Amungme: Manusia Pertama dan Utama

Image
 
JUBI—Menurut cerita, nenek moyang suku Amungme di masa purba keluar dari sebuah gua besar yang gelap. Gua itu terletak di dalam bumi, namun manusia yang keluar dari dalamnya seolah-olah keluar dari rumah.

Gua itu bernama Mepingama Buk yang berarti gunung tempat manusia pertama keluar atau gunung yang menghasilkan manusia. Menurut cerita orang-orang tua, gua tersebut terletak di timur. Gua yang berfungsi sebagai rumah itu gelap gulita, namun didalamnya terdapat berbagai makanan dan bibit-bibit tanaman yang diatur rapi. Pada suatu pagi mereka bermaksud membuka pintu gua itu, namun tak pernah berhasil; satu demi satu, menurut keret (klan) masing  masing, berusaha dengan sekuat tenaga sambil berdoa pada leluhur, namun semuanya gagal. Kemudian mereka meminta bantuan pada seorang wanita tua yang bernama Anganitmangin dan Aimgatsin.
Wanita itu lantas menugasi anak gadisnya yang masih perawan untuk berdiri dan meletakkan tangannya di depan pintu gua itu seraya berkata ,”Sabongamtek-Mebongamtek “, yang berarti “Pintu bukalah dirimu sendiri” pada saat itu terbukalah pintu itu. Itu terjadi di suatu pagi. Kemudian berduyun-duyun manusia keluar. Mereka terbagi dalam tiga kelompok. Kaka yang tertua, Wompal Meki, memimpin kelompok pertama dan langsung berjalan ke arah barat. Adiknya Womkelaki, memimpin kelompok yang kedua dengan membawa bibit-bibit pepohonan yang berguna bagi manusia dan hewan. Bibit-bibit itu ditaburkan di semua tempat yang mereka lalui. Adik yang ketiga, Kamki atau Olipungki, memimpin kelompok yang terakhir. Mereka ini membawa semua peraturan, tentang peribadatan, adat, cerita rakyat, dan lain -lain. Mereka juga menuju ke barat. Berapa lama waktu mereka berjalan. Tak ada yang tahu.
Suatu ketika tibalah mereka di Kuyawagai, di sekitar Lembah Baliem. Dari situ mereka terus ke gunung Meamabuk. Disini mereka ditimpa malapetaka kedinginan yang dahsyat. Segera mereka membuat api unggun yang besar. Orang Amungme berada dekat dengan api, sementara yang datang belakangan berdiri di belakang sehingga mereka tetap menggigil kedinginan dengan gigi bergemeretuk. Akibatnya, mereka saling tak mengerti apa yang diucapkan. Ketika seorang meminta api, ia diberi batu, ketika meminta makan, kayu yang diterima, dan sebagainya. Mulailah kelompok orang-orang itu berbicara dalam bahasa mereka sendiri-sendiri, dan mereka pun saling berpisah.
Mite yang dimiliki oleh tiap klan Amungme, walaupun seolah berbeda versinya namun isi dan tujuannya sama. Mite ini kerap kali menjadi latar belakang timbulnya pengharapan akan pengenapan janji yang disampaikan oleh  moyang purba – yaitu bahwa kelak mereka akan memperoleh kehidupan penuh bahagia. Manusia Amungme menunggu dengan penuh harapan akan terwujudnya dunia yang penuh bahagia itu. Siapa yang memiliki kunci akan dapat membuka pintu rahasia itu, dan ia akan masuk kedalamnya dengan tubuh yang ada. Itu sebabnya orang Amungme bekerja dengan rajin, bersemangat dan penuh dengan kegembiraan agar dapat menarik hati roh para leluhur, atau Hai Jogon Nerek. Dengan cara itu mereka berharap dapat mempercepat datangnya dunia yang penuh bahagia itu. Walaupun begitu, harapan itu bisa juga membuat mereka mengabaikan pekerjaan di ladang karena mereka menganggap akan segera mengadakan ‘ perjalanan’.
Sewaktu misi Katolik masuk ke lembah-lembah Tsinga dan Noemba, masyarakat disana rajin dan patuh membangun gedung gereja, sekolah, rumah-rumah guru, pastoran, jalan -jalan antar kampung dan sebagainya. Jalan antara Bujaulaki da Umpliga-Sanggalagon dibuat dengan cara menimbunnya dengan kayu sehingga yang melewatinya seolah -olah berjalan diatas jembatan. Pekerjaan ini diatur dan dipimpin Paulus Selinggi Solme. Ia juga membangun rumah bentuk baru dan tinggal di rumah itu bersama dengan istri dan anak -anaknya. Demikianlah harapan orang Amungme itu bagaikan api yang membakar rumah dan sulit dipadamkan.
Janji moyang purba terkait dengan lima manusia luar biasa yang telah gaib: Womkela, Isip, Isep, Imbong dan anak gadisnya – semuanya telah pergi. Tetapi mereka akan bertemu dengan Eniwit yang akan menunjuk jalan menuju padang atau rumah bahagia abadi – dunia Hai Jogon dimana tak ada penyakit, lapar, dahaga, kebencian, permusuhan dan maut. Dari sana mereka berlima akan kembali untuk memimpin suku Amungme ke dunia/rumah bahagia abadi itu. Suku Amungme memandang rahasia ini sebagai pusaka yang memberikan kekuatan jiwa – raga bagi ahli waris/keturunan, tetapi tak boleh disebarluaskan. Kata -kata rahasia yang harus diwariskan itu berbunyi: Kolevogolki mingamo jore, Nadala ilege, Nilang jolaye; Dingkaikinung wongomong, Kalekgo ivongonmok muiye, Avulkeveng – aranyok dolle, Ningaleye. Yang berarti: Pembebasan akan datang Sebuah daun lebar akan turun di sebelah barat Tetapi akan terbang kembali Laksana kuncup bungan ubi, tumbuh dan besar di tanah Demikian pula daun lebar itu akan muncul di kaki gunung Lihatlah, perhatikanlah dan waspadalah. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *