Kampung Kartini, Subur Di Tengah Ribuan Masalah

Image

Persiapan untuk melakukan musyawarah kampung yang digelar di kampung Kartini, distrik Jagebob, Merauke. Membahas tentang kebutuhan warga setempat (Foto : JUBI/Jerry Omona)

 
JUBI — Kartini di Distrik Jagebob adalah salah satu dari banyak kampung lokal yang ada di Merauke. Kartini memang memiliki banyak hal unik yang selalu menjadikannya terus dikejar. Namun sayangnya, kampung yang terdiri dari hamparan tanah subur itu kini diperhadapkan dengan ribuan masalah di bidang pertanian dan pendidikan.

Kartini merupakan salah satu kampung yang terdapat di Distrik Jagebob di Merauke. Terletak kurang lebih 1,5 Km dari pusat kota Jagebob. Untuk menuju ke sana, anda dapat menggunakan kendaraan roda dua maupun empat dari pusat kota Merauke selama kurang lebih 3 jam. Tidak ada alasan lain untuk masuk ke Kartini menggunakan pesawat udara atau kapal laut. Jarak Kartini dengan Merauke sejauh kurang lebih 100 Km. Kampung Kartini yang memiliki luas 1.250 Km2 itu, terdiri dari beraneka ragam suku. Kini, kampung itu lebih banyak didominasi oleh warga pendatang karena merupakan sebuah daerah transmigrasi yang padat. Kartini kini, dihuni sebanyak 261 Kepala Keluarga. Sebanyak 991 jiwa yang menempati kampung tersebut, hanya 17 KK saja yang berasal dari warga asli. Uniknya lagi, warga miskin yang menempati kampung yang dibangun sejak 1986 silam itu sebanyak 183 KK.
Sebagai sebuah kampung yang dikelilingi oleh rawa dan hutan, Kartini menjadi sangat sulit untuk dimasuki.  Hal tersebut tidak saja menyulitkan warga yang sebagian besarnya adalah petani untuk membawa hasil pertaniannya ke Merauke tapi juga sulit karena jalan penghubung antara Merauke dan Kartini rusak berat. Pada musim penghujan, lumpur merah akan menghiasi jalan-jalan utama didaerah ini. Telah banyak cerita beredar menyangkut keganasan jalan menuju Kartini. Sudah banyak pula truck yang harus bermalam ditengah jalan karena tak bisa melewati lumpur merah tersebut.
Kartini adalah kampung bekas Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Jagebob II SP II. Dibangun sekitar tahun 1986. Penduduknya kebanyakan dari luar Papua. Awalnya, warga yang mendiami Kartini hanya sebanyak 555 KK. Pada tahun 1989 atas dasar Musyawarah bersama warga setempat, terbentuklah nama desa menjadi Kartini. Hal tersebut mengacu pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah dan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa. Saat itu, Kartini dipimpin oleh seorang Kepala desa yang disebut kepala desa persiapan. Tugasnya adalah membantu bagian Pemerintahan dibawah pembinaan kantor unit pemukiman transmigrasi.
Setelah Undang-Undang otonomi khusus Nomor 21 Tahun 2001 disahkan, desa Kartini akhirnya berubah menjadi Kampung Kartini.

Pendidikan di Kartini
Keunikan Kartini yang telah membumi ternyata tak berjalan lurus dengan masalah pembangunan pertanian dan pendidikan di wilayah itu. Kartini dari tahun ke tahun selalu berjalan lamban. “Hal ini terutama disebabkan oleh kurangnya perhatian pemerintah daerah. Bangunan yang masih ada saat ini juga sebagian besar masih peninggalan eks transmigrasi, kalaupun ada, itu merupakan hasil pembangunan dari Swadaya masyarakat,” kata Puji Susanto, warga sekaligus petugas penyuluh propinsi Papua untuk program PNPM di Kartini, Jagebob kepada Jubi beberapa waktu lalu. Dikatakannya, pendidikan didaerah itu tak pernah berjalan semestinya. Padahal, kata dia, pendidikan sangat penting bagi anak-anak Kartini untuk dapat merubah pola hidup dan berpikir ke arah yang lebih baik.
Dari data yang diperoleh Jubi, ternyata, jumlah penduduk usia lebih dari 12 tahun dikampung itu sebanyak 74 orang, yang berhasil menamatkan pendidikan dasar hanya 25 orang saja. Diatas 15 tahun sebanyak kurang lebih 31 orang, yang berhasil diantaranya menyelesaikan SMP hanya sebanyak 25 orang. Sementara itu, yang berada diatas 18 tahun berjumlah 51 orang,  sebanyak 21 diantaranya berhasil menyelesaikan pendidikan atas. Sedangkan yang berusia diatas 24 tahun sebanyak 136 orang, yang tamat perguruan tinggi hanya 3 orang. Ironisnya, terdapat juga sebanyak 210 orang buta huruf di Kartini.
Masalah pendidikan di Kartini ternyata berbanding lurus dengan problema kesehatan dikampung tersebut. Bayangkan saja, dari frekuensi derajat Kesehatan penduduk kampung Kartini tiga tahun terakhir, ternyata jumlah penduduk yang terserang beragam penyakit dan kurang gizi sangat tinggi. Dari ratusan penduduk yang ada, 71 orang pada 2006 silam pernah menderita Malaria atau 7,8% dari jumlah penduduk. Belum lagi ditambah dengan penyakit yang lain. Ternyata setelah beberapa waktu, jumlah penderita di Kartini terus melonjak hingga 50% pada tiap tahunnya. “Itu kena malaria karena disini memang dikelilingi rawa, jadinya masyarakat banyak yang sakit,” kata Susanto. Dikatakannya, jumlah penderita Malaria bukan menjadi persoalan serius. Yang perlu mendapat perhatian lebih yakni, pada bayi yang kurang gizi. Pada tahun 2006, kata dia, ada sebanyak 5 dari 76 bayi yang menderita kurang gizi. “ Data itu baru yang tahun 2006, belum kalau kita bilang yang 2008 kemarin, pasti sangat banyak sekali,” paparnya.
 
Warga Sulit Pasarkan Hasil Pertanian
Mata pencaharian penduduk diwilayah ini sebagian besarnya adalah petani. Mereka mengolah tanah miliknya sendiri. Tanah itu diperoleh dari jatah transmigrasi. Pemilik tanah di Kartini, kini telah mencapai 215 orang. Sedangkan yang memiliki tanah ladang sebanyak 207 orang. Meskipun mereka memiliki bidang tanah yang sangat luas, tapi kerap mereka harus bertarung dengan kondisi alam yang keras. Jika pada musim kemarau, mereka tak bisa menanam padi. Saat penghujan tiba, mereka selalu juga kewalahan didalam memasarkan hasil pertaniannya. Kondisi ini menyerang seluruh warga baik pendatang maupun pribumi. Sehingga dalam satu tahun masa tanam yang sebenarnya bisa 2 kali panen, warga petani di Kartini harus puas dengan meraup satu kali panen padi. “Itu yang buat sebagian dari mereka pergi ke kota untuk memperoleh penghidupan perekonomiaan yang layak,” kata Susanto.
Dijelaskannya, sebagai daerah pertanian yang selalu dirundung masalah, Kartini memang “berat” untuk dikembangkan. Meskipun, kata dia, lahan pertanian yang dikelola masyarakat telah mencapai 275 Ha lebih. Areal perkebunannya saja mencapai 675 Ha. Tapi hal tersebut tidak menjamin, Kartini dapat bangkit secepatnya. “Itu tahun 2006, belum yang 2008. Kita juga di sini masih mendapati lahan tidur yang belum secara efektif dikelola,” ujarnya
Potensi areal lahan pertanian di kampung Kartini sebenarnya sangat layak karena relatif datar. Kesuburan tanah disana termasuk kelas “A”. Menurut hasil peta klasifikasi tanah Papua yang dibuat oleh LPT Bogor pada tahun 2006, tanah di Kartini termasuk jenis organik alluvial dan padzulik merah kering serta hedromof kelabu. Ini juga didukung dengan curah hujan yang rata-rata pertahun kurang lebih antara 1.000 sampai 2.000 mm. “Namun, itu sudah, tanah subur, tapi warga tidak bisa memasarkan hasil pertaniannya dengan baik. Jadi mereka sampai dengan sekarang hanya begitu-begitu saja,” urainya.
Susanto juga mengatakan, selain terbentur dengan kondisi transportasi yang buruk, pemerintah kerap juga menelantarkan petani. Pemerintah, kata dia, jarang memberi bantuan kepada petani seperti tractor. “Yah, kita semua berharap kendala-kendala utama yang di hadapi di kampung Kartini seperti masalah pemasaran hasil pertanian dan masalah modal usaha bagi masyarakat untuk pengadaan bibit dan pengolahan lahan pertanian dapat segera berakhir,” katanya.
Dia juga berharap, pemerintah dapat melihat kesulitan warga ini. “Ini yang harus diperhatikan pemerintah, kita berharap agar petani ke depan tidak lagi membeli bibit dengan harga tinggi sedangkan pada saat musim panen, mereka selalu sulit memasarkan hasil produksinya,” harapnya mengakhiri. (Jerry Omona)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *