Serui Oh Serui (II)

Image

Tumpukan sampah di pusat kota Serui (Foto : JUBI/Aston Situmorang)

 

Perjuangan “Kota Perjuangan” Mengelola Dampak Sampah”

JUBI — Pola penanganan sampah saat ini masih dengan cara sampah yang ada ditaruh dijurang untuk kemudian dikubur dengan karang. Ada pola lain yaitu dengan penyemprotan dan pembakaran.

Zat kimia jika melalui penyemprotan bisa bertahan 3-4 jam sehingga bisa membunuh serangga. Namun ini akan berdampak bagi manusia apalagi ada perkampungan di sekitarnya. Dampak ini akan terasa 5-10 tahun dimana ketika zat kimia itu telah terkubur dalam tubuh dalam jumlah banyak akan menjadi racun. Jika melalui pembakaran maka sampah bisa habis namun menimbulkan polusi udara. Karena itu pemerintah harus mencari solusi terbaik agar meminimalisir dampak akibat sampah yang saat ini lalat biru (labi) sejak tahun 2006 telah masuk ke kota serui. Ketika warga ada mengolah ikan terutama ikan kering, maka dalam waktu tidak terlalu lama labi sudah mengerumuni makanan.  Jika kondisi itu sudah terjadi di kota bagaimana dengan nasib warga disana yang lebih dekat dengan TPA? Belum lagi jika air telah tercemar maka sudah pasti akan mengganggu sumber air bagi warga sepanjang sungai itu mengalir karena telah tercemar. Sebab aktivitas keseharian kehidupan warga masih tergantung dengan kali. Belum lagi potensi Sumber Daya yang ada di kali yang bisa menjadi sumber makanan bagi warga sekitar pasti akan terganggun karena penempatan TPA disana. Pola penimbunan mungkin membantu mengurangi bau yang menyegat tapi dampaknya bagi anak cucu kita karena kerusakan lingkungan. Apalagi sampah seperti kaleng, plastik dan sejenisnya akan bisa terurai setelah ratusan tahun.
Menurut Bram Sikoway, Pimpro penempatan TPA di Arumarea,  di Serui belum ada pemulung di TPA karena dianggap pekerjaan ini masih hina sehingga sampah belum dipilah-pilah menurut jenisnya. Untungnya saat ini sudah ada penampung besi tua (bestu) sehingga barang-barang yang terbuat dari logam dan kaleng tidak menambah peliknya penanganan sampah. Karena itu menurutnya harus ada mesin pengolah sampah yang nantinya bisa menghasilkan berbagai produk dan salah satunya adalah pupuk organik. Pengelolaan sampah di tempat lain seharusnya bisa menjadi pembelajaran berharga untuk daerah ini bagaimana seharusnya mengelola sampah agar kita bisa ramah dengan lingkungan.

Menurut petugas seksi Kesling P2M (Pengendalian Penyakit Menular) ini, memang pada tahun 2006 dilakukan penyemprotan dengan obat Malithion dengan dosis 20 l tambah 1 l solar. Petugas yang menggunakan obat ini menggunakan perlengkapan standar yaitu topi, kaca mata, sarung tangan, sepatu dan masker. Pola yang digunakan bisa melalui Pengasapan (fogging) atau semprot (spray). Masih menurutnya obat ini hanya berguna membunuh larva. Targetnya adalah membatasi jumlah produktivitas Lalat Biru dan Lalat yang ada di TPA. Selain itu obat ini sulit terurai sehingga termasuk obat berbahaya apalagi jika masuk ke dalam tubuh. Pernah diusulkan agar program ini bisa dianggarkan tahun ini namun tidak direalisasi. Selain itu juga kami mengusulkan untuk ada pengamatan lalat biru namun lagi-lagi usulan kami tidak disetujui. Hal ini dikarenakan labi sudah masuk ke kota Serui dengan media kendaraan yang lewat dan angin. Apalagi dengan perkembang biakan hanya 1 minggu maka dikhawatirkan Serui akan dikelilingi labi dalam waktu tidak lama. Seperti diketahui labi sama dengan lalat yang lain membawa penyakit diare, muntaber, kulit, kolera, kaki gajah dll. Karena itu harus diantisipasi dengan segera.

Dampak dari penempatan TPA bagi warga saat ini adalah selain adanya serangan Labi tapi juga bau yang menyengat. Selain itu warga kena diare yang didominasi balita. Orang dewasa juga ada namun tidak berobat/melapor. Menurut seorang bidan di Pustu Arumarea bahwa penyakit diare biasanya pada balita kurang dari 5 orang. Namun penyakit ini ikut musim, yang jika sudah musim maka akan banyak balita yang terkena. Sedangkan menurut kepala kampung Sarwandori, Gerald Wayeni, mulai TPA di Nangka II kampung kami sudah ada labi. Sekarang juga dengan TPA di Arumarea kami merasakan dampak itu. Saat ini (tahun 2008) ada 8 orang yang kena diare. Orang dewasa juga ada namun tidak melapor. Bahkan tahun 2004 ada 3 balita (2 perempuan dan 1 laki-laki) meninggal. Ditahun 2006 ada 1 balita laki-laki yang meninggal. Dikhawatirkan ini akan mengganggu generasi di kampung kami sebagai penerus. Masih menurutnya beberapa waktu lalu warga melakukan pemalangan TPA. Kami bukan mengungkit soal lokasi yang telah dibeli pemerintah tapi aktivitas di atas areal itu yang menurut kami mengganggu keberadaan kami. Kami hanya menuntut hak kami atas lingkungan hidup yang bersih dan baik serta higenis sebagaimana dilindungi oleh undang-undang. Selain itu dengan keberadaan TPA akan mengganggu berbagai rencana kami yang akan dituangkan dalam Peraturan Kampung. Kampung ini adalah andalan dalam pariwisata di Yapen. Selain itu produksi pertanian dan berbagai potensi yang ada dihasilkan dari kampung ini.

Yang pasti pertentangan soal TPA masih menjadi persoalan mengiringi keberadaan TPA di Arumarea. Soal wabah labi bau yang menyengat, dampak kesehatan, mengganggu daerah tujuan pariwisata dan tempat rekreasi termasuk ketiadaan peta lokasi areal yang dibeli masih menyisakan persoalan dalam pengelolaan sampah di kota Perjuangan Serui.

Lembaga Studi Masyarakat Manna Papua sudah berinisiatif mendorong adanya penata kelolaan sampah yang lebih baik dengan cara melakukan dialog interaktif di LPP RRI Serui pada bulan Oktober 2008. Bahkan pada bulan  yang sama juga dilakukan pertemuan antara LSM Manna Papua dengan beberapa LSM yang ada di Serui  serta pemerintah antara lain dari Dinas PU, Kesehatan, Tata Kota, Bappeda, Bapedalda, RSUD. Hasil pertemuan itu adalah membentuk tim untuk studi soal sampah di Serui. Namun hingga sekarang dokumen kesepakatan rencana studi sampah hanya ditinggal didalam lemari kerja dan tidak ditndak lanjuti. Ide kebersihan kota juga ikut didorong oleh KNPI Serui dengan melakukan bersih-bersih kota. Bahkan selaras dengan langkah ini pernah dicanangkan Gerakan Sabtu Bersih di Serui yang dilakukan oleh Wakil Bupati.

Warga masih menunggu apa saja yang dilakukan para pemangku kepentingan untuk bagaimana memperjuangkan managemen pengelolaan sampah yang lebih baik dan ramah lingkungan di kota Perjuangan Serui. Apalagi saat ini sudah ada UU No.18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah tentu akan menjadi jaminan hukum, sosial,politik bagi masyarakat dan pemerintah untuk pengelolaan sampah yang lebih baik. (Aston Situmorang)
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *