EDISI 15

Dari bantuan ke bantuan, adalah kegiatan yang selalu ditujukan untuk membawa perubahan ekonomi dan sosial masyarakat. Namun sebagaiman lazimnya teryata dalam praktiknya tidak ada makan siang yang gratis. Terkecuali kalau masyarakat itu sendiri yang mengambil inisiatif untuk melakukan sesuatu kegiatan atau rasa ingin maju itu timbul dari kesadarannya mereka sendiri.
Pasalnya kegiatan lembaga-lembaga asing atau aktivitas kegiatan yang atas nama pembangunan mau memberikan sekadar bantuan, ternyata menjadi jeratan atau pun jebakan yang membawa ketergantungan baru.
Meski terkadang kata bantuan enak didengar tetapi bisa menjadi perangkap atau pun jebakan untuk masuk jurang kehancuran. Adalah mantan Presiden Sukarno yang pernah menolak dan mengeluarkan ungkapan “go to hell with your aid”. Bahkan menganjurkan kepada rakyat untuk sebaiknya bertahan hidup dengan apa yang dimiliki sendiri. Kalau memang harus makan nasi jagung, mengapa harus dipaksa menggantikan papeda dan roti.
Apalagi kalau bantuan itu menyangkut negara dan kepentingan lembaga-lembaga bantuan asing. Ketergantungan dengan bantuan asing agaknya sulit untuk dihindari tetapi fakta menunjukan bahwa pengalaman beberapa negara di seantero jagat ini pernah gagal mengalami perubahan yang berarti ke arah kemajuan.
Ironinya bantuan atas nama rakyat justru cenderung melahirkan para birokrat yang korup tanpa adanya tindakan hukum yang tegas. Cilakanya lagi para pemberi bantuan justru kurang peduli atau sengaja lupa kalau tindakan hukum yang tegas itu sangat perlu. Agar tidak terjebak dan jurang kesalahan yang sama terus menvonis para penilep uang negara.
Sementara rakyat yang sering kali mereka sebut bahkan dicatut namanya untuk kepentingan mereka sama sekali tak tersentuh. Gawatnya lagi mereka justru terpinggirkan dan diabaikan. Namun yang jelas masyarakat punya kekuatan sendiri untuk mandiri tanpa harus mengharapkan belas kasihan yang sebenarnya suatu perangkap.

Redaksi Dari bantuan ke bantuan, adalah kegiatan yang selalu ditujukan untuk membawa perubahan ekonomi dan sosial masyarakat. Namun sebagaiman lazimnya teryata dalam praktiknya tidak ada makan siang yang gratis. Terkecuali kalau masyarakat itu sendiri yang mengambil inisiatif untuk melakukan sesuatu kegiatan atau rasa ingin maju itu timbul dari kesadarannya mereka sendiri.
Pasalnya kegiatan lembaga-lembaga asing atau aktivitas kegiatan yang atas nama pembangunan mau memberikan sekadar bantuan, ternyata menjadi jeratan atau pun jebakan yang membawa ketergantungan baru.
Meski terkadang kata bantuan enak didengar tetapi bisa menjadi perangkap atau pun jebakan untuk masuk jurang kehancuran. Adalah mantan Presiden Sukarno yang pernah menolak dan mengeluarkan ungkapan “go to hell with your aid”. Bahkan menganjurkan kepada rakyat untuk sebaiknya bertahan hidup dengan apa yang dimiliki sendiri. Kalau memang harus makan nasi jagung, mengapa harus dipaksa menggantikan papeda dan roti.
Apalagi kalau bantuan itu menyangkut negara dan kepentingan lembaga-lembaga bantuan asing. Ketergantungan dengan bantuan asing agaknya sulit untuk dihindari tetapi fakta menunjukan bahwa pengalaman beberapa negara di seantero jagat ini pernah gagal mengalami perubahan yang berarti ke arah kemajuan.
Ironinya bantuan atas nama rakyat justru cenderung melahirkan para birokrat yang korup tanpa adanya tindakan hukum yang tegas. Cilakanya lagi para pemberi bantuan justru kurang peduli atau sengaja lupa kalau tindakan hukum yang tegas itu sangat perlu. Agar tidak terjebak dan jurang kesalahan yang sama terus menvonis para penilep uang negara.
Sementara rakyat yang sering kali mereka sebut bahkan dicatut namanya untuk kepentingan mereka sama sekali tak tersentuh. Gawatnya lagi mereka justru terpinggirkan dan diabaikan. Namun yang jelas masyarakat punya kekuatan sendiri untuk mandiri tanpa harus mengharapkan belas kasihan yang sebenarnya suatu perangkap.

Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *