Ingin Mandiri Dengan Dua Tangan Dan Satu Kaki

 
JUBI—Tiap pagi setumpuk koran akan diantar padanya. Dijajakan meski dengan kaki cacat. Sama juga dengan yang terjadi siang itu.

Tangannya dengan cekatan memilah tumpukan koran di depannya. Semenit dirapihkan tumpukan Koran itu. Sepertinya dia tidak banyak bergaul. Kepalanya masih tertunduk. Raut wajahnya keras. Nampak sedikit guratan tipis di pelipis. Rambutnya cepak. Aku mulai mengajaknya ngobrol. Mulai dari jenis koran, tempat tinggal sampai penghasilannya perbulan. Tawanya mulai melebar saat bercerita seputar rencananya untuk hidup berkeluarga. “Hehehe saya belum berpikir tentang itu”. Tawanya semakin mengakrabkan suasana dari sebelumnya begitu kaku. Diapun bisa menerima kedatanganku. Obrolan kami terhenti saat seseorang datang dan membeli koran.
Saban hari, pria bernama lengkap Abraham Wuka itu tak pernah luput dari pintu masuk Saga Mall. Sebuah supermarket kelas kakap yang dibangun sekitar lima tahun silam. Menjadi salah satu dari banyak supermarket yang kerap dikunjungi. Di dalamnya ada SAGA Super-market dan SAGA Deptemen Store. Pernah ada Toko Joy yang menjual berbagai jenis aksesories di lantai II dan Hasjrat Abadi Jayapura. Di depan supermarket, tepat 20 meter, jalan raya Abepura memanjang dari Sentani hingga ke Kota Jayapura. Lokasi dimana sering terjadi macet. Di jalan itu, tiap jam dua belas, Wuka menapakinya dengan tongkat besi untuk pulang makan. Sejam dia balik lagi. Tongkat itu telah menemaninya bertahun-tahun lamanya.
Wuka mengecer Koran dengan harga bervariasi. Lelaki kelahiran Wamena 15 Juni 1985 itu tak memiliki banyak pelanggan. Hanya satu. Lebih banyak yang datang membeli. Dia hanya du-duk bersila. Menunggu. Meski begitu, peng-hasilannya sangat besar. Dua juta tiap bulan dima-sukkan ke dalam rekeningnya. Ditabung. “Saya tidak mau putus asa. Karena Tuhan, saya bisa bekerja dan makan. Saya ingin buka usaha, jadi saya menabung,” ceplosnya.
Wuka seperti lelaki kebanyakan. Tegar dan tak mudah putus asa. Ketika berusia sebulan, orang tuanya membawanya ke rumah sakit. Konsultasi soal kaki kirinya. Namun Dokter yang memeriksa mengatakan urat kaki kiri sang anak terlepas. Jadi harus diamputasi (dipotong). Saat itulah dia menjadi cacat. Meski tidak diamputasi, namun mengecil dan lemas. Dia hanya dibantu sebuah tongkat besi. “Tongkat besi ini berkat kebaikan Pimpinan MAF di Wamena,” kenangnya. Ayahnya, Alex Wuka meninggal dunia Tahun 1992. Disusul ibunya Ukume Halum pada 1995. Wuka adalah yatim piatu.

Kerja Wuka
“Saya tak mau merepotkan siapapun juga termasuk keluarga saya. Saya mau mandiri karena dua tangan dan satu kaki masih normal untuk bekerja,” ceplosnya. Wuka pernah sekolah di SMP St. Thomas Wamena. Tapi tidak tamat. “Sa terpaksa drop out dari SMP karena orang tua meninggal,” tukas putra bungsu dari empat bersaudara ini.
Sejak berusia setahun, Wuka diasuh neneknya Yuliana Halum. Pernah sekali waktu karena tidak ada ASI, Wuka menetek susu babi peliharaan. Dengan kondisi pahit getir, Wuka tumbuh besar. “Saya bersyukur dapat hidup sampai saat ini berkat kemurahan Tuhan,” ungkapnya sendu. Saudaranya yang lain bekerja juga dengan mandiri. Membuka kebun kecil di tanah pening-galan ayahnya.
Wuka tiba dari Wamena di Kota Jayapura beberapa tahun silam. Tujuannya untuk mencari sesuap nasi. Dia tak memiliki uang sepeserpun saat itu, kira-kiranya sembilan tahun lalu. Kebarangkatannya dibantu oleh pihak penerbangan AMA. Maskapai penerbangan Associated Mission Aviation (AMA) ini telah berkarya di wilayah pedalaman Papua sejak 1959. AMA didirikan pada 23 Maret 1959 oleh Pemimpin Umat Katolik, Uskup Jayapura, Mgr R.Staverman, OFM. Tujuannya untuk membuka keterisolasian Masyarakat Papua yang bermukim di wilayah pedalaman yang terisolir. Semula, AMA hanya mengoperasikan satu pesawat Cessna 170 dengan nomor registrasi JZ-PTG. Selama 50 tahun AMA terus berkembang. Kini ia telah memiliki sekitar 10 pesawat, baik jenis Cessna maupun Pilatus Porter. “Sa tetap berusaha untuk ketemu orang-orang di Kantor AMA karena pesawat ini sering ke Jayapura, jadi saya harus ikut,” kenangnya.
Ketika tiba di Jayapura, iapun menemui Rudy Karundeng, seorang Pendeta di Gereja Bethel Indonesia Jemaat Gunung Kemuliaan, Kotaraja. Ia tinggal di sebuah gubuk reot di Kompleks Gereja itu atas izin Karundeng.
Walaupun tak memiliki biaya, Wuka tetap berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan. Alhasil, Lelaki berkulit legam ini berhasil menuntaskan sekolah persamaan tingkat SMA di Genyem, Kabupaten Jayapura. Cita citanya kini ingin kuliah di Institut Sains dan Teknologi Jayapura (ISTJ). Jurusan Teknik Elektro.

Menjadi Pianis Di Gereja
Sejak menjadi jemaat di Gereja Bethel Indonesia, Wuka suka melayani dengan bermain musik. Tiap ibadah Minggu, Wuka selalu mengiringi pujia-pujian jemaat. Dia mengenal musik sejak 2007. “Sa belajar musik secara otodidak,” katanya. Selain mela-yani, pernah pula dirinya bekerja di Tabloid Melanesia. Namun tak lama karena keburu tutup. “Akhirnya saya ambil kesibukan dengan menjual koran dari pada tak ada kesibukan”.
Semenjak menjadi pengecer koran, majalah dan buku, tiap pukul 09.00 WIT ia telah berada di emperan Saga Mall. Animo masyarakat untuk mengetahui peristiwa yang terjadi di Jayapura membuat dagangannya cepat laku. Jatah tumpukan koran untuknya bervariasi. Harian Cenderawasih Pos tiap hari misalnya untuk dia sebanyak 50 eksemplar. Setorannya Rp 4.800 per eksemplar. Dijual Rp 6.000 per eksemplar. Bintang Papua 10 eksemplar. Setorannya Rp 4.000. Dijual Rp 5.000. Ada juga Papua Times 30 eksemplar. Setornya Rp 2.000 dan dijual Rp 3.000. Kemu-dian Papua Pos, 20 eksemplar. Setornya Rp 3.000 dan jualnya Rp 5.000. Tabloid JUBI, 15 eksemplar. Setor Rp 5.500 dan jual Rp Rp 7.000. Terakhir Majalah Dimonim 5 eksemplar. Setornya Rp 25.000. Jualnya Rp 30.000.  Bagi Wuka, bekerja sebagai penjaja koran dan majalah tak gampang. Ia acapkali mendapat umpatan dari pemilik Koran. “Hanya dengan kesabaran dan ketekunan orang akan meraih sukses,” ujarnya.
Penghasilannya memang tergantung dari banyaknya pembeli. Selain itu tergantung juga dari berita yang dimuat. Jika beritanya kurang menarik, koran tersebut jarang dibeli. Tak selalu enak mendapat penghasilan dari potongan setoran koran. Kadang dirinya dimarahi jika dalam sehari sebagian besar koran tak laku terjual. Keuntungan bersihnya bisa mencapai Rp 150.000 hingga Rp 200.000 per hari. “Sa terima bersih di sini, tak bergerak kemana mana hanya di sini saja,” katanya santai.

Bercita Cita Jadi Pengusaha
Wuka bercita cita menjadi seorang pengusaha sukses. Seperti mendiang ayahnya yang mengabdikan dirinya membuka usaha di bidang pertanian. “Sa berusaha mulai dari nol untuk kumpul modal usaha,” ujar penyuka matematika ini. Dia be-rharap apabila tabungannya mencukupi, dia akan membuka usaha. Baginya membuka suatu usaha mesti cermat dan teliti. Kalau tidak bisa gagal. Pernah su-atu saat dia ditawar untuk bekerja mengelola sebuah usaha jasa, namun diurungkannya karena belum memiliki jaringan usaha. “Sa belum yakin. Sa masih berat untuk bekerja sama. Sa belum bisa percaya orang,” katanya tersenyum tipis. (Musa Abubar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *