusu akhirnya berpindah ke Separi Boru dan menetap disana hingga hari ini.

Kampung Wisata
Kampung Tablanusu dipilih untuk digarap menjadi kampung wisata bukan tanpa alasan. Karena berbagai keunikan seperti yang terurai diatas, akhirnya menjadikan kampung yang memiliki beragam hal unik ini akan menjadi bagian dari destinasi pelaksanaan FDS Juni mendatang. Tablanusu akan dijadikan sebagai bagian kunjungan para wisatawan baik mancanegara maupun domestik. Hamparan pantai Tablanusu yang bagaikan sebuah teluk kecil, juga telah menjadikannya indah sejauh mata memandang.
Dengan luas sekitar 230,5 Hektar, kampung Tablanusu memiliki populasi penduduk 402 orang. Terdiri dari 230 orang pria dan 172 orang wanita. Di Tablanusu menetap sebanyak 10 Suku yakni Suku Sumile, Danya, Suwae, Serantow, Wambena. Somisu, Yakarimlen, Apaserai,  Yufuwai dan terakhir Selli.
Konseptor Kampung Wisata, Mian Simanjuntak kepada JUBI beberapa waktu lalu berujar, untuk membuat konsep kampung wisata, yang utama digarap adalah pembangunan SDM masyarakat kampung. Cara yang dilakukan adalah dengan memberikan pelatihan-pelatihan bagi masyarakat secara berkelanjutan dan berkesinambungan agar dapat berperan aktif menjalankan roda kepariwisataan.
Menurutnya, daya tarik kekuatan pariwisata Indonesia terletak pada masyarakatnya. Namun jika ada pertanyaan “Apa sesungguhnya kekuatan atau daya tarik pariwisata Indonesia yang membedakannya dengan negara lain, sehingga layak dijual ? Pada umumnya orang akan menjawab, keindahan alamnya. Untuk yang jarang melakukan perjalanan wisata ke mancanegara maka jawaban tersebut mungkin benar. Karena memang tidak pernah melihat alam lain. Atau budayanya, tapi budaya yang mana? Papua, Bali, Jawa, Toraja, atau yang mana?
Di Indonesia, pengelolaan peninggalan budayanya memang masih belum sebanding dengan peninggalan budaya Yunani, Roma dan Mesir.  Bahkan di kawasan Asean saja, pengelolaan peninggalan budaya kita masih ketinggalan dibandingkan dengan Thailand atau Kamboja dengan Angkor Wat-nya. Kesemuanya ini memang perlu dijaga agar tidak timbul arogansi yang sempit bahwa Indonesia adalah segalanya dan terindah di dunia.
Sesungguhnya, keindahan alam ataupun peninggalan budaya secara fisik tidak lebih dari seonggokan gunung atau candi ataupun benda/bangunan lainnya, ataupun pantai yang indah yang juga dimiliki oleh berbagai negara yang lokasinya berdekatan dengan lumbung turis internasional. Karena tanpa adanya komunitas disekitar monumen, gunung atau pantai maka obyek wisata tersebut tidak lebih dari benda mati, tidak ada roh kehidupan dan bahkan tidak berarti apa-apa bagi pengunjung. Oleh karena itu haruslah disadari bahwa kekuatan pariwisata Indonesia adalah terletak pada manusianya. Manusia yang hangat, ramah tamah, murah senyum dan gemar menolong tamunya, sehingga membuat “kangen” untuk kembali lagi.
Gambaran ini menunjukkan umumnya manusia Indonesia memang bercirikan demikian. Meskipun harus diakui juga bahwa terdapat juga sekelompok kecil bangsa Indonesia yang mempunyai tingkah laku tidak seperti yang digambarkan. Tingkah laku buruk itu hanyalah ekses dari berbagai perubahan yang saat ini sedang berlangsung di Indonesia. Untuk Indonesia secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa, kekuatan pariwisata kita adalah manusia maka berbagai langkah penggarapan harus difokuskan kepada manusia. Sebenarnya ini sudah dirintis pada tahun 2001 dengan memperkenalkan branding Indonesia, just a smile away. Tema ini pada akhirnya memang membuahkan hasil dengan pencapaian wisman pada tahun 2001 sebesar 5,153 juta dan mentok sebesar 5 juta pada tahun 2002. Sayangnya branding yang belum begitu dikenal di Malaysia Truly Asia ini harus mengalami penggantian tanpa alasan yang jelas.
Selain itu, hendaklah disadari bahwa sektor pariwisata adalah penyedia kesempatan kerja yang sangat dominan, yakni 10 % dari lapangan kerja di Indonesia. Jumlahnya pun sangatlah besar, misalnya saja tenaga kerja langsung sebanyak 7,3 juta dan yang tidak langsung 5 juta orang. Sehingga bila terjadi permasalahan yang menghambat kemajuan pariwisata pasti akan membawa dampak yang sangat luar biasa terhadap ketersediaan lapangan kerja. Oleh karena itu berbagai strategi pun harus diarahkan ke sasaran penciptaan lapangan kerja atau paling tidak memelihara jumlah tenaga kerja yang ada sekarang.

Jelang Pelaksanaan FDS Juni 2009
Setelah dianggap sukses menyelenggarakan Festival Danau Sentani 2008 yang diselenggarakan pada pertengahan Juni tahun lalu, festival serupa kini direncanakan akan digelar kembali dalam tahun ini. Tablanusu menjadi bagian dalam festival tersebut. Panitia  FDS, Mian Simanjuntak yang juga General Manager Hotel Sentani Indah mengakui kalau pada awalnya, penyelenggaraan Festival Danau Sentani 2008 banyak dikawatirkan oleh banyak kalangan. Khususnya para pemerhati pariwisata di Papua. “Ini sangat kami pahami karena persiapan akbar ini hanya dipersiapkan dalam kurun waktu yang singkat. Tetapi, rasa kekhawatiran tersebut terbayar,” ujar Simanjuntak.
FDS 2008 sendiri dibuka oleh Menteri Pariwisata dan Budaya Republik Indonesia, Jero Wacik dengan disaksikan oleh Gubernur Papua, Barnabas Suebu dan Bupati Jayapura,  Habel Melkias Suwae. Dalam kesempatan itu, ditandatangani Prasasti Festival Danau Sentani oleh Menteri Pariwisata dan Budaya. (Anang Budiono)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *