Edisi 29

BAGI orang asli Papua, partisipasi dalam politik bukan sesuatu yang baru, sebab sejak 1961 sudah memilih sendiri wakil wakil rakyatnya yang kemudian duduk sebagai Anggota Nieuw Guinea Raad.
Selanjutnya dalam Free of Choice 1969, 800.000 rakyat Papua   diwakili oleh 1.025 anggota Dewan Musyawarah Pepera (DMP). Adapun alasannya yang dikemukakan berbagai pihak,  karena waktu itu masih banyak orang Papua belum bisa baca tulis sehingga perlu ada wakil wakil yang membawa suara mereka. Selanjutnya pada 1971 lagi lagi rakyat Papua ikut Pemilu pertama kali sejak integrasi ke Indonesia, praktis sampai sekarang ini sudah 8 kali dan pada 2009 nanti yang ke 9. Lalu apa saja yang diharapkan warga Papua setelah mencoblos dan sekarang mencotreng wakil wakil mereka? Buktinya menjelang Pemilu semua caleg  obral janji tetapi ketika duduk sebagai wakil rakyat mereka mewakili partai politik yang mengusung mereka. M eskipun waktu kampanye cukup panjang tetapi tidak semua rakyat mengenal para calegnya. Ibarat rakyat memilih kucing dalam karung, kinerja wakil rakyat masih perlu diperdebatkan lagi ke depan.
 
Redaksi 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *