Kali Anafre : Lokasi Sakral Yang Berubah Jadi Pemukiman

Image

Bantaran Kali Anafre dulunya merupakan pusat mistik warga Kajoe Pulo. Namun saat ini, bantaran kali Anafre telah berubah menjadi permukiman kumuh. (Foto : Jubi/Carol Ayomi)

 
JUBI—Kali Anafre identik dengan air bersih, pepohonan hijau dan tempat rekreasi masyarakat sekitar Jayapura. Itu dulu, kini Kali Anafre justru berubah menjadi kawasan pemukiman padat penduduk, sampah yang berserakan dan sebagai tempat rekreasi yang tidak nyaman.

Kali Anafre memang unik. Tidak hanya dikenal karena memiliki air yang jernih dengan keindahan alam yang khas. Tapi juga kesemrawutan penduduk yang menempati bantaran kali ini. Anafre sendiri berasal dari bahasa Kajoe Pulo. Ana atau Na yang artinya air dan Fre yang artinya besar atau mulia. Warga Kajoe Pulo juga sering menyebutnya air yang mulia atau air besar. Menurut Fredrich Chaay, dari Kajoe Pulo, Anafre bermuara ke Nubai atau Numbai. Dulunya, sering digunakan oleh tetua adat untuk memandikan warga yang telah meninggal. Tempat ini juga dianggap sakral oleh warga asli setempat. Karena di sepanjang bantaran kali tersebut bersemayam roh nenek moyang mereka dan selalu menjadi saksi dalam proses pemandian orang meninggal. Tidak banyak orang yang tahu tentang suasana mistik di sepanjang kali itu. Beberapa di antaranya, termasuk Nikolas Chaay, seorang warga di Anafre, tempat tersebut memang memiliki kekuatan tertentu. Diyakini juga Kali Anafre sangat penting sebagai penyeimbang kehidupan dan lingkungan masyarakat Suku Kajoe Pulo. Warga di Bantaran Kali Anafre saat ini tidak hanya didiami oleh masyarakat asli Papua sebagai pemilik hak ulayat di Kota Jayapura seperti marga Chaay dan Ireuw. Namun juga dihuni oleh warga Non Papua.  
Kali Anafre berlokasi di Kelurahan Gurabesi, Distrik Jayapura Utara, Provinsi Papua. Anafre yang mengalir di jantung Kota Jayapura ini merupakan salah satu sumber air minum bagi masyarakat Kota Jayapura, APO, Dok 2 dan sekitarnya. Lokasi Kali Anafre  memang sangat strategis untuk pemukiman warga. Mereka melakukan aktifitas sehari-hari seperti mandi dan mencuci pakaian. Sementara untuk minum, warga mengambilnya dari PDAM.
Jika anda berjalan menyusuri bantaran kali itu, akan dijumpai juga banyak pipa penyalur yang telah berusia tua. Pipa yang memanjang hingga puluhan meter itu bukanlah pipa air minum, namun sebagai tempat pembuangan sisa limbah rumah tangga. Dikala banjir datang, limbah rumah  tangga itu akan semakin mewarnai Anafre yang telah berwarna kecokelatan. Apalagi ditambah dengan limbah dari hewan peliharaan warga yang mendiami tempat itu. Semuanya termasuk juga kandang hewan akan semakin memperburuk pemandangan Anafre dikala banjir.
Banjir akibat Anafre yang meluap bukan merupakan masalah baru bagi warga setempat. Banjir itu kerap terjadi setiap tahunnya. Banjir biasanya disebabkan oleh pembukaan lahan pertanian di kawasan itu oleh warga. Bila banjir tiba, pamandangan unik akan terlihat disepanjang pemukiman penduduk. Warga akan berlari untuk menyelamatkan harta benda mereka karena takut terbawa arus. Dibagian lain ada juga warga yang dengan erat melindungi anak mereka agar tidak hanyut tertelan derasnya aliran air kali Anafre.

Pencemaran Lingkungan
Anafre dulu adalah Anafre yang rimbun ditumbuhi banyak pepohonan sepanjang pinggiran kali. Namun setelah lepas 1970-an dan memasuki era 1980-an, Anafre kemudian berubah menjadi tempat pemukiman warga yang kotor, berbau dan selalu dihiasi dengan sampah yang menggunung. Akibatnya, mulai timbul pencemaran yang sebelumnya tidak pernah diharapkan terjadi. Pencemaran terhadap air Anafre, awalnya hanya beberapa meter saja. Namun, lama kelamaan pencemaran kemudian meluas yang akhirnya menyebabkan warga sering dijangkiti penyakit. Selain pencemaran, juga terjadi pendangkalan di muara kali. Pencemaran ini menyebabkan ratusan ikan mati tiap tahunnya.
Rindu Legawati, S.H, dari Fakultas Hukum Universitas Cenderawasih dalam penelitiannya tentang “Efektivitas hukum terhadap pengendalian pencemaran air” pada Oktober 1996 silam mengungkapkan, DAS (Daerah Aliran Sungai) Kali Anafre sebenarnya telah menunjukkan adanya penurunan debit air sungai sejak tahun 1996 sebagai akibat kurangnya aliran air dari sumbernya. Hal ini dipengaruhi juga oleh adanya penumpukan sampah rumah tangga. Legawati juga menyimpulkan bahwa telah terjadi perubahan estetika yang sangat menyolok. Ironisnya, hal ini sangat berbeda jauh jika memperbandingkan letaknya yang strategis dan merupakan tempat bagi daya tarik obyek wisata Kota Jayapura. Dari pembahasannya, Legawati mengungkapkan, efektivitas hukum yang ada belum menjangkau kebutuhan dari upaya pengendalian pencemaran yang terjadi pada Kali Anafre. Hal itu didukung dengan belum dilakukannya pendekatan kesadaran berupa penyuluhan dan pendidikan bagi masyarakat setempat.
Penelitian Legawati memang ada benarnya. Namun hal itu ternyata tak sejalan dengan Perda Kota Jayapura Nomor 10 Tahun 2007 tentang penyelenggaraan kebersihan. Perda yang telah dikeluarkan sejak 3 tahun lalu itu ternyata tak mampu membendung Anafre dan menjadikannya lebih baik. Intinya, Perda Kota Jayapura Nomor 10 tahun 2007 tentang penyelenggaraan kebersihan di Bab II, pasal 2 ayat 2  telah secara tegas menyatakan bahwa setiap orang dan badan usaha berkewajiban untuk memiliki gerobak pengumpul untuk mengangkut sampah dari rumah ke tempat pembuangan sementara, memelihara kebersihan bangunan dan halaman sekitarnya dengan baik termasuk halaman luar pagar yang berbatasan dengan jalan umum dan memelihara kebersihan saluran air yang ada disekitar pemukiman. Pada bagian lain yang tertuang dalam Bab III pasal 6 ayat 1, dinyatakan bahwa setiap orang atau badan dilarang membuang sampah dan limbah lainnya ke perairan laut, pantai, sungai, danau dan rawa serta roil dalam wilayah Kota Jayapura. Namun, poin ini yang kerap dilanggar warga. Selain Perda, sebenarnya dalam UU Kehutanan Nomor 41 pasal 50 juga telah melarang membangun di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS). Sesuai dengan UU tersebut, kiri dan kanan kali tidak boleh didirikan bangunan. Namun kenyataannya tidak demikian. Anafre malah sebaliknya dipenuhi dengan permukiman penduduk.
Melly Mofu (59), warga Kelurahan Gurabesi, Distrik Jayapura Utara di Kota Jayapura mengatakan, Kali Anafre sebenarnya telah berubah secara dratis. Berbeda pada tahun 1960 hingga 1975. Ketika itu Bantaran Kali Anafre masih ditumbuhi pepohonan hijau nan rimbun. Namun kini, sangat disayangkan pepohonan yang tumbuh hijau di sepanjang Bantaran Kali itu telah lenyap. Dikatakannya, Anafre kini telah berubah menjadi pemukiman warga yang sangat padat dan tak beraturan.
“Dulunya kami mandi dan mencuci di Kali Anafre tetapi sekarang sudah tak bisa lagi karena warga membuang sembarangan sampah di kali. Saya telah melarang bahkan sering berkelahi dengan mereka tapi mereka tak peduli, “ tuturnya kepada Jubi di kediamannya di Kelurahan Gurabesi, Kloofkam Jayapura, belum lama ini. Mofu menambahkan, sepanjang Bantaran Kali Anafre sekitar 1960 hingga 1975 hanya didiami oleh beberapa warga asli Papua seperti marga Ap dan Mofu (Biak), May (Serui), Rejau (Jayapura), Waicang (Genyem) serta Kumbubui. Tapi kini tidak lagi.
Diceritakannya, sekitar tahun 1980-an penah sekali waktu terjadi abrasi di tempat itu akibat aktifitas penambangan batu dan pasir di Kali Anafre. Setelah dihentikan, warga kemudian mulai membangun pemukiman baru karena pihak pemerintah juga telah membangun taluk untuk mencegah tanah longsor. Tapi berikutnya adalah warga kemudian menjadi tidak patuh dengan terus membuang sampah di tengah kali. “Kitong (kami) orang asli Papua jarang buang sampah ke kali namun orang pendatang selalu buang sampah ke kali. Untuk itu Pemerintah harus membuat larangan agar warga jangan membuang sampah di sembarang tempat lagi,” tutupnya. (Carol Ayomi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *