EDISI 2

Bagi Masyarakat Adat Papua, tidak ada kehidupan diatas muka bumi ini jika tidak ada tanah. Tanah menjadi segala sumber kehidupan dimuka bumi ini. Itulah filosofi tanah bagi orang Papua. Sehingga jika masyarakat modern memandang tanah terpisah dari segala sesuatu yang ada diatas maupun didalam tanah sebagai bentuk-bentuk sumber daya alam, masyarakat adat Papua justru memandang tanah sebagai keseluruhan dari sumber daya alam itu. Tanah menjadi satu kesatuan dengan apa yang ada diatas maupun didalamnya sehingga pola interaksi masyarakat hukum adat dengan alam sekitarnya melahirkan kepercayaan-kepercayaan tersendiri yang terbangun begitu kuat. Kepercayaan bahwa alam adalah tempat hidup roh-roh nenek moyang yang harus dipelihara keutuhannya, maka disetiap wilayah adat ditemukan adanya tempat-tempat keramat, tempat-tempat bersejarah ataupun tempat-tempat penting lainnya yang harus mereka jaga dalam interaksi mereka dengan alam sekitarnya.
Sejak dulupun, masyarakat adat Papua tidak pernah mengalihkan kepemilikan tanahnya pada “orang luar”. Namun karena pada prinsipnya, masyarakat adat Papua memandang “orang luar” sama dengan dirinya, maka dikenalah konsep hak pakai dalam masyarakat adat Papua. Jika diperhatikan, hak pakai yang diberikan kepada orang luar, sama nilainya dengan hak pakai yang diberikan sebuah komunitas kepada keturunan-keturunan mereka.
Sekarang tanah sangat mudah dialihkan kepemilikannya dari masyarakat adat kepada “orang luar” melalui pelepasan-pelepasan tanah adat dengan berbagai alasan. Padahal, dalam kehidupan Masyarakat Adat Papua, telah ada sistem pengelompokkan tanah dengan tujuan-tujuan tertentu, misalnya tanah untuk pembangunan ataupun wilayah konservasi.
Apapun itu bentuknya, pengalihan hak milik tanah oleh Masyarakat Adat Papua kepada “orang luar” sesungguhnya telah mencederai jati diri Masyarakat Adat Papua itu sendiri. Tidak ada Masyarakat Adat tanpa tanahnya. Eksistensi Masyarakat Adat hanya bisa diukur dari wilayah adat yang dimilikinya. Sehingga jika seseorang mengaku dirinya adalah Masyarakat Adat, tentunya dia tau dari mana dia berasal. Hanya saja, saat ini kita hanya tau dari mana kita berasal, tapi kita tidak tau apakah kita masih memiliki hak pakai di tempat asal kita tersebut?* Bagi Masyarakat Adat Papua, tidak ada kehidupan diatas muka bumi ini jika tidak ada tanah. Tanah menjadi segala sumber kehidupan dimuka bumi ini. Itulah filosofi tanah bagi orang Papua. Sehingga jika masyarakat modern memandang tanah terpisah dari segala sesuatu yang ada diatas maupun didalam tanah sebagai bentuk-bentuk sumber daya alam, masyarakat adat Papua justru memandang tanah sebagai keseluruhan dari sumber daya alam itu. Tanah menjadi satu kesatuan dengan apa yang ada diatas maupun didalamnya sehingga pola interaksi masyarakat hukum adat dengan alam sekitarnya melahirkan kepercayaan-kepercayaan tersendiri yang terbangun begitu kuat. Kepercayaan bahwa alam adalah tempat hidup roh-roh nenek moyang yang harus dipelihara keutuhannya, maka disetiap wilayah adat ditemukan adanya tempat-tempat keramat, tempat-tempat bersejarah ataupun tempat-tempat penting lainnya yang harus mereka jaga dalam interaksi mereka dengan alam sekitarnya.
Sejak dulupun, masyarakat adat Papua tidak pernah mengalihkan kepemilikan tanahnya pada “orang luar”. Namun karena pada prinsipnya, masyarakat adat Papua memandang “orang luar” sama dengan dirinya, maka dikenalah konsep hak pakai dalam masyarakat adat Papua. Jika diperhatikan, hak pakai yang diberikan kepada orang luar, sama nilainya dengan hak pakai yang diberikan sebuah komunitas kepada keturunan-keturunan mereka.
Sekarang tanah sangat mudah dialihkan kepemilikannya dari masyarakat adat kepada “orang luar” melalui pelepasan-pelepasan tanah adat dengan berbagai alasan. Padahal, dalam kehidupan Masyarakat Adat Papua, telah ada sistem pengelompokkan tanah dengan tujuan-tujuan tertentu, misalnya tanah untuk pembangunan ataupun wilayah konservasi.
Apapun itu bentuknya, pengalihan hak milik tanah oleh Masyarakat Adat Papua kepada “orang luar” sesungguhnya telah mencederai jati diri Masyarakat Adat Papua itu sendiri. Tidak ada Masyarakat Adat tanpa tanahnya. Eksistensi Masyarakat Adat hanya bisa diukur dari wilayah adat yang dimilikinya. Sehingga jika seseorang mengaku dirinya adalah Masyarakat Adat, tentunya dia tau dari mana dia berasal. Hanya saja, saat ini kita hanya tau dari mana kita berasal, tapi kita tidak tau apakah kita masih memiliki hak pakai di tempat asal kita tersebut?*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *