Jantung Belantara New Guinea

Image

Kanguru Pohon Mantel Emas (Dendrolagus pulcherrimus) (Foto : CI Papua)

 
JUBI—Mamberamo memang memiliki kekhasan tersendiri. Tidak saja diwarnai dengan beragam spesies yang hidup di dalamnya. Tapi juga potensi SDA-nya yang terbilang tinggi. Namun sayangnya, rencana pembangunan industri skala besar disana telah menjadikannya semakin terancam.

Ancaman terhadap kawasan Mamberamo antara lain dipengaruhi oleh semakin meningkatnya pembangunan dan pertambahan penduduk. Dibagian lain, rencana pembangunan industri skala besar, pembangunan jalan Trans Papua, adanya konsesi hutan secara besar-besaran dan proyek pertambangan batu bara serta aluminium juga membuat Mamberamo semakin tersudut. Ancaman ini tidak saja datang terhadap lingkungan hutan. Tapi juga menimpa sejumlah spesies makhluk hidup di sana yang sudah hampir punah.
Ratusan bahkan ribuan spesies memang mendiami kawasan Mamberamo. Beberapa diantaranya sementara berada diujung kepunahan. Namun beriringan pula ternyata ada sejumlah spesies baru yang ditemukan dalam penelitian-penelitian yang dilakukan. Sebut saja spesies burung penghisap madu (Meliphagidae) dan penemuan kembali habitat rediscover atau burung cenderawasih Parotia Berlepschi. Penemuan itu terjadi pada 2005 lalu yang dilakukan Rapid Assesment Program (RAP) di Kwerba dan Pegunungan Foja oleh para ahli biodiveritas dari Pusat Penelitian (Puslit) Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Conservartion International Indonesia. Hasil penelitian tersebut kemudian dipresentasikan oleh para peneliti dari UNIPA (Universitas Negeri Papua), CII Papua dan BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) Papua wilayah I.
Dari penelitian itu, sekitar 24 spesies palem-paleman yang tercatat, sedikitnya terdapat lima spesies baru – yang terdiri dari satu spesies pinang-pinangan, dua spesies rotan dan dua spesies palem Licuala. Penelitian ini berhasil pula mengoleksi sekitar 780 tumbuhan yang fertile (memiliki buah dan bunga).
Begitu pula dengan kelompok kupu-kupu. Penelitian ini berhasil mencatat sekitar 154 spesies di Kwerba.  Penelitian ini berhasil juga memperoleh 19 spesies baru. Tercatat empat kupu-kupu jenis Delias baru juga ditemukan.
Sementara itu, peneliti kelompok herpet mencatat sekitar 30 spesies reptil dan 50 spesies katak. Hasil pengamatan yang menarik adalah penemuan kembali (Rediscovery) katak, Nyctimystes fluviatilis, yang selama ini hanya diketahui dari dua spesimen yang dikoleksi di daerah Mamberamo. Tim herpet berhasil juga mencatat sekitar 20 spesies katak baru.
Dilain tempat, kelompok burung berhasil juga mencatat sekitar 215 spesies burung-baik melalui pengamatan langsung, mencatat suara burung maupun penangkapan dengan jaring kabut. Untuk pertama kalinya burung mandur dahi-emas (Amblyornis flaviforns) berhasil diambil gambar di habitat aslinya, termasuk pengamatan bulu burung betina. Sekitar 110 tahun, burung ini hanya dikenal dan dideskripsikan oleh Lord Walter Rothchild pada 1895 dari dua burung awetan.
Peneliti burung juga berhasil  “menemukan kembali” burung Cenderawasih Parotia, Parotia Berlepschi. Spesies ini dianggap hilang karena selama ini tercatat hanya sebagai sub-spesies tanpa ada keterangan mengenai habitatnya. Penemuan paling menarik lainnya adalah ditemukannya satu spesies baru burung pengisap madu (Meliphagidae). Ini merupakan penemuan spesies burung baru di kawasan New Guinea (Papua dan Papua New Guinea) dalam jangka waktu 70 tahun.
Hasil paling spektakuler adalah penemuan Kanguru Pohon Mantel Emas (Dendrolagus pulcherrimus). Keberadaan spesies ini di Pegunungan Foja telah menarik perhatian dan spekulasi ahli mamalia selama 25 tahun. “Ini berarti spesies mamalia baru bagi Indonesia,” ujar Aksamina (Acha) M. Yoanita, S.Pd, seorang staff pengajar pada FMIPA Universitas Negeri Papua Manokwari.
Hasil mengagumkan lainnya adalah penemuan landak Papua (Zaglossus sp) di Pegunungan Foja dan tiga spesies Zaglossus yang pernah hidup di New Guinea. Yakni, Zaglossus Bartoni (punah) yang pernah hidup di Pegunungan Tengah; Zaglossus attenboroughi (punah) yang pernah hidup dan merupakan spesies endemik Pegunungan Cyclops dan Zaglossus buijnii (spesies yang masih hidup) yang terdapat dan merupakan spesies endemik Daerah Kepala Burung. Besar kemungkinan Zaglossus yang diamati di Pengunungan Foya adalah spesies baru atau penemuan kembali (Rediscovery) spesies yang  dianggap telah punah.
Dosen Biologi dari Fakultas MIPA Universitas Cenderawasih, Hendrite Loisa Ohee menyebutkan, Mamberamo memang kaya akan beragam spesies baru. Sekitar 10 juta hektar DAS (Daerah Aliran Sungai) Mamberamo, urainya, juga merupakan wilayah yang sebagian besarnya masih ditutupi hutan. Mulai dari Pegunungan Foja hingga ke dataran rendah di Pantai Utara Papua. Ini sangat memungkinkan terdapatnya keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. “Daerah ini merupakan jantung dari Kawasan Belantara Nugini, yang diperkirakan memiliki jumlah keanekaragaman hayati yang tinggi,” ungkap dosen yang kini tengah mengikuti program S3 di Jerman dalam Majalah Tropika Maret 2006 lalu.
Menurut Hendrite, keterisolasian kawasan Mamberamo misalnya Pegunungan Foja membuat DAS Mamberamo memiliki spesies endemic dengan daerah sebaran yang sempit. Karena itu, lanjut dia, kawasan Mamberamo kemudian diusulkan sebagai kawasan Suaka oleh FAO/UNDP pada 1981 dengan prioritas utama. Artinya, keberadaan kawasan ini sangat penting dalam sistem kawasan suaka di Papua. Ditegaskannya, kegiatan penelitian lapangan pada beberapa hutan di Mamberamo menujukkan kawasan ini memiliki keanekaragaman hayati tinggi dan sebagian besarnya belum banyak diketahui dunia ilmu pengetahuan. Dijelaskannya, pada akhir 2005, pihak CI Papua pernah memulai proses penentuan target konservasi di DAS Mamberamo dengan memakai pendekatan usaha pada tiga  skala konservasi yaitu pertama menghindari kepunahan spesies. Kedua melindungi daerah-daerah penting bagi keanekaragaman hayati dan ketiga konsolidasi pelestarian koridor keanekaragaman hayati. Namun sayangnya, upaya-upaya perlindungan  dan penyelamatan bagi satwa dan sejumlah spesies disana tak bertahan lama. Dengan digulirkannya proses pembangunan di kawasan Mamberamo, sejumlah spesiespun mulai terancam punah.
Sementara itu, Yance Bamai dan Yosep Watofa dalam laporannya menegaskan, ancaman terhadap kawasan Mamberamo, tidak saja terhadap sejumlah spesies yang mendiaminya, antara lain dipengaruhi juga oleh meningkatnya pembangunan dan pertambahan penduduk dan rencana pembangunan industri skala besar. Termasuk juga pembangunan jalan trans Papua serta adanya konsesi hutan yang dilakukan. Selain itu, ancaman terbesar bagi masyarakat Mamberamo, kata dia, adalah terhadap sumber daya alam yang semakin hari mulai terkikis habis. “Kehidupan masyarakat sangat tergantung pada sumber daya alam yang ada,” tukas keduanya.
Hal ini memang sangat disayangkan. Markus Meop, warga Suku Kwerba Mamberamo di Jayapura saat ditemui JUBI beberapa waktu lalu menegaskan, padahal mereka memiliki kearifan dalam memanfaatkan Sumber Daya Alam (SDA).  Misalnya saja untuk sejumlah jenis burung yang tak boleh dibunuh. “Ada juga burung Acit yang kita namakan burung Komando karena saat burung Acit bersiul semua burung-burung kumpul. Sedangkan burung Titie mempunyai tugas mengontrol termasuk burung Cenderawasih (Kacit) dan burung Konway sebagai penasehat pagi,” ucap Markus Meop. Namun yang memprihatinkan, kearifan lokal dalam pemanfaatan SDA tersebut tak dipahami dengan baik oleh warga non Papua dan pengusaha kelas kakap yang berinvestasi di Mamberamo. Kearifan lokal ini belakangan kian merosot akibat derasnya pembangunan di sana.
“Memang warga di sana juga sudah mengeluh tangkapan buaya Mamberamo sudah jarang dan tak segampang dulu,” ujar Pelaksana Tugas Yayasan Lingkungan Hidup (YALI) Papua, Bastian Wamafma kepada JUBI. Dikatakannya, pembangunan di wilayah Mamberamo justru telah mengancam potensi sumber daya alam di sana. Menurutnya, jika tak ada pengawasan tegas dari pemerintah maka dikhawatirkan Amazone Papua ini akan hilang. Begitupun dengan empat suku besar di Mamberamo Raya yakni Kawera, Baudi, Airu dan Suku Dasigo. Tentu mereka akan semakin kesulitan di dalam mencari makan dan tempat tinggal. (Dominggus A Mampioper)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *