Gelar Study Tour, Siswa Diajak Pahami Budaya Dan Alam Papua

Image

Siswa SMP dan SMA yang mengikuti Study Tour mempelajari cara menokok sagu untuk lebih memahami budaya Papua (Foto : JUBI/Musa Abubar)

 
JUBI — Memahami budaya dan Alam Papua tidak banyak dilakukan pelajar di Jayapura. Namun berbeda dengan SMAN I dan SMP Bonaventura di Sentani. Meski bermandi peluh namun mereka tetap semangat mempelajari berbagai situs sejarah melalui sebuah gelar Study Tour lingkungan.

Untuk meningkatkan kesadaran dan cinta terhadap lingkungan dan budaya, SMAN I dan SMP Bonaventura di Sentani, kamis pekan kemarin menggelar Study Tour Budaya dan Alam. Dalam Study Tour tersebut, puluhan siswa dari kedua sekolah didampingi Tim Tour Guides Community (PaTGom) di Papua menjajaki berbagai nuansa budaya Bukit Megalitik Tutari, di Kampung Doyo Lama dan mempelajari Tugu McArthur di Ifar Gunung selama sehari. Tak ketinggalan pula melihat dari dekat pantai Kalkhote dan pembuatan sagu secara tradisional di daerah Kampung Harapan, Sentani.
Dalam bagian perjalanan Study Tour ini, siswa juga diajak untuk menanam pohon di Kampung Harapan yang telah disediakan oleh Yayasan Emereu Sentani (YES) Papua.  Dalam proses penanaman itu, masing- masing siswa diwajibkan menanam satu pohon. Rudi Mebri, koordinator penanaman dari YES Papua saat ditemui JUBI mengatakan, bantuan bibit pohon tersebut diperoleh dari sebuah badan resmi yang peduli terhadap lingkungan di Mamberamo. Bibit pohon sebanyak 180 buah itu ditanam pada tiga lahan yang telah disediakan. Jarak antara satu dengan pohon yang lain adalah enam meter. Sebelumnya, bibit pohon tersebut ditanam di polybag. Setelah tumbuh setinggi kurang lebih setengah meter, bibit pohon tersebut kemudian dipindahkan ke tempat yang telah disediakan. Masing-masing pohon diberi label nama dari penanam yang diletakkan di bawah tanaman tersebut. “Bibit pohon yang ditanam ini adalah Merbau atau kayu besi dan Matoa. Sebanyak 180 pohon,” katanya.
Study Tour selanjutnya dijejaki dengan pendakian Bukit Ifar Gunung. Dilaksanakan untuk meningkatkan siswa agar peduli terhadap budaya dan alam. Puluhan siswa ini awalnya diajak mengunjungi beberapa situs bersejarah yang berada di Sentani, Jayapura. Batu “Dootomo” di bukit Megalitik Tutari, di Kampung Doyo Lama adalah salah satu tempat yang dituju. Konon menurut cerita, nenek moyang warga setempat dulunya sangat mensakralkan batu tersebut. “Dootomo” rupanya juga merupakan keterwakilan kehidupan keempat ondoafi  atau “wakil rakyat” dari empat suku besar di Doyo Lama.  Yakni suku Ebe, Pangkatana, Wali, dan Yapo. Keempat suku tersebut merupakan “tuan tanah” yang hidup di sana hingga kini.
Untuk menuju ke “Dootomo”, pengunjung akan menapaki tangga yang sangat tinggi. Begitu pula dengan siswa dari kedua sekolah. Di sepanjang pinggiran tangga tersusun rapi pepohonan yang tumbuh menjaga batu hitam pekat itu. Tangganya dibuat dari semen dan bertrap-trap. Untuk ke sana, dibutuhkan waktu kurang lebih 20 menit. Suasana indah dan nyaman akan terasa seketika jika telah sampai ke puncak bukit. Pemandangan yang luar biasa juga akan disuguhkan bagi pengunjung yang datang. Yakni danau Sentani yang berwarna biru dikejauhan. Tak hanya itu, akan terlihat dengan jelas batu besar “Dootomo” setinggi kurang lebih 4 meter berwarna hitam di atas bukit itu. Dipagari dengan beton dan beratapkan seng. Sekitar lokasi batu itu berada tampak pula beberapa batu kecil disekililingnya. Batu-batu besar lainya yang ada ditempat itu diduga telah ada semenjak beratus-ratus tahun lalu.
Andre Liem, salah seorang anggota Papua Tour Guides Community (PaTGom) di Papua, yang juga terlibat dalam kegiatan Tour tersebut, saat ditanyai JUBI mengatakan, situs tersebut merupakan salah satu bagian dari masa pra sejarah yang tak banyak diketahui dan dikenal orang. Sehingga dengan adanya kunjungan ini, siswa dapat mengetahui fungsi serta asal muasal adanya batu megalitik itu bagi warga setempat.
Setelah dua jam berlalu diisi oleh sedikit pengetahun tentang Batu “Dootomo”, siswa kemudian dengan menumpangi sejumlah bus menuju Tugu McArthur. Tugu McArthur di daerah Ifar Gunung atau kunjungan McArthur Highlight and Lecture merupakan kisah unik bagi sejumlah siswa. Tak hanya diserahi pemandangan luar biasa dari puncak McArtuhr tapi juga kesejukan alamnya yang khas. Monumen McArthur merupakan simbol bangsa Amerika dan Angkatan bersenjata sekutu yang pernah berkuasa di Papua di bawah pimpinan Jenderal Douglas McArthur pada perang dunia II. Pada waktu itu, sang Jenderal membangun sebuah markas besar perang pasifik barat di Hollandia (sekarang Jayapura). Monumen tersebut dibangun untuk memperingati keberhasilan Jenderal McArthur dengan sumpahnya yang terkenal “saya akan kembali”. Sumpah itu diukir rapi pada kaki monumen. Monumen ini berdiri di puncak bukit Pelwai Mogho pada ketinggian 325 meter di atas permukaan laut. Dibangun oleh masyarakat Sentani. Dari lokasi ini pengunjung dapat menikmati keindahan Danau Sentani dari atasnya. Bangunan yang terletak 39 kilometer jauhnya dari Jayapura ini, dapat dijangkau dengan berbagai jenis kendaraan dalam waktu 35 menit.
Cerita mengenai Monumen McArthur memang sangat menarik. Dikisahkan pada saat pembebasan Nieuw Guinea/Papua oleh  tentara Sekutu yang  berlangsung selama tiga bulan, dari 22 April sampai dengan 30 Juli 1944, kekuatan tentara Jepang di sepanjang pesisir utara dan barat Papua, saat itu dihajar habis-habisan oleh tentara Sekutu. Sekutu waktu itu menggunakan  taktik perang “lompat katak”. Sama seperti pasukan Jepang yang memulai masuk Papua dengan mendaratkan pasukannya di Teluk Humboldt (sekarang Teluk Hamadi). Mac Arthur sendiri masuk ke Papua dengan mendaratkan pasukannya melalui Teluk Hamadi. Pasukannya berjalan kaki melalui Danau Sentani dan terus naik ke atas gunung. Mereka akhirnya membuat markas besar di Bukit Ifar Gunung. Dari sini Mac Arthur kemudian berperang merebut Sarmi, Sorong, Manokwari dan Fak-fak.
Kedudukan tentara Sekutu di Hollandia dan sekitarnya makin diperluas. Mereka  mendesak pertahanan tentara Jepang hingga lumpuh seluruhnya. Pada 6 Juni 1944, operasi militer tentara Sekutu berhasil merebut Hollandia dibawah pimpinan Jenderal Douglass McArthur. Hollandia kemudian oleh McArthur dijadikan sebagai General Head Quarter of the South West Pacific Area (Markas besar Pasifik Barat Daya), Pusat Allied Air Forces (Angkatan Udara sekutu), Pusat Allied Land Forces (Angkatan Darat Sekutu) dan The US “7? Fleet Recreation Centre di Ifar. Sejak pendaratan tentara Sekutu di Hamadi atau Depapre pada 22 April 1944 sampai dengan 6 juni 1944, korban dipihak Sekutu mencapai 3.332 prajurit tewas dan 1.057 luka-luka. Sedang korban di pihak Jepang sebanyak 3.332 prajurit tewas, 611 tawanan, 611 melarikan diri ke Sarmi, serta sisanya hilang. Hollandia selanjutnya oleh Mac Arthur dijadikan sebagai “Markas Besar Tentara Sekutu Wilayah Pasifik Barat Daya” atau “General Headquarter of The Southwest Pacific Area“.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMA Negeri I Sentani, Hawu Stephanus, S Pd, M.Pd dalam penyampaiannya mengatakan kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka memadukan konsep kurikulum dan pelaksanaan materi pengembangan diri.   Study tour ini melibatkan juga 5 orang guides profesional dari Papua dan sejumlah guru dari kedua sekolah. Dia berharap, dengan apa yang telah dilihat, siswa diharapkan dapat meningkatkan rasa pedulinya terhadap budaya yang ada di Papua. “Tour ini yang pertama kali dilakukan, sehingga kita berharap agar ada tindaklanjutnya, mungkin dengan pelaksanaan tour lanjutan ke berbagai tempat sejarah dan budaya lainnya yang ada di Jayapura,” kata dia. (Musa Abubar/Jerry Omona)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *