Jelang Satu Abad Kota Jayapura X

Image

Kota Jayapura memang berubah sangat cepat. Saat ini, kiri kanan jalan utama kota Jayapura nyaris dipenuhi ruko dan mall (Foto : Jubi/Yunus Paelo)

 
99 Tahun Port Numbay: Ruko dan Mall Mengisi Wajah Kota
 
JUBI—Beberapa hari jelang ulang tahun ke 99, Walikota Jayapura MR Kambu meletakan batu pertama guna membangun sebuah pusat perbelanjaan bernama Ramayana.

Lokasi Ramayana terletak di samping gedung DPRD Kota Jayapura Kotaraja sebuah pusat perbelanjaan modern akan berdiri megah. Kota Jayapura  bukan lagi milik warga Port Numbay, keberagaman suku bangsa dari seluruh Indonesia tumpah ruah mengisi pelosok kota mulai dari lorong hingga lereng bukit. Baik sebagai pegawai, non pegawai, pencari kerja untuk mengisi lowongan pekerjaan di mall, ruko termasuk bangunan baru Ramayana. Ribuan ruko dari batas kota Jayapura hingga pusat kota terus saling berkejaran memenuhi sisi jalan jalan utama. Inikah yang disebut wajah Kota Jayapura yang sebentar lagi genap satu abad?
“Dulu di sekitar rumah kami di jalan proyek banyak tanaman pohon Matoa dan  babi yang suka datang menggali gali tanah dibawa pepohonan rindang mengais-ngais biji-biji Matoa yang jatuh,” ujar Paitua Hans Ohee warga Waena Kampung yang berpindah dari Kampung Asei sekitar 1950-an kepada JUBI mengenang masa-masa awal di daerah kelahirannya.
Waena yang dulu ditempati warga penduduk asli setempat kini lambat laut menepi dan merapat ke gunung dekat Gereja GKI Petrus bersama Ondoafi (Kepala Suku) Ramses Ohee menempati daerah khusus yang disebut Waena Kampung.
Wajah kampung sudah berubah jadi kota dan tentunya warga setempatpun  ikut menyesuaikan diri seirama musik regae dan dangdut yang selalu didendangkan para penjual kaset VCD di sepanjang pertokoan di Waena.
Memang kota yang berulang tahun pada 7 Maret 1910 sesuai dengan kedatangan Kapiten Laut  Sacsche yang tiba Pulau Debi di Teluk Youtefa. Kemudian Kapten Sasche memproklamirkanya sebagai Kota Hollandia sebagai wilayah pemerintahaan Belanda di Nieuw Guinea. Hollandia terus berkembang sesuai namanya terus berganti Belanda memakai nama Hollandia dan selanjutnya pemerintah Indonesia memakai nama Kota Baru, Sukarnapura dan akhirnya menjadi Jayapura.
Perkembangan dan perubahan Kota Jayapura tidak bisa disangkal berbagai pihak termasuk tokoh tokoh adat dari Port Numbai. George Awi Ketua Lembaga Masyarakat Adat Port Numbay (LMA) mengakui daerah kelahirannya sangat maju pesat. Meski demikian pembangunan fisik kota Jayapura hanya sesuatu yang tampak di permukaan saja tetapi bagaimana dengan masyarakat setempat khususnya Yoka, Waena, Kayu Batu, Kajoe Pulo, Injros, Tobati dan Nafri. Mungkin hanya mereka yang tinggal di Kampung Skouw Mabo, Sae dan Yambe sedikit agak berlega karena masih memiliki lahan yang cukup untuk berkebun dan lautan Pasifik terbentang luas memberi peluang bagi mereka untuk segera melaut mencari ikan.
Bagi warga Port Numbay yang lain tentunya akan berjuang bersama warga Kota Jayapura untuk mencari peluang kerja baik sebagai PNS dan swasta.
Namun yang jelas permasalahan Kota Jayapura bukan hanya lapangan kerja atau berwiraswasta tetapi kesembrawutan bangunan dan lalu lintas ikut pula meruwetkan wajah kota yang terus semakin berbopeng dan penuh bintil bintil alias kaskado dan panu.
Marthin Chaay, warga Kajoe Pulo justru mengingatkan Wali Kota Jayapura agar tegas menindak warga yang dengan seenaknya membangun tanpa menghiraukan aturan dan nilai estetika sebuah kota. ”Kota Jayapura butuh Wali Kota yang tegas,” kata Marthin Chaay Sekretaris DPP Inkindo Provinsi Papua kepada JUBI beberapa waktu lalu di Jayapura.
Bukan itu saja beberapa warga Kota dalam Surat Pembaca yang diterima Redaksi JUBI bahkan mengeluh pemadaman lampu yang tak bergiliran  dan mati seenaknya saja. Puncaknya tatkalah Persipura melawan Arema Malang warga datangi PLTD Waena untuk segera menyalahkan lampu karena mereka hendak menonton lanjutan pertandingan sepak bola Indonesia Super Liga (ISL) 2008-2009.
Bukan itu saja para sopir taksi pun ikut seenaknya menentukan tarif angkutan tanpa menghiraukan aturan yang dikeluarkan Wali Kota Jayapura. “Waktu BBM naik taksi protes naikan harga sebaliknya BBM turun mereka tidak mau terima penyesuaian tarif,” kata Mama Rosa, warga Waena heran.
Menanggapi tingkah para sopir ini, Paskalis, warga Abepura justru meminta agar Pemkot Jayapura harus membatasi para pemilik angkot. “Kalau hanya memiliki satu buah angkot sebaiknya dipakai sendiri dan seorang pengusaha angkot seharusnya punya mobil angkot minimal 10 buah kendaraan,” tegas Paskalis seraya menambahkan kalau hanya satu atau dua mobil angkot sebaiknya pakai sendiri untuk keluarga. Kalau kondisi ini dibiarkan terus sebaiknya Pemerintah Kota Jayapura berlakukan angkutan umum yang dikelola pemerintah seperti Bus Damri saja dari pada angkutan umum swasta yang lebih banyak merugikan konsumen. Pasalnya warga kota banyak dirugikan mulai dari waktu, uang dan tentunya kegiatan sehari-hari bisa terganggu kalau satu hari para sopir mogok.
Lalu apa yang perlu dibenahi untuk memajukan Kota Jayapura agar bertumbuh secara manusiawi bukan berkembang karena para pemilik modal ingin berinvestasi? Minimal Kota Jayapura harus bertumbuh menjadi kota beriman sesuai visi dan misinya. Kalau tidak akan berkembang sesuai ukuran fisik semata dan mengabaikan wajah kota yang sesungguhnya sesuai karakter adat Port Numbay wilayah Budaya Tabi.
“Salah satu yang akan ditampilkan dalam menyambut Ulang Tahun Kota Jayapura yang ke 99 tahun menampilkan Pesta Budaya Port Numbay,” tutur Yosef Faitulayanan, Koordinator HUT Kota Jayapura kepada JUBI belum lam ini.
Menurut Yosef sebanyak 10 ondoafi sewilayah Port Numbay akan mengisi HUT Kota Jayapura dengan menunjukan tari tarian dan budaya dari wilayah masing masing. “Satu group tari menyiapkan 25 sampai dengan 30 penari untuk menunjukan kebolehan masing masing,” tambah Yosef.
Apalagi, lanjut Yosef, pesta adat Port Numbay ini dicanangkan hingga tahun 2010 tepatnya 100 tahun Kota Jayapura.
Adapun maksud pesta budaya ini kata dia agar publik bisa mengetahui budaya warga Port Numbay dan juga menjaga agar budaya mereka masih tetap terjaga dari perkembangan perubahan Kota Jayapura.
Memang kehadiran warga baik sebagai pekerja maupun penanam modal jelas memberikan kontribusi positif tetapi juga ada ikutan lain yang meminggirkan atau bersifat negatif. Sisi buruk negatif tentu saja lingkungan dan keseimbangan alam ikut rusak sebagai gambaran tanah longsor di RSUD Dok II. Krisis air minum terutama gejela perambahan di sekitar kawasan Cagar Alam Cycloop. Hujan hanya beberapa jam jalan-jalan utama ibarat sungai dan kali-kali kecil. Lebih parah lagi Pasar Youtefa terendam air bagaikan danau danau kecil membuat warga penjual gelisah setiap ada hujan.
Perkembangan kota yang maju pesat ini tak terlepas juga dari bentuk wajah kota yang semakin tak jelas. Mau jadi ibukota Provinsi Papua atau tetap menjadi ibukota Kota Jayapura. Tak jelas mau ke mana wajah Port Numbay ini, mau dibilang Abe pusat pendidikan tapi banyak mall dan ruko bertumbuh.
Terpaksa ikut maunya para perencana dan pemilik modal. Pemerintah yang tadinya jadi fasilitator antara warga dan pemodal tak mampu mengendalikannya, kepentingan investasi lebih kuat ketimbang elemen-elemen lainnya.  
Namun yang jelas karakter Kota Jayapura sangat besar ditentukan warga yang bermukim dan menetap tinggal di atasnya. Bahkan masyarakat yang tadinya hidup beberapa waktu lalu di wilayah tanah asalnya terpaksa harus berpikir untuk mengkaji ulang nasib kota ini beberapa tahun ke depan. Minimal Walikota Jayapura ke depan mampu memberikan ruang-ruang bagi warga tak mampu dan merindangkan kota agar terus memberikan kesejukan agar tak menjadi awal malapetaka bagi warga Kota Jayapura. Bravo Kota Jayapura ke 99. (Dominggus A Mampioper)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *