Edisi 24

Benturan benturan kebudayaan dalam suatu masyarakat biasanya diawali dengan kontak kontak dan perubahan perubahan menuju jaman baru. Bahkan celakanya lagi, semua menterjemahkannya sesuai keinginan dan kebutuhan yang sifatnya sangat instant.
Ingin cepat maju dan serta merta menggantikan nilai nilai sosial budaya yang telah berakar lama. Hilangnya nilai nilai budaya lokal  (cultural lost) dan menggantikannya dengan nilai nilai baru, yang belum tentu dipahami justru akan menambah peliknya masalah.
Generasi muda sebagai generasi penerus, tentunya akan berkembang ke arah yang menyesatkan tanpa pijakan budaya.  Dikhawatirkan akan berjalan ke arah yang salah dan tanpa norma adat yang berlaku.
Walau kini banyak ajaran ajaran dan ideologi yang datang dari luar  tanpa melalui filter dan penyaringan. Sudah pasti akan menimbulkan tantangan besar bagi masyarakat khususnya kaum muda yang masih mencari identitas. Generasi tua yang diharapkan mampu mentransfer pengetahuan ternyata gagal atau pun tidak mampu melakukannya dengan baik dan mulus.
Kini didengungkan lagi pencanangan menuju Papua Baru dan semua orang mudah menyebutnya tetapi sulit melaksanakannya. Bukan hal baru dalam membuat slogan dan pesan.
Awal mula,  lahirnya UU Otsus 2001 pernah pula dilontarkan sebuah pernyataan, “Menjadi Tuan Di Negeri Sendiri.” Semua orang hafal betul ungkapan itu tetapi lagi lagi tak sesuai kenyataan.  Ada yang menawarkan perlu ada blue print selama 25 tahun pelaksanaan Otsus meski ganti pemimpin program tetap jalan terus. Bukan yang selama ini terjadi ganti pemimpin maka akan diikuti pula dengan program baru. Sayangnya yang lama dikatakan sarat korup dan terlalu mementingkan birokrat.
Tujuh tahun UU Otsus berjalan tetapi hak hak dasar orang Papua tak teruwujud dalam bentuk Perdasus mau pun Perdasi. Keberpihakan masih jauh dari kenyataan. Hanya Dewan Adat Papua (DAP) yang secara berani menolak dan mengembalikan tawaran jalan tengah yakni UU Otsus 2001.
Kalau Otsus dinilai gagal, maka jalan tengah apa lagi yang bisa dicari?

Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *