Masa Depan Sepakbola Papua Ada Pada Anak Usia Dini

JUBI—Sore itu mereka berlatih di lapangan Obhokwouw, Waena. “Si Kulit Bundar” ditendang lewat passing, shooting dan jumping. Team work ini seolah tak peduli dengan peluh yang membasahi tubuh mereka. Mereka semua bergembira.

Lima menit berlalu setelah Robert Nicolaus Mangguw, Aldo Boray, Landrik David Brain Kabey, Owel Boray, Alfrico Nawipa, Fadly Rumfot dan Patrick Womsiwor ditemui JUBI. Meski nampak kelelahan, ketujuh anak kecil yang tengah mengikuti latihan di Sekolah Sepak Bola (SSB) Emsyk itu masih terlihat ceria. SSB Emsyk merupakan salah satu sekolah khusus di Papua yang melatih anak-anak dibawah usia menjadi pemain berbakat di dunia sepak bola.
Agustinus Womsiwor, ayah dari Patrick Womsiwor, salah seorang siswa SSB Emsyk mengemukakan, “Anak Papua bermain bola sejak dalam kandungan sehinggga mereka memiliki talenta alamiah. Tinggal dipoles sedikit untuk mendapatkan pemain sepakbola yang sudah jadi,” tutur Womsiwor. Dikatakan, putra tunggalnya sejak usia balita telah menunjukkan bakat sepakbola. Ia kemudian lantas mencarikan tempat latihan sekedar menyalurkan hobi dan bakat putranya. Sang ayah akhirnya melabuhkan putranya di SSB Emsyk. Dia sangat memahami bahwa SSB Emsyk adalah kelompok kecil yang senantiasa ingin mengembangkan sepakbola usia dini di Papua tanpa pamrih. “Diantara para pembina SSB Emsyk terdapat  mantan pemain Mutiara Hitam Persipura. Mereka merasa ada sesuatu yang hilang kalau tak menyalurkan talenta sepakbola kepada anak-anak usia dini di Papua untuk belajar sepak bola secara baik dan benar,” kata dia.
Habel Boaz Inzagi Izir, siswa  SD YPPK Gembala Baik Abepura juga mengungkapkan, ia bersama rekan-rekan sebayanya sering mengikuti latihan bola di SSB Emsyk. Si cilik  kelahiran 24 Juni 1999 ini adalah putra sulung pasangan Edu Izir dan Hermina Madouw. Edu Izir adalah mantan pemain Persipura Jayapura yang kini memperkuat Persidafon Dofonsoro Kabupaten Jayapura.
Sementara itu, Hermina Modouw saat mendampingi putranya kepada JUBI mengutarakan, dirinya selalu menasehati sang anak agar tekun belajar untuk masa depan. Baginya, sekolah dan sepakbola ibarat dua mata uang yang tak bisa dipisahkan. Sekolah dan sepakbola mesti berjalan beriringan sehingga kelak meraih sukses untuk keduanya. Selain itu, ucap Hermina, sang suami Edu Izir juga tak pernah bosan menasehati putranya agar tekun belajar dan menyisihkan waktu untuk latihan sepakbola. Hermina mengatakan, salah satu kebanggaan  Boaz saat kembali dari latihan di SSB Emsyk adalah  mencandai ayahnya. “Pa saya cetak dua gol,” “Ah itu masih kurang jadi harus bikin gol lebih banyak lagi,” ucap Hermina menirukan Edu Izir. Boaz juga selalu mengajak orang tuanya menonton apabila ia sedang mengikuti turnamen bola.  
Alhasil, sejak keikursertaannya dalam Turnamen Bens Cup kelompok usia 6-15 tahun sejak tahun 2006 sampai 2009, Boaz selalu meraih top scorer (pencetak gol terbanyak). Pada  Turnamen Bens Cup 2006 saat berusia 7 tahun, Boaz mengoleksi 12 gol. Turnamen Bens Cup 2007 saat berusia 8 tahun Boaz mencetak 8 gol. Turnamen Bens Cup tahun 2009 saat usia 10 tahun Boaz menghasilkan 17 gol. “Boaz Izir adalah tipikal goalgetter masa depan sepakbola Papua. Bayangkan, dari tahun ke tahun Boaz menunjukkan grafik naik dalam hal mencetak gol. Boaz tampil fantastis. Sebagai anak-anak ia telah mampu membuktikan produktivitasnya sebagai top scorer,” puji Benyamin Pepuho, Ketua Umum SSB Emsyk.   
Seperti halnya Boaz, Alfrico Nawipa, putra Paniai, siswa SMP XII Perumnas III, Waena, Jayapura kelahiran  22 April 1996 juga mengaku, dirinya bercita-cita menjadi pemain bola. Terkadang ia lupa mengerjakan Pekerjaan Rumah lantaran waktunya dihabiskan untuk latihan bola

Padukan Sepakbola Dan Sekolah
Perintis Turnamen Usia Dini Bens Cup, Pdt Dr Rainer Schenemann mengatakan model pembinaan sepakbola yang efektif dan efesien adalah memadukan sepakbola dan sekolah sebagaimana yang dilakukan saudaranya Timo Schenemann melalui Malang Football Club (MFC). Dalam skuad MFC terdapat setidaknya enam anak usia dini asal Papua. Keenam anak tersebut dalam suatu kesempatan pencarian bibit pemain pernah terpilih karena mereka memiliki talenta sepakbola yang mumpuni, baik skill maupun kolektivitas. Keenam anak itu kemudian diboyong Timo Schenemann ke Malang.
Selama mengikuti pembinaan di Malang, ujar Rainer Schenemann, keenam anak ini menghuni sebuah rumah kontrakan komplit dengan fasilitas penunjang sekolah, seperti ruang belajar dan ruang rekreasi. Tak hanya itu, anak-anak ini  juga mendapat beasiswa dari SMA Kristen Setia Budi di Malang, bus antar jemput ke sekolah, uang saku, tiket pesawat Malang-Jayapura sekali dalam setahun serta mendapat fasilitas lain seperti sepatu dan kostum. Anak-anak ini juga cukup beruntung lantaran pelatih dan pengasuhnya tak hanya memiliki latar belakang pendidikan bagus tetapi mereka sungguh memahami dasar-dasar sepakbola.    
Namun demikian, selama mengikuti pembinaan di Malang, anak-anak ini sering mendapat teguran terutama tidak disiplin dalam aturan. Hal ini sebetulnya dapat dimaklumi lantaran sebagian besar diantara mereka datang dari keluarga yang kurang terbiasa menerapkan disiplin diri. “Walaupun mereka memiliki skill ball yang mumpuni, tetapi menjadi sia-sia karena tak didukung karakter dan pendidikan yang baik,” ujar Rainer. Namun demikian, lanjutnya, tugas pembinan sepakbola adalah berusaha untuk memberikan kesempatan kepada mereka untuk berkembang, baik dalam hal pendidikan dan menekuni sepakbola. “Sebagaimana misi gereja yakni memberikan pelayanan. Misi gereja yang lain juga adalah mengembangkan bakat dan minat anak anak. Semua anak yang ingin mengembangkan diri, kami dengan senang hati melayani tanpa membedakan suku dan status sosial,” ujar Rainer yang juga memiliki UEFA-B Coach License. Dia juga mengatakan, anak Papua memiliki talenta sepakbola yang bagus. Namun  pemerintah tak pernah memberikan bea siswa bagi mereka. Padahal, kata dia, masa depan sepakbola Papua sebenarnya ada di tangan anak-anak usia dini ini.
Ironisnya, lanjut Rainer, pemerintah hanya sebatas janji  tanpa suatu realisasi.
Rainer memberikan contoh, Sonny Uribmabin yang diboyong Timo selama dua tahun dan ikut pembinaan di MFC dan melanjutkan sekolahnya di SMA Kristen Setya Budi Malang sebenarnya adalah anak yang pandai. Namun ia tak pernah mendapat perhatian pemerintah. “Padahal Sonny Uribmabin adalah seorang pemain bola usia dini yang memiliki basic bola yang komplit,” kata Rainer, Dosen Program S-1 dan Pasca Sarjana STT GKI “I.S. Kijne” Jayapura ini.
Dikatakan mantan pemain Divisi I Liga Australia dan Divisi II Bundesliga (Liga Jerman) ini, kompetisi yang teratur penting sekali  bagi pembinaan anak anak usia dini. Percuma mempunyai klub tetapi tak ada kompetisi yang berkelanjutan.  Dia membandingkan, di Eropa, anak dari usia 7 tahun telah bermain dalam liga anak-anak yang diikuti 14 hingga 16 klub. Dalam setahun anak-anak ini mengikuti 30 pertandingan resmi ditambah kejuaraan tambahan minimal 40 hingga 50 pertandingan setahun. Saat anak-anak itu mencapai usia 17 tahun maka mereka telah mengikuti 400 pertandingan resmi untuk dipromosikan ke tim senior.
Sementara itu, Pelatih SSB Emsyk Yahanes Zonggonauw menandaskan, tak dapat dipungkiri bahwa masa depan sepabola Papua kini ada pada anak-anak usia dini. Ibaratnya, kini benih itu ditabur dan suatu saat akan dituai. “Sekarang kitong mulai menabur, suatu saat kitong akan menuai,” tutur Zonggonauw. Dikatakannya, untuk mendapatkan bibit sepakbola unggul dari Papua perlu dibangun sentra-sentra sepakbola anak usia dini di setiap distrik, seperti Jayapura Utara, Jayapura Selatan, Abepura, Waena, Sentani dan lain lain. ”Kitong bisa dapat pemain yang bagus dari Turnamen Bens Cup,” ujarnya bangga. (Makawaru da Cunha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *