Mengapa Tidak? Penggunaan Bahasa Melayu Papua Sebagai Bahasa Pengantar Di Dalam Kelas

Image

 

Oleh : Ch. Widyastuti*

 
Pendahuluan
Bahasa Melayu Papua sebagai bahasa lisan atau bahasa percakapan digunakan secara meluas di seluruh Tanah Papua. Dapat dikatakan bahwa bahasa Melayu Papua merupakan bahasa ibu bagi mereka yang lahir dan dibesarkan di Tanah Papua baik orang Papua maupun non Papua karena bahasa ini  yang dikenali dan digunakan pertama kali  di rumah maupun dalam pergaulan di lingkungan mereka masing-masing.
Pada umumnya penggunaan bahasa Melayu Papua hanya digunakan sebatas pada percakapan sehari-hari, humor/mop dan juga untuk mengungkapkan perasaan. Tetapi tidak demkian halnya dalam kegiatan peribadatan, lingkungan pekerjaan terutama di kantor-kantor pemerintahan termasuk di dalamnya adalah sekolah dan juga dalam bidang teknologi maupun ekonomi menggunakan Bahasa Indonesia standar. (Burung, 2008)
Dalam artikel ini diutarakan tentang penggunaan Bahasa Melayu Papua sebagai bahasa pengantar dalam pengajaran terutama Bahasa Inggris yang merupakan bahasa asing dan juga hal-hal positif yang dapat membantu guru maupun siswa dalam proses belajar mengajar.
Penggunaan Bahasa Papua Melayu menjadi topik yang kontroversial dalam pengajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa asing di sekolah karena dalam proses belajar mengajar dianjurkan menggunakan Bahasa Indonesia standar.
Pada saat ini penggunaan Bahasa Papua Melayu sebagai bahasa ibu diabaikan dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris terutama dalam penentuan metode mengajar, kebanyakan guru tidak memperbolehkan murid-muridnya menggunakan bahasa tersebut di dalam kelas karena dianggap sebagai bahasa pasaran padahal sebenarnya ini sangat dibutuhkan oleh murid-murid. Pengajaran dengan menggunakan pendekatan bahasa ibu dalam hal ini Papua Melayu dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris dapat diterapkan terutama dalam pengelolaan kelas, analisa bahasa, penjelasan tentang aturan-aturan tata bahasa atau grammar, diskusi tentang lintas budaya, memberikan instruksi, menjelaskan tentang kesalahan-kesalahan yang dibuat siswa dan juga untuk mengetahui pemahaman siswa tentang bahan atau materi yang diajarkan.
Pengalaman pribadi penulis sebagai guru Bahasa Inggris yang menggunakan bahasa Papua Melayu sebagai bahasa pengantar setelah Bahasa Indonesia standar ternyata dapat menjadi media untuk mencapai tujuan proses belajar dan mengajar. Berdasarkan pengalaman tersebut timbul pertanyaan “Haruskah Bahasa Papua Melayu digunakan dalam proses pembelajaran bahasa asing di dalam kelas? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perlu dilakukan suatu penelitian untuk menemukan data-data yang empiris sehingga dapat membuktikan bahwa Bahasa Papua Melayu dapat menjadi suatu media yang efektif dalam proses belajar mengajar. Penggunaan Bahasa Melayu Papua lebih banyak digunakan:  untuk menjelaskan konsep-konsep yang sukar;  menumbuhkan rasa percaya diri dan merasa nyaman karena ada kedekatan; untuk mengetahui apakah siswa telah memahami konsep yang diajarkan dan juga untuk menemukan arti kata yang baru.
 
Apakah ‘Melayu Papua’ itu?
Istilah ‘Papua Malay’, ‘Papuan Malay’, ‘Melayu Papua’ adalah nama bahasa sebelum berubah  menjadi ‘Irian Malay’ and ‘Melayu Irian’ yang digunakan oleh para Linguists, tetapi pada umunya para linguists tersebut lebih memilih menggunakan ‘Papuan Malay’ dalam peneletian mereka. (Scott, dkk, 2008), namun dalam hal ini penulis lebih cenderung menggunakan Melayu Papua. Melayu Papua merupakan salah satu variasi dari Bahasa Indonesia yang digunakan sebagai lingua franca di Papua. Melayu Papua  banyak diambil dari Melayu Ambon dan Melayu Sanger yang mana kedua bahasa tersebut sebagai lingua franca pada masa lalu, penutur  Melayu Papua kurang lebih 2 juta  orang di Propinsi Papua yang menggunakannya sebagai bahasa pertama terutama yang mendiami daerah pantai utara dan kepala burung.  (Sawaki, 2004; Burung, 2007).
Pada saat sekarang ini penggunaan Melayu Papua sudah dapat didengar di radio-radio lokal, dapat dibaca di surat kabar/harian-harian lokal namun masih terbatas pada kolom iklan dan humor dan juga dapat dilihat pada siaran televisi lokal.
Telah disebutkan di atas bahwa penelitian tentang Melayu Papua masih sangat terbatas, sehingga sangat sulit untuk menemukan sumber-sumber sebagai acuan. Karakteristik dari Melayu Papua adalah bahasa yang menggunakan stuktur SPO seperti halnya yang terdapat dalam bahasa standar, bahasa Indonesia. Dikatakan bahwa ‘Melayu Papua is an isolating language with the exception of reduplication, lexicalized and/or fossilized forms (Burung, 2004). Melayu Papua tidak mengalami proses affixasi, terdapat pengurangan konstruksi bentuk kata seperti yang terdapat pada kata ganti orang ( contoh : ‘saya’ menjadi ‘sa’, ‘kau’/’engkau’ menjadi ‘ko’, menurut Sawaki ‘Melayu Papua just has a set of six personal pronouns, with reduced form constructions. Inclusive and exclusive forms of the first person plural are not identified. Commonly, the language exhibits the use of prepositions. However, the deletion of preposition occurs in sentential level. (Sawaki, 2004).

Melayu Papua sebagai Media di dalam kelas
Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa Melayu Papua adalah merupakan bahasa ibu dari orang-orang Papua dan Non-Papua yang lahir dan dibesarkan di Papua. Dengan kata lain dapat didefinisikan bahwa penutur asli Melayu Papua adalah seseorang yang berbicara menggunakan Melayu Papua sebagai bahasa asli, disebut juga bahasa ibu atau juga bahasa pertama.
Dalam pengajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa asing di sekolah-sekolah yang ada di Papua terutama sekolah swasta dimana sebagian besar siswanya adalah anak Papua, penggunaan teknik mengajar ‘translation’ dengan menggunakan bahasa pertama atau Melayu Papua sangat dianjurkan, walaupun  aturan yang sebenarnya dalam proses belajar Bahasa Inggris harus digunakan setiap saat, prinsip ini sangat bagus namun kenyataannya sangat berbeda dengan yang diharapkan karena pengaruh berbagai faktor terutama penggunaan bahasa daerah yang berbeda-beda. Situasi ini yang tidak memungkinkan bahasa Inggris dapat digunakan setiap saat. Kenyataan yang ada juga bahwa sebagian besar guru Bahasa Inggris bukan penutur asli, namun demikian mereka berusaha untuk menggunakan Bahasa Inggris dalam setiap kesempatan.
Hal positif yang berkembang dalam proses pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing dimana gurunya bukan penutur asli sementara siswa mempunyai kemampuan dalam memahami bahasa ibu atau bahasa pertama yang sama merupakan salah satu prasyarat yang dapat membantu guru dalam menjelaskan ataupun menterjemahkan secara cepat dan tepat kata-kata Bahasa Inggris ke dalam bahasa ibu  walaupun ini bukan merupakan jaminan jika siswa dapat memahami secepat mngkin tentunya guru juga harus benar-benar mengerti dan paling kurang dapat menggunakan bahasa ibu tersebut dalam hal ini adalah Melayu Papua.
Penggunaan bahasa Melayu Papua dalam konteks pembelajaran di Papua juga efektif bagi pelajar ditingkat pemula terutama dalam memberikan instruksi dan juga untuk memastikan apakah konsep-konsep yang diajarkan sudah dipahami, contoh dalam mengajarkan ungkapan “formal invitation” dan “informal invitation”.
Bahasa Inggris : “Would you like to come to my birthday party on next Saturday?” jika di terjemahkan ke bahasa Indonesia Standar:”Maukah anda datang ke pesta ulangtahun saya pada hari Sabtu depan ?”. Bila konsep ini tidak di jelaskan lagi dalam bahasa Melayu Papua, bagi siswa yang sudah mengerti akan kata ‘anda’ mungkin tidak akan menjadi masalah namun tidak demikian halnya bagi yang belum mengerti sehingga guru dapat menyuruh siswa yang telah mengerti konsep dalam Bahasa Indonesia standar untuk membuat kalimat tersebut dalam bahasa Melayu Papua menjadi “Ko mo datang ke sa pu pesta ulangtahun hari Sabtu ka?”, dengan demikian guru dapat merasa yakin bahwa konsep yang diajarkan telah dimengerti.
Guru adalah aktor, sehingga banyak cara yang bisa digunakan apakah menggunakan isyarat, flashcards, ataupun sumber-sumber lain sebagai alat dalam menyampaikan materi, dengan kata lain guru harus bisa menciptakan sesuatu yang menarik. Kita tahu bahwa suatu bahasa dipelajari melalui pengalaman, sehingga pengalaman berbahasa siswa sedapat mungkin dapat digunakan demi tercapainya tujuan pembelajaran Bahasa Inggris.

Kesimpulan
Jika dengan menggunakan bahasa ibu atau Bahasa pertama dalam hal ini bahasa Melayu Papua kita dapat melakukan sesuatu dan itu terlaksana dengan lebih baik serta dapat mengatasi kesulitan, siswa merasa nyaman dalam mengikuti proses pembelajaran di dalam kelas mengapa tidak kita gunakan Bahasa Melayu Papua sebagai bahasa pengantar walaupun itu hanya untuk minimal 2 (dua) jam pelajaran dengan kata lain guru Bahasa Inggris memperbolehkan siswanya untuk menggunakan Melayu Papua dalam pelajaran Bahasa Inggris, sehingga siswa dapat merasa bebas untuk mengungkapkan atau menggambarkan dalam bahasanya sebagai langkah pertama dalam proses pembelajaran bahasa serta dapat membangun rasa percaya diri siswa itu sendiri.

* (Penulis adalah Guru Mata Pelajaran Bahasa Inggris pada SMA YPK Diaspora Kotaraja, Jayapura)
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *