Suaka Margasatwa Mamberamo Foja, Rawan Perburuan Liar dan Pembangunan

 
JUBI — Suaka Margasatwa Mamberamo Foja di Papua mulai terancam. Tidak saja oleh aktivitas perburuan liar yang sering terjadi di kawasan itu, tapi juga oleh pengrusakan disengaja dari tahun ke tahun.

Aneka margasatwa hidup sejak bertahun-tahun lalu dalam kawasan Mamberamo Foja. Tercatat ada sekitar 332 jenis burung yang diduga hidup di dalam kawasan ini. Diantaranya 22 jenis Kakatua dan Kasturi. Ada juga 16 jenis burung dewata serta Namdur dan burung Namdur emas (Amblornis flavifrons). Sangat menonjol dalam kawasan ini juga adalah burung Dewata (Dreparornis bruijinii), dan Psittaculirostris salvadorii yang diketahui hanya terdapat di bagian utara Papua. Di Mamberamo Foja  juga hidup satwa endemic yaitu Philemon brassi.
Dibagian lain, tercatat ada sekitar 80 jenis mamalia termasuk Dasyurus alopunctatus, 5 jenis badikut, 4 jenis kuskus, 4 jenis oposus, 4 jenis kuskus ekor kait (ringtail), Walabi besar (Dorcopsis hageni) dan kanguru pohon (Dendrolagus inustus) yang hidup. Juga terdapat jenis Rodentia, Kelelawar dan Kupu-kupu. Jenis reptil yang terbanyak adalah jenis buaya air tawar (Crocodilus novaeguineae) dan buaya muara (Crocodilus porosus). Margasatwa Foja juga diwarnai dengan berbagai jenis fauna antara lain, 155 jenis burung. Mamalia dan Reptil yang dominan dalam kawasan ini diantaranya Casuarius-casuarius, Paradise apoda, Lorius domicella, Cacatua galerita triton, Megacephalon maleo, Phalanger sp, Probosciger artterimus, Goura victoria, Lorius roratus, Crocodylus sp, Heradise scorten, Dendrolagus sp, Rallicula forbesi/mayri, Crateroscelis robusta, Heteromyias albispecularis, Amblyyornis macgregoriae, Amalocichla incerta, Sericornis virgatus, Parotia carolea, Maliphaga montana dan Ptilopropra mayri.
Sedangkan keanekaragaman flora yang menghiasi suaka margasatwa ini yaitu Rhyzophora, Metroxylon sp, Calophylum sp, Nipafructicaris spp, Pometia sp, Pterocarpus indicus, Casuarina montana, Sterculia, Macrophyllum, Elaecarpus spericus, Agathis labillardicari, Araucaria cunninghamii, Podocarpus neretfolia, Cupressus sp, Araucaria klinkii, Cucaylyphes sp, Intsia sp dan Dillenia sp.
Suaka Margasatwa Mamberamo Foja terletak diantara 137°54’33″ – 138°15’32″ Bujur Timur dan 01°29’59″ – 01°44’28″ Lintang Selatan. Kawasan ini ditetapkan sebagai sebuah tempat perlindungan flora dan fauna di Papua melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 782/Kpts/Um/10/1982, tanggal 21 Oktober 1982. Secara fisik kawasan ini berdiri diareal lahan seluas 1.018.000 ha. Berdasarkan pembagian wilayah administrasi pemerintahan, kawasan ini termasuk ke dalam wilayah distrik Arbais, Mamberamo Hulu dan Mamberamo Tengah, Kabupaten Jayapura, Provinsi Irian Jaya dulu. Tetapi sekarang setelah pemekaran, telah termasuk juga dalam wilayah Kabupaten Mamberamo Raya dan Mamberamo Tengah serta sebagian Kabupaten Waropen.
Untuk menuju ke Suaka Margasatawa ini, pengunjung taman biasanya memakai dua jalur. Yakni jalur udara, darat dan laut. Kerap pula menggunakan KM Marthin Indey dan Papua Dua selama seminggu dengan menyinggahi Sarmi. Sedangkan jika menggunakan pesawat terbang, bisa dengan Cesna milik Misionaris (MAF, AMA, RBMU) selama kurang lebih 60 menit menuju Dabra dan sekitar  90 menit untuk menuju Bareri.
Kawasan Mamberamo Foja pada bagian pantai dan pinggiran sungai hingga ke Kabupaten Mamberamo Raya relatif datar sampai sedang, Sedangkan dari Mamberamo tengah sampai Hulu bergelombang dan berbukit. Kondisi geologi Suaka Margasatwa ini, umumnya terdiri dari bebatuan dan sedimen berumur tersier muda. Formasi batuannya  terdiri dari, Endapan permukaan (aluvium, batu gamping koral), Batuan sedimen, Batuan gunung api, Batuan beku, Tektonik (batuan campur aduk) dan Paton (endapan lumpur). Di daerah ini terdapat juga sumber mineral dan energi yang terdiri dari tembaga dan minyak bumi. Kawasan ini termasuk iklim tropis dengan curah hujan rata-rata 20 mm/tahun. Musim hujan berlangsung dari bulan November hingga April. Perbedaan suhu udara siang dan malam hari sangat berbeda, dimana pada siang hari sangat panas dan pada malam harinya begitu dingin menggigit.
Dari segi flora dan faunanya, Suaka Margasatwa Mamberamo Foja menempati di enam tipe ekosistem utama. Mulai dari puncak sampai dataran pantai, rawa-rawa air asin, rawa-rawa air tawar, dataran rendah, tanah datar aluvial dataran rendah, bukit, pegunungan rendah serta zone-zone vegetasi pegunungan yang lebih rendah. Dari bagian utama tersebut terdapat sekitar 40 tipe vegetasi yang berbeda-beda mulai dari vegetasi herba pantai, bakau, hutan, savana rawa-rawa di elevasi yang lebih rendah dan berbagai tipe hutan perbukitan sampai hutan runjung (Koniferal) pada elevasi yang tertinggi. Suaka Margasatawa Mamberamo Foja memiliki tipe ekosistem dari Rawa Permanen sampai tipe ekosistem hutan dataran tinggi.
Kawasan ini membentuk pula suatu bagian dari pada dataran pantai utara dan daerah kaki perbukitan, serta mencakup sebagian besar depresi danau disebelah timur Sungai Mamberamo.  Termasuk sungai Mamberamo dan Indeburg, Danau Rombebai, daerah rawa-rawa di dataran pantai kompleks Pegunungan Foja-Gauttier. Semua kawasan ini hingga kini masih “perawan” belum ada yang menjamahnya.

Perburuan Liar Dan Pembangunan
Pencarian dan perburuan hewan dalam kawasan ini memang sangat sering terjadi. Perburuan semenjak bertahun-tahun lampau terutama dilakukan pada buaya air tawar. Hingga tak heran jika populasinya dari hari ke hari semakin berkurang. “Benar sekarang populasi buaya di sana semakin berkurang hingga masyarakat  sulit menangkapnya,” ujar Bastian Wamafma kepada JUBI. Menurutnya masyarakat menangkap anak buaya dan menjualnya kepada salah satu perusahaan penangkar buaya di Entrop Kota Jayapura. Saat ini koleksi penangkaran buaya itu telah mencapai ribuan ekor yang siap diekspor. Survey lain juga menyebutkan ada beberapa satwa lindung yang diperdagangkan antara lain, nuri kepala hitam (Lorius lorry); kakatua (Cacatua galerita); mambruk (Goura Victoria); penyu (Celonia myas); kasuari (Casuarius spp); kuskus (Spillocus spp); bayan (Eclectus roratus) dan kangguru (Phalanger spp). Bahkan burung Cenderawasih juga seringkali diawetkan untuk diperdagangkan antar pulau.
Selain perburuan liar, kawasan ini kerap juga diganggu dengan rencana pembangunan gedung-gedung pemerintahan. Sejumlah pihak mengatakan, jika untuk itu maka harus dilakukan secara bijak dan hati-hati agar jangan sampai mengorbankan fungsi konservasi di kawasan Mamberamo. “Namun yang terjadi justru banyak copy blok dari sumber lain sehingga Tata Ruang yang dikerjakan konsultan sangat tidak relevan,” tegas Seorang staf Conservation International Indonesia (CII), Tommy Wakum.
Gedung pemerintahan yang dibangun salah satunya adalah Kantor Bupati Mamberamo Raya. Dibangun tepat didalam hutan produksi. Hutan ini dikelola oleh Mamberamo Alasmandiri di sekitar Kampung Kasonaweja. “Hutan produksi itu adalah milik perusahaan.  Mereka membayar pajak selama menebang dalam areal tersebut. Tapi yang tetap diharapkan adalah agar jangan sampai pembangunan yang terjadi malah merusak kawasan margasatwa ini,” ujar Lindon Pangkali kepada JUBI beberapa waktu lalu. (Dominggus A Mampioper/Dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *