Mengapa Maleo Betina Tidak Mengerami Telurnya?

Image
 
JUBI—Ratusan bahkan ribuan tahun silam burung maleo juga sama persis seperti burung-burung lainnya. Tidak ada hal yang istimewa. Burung jantan dan betina selalu bersama-sama membuat sarang lalu burung betina meletakkan telurnya. Saat burung betina mengerami telur, burung jantan kian kemari mengantarkan makanan.

 Kini kita lihat burung Maleo tak sama burung yang lain. Burung lain membuat sarang di atas pohon atau semak-semak tetapi burung Maleo tak melakukan itu. Maleo menaruh   telurnya di atas tanah. Sedikit dahan, sedikit daun lalu selesai sudah burung Maleo menaruh telurnya yang besar, bagus dan berwarna agak putih kecoklatan di sana.
Pada suatu generasi seekor Maleo betina menganggap bahwa mengerami telur sangat membosankan. Betina sangat menderita. Ia memberontak terhadap takdir ini. “Saya setiap hari siang dan malam harus duduk berdiam diri mengerami telur-telur itu,” pikirnya. “Hampir sama sekali tak ada waktu untuk makan.” “Hei mengapa wajahmu begitu tak bersahabat?” tanya burung Maleo jantan suatu ketika. “Saya tak menyukai pekerjaan mengeram,” kata maleo betina. “Ingat seekor betina harus tetap mengeram dan para jantan menjaga dan mencarikannya makanan,” jawab Maleo jantan. “Datanglah kau duduk. Dan biarlah aku yang menungguimu,” tukas Maleo betina sengit. “Menunggui itu pekerjaan jantan dan mengerami itu perkerjaan betina,” ujar Maleo jantan terus menasehati.
Setelah berkata begitu Maleo jantan lalu pergi meninggalkan Maleo betina yang duduk mengeram diatas telurnya. Sampai pada malam hari jantan tak pulang ia membiarkan Maleo betina duduk disana sendiri sepanjang malam. Lalu segera betina turun dari sarangnya lalu sebisanya dia mendapatkan sesuatu untuk mengisi perutnya sebelum hari semakin gelap.
Namun betina itu tak memperoleh makanan. Betapa sakit hatinya. Meski demikian ia harus kembali ke sarangnya. Ia harus menahan lapar sepanjang malam. Dalam pikirannya ia mengatakan,”Mulai besok pagi saya tak mau lagi mengeram, saya akan pergi dari sini besok pagi. Akan saya katakan kepada Maleo jantan sialan itu saya akan pergi dan takkan kembali lagi ke sini.
Perut Maleo betina yang sangat lapar semakin melilit. Karena itu iapun tak dapat tidur sekejap pun. Tiba-tiba dia mendengar bunyi ribut-ribut. Disana Maleo jantan berdiri tertawa terbahak-bahak. Dari paruhnya yang besar dia menjatuhkan seekor cacing yang gemuk namun hal itu tak membuat perasaan Maleo betina melunak. Dia masih marah terhadap Maleo jantan. “Engkau benar-benar jantan yang tak berguna,” kata Maleo betina kepada jantannya. “Engkau berdiri disitu sambil tertawa. Bawakanlah saya makanan. Hal itu biasa dilakukan jantan yang lain juga,” ujar Maleo betina.” Tengoklah apa yang saya miliki disini,” ujar jantannya.
Ia juga agaknya merasa iba terhadap betinanya. Lalu ia mau menangkap kembali cacing itu. Tapi cacing itu telah merayap pergi hilang dalam tanah.
Giliran Maleo betina itu yang tertawa ia menertawakan jantannya yang pandir itu. “Nah lihatlah dirimu betapa kau jantan yang bodoh,” teriak Maleo betina. “Saya tak memerlukan cacing darimu, saya akan mencarinya sendiri,” ujar Maleo betina. Lalu melompatlah Maleo betina itu pergi jauh dari sarangnya. Meskipun hari sudah mulai tinggi tetapi dia beruntung masih bisa melahap beberapa ekor cacing yang gemuk-gemuk. Setelah itu surut dongkol hatinya dan mau juga ia kembali mengerami telurnya. Di sana, di dekat sarang, jantannya berdiri menunggu. “Sudah enak makan?” tanya Maleo jantan. Tetapi Maleo betina tak memberikan jawaban. “Oh pekerjaan mengeram itu lagi,” pikiran bencinya timbul lagi. “Saya harus kembali duduk di atas telur-telur itu sepanjang hari dan sepanjang malam barulah anak–anak Maleo bisa menetas. Sepanjang itu juga Maleo jantan bisa lenggang lenggok kesana kemari. Bermain-main di bawah pohon, masuk hutan, makan yang enak. Maleo betina hanya kebagian sisanya saja.
Kembali dia berdiri dan berjalan keluar dari sarangnya. “Duduklah di sana mengerami telur-telur itu,” katanya kepada jantannya. “Saya sudah tak mau lagi, kini giliranmu. Sekarang engkau yang mengeram. Dengan cakarnya yang panjang dia menunjuk ke sarangnya. Melihat Maleo betinanya mulai marah dan mulai membenci dirinya. Dia mulai khawatir. Perlahan-lahan Maleo jantan itu berjalan menuju sarangnya. Begitu perlahan ia sudah mulai dekat. Lalu melihat sekelilingnya, ia tak melihat siapa-siapa di sana. Tapi ternyata teman-temannya memperhatikan dirinya. Dibalik sebatang pohon yang besar mereka berlindung. Tentu saja mereka sangat geli melihat hal itu dan dengan terpaksa mereka tertawa. Betapa malunya Maleo jantan itu. Ia lalu mengurungkan niatnya untuk naik ke atas pohon itu. Dengan cakarnya yang tak kala besar dia menunjuk “Lakukanlah itu! ”Ia menghardik Maleo betina, “ Segera! Ayo! Kembali ke atas sarang! Betina harus mengeram. Engkau adalah betina. Ayo segera kataku.! Dengan sangat marah dia menuju Maleo betina itu. Maleo betina itu tak berani lagi menghina dirinya. Segera dia kembali ke sarangnya mengerami telurnya.
“Bagus-bagus sekali,” teriak kawan Maleo jantan itu. Mereka segera datang mendekat dari segala arah dan menertawai Maleo betina yang malang itu.
Kembali Maleo betina itu geram. Ia tak mau melihat lagi kerah jantannya. “Saya akan terus berpikir. Untuk mengeram saya tidak mau lagi. Ini adalah kali terakhir dan tak akan pernah lagi. Begitulah Maleo betina itu tetap mengerami telurnya.

Tapi mengapa begitu lama dan belum menetas. Sementara para betina yang lain telah dengan bangga berjalan kian kemari bersama anak-anaknya. Kini dia begitu menyesal, begitu sedih. Ia tak marah lagi terhadap jantannya dan jantannya tak marah lagi terhadap dirinya. Apa yang terjadi? Mengapa begitu lama? Ia mendekatkan kepalanya kepada telur-telur itu. Tapi tak terdengar suara sama sekali. Pada suatu hari seekor maleo betina tetangganya berkata. ”Apakah mungkin kita membuaka satu dari telur itu? Kita bisa melihat bagaimana telur yang satu itu?”. Maleo betina malang itu begitu terkejut.” Apa?” membuka salah satu dari telur-telur itu katamu?” Ia balik bertanya dengan hati yang sungguh berat. “ ya” kata tetangganya itu meyakinkan.
Dengan sangat hati-hati dia mulai mematuk satu di telur-telur itu. Dia tak ingin paruhnya mengenai anak maleo yang ada di dalamnya. Akan tetapi tak ada anak maleo didalam telur itu. Telur itu sudah masak. Masak? Ya telur itu telah masak pada waktu maleo betina itu marah beberapa hari yang lalu. Waktu itu semakin dia marah, semakin suhu badannya panas. Dan panas itu telah membuat telur-telur itu masak. Betapa terkejutnya maleo betina malang itu. Betapa menderitanya dia.
Maleo betina tetanganya itu pun bukanlah sesama yang baik. Dia tertawa sekeras-kerasnya. Kemudia ia mulai memanggil. “Hai kalian semua marilah dan lihat betina ini telah memanggang telurnya sendiri”. Dari segala arah para maleo berdatangan hendak melihat apa yang terjadi. Para jantan, para betina dan para induk bersama anak-anak maleonya menertawakan dan mempermalukan maleo betina yang telurnya tak dapat menetas karena masak.
Maleo betina itu malu sekali. Malu terhadap maleo betina yang berkumpul disitu, malu terhadap jantannya, malu terhadap terhadap warga maleo. Siang dan malam ia mengerami telurnya namun tak ada anak maleo yang jadi.
Tiba-tiba ia mengeraskan hatinya dan berjalan menuju hutan. Begitu jauh ia berjalan ke tempat tak ada lagi maleo yang terlihat. Disana ia berteduh di bawah sebatang pohon. Ia begitu menyesal. Meskipun begitu ia tetap bertekad, “Saya tak akan pernah mengeram lagi, tak akan,” ujarnya dalam hati.
Tinggallah dia dibawah pohon. Sendiri tidak ada teman. Sepanjang hari sepanjang malam ia tinggal ditempat itu. Tiba-tiba dia merasa lapar. Dia beranjak dari tempatnya dan melihat setumpuk daun kering. Dengan kaki yang besar dipinggirkannya tumpukan daun itu. Ya disana ada cacing-cacing yang lezat dan dia melahap semuanya. Tetapi ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Ia merasakan kakinya cukup hangat berada pada tumpukan daun-daun itu.
Terkejut dia! Lalu dia muali berfikir. Lalu dia memutuskan untuk pergi menemui maleo jantannya. “Saya telah menemukan,” teriaknya dari jauh. “Apa yang telah kau ketahui?” jawab malao jantannya marah. “Kau tahu kalau telur-telurmu yang masak itu tak menetas?”Bukankah kau telah lama tahu dan warga maleo juga tahu?”. Tetapi maleo betina itu tak mengindahkan sindiran maleo jantan. “Mari iakut saya” ujarnya. ”Mereka pergi ke tempat dimana banyak dau tertimbun disana. “Tolonglah saya,” katanya kepada maleo jantan. ”Kita membuat timbunan besar dau-daun.”
Maleo jantan tentu tidak mengerti apa-apa. Tetapi ia tetap juga mau menolong maleo betina pasangannya itu. Setelah terkumpul sebuah timbunan daun-daun yang besar.
“Pergilah tinggalkan saya sendiri disini,” kata maleo betina kepada jantannya.
Maleo jantan itu lalu beranjak pergi. Tetapi dia pergi tidak terlalu jauh melainkan berlindung di balik sebatang pohon besar dan menyaksikan apa yang diperbuat oleh maleo betina itu. Maleo betina itu membuat sebuah lubang diantara timbunan daun-daun itu dan ia duduk didalam lubang itu. Tidak berapa lama ia keluar dari lubang itu dan menutup kembali lubang itu.
“Apa yang kau lakukan?” tanya maleo jantan. “Meletakkan sebuah telur,” jawab maleo betina itu bangga. “Sebuah telur kau letakkan didalam lubang itu?” tanya maleo jantan lagi dengan heran. “Saya telah meletakkan sebuah telur didalam lubang itu,” tegas maleo betina. Besok saya akan meletakkan satu telur lagi, lusa satu telur dan begitu seterusnya sampai tujuh seperti biasanya. Dan daun-dauin itu akan mengerami telur-telur itu,”. ujar maleo betina itu lagi.

“Daun–daun itu akan memasak telur-telur mu itu,” tukas maleo jantan.

“Tidak,” jawab maleo betina itu. “Telur–telur itu masak karena waktu itu saya marah sehingga suhu badan saya semakin panas dan membuat telur-telur itu masak. Dan daun-daun itu tidaklah terlalu panas, selain itu daun–daun itu juga takkan pernah bisa marah. Dau-daun itu akan mengerami terlurku dengan aman. Dan aku takkan pernah mengeram lagi. Saya akan pergi bermain-main dan mencari makanan sama dengan para maleo jantan,” ujar maleo betina itu.

Maleo jantan tetap begitu gelisah. Ia malu terhadap maleo-maleo jantan yang lain. Mereka akan menertawai dirinya kembali. Lalu ia pergi masuk jauh kedalam hutan, sangat  jauh. Ia lalu berkesimpulan tak mau lagi bertemu dengan betinanya. (bersambung)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *