Edisi 32

MAMBERAMO ibarat jantung terakhir hutan tropis alami di tanah Papua. Namun kini keindahaan alam Mamberamo terancam mengalami perubahan drastis demi sebuah kemajuan. Harga sebuah perubahan biasanya menelan banyak korban termasuk manusia yang tinggal di dalam. Terkadang pihak lain melihat alam dan pesona keindahannya menyebabkan manusia lupa akan kewajiban menjaga pelestarian suatu ekosistem. Mamberamo kini mulai ikut pula dirambah karena pemekaran wilayah dan tuntutan mengisi kas pemerintah dalam bentuk Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Cilakanya atas nama PAD maka semua jalan bisa ditempuh. Termasuk membangun permukiman dan kantor di dalam aeral konservasi yang seharusnya dijaga dan dilestarikan. Apalagi sebuah fungsi konservasi biasanya memiliki manfaat yang lama dan tak bisa langsung dinikmati. Namun kalau tiba bencana alam, barulah semua pihak menyadari betapa penting sebuah pelestarian demi kelangsungan hidup anak cucu. Apakah manusia memang selalu seperti ini?
Ibarat pepatah, lestarinya alamku sudah tentu akan memberikan kesejahterahan secara berkelanjutan.
 
 
Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *