Kapitalisme Menggusur Papua

Image

 

Oleh: Lamadi de Lamato (*)

JUBI—Ekonomi kapitalisme disebut-sebut telah mati dengan krisis dunia yang terjadi di Amerika Serikat (AS) saat ini. Runtuhnya gedung kembar World Trade Center (WTC) pada tanggal 11/9/99 merupakan awal mula symbol kapitalisme tersebut sebenarnya mulai tumbang. Jika dihitung terpaut 8 tahun antara krisis ekonomi di AS dan runtuhnya WTC. Betulkah kapitalisme akan mati? Pertanyaan tersebut masih debatable.

Namun bagi bangsa Indonesia terutama yang pro pada ekonomi alternatif, kapitalisme memang harus segera diganti biar kita tidak kalang kabut seperti sekarang. Amerika yang terkena krisis tapi dampaknya bisa dirasakan oleh seluruh Negara di dunia termasuk Indonesia. Biar kita terbebas dari dampak yang timbul dari resesi yang sama, bangsa kita harus merumuskan model perekonomian alternatif yang aman. Trauma krisis tahun 1996 bisa menjadi contoh, betapa bangsa kita sempat anjlok luar biasa saat diterpa dampak krisis regional. Kurs rupiah dari Rp 2500 naik menjadi Rp 11000 per dolar AS, sebuah angka yang sempat membuat perekonomian negara kita kolaps dalam waktu yang cukup lama. Dashyat benar krisis saat itu, bukan bank-bank saja yang harus dilikuidasi tapi di sektor yang lain pun saat itu mengalami kekacauan yang teramat luar biasa.  Politik berjalan dengan abnormal, orang miskin karena PHK bergelimang dan masih banyak lagi. Membayangkan hari-hari saat  krisis memang teramat pilu dan menggetirkan.    
Tidak perlu jauh-jauh, di Papua efek ekonomi kapitalisme yang terjadi di luar sana bisa juga kita lihat di sini. Kapitalisme dipersoalkan karena wataknya yang tidak sesuai dengan semangat hidup bangsa kita yang pada dasarnya bersifat komunal. Individualism, jurang antara yang kaya dan miskin dalam memperoleh kekayaan begitu sangat lebar  adalah sedikit dari watak buruk ekonomi impor tersebut. Kapitalisme juga berwatak tega terhadap ekonomi kecil.
Bukti otentik kapitalisme memang teramat menggetirkan. Seolah dalam sekejap wajah Papua yang 10 tahun silam masih begitu ‘ramah’ tapi sekarang ini ekonomi di Papua menjadi sangat ‘angkuh’. Di sepanjang jalan terlihat ada yang kontras, ekonomi kapitalisme berdiri dengan angkuhnya dengan memperlihatkan kemewahannya, sementara di depannya berjejer para penjual pinang, sayur-sayuran, kerajinan yang saya simbolkan dengan kesederhanaan. Memang sepintas ekonomi kota berjalan dengan simbiosis-mutualisme tapi tahukah implikasi dari fenomena model tersebut? Menggetirkan dan menghawatirkan!. Dua kalimat itu memang tidak cukup mewakili kecemasan kita. Tapi fakta bahwa Papua sedang mengalami proses aliaenasi pelan-pelan dengan watak kapitalisme adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari lagi.       
Nafri, Abepantai, Skyline, Yoka dan Pulau Koso adalah beberapa kampung yang bisa kita jadikan contoh dari implikasi dari kapitalisme yang menggusur tadi. Kampung pertama (Nafri)  penduduknya mayoritas orang asli Papua. Beberapa dasawarsa yang lalu, mereka dikenal sebagai pemilik tanah di sebagian kota Jayapura. Tapi tahukah Anda sekarang, tanah mereka yang banyak tadi sudah terjual demi proyek yang bernama pembangunan. Sejahterakah mereka setelah mereka memperoleh uang dari penjualan tanah tersebut? Hemat penulis tidak! Kampung Nafri perlahan menjadi kampung yang kumuh dan paling ditakuti karena sangat rawan dengan tindakan kriminalitas. Tentu, mudah-mudahan ini bukan pertanda kalau pembangunan perlahan-lahan mulai menggusur mereka seperti fenomena masyarakat Betawi di Jakarta.
Abepantai adalah kampung yang konon sebagai kampung paling ramai di kota Jayapura dahulu kala. Penghuni kampung ini rata-rata adalah pendatang yaitu orang Buton, Fak-Fak dan lain-lain. Keramaian kampung ini sama seperti daerah kunjungan wisata para perantau dari Buton. Dimanapun orang Buton bertebaran di kota Jayapura, pasti mereka sangat mengenal kampung ini. Keunikan kampung ini terletak pada pesta Kadayo dan cewek-ceweknya. Sudah pasti daya tarik inilah yang membuat kampung ini begitu ramai pada saat itu. Tentu selain itu, kampung ini terkenal dengan lumbung pertanian yang mensejahterakan masyarakat setempat. Tapi apa yang terjadi setelah pembangunan digalakan?  
Realitas kampung ini lagi-lagi menggetirkan, kampung ini sekarang menjadi kampung yang kumuh dan gelap di malam hari karena masyarakatnya enggan menyalakan lampu. Lapangan pekerjaan pertanian yang menjadi tumpuan hidup mereka selama ini perlahan mulai hilang karena geliat pembangunan yang luar biasa. Banyak diantara mereka kini mulai beralih profesi, sebagai pemungut sampah, kuli bangunan, tukang ojek dan lain-lain. Lagi-lagi dalam sekejap pula, kampung ini menjadi kampung yang tidak menarik. Identitas kampung Buton yang “wah” di masa lalu, kini berubah 180 derajat  menjadi kampung Buton yang kumuh dan terpinggir.
Pelajaran apa yang bisa kita peroleh dari realitas tersebut? Pertama, pembangunan dipercaya dapat mempercepat kemajuan suatu daerah memang tidak bisa dibantah. Tapi tahukah dimanapun pembangunan, pasti melahirkan efek negatif. Arif Budiman dalam bukunya Pembangunan Dunia Ketiga (Gramedia;1991) tercengang dengan model ekonomi kapitalisme yang begitu cepat menggusur dan mengalienasi masyarakat yang tidak siap. Kedua, tahukah juga bahwa alianasi tersebut terjadi karena penguasaan sektor-sektor vital dimiliki oleh beberapa gelintir orang. Kasus penguasaan tanah oleh sebuah perusahaan terhadap tanah-tanah yang ada di kota Jayapura dan sekitarnya telah menyebabkan kebingungan baru bagi sebagian masyarakat kita.
Mereka dilarang berkebun dan akhirnya terjadi pengangguran baru karena tanah-tanah yang tadinya menjadi lahan pertanian kini telah dipatok oleh pemiliknya. Kasus ini bisa ditemukan pada masyarakat petani di Skyline. Begitupula dengan motif pembangunan yang ingin menggusur masyarakat pulau Koso, Jayapura Selatan. Para penghuninya yang rata-rata berprofesi sebagai nelayan itu ingin ditertibkan karena di anggap merusak pemandangan pembangunan. Teralienasinya masyarakat dari proses pembangunan akan semakin banyak terjadi. Kasus daerah-daerah itu hanya sedikit dari contoh kapitalisme yang menggusur.
Lalu apa yang harus diperbuat agar pembangunan bisa lebih ramah pada kelompok yang rentan di atas? Program pemberdayaan dengan model piramida terbalik sebenarnya sangat tepat dalam menjawab problem tersebut – porsi anggaran lebih besar ke kampung-kampung daripada untuk pemerintah. Tapi fakta di lapangan, program itu ternyata tidak berjalan dengan baik karena perilaku elit kita sendiri. Jika ditarik, perilaku elit yang tidak konsisten itu sesungguhnya adalah bagian dari ekses kapitalisme juga. Jadi, impian bahwa pembangunan yang bernama berkeadilan sebenarnya tidak ada dalam logika kapitalisme. Jika banyak Negara yang sudah terjebak dan sudah melawan kapitalisme seperti Bolivia, Venezuela dan beberapa Negara di Asia. Mengapa bangsa ini belum juga merumuskan sesuatu yang baru dan dapat menyelamatkan ekses negatif dari ekonomi kapitalisme tersebut?
Keinginan itu pastinya ada tapi tanpa pemerintah yang kuat, berani dan konsisten maka bangsa ini akan tetap berkutat di situ saja. Kita bagai negara yang berada dalam lingkaran setan kapitalisme. Kendati kita sadar bahwa ini salah tapi kita tidak punya keberanian untuk mengambil keputusan secara cepat dan berani.
Sebelum kita terjerambab dalam krisis sosial karena geliat pembangunan, khususnya di Papua maka patut kiranya kita bisa membaca tanda-tanda ekses kapitalisme tadi dengan bijak. Siapa lagi yang harus berpikir dan mengantisipasi efek-efek kapitalisme di sekeliling kita kalau bukan generasi sekarang. Jika kita terbuai dengan model sekarang maka sesungguhnya kita tidak ada bedanya dengan keledai. Contoh kota-kota besar yang mengagung-agungkan kemajuan fisik dalam waktu 32 tahun hanya menghasilkan beberapa gelintir orang kaya tapi melahirkan puluhan juta rakyat yang kehilangan masa depan yang bertebaran di kolong-kolong jembatan. Kita tinggal memilih, maukah kita seperti keledai yang jatuh di lubang yang sama? Tentu kita berharap apa yang terjadi di kota besar lain, tidak akan sampai terjadi di Papua. Kalau itu impian kita, maka saatnya kita berbenah bila kita masih ingin otensitas budaya, alam dan masyarakat kita bisa terjaga baik dari generasi ke generasi. Semoga.

 

(*) Direktur La-KEDA Institute Papua dan  Penulis Buku Bola Liar Kegagalan Otsus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *